Warning!!! 🚫 Bagi yang tidak suka adegan kekejaman dan penyiksaan, sebaiknya TIDAK USAH DIBACA!!! OK?! 🚫
Agar tidak meninggalkan komentar jelek diawal ❌❌❌
Cerita HAPPY ENDING 😍 jadi usahakan apabila ingin membaca, jangan dikasih komentar jelek sebelumnya!!! 🚫🚫🚫
Cerita penderitaan seorang gadis yang bernama Naina. Yang setiap hari disiksa oleh seorang Tuan Muda kejam (Arjuna Wijaya Kusuma).
Saran Author: Cukup baca season 1 & 2 saja.
Terimakasih 😍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal kehancuran
Seorang pelayan wanita yang berusia sekitar 30'an, yang bertugas mengurusi bagian kamar atas, menghampiri Naina yang tengah menatap kearah luar dengan tatapan kosong setelah kepergian Bu Lastri.
"Tuan Muda memerintahkan anda untuk segera membersihkan diri sebelum bertemu dengannya dan saya ditugaskan untuk menemani anda." ucap Wanita itu seraya tersenyum kepada Naina.
Perasaan Naina semakin kacau mendengar ucapan wanita itu. Naina melangkah gontai, mengikuti langkah kaki wanita itu menaiki anak tangga. Kedua tangannya saling bertautan. Telapak tangannya terasa dingin dan agak basah, Ia terus mengigit bibirnya sendiri. Naina benar-benar merasa ketakutan.
"Mari ikuti saya..." ucap Wanita itu lagi sambil membukakan pintu kamar Tuan Muda.
Saat pintu kamar itu terbuka, Ia langsung masuk kedalam ruangan itu. Benar-benar mengagumkan, kemewahan nya benar-benar membuat semua orang yang melihatnya akan terpukau.
Wanita itu terus berjalan menuntun Naina menuju kamar mandi pribadi Tuan Muda,
"Silahkan..." sambil tersenyum menyuruh Naina masuk ke kamar mandi itu.
Naina masih termenung, dia bingung kenapa ia harus membersihkan diri padahal hanya ingin bertemu Tuan Muda. Apalagi mandinya di kamar mandi pribadi Tuan Muda.
Wanita itu turut membantunya, walau sebenarnya ia merasa risih namun ia terpaksa membiarkannya. Tanpa rasa sungkan wanita itu membantu melepaskan pakaiannya kemudian melakukan ritual-ritual mandi yang tak pernah Naina lakukan sebelumnya.
Selesai melakukan ritual mandinya, Naina mengeringkan tubuhnya dengan handuk, ia ingin memakai pakaiannya lagi namun wanita itu malah memberikan pakaian baru yang terlihat sangat seksi. Naina sangat enggan mengenakannya namun wanita itu memaksa Naina memakainya.
Setelah selesai berpakaian wanita itu malah mendandaninya, Dengan senyuman manisnya wanita itu bermain di wajah polos Naina. Naina terlihat berbeda, ia terlihat lebih fresh dan cantik.
Kemudian wanita itu menggiringnya dan menyuruhnya menunggu Tuan Muda.
"Duduklah disini dan buat dirimu nyaman." ucapnya seraya mendudukkan Naina di sebuah sofa yang berada tepat di depan tempat tidur Tuan Muda kemudian ia keluar dari ruangan tersebut.
Tinggal lah Naina sendirian, ia melihat ke sekeliling ruangan, alangkah takjubnya ia dengan semua interior yang ada di dalamnya.
Ia menatap lekat ke arah pintu, perasaan takut, cemas dan kegugupannya menjadi satu. Naina terus mencengkeram ujung lingerie yang ia kenakan. Dan ia menghembuskan nafas panjangnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Sementara itu, wanita yang tadi membantunya membersihkan diri, berjalan menghampiri Tuan Muda yang terlihat sedikit mabuk.
"Tuan, dia sudah menunggu anda di dalam kamar." kata wanita itu serara membungkuk hormat pada majikannya itu.
"Bagusss! Aku suka itu..." sahut Tuan Muda yang sudah setengah mabuk itu sambil tertawa licik.
Gabriel membantunya menaiki tangga. Lelaki itu tak bisa menopang badannya sendiri untuk menaiki anak tangga tersebut karena kepalanya yang terasa begitu sakit.
Selang beberapa saat, terdengar suara pintu terbuka dan dengan secepat kilat Naina berdiri sambil menundukkan kepalanya.
Gabriel membukakan pintu kamar Tuan Muda kemudian ia menutupnya kembali setelah Tuan Muda nya memasuki ruangan tersebut.
Gabriel sempat melihat kearah gadis yang sedang mengenakan pakaian seksi itu, Ia merasa kasihan tapi ia tak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkannya.
Tak tak tak...
Suara sepatu Tuan Muda di atas lantai kamar terdengar mendekat ke arahnya. Naina benar-benar tidak berani melihat ke arah asal suara tersebut.
Naina mencium aroma menyengat mendekati dirinya.
"Hmmm, ternyata kau sudah disini rupanya!" seru Tuan Muda yang semakin mendekat kepadanya.
Naina semakin panik, ia semakin menundukkan kepalanya lebih dalam lagi.
"Lihat aku!!!" ucap Tuan Muda seraya mencengkeram wajah Naina dengan kuat.
Naina tidak bisa berbuat apa-apa, ia nampak kesakitan. Dia bahkan tidak berani menyentuh tangan Tuan Muda yang mencengkeram kuat di wajahnya. Tuan muda menatap lekat mata Naina dengan penuh amarah dan kebencian.
Airmata Naina tumpah ia benar-benar ketakutan. Seluruh badannya bergetar, keringat dingin keluar di setiap pori-pori kulitnya. Semakin airmata Naina jatuh semakin kuat pula cengkeraman lelaki itu.
Plakkkkk...!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Naina dan membuatnya jatuh tersungkur di lantai kamar. Terlihat sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah akibat pukulan Tuan Muda.
"Ampun, Tuan!!! Ampunnnn...." pinta Naina seraya bersimpuh di depan kaki Tuan Muda sambil terisak-isak. Airmatanya jatuh berderai membasahi pipinya.
Juna menjambak rambut Naina dengan keras sehingga ia meraung kesakitan dan membuat tubuh mungilnya berdiri tepat di hadapan Lelaki kejam itu.
"Jangan menangis, semakin kau menangis aku semakin bersemangat untuk menyakiti mu!" ucapnya penuh dengan kebencian menatap gadis itu.
"Iya... iya, Tuan!" sahut Naina sambil menahan sakit di kepalanya, iapun segera menyeka airmata nya agar Tuan Muda tidak menghukumnya lagi.
"Kalau kau ingin selamat malam inil, turuti semua perintah ku!" ucap Tuan Muda sambil menatap lekat wajah Naina.
Naina mengangguk cepat, ia ketakutan dan berharap Tuan Muda melepaskan cengkeraman kuat di atas kepalanya.
Juna melemparkan tubuh mungil Naina keatas tempat tidurnya kemudian ia mulai mendekati gadis yang tengah ketakutan itu.
Juna menanggalkan semua pakaian yang sedang ia kenakan hingga tak satupun bersisa. Dan sekarang gadis itu melihat tubuh polos Tuan Mudanya tanpa sehelai benang.
"Ampun, Tuan! Aku akan melakukan apa saja asal jangan seperti ini..." pinta Naina lagi sambil menangkupkan kedua tangannya, ia memohon ampun, tangisannya pun kembali pecah.
Juna semakin kalap menatap mata Naina yang menghiba, memohon belas kasiannya. Tanpa ampun ia menampar wajah Naina dengan lebih keras lagi hingga ujung bibirnya membiru kedua pipinya merah dengan bekas tamparan tangan kekar lelaki itu.
Sambil terus menyiksa wanita itu, ia melepaskan pakaian Naina dengan kasar. Naina hanya menangis minta ampun namun Lelaki itu tetap tidak mempedulikan nya.
"Ampun, Tuan! Ampuni aku, Tuan. Ku mohon jangan siksa aku lagi..." pinta Naina sambil terus mencoba meminta belas kasihannya.
Tidak peduli dengan jeritan Naina, Juna malah menjamah seluruh tubuh Naina dengan kasar. Ia semakin kalap melihat tubuh mungil itu polos. Ia bahkan menggigitnya hingga menimbulkan luka bekas gigitan yang memerah.
Hingga akhirnya Juna melakukan itu. Ia mencoba menyatukan tubuhnya ke tubuh Naina. Dengan sangat kasar, ia menghentak-hentakan tubuhnya mendorong tubuh mungil itu.
Naina menangis sejadi-jadinya. Ia mencoba melawan malah tamparan yang bertubi-tubi yang mendarat di pipinya yang mulus.
Ia meringis kesakitan saat juna berhasil merenggut kesucian nya. Airmata nya mengalir deras. Dan tanpa mempedulikan kesakitan yang di rasakan oleh Naina, Juna malah semakin bersemangat melampiaskan hasratnya.
Dengan serakah ia terus memompa tubuh nya hingga akhirnya ia sampai pada puncaknya. ia melepaskannya. Lelaki itu tersengal-sengal, kemudian menjatuhkan dirinya di samping Naina yang sudah terkulai lemas karena siksaan yang ia dapatkan dari lelaki itu.
...***...
kalau ikhlas
perasaan baru beberapakali hari Lo
ohy juna uda lht ankny blm y thor