Kisah cinta seorang gadis cantik yang rela mengorbankan masa depan demi kakak kesayangannya. Anin rela menikah dengan pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
Anindira, harus menjadi pengantin pengganti kakaknya yang kabur. Tak disangka sebelumnya, jika hari ini dia akan menjadi seorang pengantin dan menikah dengan calon suami kakaknya sendiri.
Akankah rumah tangga Anin dan Rico bertahan lama dan membuahkan benih cinta atau sebaliknya?
ikuti terus kisahnya....
ig :sitijenab451
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Jenab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik terang seorang Rico William
Anindira meraih ponsel di tas ransel untuk sekedar menghilangkan rasa jenuhnya. Anindira tertegun persekian detik ketika membaca berita yang sedang viral hari ini.
“PERNIKAHAN PEWARIS WLM GROUP (RICO WILLIAM DAN TIARA BRAMANTYO)”
“TERKUAK KETAMPANANAN PEWARIS TUNGGAL WLM GROUP”
“PASANGAN TEROMANTIS SEPANJANG MASA ( Rico dan Tiara)”
Kurang lebih seperti itulah judul-judul berita teratas yang dibaca Anindira, terdapat juga foto pernikahan Rico dan dirinya yang disangka Tiara disana.
“Oh, jadi dia putra tunggal” Ucapnya membulatkan mulutnya.
Terbesit dalam hatinya ketika membaca nama Tiara Bramantyo, kakak yang paling dikasihinya itu telah mengubah seluruh hidupnya hingga seratus delapan puluh derajat.
Anindira sama sekali tidak benci ataupun marah terhadap kakaknya, Anindira hanya bertanya-tanya apa yang menyebabkan kakaknya sampai lari dihari pernikahan mereka dan membuat dia harus menggantikan posisinya. Anindira yakin, jika kakaknya mempunyai alasan kuat melakukan hal tersebut.
Tapi Bukankah mereka saling mencintai.
Berita viral tersebut sukses menyita perhatian Anindira, sampai-sampai Anindira tidak mendengarkan bahwa ada suara ketukan pintu dari tadi.
“Permisi nona, tuan muda sudah di gerbang utama” Ucap Pak Mud yang sedikit mengeraskan suaranya, takut jika nona tertidur atau sedang berada di kamar mandi.
Anindira yang mendengar kata 'tuan muda' langsung terlonjak dan berlari kearah pintu meninggalkan ponselnya yang masih menyala di sofa.
“Kenapa paman tidak memberitahuku dari tadi?” Cemas Anindira yang langsung turun diikuti Pak Mud.
"Paman?" Pak Mud malah balik bertanya.
Ais nona ini, aku ini masih muda dan tampan. Bukan pak tua yang biasa kau panggil paman. Gerutu Pak Mud.
“Maaf nona, saya sudah mengetuk pintunya dari tadi namun tidak ada sahutan.”
Anindira terdiam mendengar penurutan pria tersebut. Dia menyadari kesalahannya.
Kemudian Anindira segera berlari menuju pintu utama dan melihat semua para pelayan sudah sigap berjejer menyambut kedatangan pria yang sekarang sudah menjadi suaminya.
Ini benar-benar nyata ternyata, kukira hanya di novel novel saja… Batin Anindira yang masih mengira jika ucapan Pak Mud hanya bercanda.
Anindira berdiri paling ujung dibarisan pelayan, Pak Mud yang melihatnya segera menghampirinya.
“Kenapa disini nona? Sambutlah tuan disana” Ujar Pak Mud.
“Aku? Kesana? Menyambutnya?” Rentetan pertanyaan Anindira sambil berbisik kepada Pak Mud tidak percaya.
Manusia seperti apa memang dia ini. Kenapa mesti harus disambut? Raja kah? Presiden kah? Atau pangeran?
Huhf orang kaya memang aneh. Batin Anin bertanya tanya.
Pak mud menganggukan kepalanya lalu tersenyum.
Dengan langkah berhati-hati Anindira berdiri di samping Pak Mud yang membukakan pintu mobil.
“Selamat datang tuan muda” Sapa Pak mud sambil membungkukan badan.
“Selamat datang tuan muda” Ucap Anindira menirukan gaya bicara Pak Mud membuat Rico menatapnya intens kemudian berlalu tanpa menjawabnya.
Dasar Arrogant…! Batin Anindira yang masih kesal atas ucapan Rico tadi pagi ditambah melihat tingkah Rico hari ini.
Pak Mud dan Anindira mengikuti langkah Rico diikuti oleh para pelayan dibelakangnya. Kemudian mereka mengundurkan diri ketika Rico sudah tidak terlihat dan masuk kedalam kamarnya.
“Selamat beristirahat tuan muda” Sapa Pak Mud yang mengantar tuannya hingga kedepan pintu kamar.
Rico tersenyum kemudian melanjutkan langkah kakinya masuk kedalam kamar diiikuti oleh Anindira. Rico mengistirahatkan tubuhnya, duduk diatas sofa dan mengangkat kedua kakinya keatas meja.
Anindira yang bingung harus melakukan apa hanya berdiri di samping Rico.
Rico mendapati benda yang mengganggu duduknya yang ternyata adalah ponsel milik Anin, dia meraih ponsel tersebut dan menatapnya.
Membolak balikan ponsel tersebut.
Duh mati aku..! Batin Anindira sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Rico memencet tombol on dan terpampang jelas foto Anindira dan Haikal sedang berpelukan disana.
Rico terdiam, dia ingat jika pria yang ada dalam foto ini adalah orang sama yang mengancam akan memenggal kepalanya.
Ck.
“Buka kuncinya!” Perintah Rico menjulurkan tangan tanpa menyerahkan ponselnya, Anindira menurut kemudian menyondongkan setangah badan dan membukakan kunci ponsel miliknya.
Rico terdiam.
Pria itu menatap lekat ponsel Anindira yang masih terpangpang jelas menampilkan berita yang dibaca Anindira tadi.
Di detik kemudian, Rico mengeraskan pegangan ponselnya hingga mencengkramnya, Kemudian beranjak dan membanting keras ponsel tersebut tepat di hadapan Anindira.
Prang!
Berita yang dilihat di ponsel Anindira sukses menyulut amarah Rico.
“Beraninya kau melihat berita ini…!” Ucap Riko yang langsung mencengkram dagu Anindira dan menyudutkannya di dinding.
“Maafkan aku… aku tidak sengaja.” Jawab Anindira terbata-bata sambil mencoba melepaskan cengkraman Rico yang kuat.
“Apa kau bilang? Tidak sengaja hah?” Suara Rico terdengar sangat berat karena cekatan giginya. Bahkan Anin dapat melihat rahang kokohnya menguat.
Sambil menahan sakitnya cengkraman, Anin menganggukan kepalanya pelan.
“Beraninya dia kabur dariku…! Kau yang harus membayar semuanya!” Tegas Rico
Rico melepas cengkramannya, kemudian menarik lengan Anindira dan menyeretnya masuk kedalam kamar mandi.
Rico bahkan mendorong Anindira sehingga masuk dan terbentur kedalam bath up, Anindira yang masih syok dengan perlakuan kasar Rico hanya menangis pelan tanpa berani mengeluarkan suaranya..
“Kakak tolong aku” Batin Anindira sambil memeluk kedua kakinya.
Rico menyalakan shower dan mengarahkannya kewajah Anindira.
Anindira meringis kesakitan ketika air yang arahkan kepadanya itu ternyata panas.
Rico terus mengarahkan shower tersebut tanpa memperdulikan tangisan Anin hingga menyentuh kulit wajahnya.
“Hahaha lihatlah Tiara aku sudah membalasmu” Tawa Rico yang menggema di kamar mandi luas miliknya.
Rico semakin puas ketika mendengar ringisan suara Anindira, dia semakin berambisi dan mengarahkan shower tersebut Kewajah Anindira tanpa ampun.
Tapi, tak lama kemudian tawa Rico mengecil, semakin kecil, kecil kemudian menangis.
“Tiara….!!!!” Teriak Rico menatap langit langit kamar mandi sambil menjatuhkan tubuhnya dilantai kamar mandi tepat di depan Anindira.
Anindira yang belum menyadari makna yang baru saja terjadi, langsung menghampiri dan menyentuh lengan kekar pria Arrogant tersebut.
“Tuan, Bangunlah” Ucap Anindira pelan sambil membantu Rico berdiri.
Anindira semakin dibuat panik ketika Rico malah memeluknya dengan sangat erat.
Rico menangis sesegukan dipelukan Anin, Rico menangis sejadi jadinya seperti anak kecil yang mengadu kepada ibunya. Dia menumpahkan seluruh kesedihannya dipelukan Anindira. Anindira yang menjadi iba karna sama-sama merasakan menjadi korban pernikahan tersebut juga ikut menitikan air mata.
“Tuan, Sabarlah. Tuhan pasti sudah menyiapkan penggangti yang terbaik untuk anda” Ujar Anindira dengan sangat lembut untuk menenangkan.
Mendengar suara Anindira membuat kesadaran Rico kembali, Pria itu langsung enyah dari posisinya. Beranjak kemudian pergi tanpa mengatakan apapun.
Bodoh! Umpatnya.
Dia telah memperlihatkan sisi lemahnya pada orang lain.
Anindira sempat termenung mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Anindira seakan menemukan titik terang sekarang, Rico yang sangat ditakuti selama ini ternyata mempunyai jiwa yang rapuh.
Sifat arogan dan keangkuhannya bukanlah sifat aslinya, mungkin dia memang sengaja bersikap seperti itu agar semua orang dapat segan dan menghormatinya. mungkin.
Tapi ternyata, dibalik sifat kerasnya tersembunyi sifatnya dan jiwanya yang sangat rapuh, dan mungkin karena kehilangan kekasih tercintanya Tiara. (Begitu fikir Anindira)
Anindira memutuskan segera membersihkan badan kemudian kembali ke kamar, dia tidak mendapati Rico disana. Anindira kemudian menghampiri ponselnya yang sudah hancur berkeping-keping dilantai.
Anindira menghembuskan nafasnya kasar, pasalnya seluruh kenangan keluarga dan masa kecilnya terdapat dalam ponsel tersebut.