Dirga Harun purnomo Adalah seorang pengusaha muda yang memiliki beberapa buah perusahaan besar. Dalam hidup dia memiliki segalanya.harta melimpah, wajah yang tampan serta istri baru yang sangat cantik dan terkenal.
saat bulan madu ke Hawai pesawat pribadinya terjebak badai hingga mengalami kecelakaan.
Untung saja semuanya selamat karena pilot yang cekatan.
Sayangnya Dirga mengalami kebutaan Akibat matanya terkena serpihan kayu yang berasal dari ledakan pesawat.
Hidup dan perkawinannya hancur, karena istrinya meninggalkan dirinya yang cacat.
Mampukah Dirga bangkit dari keterpurukannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lara hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6 Menikah
Jam sembilan pagi Tepat, Bening sudah Siap didandani, wajahnya yang biasanya polos kini dipenuhi polesan. Dia terlihat sangat cantik.
Kebaya putih tulang yang ia pakai serasi sekali dengan kulitnya yang putih Langsat.
Bening sendiri pangling dengan perubahannya. Mungkin karena periasnya adalah para profesional, hasilnya pun memuaskan.
" Astaga bening!? kau cantik sekali.." Ucap Sarinah.
matanya menatap Bening kagum.
Bening memang sudah cantik alami, tapi melihat nya dalam balutan Kebaya moderen dia terlihat semakin Cantik tak tampak sama sekali jika Bening adalah gadis desa yang miskin dan kumuh sepeti yang ia kenal selama ini.
" Kamu sudah Siap Bening?" Nyonya Mitha datang didepan pintu tersenyum menatap bening.
Gadis itu mengangguk mantap.
Mereka menuruni tangga, Bening dipegangi hati-hati oleh Bi Inah dan Mitha.
Dada bening berdebar hebat, saat dirinya dituntun ke tempat akad.
Mereka menuju ruang tamu dimana akad akan dilangsungkan.
Pria yang akan menjadi suaminya terlihat duduk membelakangi, tubuhnya kurus memakai stelan jas lengkap dengan peci hitam diatas kepala Bening bisa menduga pria itu tinggi sekali.
Mitha menduduk kan bening di sisi Dirga.
Dirga tampak tenang dan diam, Dia hanya memiringkan kepala sedikit saat sadar ada orang lain duduk di sisinya.
Dia juga tak bisa melihat jadi hanya memasang kupingnya baik-baik.
" Baiklah karena kedua mempelai telah hadir, akad nya bisa segera dilansungkan." Ucap penghulu.
Yang langsung di setujui Harun dan para undangan
Bening adalah gadis yatim piatu jadi walinya digantikan oleh wali hakim.
Prosesi pernikahan pun terjadi.
Jantung Bening hampir meledak saat kata sah bergema Diruangan itu.
Dia sudah resmi menjadi istri dari Dirga Harun purnomo serta bagian dari keluarga Harun Purnomo.
Jemari dirga meraba tangan bening saat ingin menyematkan cincin kawin padanya.
Lalu bening mencium tangan Dirga takjim.
Tangan Bening Berkeringat dingin karena takut dan nervouse.
Dirga Sampai kaget saat menyentuh jemari itu
Namun dia diam saja.
Para undangan menikamti Makanan yang telah disediakan, selesai prosesi akad Dirga langsung meminta diantar ke kamar. Dia tak nyaman berada diantara orang-orang. Merasa semua orang menatap dan mengasihaninya.
Dirga tak suka dikasihani.
Bening menerima ucapan selamat dari para tamu seorang diri.
Bahkan dia belum sempat melihat wajah suaminya dengan. jelas. pria itu sudah menghilang dibalik kamar.
Bening sedikit kecewa.
Satu persatu tamu pulang.
Rumah mulai sepi, pelayan mulai membersihkan kekacauan akibat pesta.
Bening ikut membantu.
Selesai dengan pekerjaan ia teringat jika Dirga belum makan sejak siang tadi, ragu- ragu ingin mendatangi Dirga. Membawakan makanan tapi bening merasa segan.
Pria itu memang keras kepala dan benar-benar mengurung diri dikamar.
" MAMA!!, MAMA...!!" Terdengar teriakannya menggelegar dari Atas.
Bening kaget.
Mitha yang sedang beristirahat dikamar tergopoh-gopoh keluar.
" Ada apa Ning?" Tanyanya melihat Bening berdiri diujung tangga.
" Saya tidak tahu Ma.. Sepertinya Tuan muda mencari Mama.."
" Ayo ikut saya bening."
Mitha menaiki tangga di ikuti Bening.
" Ada apa sayang?" Tanya Mitha lembut
" Aku mau pulang..Suruh Darmo supir untuk menyiapkan mobil dan Istriku suruh dia berkemas." Suaranya sama sekali tak ramah.
" Menginapkan disini sayang..."
Bujuk Mitha.
" Mama tak dengar! aku mau pulang, SEKARANG!!!" Tekannya
" Baiklah, oh ya istrimu di sini.." Ucap Mitha ragu.
Dirga memiringkan kepala ke arah pintu.
" Bagus, suruh dia untuk membereskan barangku.."
" Baik Tuan muda, aku akan melakukannya " Sahut Bening dengan suara bergetar.
Dirga Diam saja tak menanggapi dia balik badan menghadap ke arah ranjang dan diam seperti patung Disana.
Mitha segera turun meminta Darmo supir pribadi Dirga untuk menyiapkan mobil. Karena Dirga meminta pulang.
Setelah semua siap, Dirga dan Bening pulang bersama kerumah Milik Dirga. Sebelum berangkat Mitha memberi semangat kepada Bening Hatinya cemas melepaskan bening bersama Dirga.Harapannya bening mau bertahan hidup bersama putranya yang arogan.
Di perjalanan, Dirga tak bicara sama sekali. membuat situasi begitu canggung.
Dia juga tak di ijinkan duduk di sisi Dirga. Bening duduk di bangku depan disamping Darmo supir.
" Jangan sentuh aku!!" bentak Dirga saat bening berinisiatif membantunya turun dan mendudukinya di kursi roda. begitu mereka tiba dirumah.
Dirga dengan kasar mendorong Bening menjauhinya, hingga istrinya jatuh dalam posisi duduk.
Bokong bening sakit sekali membuat Bening meringis. Dia mengusap usap pelan.
" aduh duh! bokongku yang malang, dasar singa barBar.." Umpat Bening dalam hati. Geram sekali pada Dirga. Pria itu santai saja. wajahnya datar sekali
Mungkin dia tidak tahu Bening jatuh atau mungkin justru sengaja ingin menyakiti bening.
" Nyonya tak apa?" Tanya Darmo berbisik membantu Bening berdiri diam- diam
" Adam!!" panggil Dirga
Adam segera menuju ke luar
" Anda sudah kembali tuan?"
" Tolong bantu aku, Dudukan Aku dikursi Roda" Titahnya.
Adam dengan sigap membantu.
Bening Diam saja melihat perilaku Dirga yang menyebalkan.
" Adam setelah kau mengantar aku ke kamar tunjukan kamar pada gadis itu.."
" Baik tuan..."
Adam mendorong kursi roda Dirga masuk kedalam.
" Jangan biarkan Gadis itu sekali pun masuk ke kamarku.." melanjutkan perkataanya tegas.
Bening mendengar dengan jelas ucapan Dirga
Meski dia berkata pada Adam sepertinya itu adalah isyarat Dirga untuknya,.jika pria itu tak berkenan pada Bening serta mengijinkan bening mengusiknya.
" Kita lihat saja Nanti tuan pemarah!" Batin Bening tersenyum.
setelah selesai mengurus majikan mudanya yang pemarah, Adam mengajak Bening ke kamar.
Kamarnya dan kamar Dirga letaknya bersebelahan semua atas permintaan Mitha, Memudahkan bening mengurus Dirga.
Belum lagi selesai menyusun baju yang tak seberapa ke dalam lemari, Dirga datang serta masuk begitu saja ke dalam kamar bening tanpa permisi
Karena tak menyangka Dirga mengunjunginya Bening merasa surprise.
" Siapa yang menyuruhmu menempati kamar ini?" tanyanya sinis.
" Tu..tuan Adam...tuan.." Sahut Bening gugup
"aku mau kau pindah ke kamar pelayan.."
Berkata dengan suara datar jelas sekali dia tak suka pada Bening.
Bening kesal sekali, Dia lelah sekali, soal
kamar salah dipermasalahkan.
Belum lagi rasa sakit dibokong yang belum hilang akibat didorong tadi.
'Lihat saja Aku akan membalasmu Tuan.."
"Tuan tahu aku sedang apa sat ini"
" Kau sedang apa bukan urusanku.. aku ingin kau segera keluar dari sini!'
Bening tersenyum licik
" Aku sedang berganti baju saat ini Hanya memakai pakaian dalam saja.." ucapnya hampir berbisik didekat Dirga.
Bening tersenyum menyaksikan rona merah di pipi Dirga, ternyata pria itu bisa malu juga.
Dia lucu sekali
Sadar pada keadaanya Dirga buru-buru membalikan kursi roda menjauhi suara Bening.
" Makanya sebelum masuk kamar wanita biasakan mengetuk lebih dahulu. Tak sopan tuan masuk saat aku sedang ganti baju, yah meski tuan tak bisa melihat, tetap saja anda laki- laki normal dan membuat aku malu sekali."sindir Bening
Dirga tampak salah tingkah dengan wajah memerah seperti tomat masak.
Dia benar - benar mati kutu saat ini. Bening berhasil memunculkan rasa bersalah,
membuat dirinya seperti pria yang tidak sopan.
" Aku tak berminat mengintipmu, lagipula aku buta, mana mungkin bisa melihatmu telanjang..! Balasnya kesal.
Bening menahan senyum dia menatap lekat wajah Dirga yang malu.
" Syukurin.." Batinnya
Kini bening bisa melihat dengan jelas wajah Dirga, wajah putih mulus yang sedikit tirus dan lelah, meski tak mengurangi ketampanan yang dia milikki.
Namun pancaran mata itu benar-benar tak bersahabat.
Mata Dirga sangat indah, bentuknya bulat dan sayu di bingkai bulu mata yang lentik dan lebat, Sementara Alisnya tumbuh sangat rapi hampir menyatu ditengah. Sayangnya mata itu terlihat hampa dan kosong karena ia buta.
wajahnya dipenuhi bulu- bulu halus yang menambah kesan sexy.
Bening kagum sekali pada pria itu.
" Cepatlah berpakaian dan segera keluar dari kamar ini!!"
Dia menatap kosong ke arah sebaliknya mengukur posisi bening dari
asal suara.
" Tapi..tuan Adam dan Mama..meminta saya.."
" Aku tidak perduli. Bagiku kau adalah pelayan jadi tidurlah dikamar pelayan jangan berharap kau akan kuperlakukan seperti istri, Aku tak suka hidupku dicampuri oleh siapa pun. Jadi jangan sok pahlawan padaku..!!" ketusnya.
" Baiklah! begitu saja marah.."
" Kalau tidak boleh tidur dikamar ini yang sudah..! Aku pindah.." Sahut bening acuh.
Dirga kaget mendapat balasan santai dari bening.
" Kau berani menjawab ku!!!?" Hardik Dirga tak terima.
" Kenapa harus takut pada pria buta sepertimu.." Sahut bening
Lalu pergi meninggalkan Dirga seraya membanting pintu keras. membuat Dirga telonjak kaget.
" Sialan..gadis itu sialan.. !! Dia bilang aku pria buta..berani sekali menghina ku....!!?"
Mengumpat, tertawa sinis dan frustasi. tak percaya Bening berani bersikap santai padanya.
Sakit sekali hatinya dihina oleh gadis itu.
Keesokan paginya Dirga bangun dengan mood yang sangat buruk. ucapan bening menghantuinya sepanjang malam.
" ADAM!!!ADAM....!!.kemana Dia..? ADAAAAAMMM!!! " panggilnya tak sabar.
Adam yang sedang sibuk memangkas tanaman di taman terpaksa menghentikan pekerjaan dan menuju kamar Dirga saat salah satu pelayan memberitahu Dirga tengah memanggilnya sambil marah-marah.
" Ya tuan!? anda memanggil saya?"
" Kau darimana saja!?" bentaknya tak suka.
" Aku ditaman tuan sedang memangkas tanaman"
Adam melihat muka Dirga yang masam.
Seret Gadis sialan itu kemari..!" titahnya kesal
" Siapa tuan...?'
" Gadis itu yang baru menikah denganku.."
" Tapi kenapa tuan?"
" Dia membuatku kesal, Berani sekali dia menghina dan membanting pintu di depanku"
" Apa!? membanting pintu? "
" Sudah tak usah banyak omong cepat panggil dia!!" ucap Dirga tak sabaran.
" Ba-baiklah tuan.."
Tak berapa lama Bening sudah berada dikamar Dirga.
Hampir saja memuntahkan semua isi perutnya saat mencium aroma dikamar itu. belum lagi cahaya matahari yang tak sedikitpun masuk karena semua jendela tertutup dan gorden tebal menghalangi cahaya masuk.
" Ruang apa ini? baunya seperti kandang kambing..." Ucap bening tanpa berpikir
Dirga yang mendengar semakin naik tensi.
Berbeda dengan Adam yang menahan senyum mendengar ucapan apa adanya dari bening. sepertinya gadis ini cukup tangguh.
Bening menuju jendela dan membuka semuanya, menyibak semua gorden hingga cahaya matahari bisa menerobos masuk. kamar menjadi terang menderang.
" Anda sepeti.vampir saja.. apakah cahaya matahari akan membakarmu?" sindir Bening sebal melihat Dirga.
" Matahari pagi, baik untuk kulit, mengandung Vitamin D" Dia menasehati Dirga seolah Dirga adalah anak bodoh.
Dirga memgepalkan tangan melihat sikap Bening yang kurang ajar.
Gadis itu benar-benar memancing emosi.
Dia memukul pegangan kursi roda dengan kasar.
" Tutup.kembali semua jendela itu..!!" bentaknya dengan mata memerah.
Bening diam saja.
" Tutup saja sendiri" pancingnya.
Dirga melotot ke arah suara Bening.
" Adam bantu aku." Dia berdiri dikursi Roda dengan tangan menggapai gapai.
Adam menghampiri.
"Tuntun aku.."
Dirga minta dituntun menuju jendela. Dengan susah payah dia menutup semua jendela kembali. berserta gorden- gordennya kamar kembali gelap gulita.
Saat Dirga kembali ke kursi roda. Bening membuka kembali semua jendela dan gorden.
Dirga terkejut.
" Kau...!??" Dia berteriak kesal.
" Hentikan!! tutup kembali semua. dasar gadis siluman..!!" Makinya putus asa.
Bening mengabaikan saja tetap pada Kegiatanya, akhirnya kamar itu terang kembali dipenuhi cahaya matahari pagi dan Bau di dalam kamar sedikit berkurang
Adam Bantu aku berdiri.." Dia berkata dengan nafas tertahan.
Bening berdiri saja di depan jendela
" Tutup kembali semua jendela Adam aku mohon.. " Dia berkata putus asa.
" ya..tapi tuan..." Adam ragu melihat ke arah bening. Bening menggeleng. melarang.
Dirga berdiri berjalan secara serampangan ke arah meja dia membuka laci meraba mencari sesuatu Disana, Dan mengeluarkan sebuah benda.
Mata bening membola.
" Pistol!!?" desisnya kaget
Adam pun tak kalah terkejutnya.
" Tu-tuan muda Anda mau apa? pistol itu Anada bisa mencelakai seseorang." Adam berteriak panik.
" Jika kau tak menutup jendela itu kupastikan senjata ini akan meletus dikamar ini"
Ancam Dirga tak main.- main.
Dan dia Benar-benar menembak tepat dimana Bening tadinya berdiri.
Untung saja gadis itu sudah berpindah tempat
Lututnya sampai gemetar karena takut.
"Ternyata pria ini memang gila.."
Bening mengabaikan perintah Dirga dia berlari cepat keluar kamar
" Tuan, Nona bening sudah pergi.."
" Adam tutup kembali semua jendela dan gorden itu.." pintanya dengan suara dingin dan meletakkan pistol dipangkuan.
" Awas saja kau gadis gila aku akan membalasmu."
Dirga tersenyum licik