NovelToon NovelToon
Sistem Lempar Dadu Monopoly

Sistem Lempar Dadu Monopoly

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.

Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.

Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Malam ini angin berhembus cukup kencang menyapu jalanan yang mulai sepi.

Budi merapatkan jaket lusuhnya sambil terus meraba saku celana kanannya.

Dia hanya ingin memastikan lima lembar uang seratus ribuan itu masih aman berdiam di sana.

Senyum lebar tidak bisa lepas dari wajahnya yang lesu dan kurang tidur.

'Rasanya benar benar seperti mimpi ketiban durian runtuh.'

'Sistem aneh itu tidak berbohong soal hadiah uang tunai.'

Langkah kakinya yang tadi saat pulang terasa sangat berat kini berubah menjadi seringan kapas.

Perutnya memang masih melilit parah tapi semangatnya sedang berada di puncak tertinggi.

Tujuannya saat ini hanya satu.

Sebuah warung makan tenda bertuliskan Nasi Padang Uda Buyung yang terletak tidak jauh dari mulut gang kosannya.

Warung itu buka dua puluh empat jam penuh.

Bagi anak kos berpenghasilan pas-pasan seperti Budi, tempat itu adalah surga dunia jika tanggal muda tiba.

Kruyuk kruyuk.

Perut Budi kembali meronta meminta jatah saat aroma bumbu rempah khas Padang menusuk hidungnya.

Dia melangkah masuk ke dalam tenda dan langsung disambut oleh pria paruh baya yang sedang mengelap meja.

"Eh Budi, tumben malam malam begini baru keluar cari makan."

Pria itu adalah Uda Buyung sang pemilik warung yang sudah sangat hafal dengan wajah Budi.

"Iya Uda, tadi ketiduran sepulang kerja jadi baru sempat keluar sekarang."

Budi berjalan mendekati etalase kaca yang memajang tumpukan lauk pauk menggiurkan.

Matanya langsung tertuju pada potongan daging rendang yang berwarna gelap dan berminyak.

"Mau pesan seperti biasa Bud, nasi bungkus pakai kuah bumbu dan daun singkong saja."

Uda Buyung sudah mengambil kertas pembungkus cokelat dan bersiap menyendok nasi.

Biasanya Budi memang hanya sanggup membeli menu paling murah itu seharga sepuluh ribu rupiah.

"Tunggu dulu Uda, malam ini menunya beda."

Budi mengangkat tangannya untuk menghentikan gerakan Uda Buyung.

"Loh, memangnya kamu mau pakai lauk apa malam ini."

"Saya mau nasi bungkus porsi besar."

Budi menelan ludahnya menatap etalase.

"Pakai rendang dua potong, telur dadar satu, perkedel kentang satu, dan siram kuah gulai yang banyak."

Uda Buyung menghentikan gerakannya dan menatap Budi dengan tatapan penuh keheranan.

"Kamu tidak sedang kerasukan jin penunggu perempatan gang kan Bud."

"Sembarangan saja kalau bicara Uda ini."

Budi tertawa pelan mendengar candaan pemilik warung itu.

"Aku baru dapat bonus tambahan dari kantor Uda, jadi mau makan enak sedikit."

Tentu saja Budi terpaksa berbohong karena tidak mungkin dia menceritakan soal Sistem Lempar Dadu.

Bisa bisa dia malah dibawa ke rumah sakit jiwa terdekat jika bercerita soal papan hologram.

"Wah syukurlah kalau begitu, sebentar Uda bungkuskan yang paling spesial untuk kamu."

Sreng sreng.

Suara sendok sayur beradu dengan panci aluminium terdengar merdu di telinga Budi.

Dalam waktu singkat satu bungkus nasi Padang berukuran jumbo sudah berpindah ke tangan Budi.

"Semuanya jadi empat puluh ribu rupiah Bud."

Budi dengan gaya sedikit sombong mengeluarkan satu lembar uang seratus ribu dari sakunya.

Dia menyerahkan uang merah itu kepada Uda Buyung.

"Kembaliannya ambil saja Uda buat tambah tambah."

"Eh yang benar kamu Bud, uang enam puluh ribu kok disuruh ambil."

Uda Buyung menolak dan tetap memberikan uang kembalian berupa selembar lima puluh ribu dan sepuluh ribu.

"Anak kos seperti kamu lebih butuh uang pegangan, sudah simpan saja ini."

Budi tersenyum canggung dan menerima uang kembalian itu.

'Uda Buyung memang orang baik, pantas saja warungnya selalu laris.'

"Terima kasih banyak Uda, saya pamit pulang dulu."

Budi keluar dari tenda Nasi Padang dengan perasaan sangat puas.

Di tangan kanannya ada bungkusan makanan yang terasa hangat.

Namun sebelum kembali ke kamar kos, matanya tertuju pada cahaya terang dari seberang jalan.

Itu adalah minimarket dua puluh empat jam yang selalu dia lewati setiap hari.

'Makan Nasi Padang pedas pasti butuh minuman dingin yang segar.'

'Uangku masih sisa enam ratus enam puluh ribu, beli minuman botol gak papa kan ya...'

Budi melangkah menyeberangi jalan raya yang sudah sepi kendaraan.

Dia mendorong pintu kaca minimarket tersebut.

Ting tong.

Suara bel elektronik berbunyi menandakan ada pelanggan yang masuk.

Hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut kulit Budi.

"Selamat malam, selamat datang di minimarket kami."

Suara sapaan lembut itu berasal dari area meja kasir.

Budi menoleh dan melihat seorang wanita muda berseragam minimarket sedang berdiri di sana.

Namanya adalah Maya.

Mbak Maya adalah kasir sif malam yang sudah lumayan lama bekerja di sana.

Rambutnya diikat ekor kuda dan wajahnya tetap terlihat manis meski gurat kelelahan jelas terlihat di matanya.

Budi sering diam diam memperhatikan Mbak Maya setiap kali mampir untuk beli mi instan.

Tapi dia tidak pernah berani mengajak mengobrol lebih dari urusan kasir.

Budi hanya mengangguk pelan membalas sapaan Maya lalu berjalan ke arah lemari pendingin.

Dia mengambil dua botol teh manis dingin berukuran sedang.

Setelah itu dia mengambil beberapa bungkus camilan ringan dari rak sebelah.

Budi membawa semua barang itu ke meja kasir dan meletakkannya di depan Maya.

"Semuanya jadi dua puluh lima ribu rupiah Mas."

Maya memindai barcode barang barang tersebut satu per satu menggunakan alat pemindai.

Tit tit tit.

Budi mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari dompet bututnya.

Maya menerima uang itu dan mulai membuka laci kasir untuk mencari kembalian.

"Tumben malam ini belanja lumayan banyak Mas Budi."

Maya mencoba membuka obrolan ringan sambil menghitung uang kembalian.

Budi sedikit terkejut karena Maya ternyata hafal namanya.

"Ah iya Mbak Maya, kebetulan lagi kepingin ngemil saja di kosan."

"Muka Mas Budi juga kelihatan lebih cerah dari biasanya, lagi ada kabar baik ya."

Maya menyerahkan uang kembalian beserta struk belanjanya sambil tersenyum tipis.

Senyum itu entah kenapa membuat dada Budi sedikit berdesir.

'Wah gawat, ternyata ditanya hal sepele oleh perempuan cantik rasanya seperti ini.'

"Tidak ada kabar baik yang spesial kok Mbak."

Budi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk menutupi rasa gugupnya.

"Cuma tadi kebetulan dompet jatuh dan isinya masih utuh, jadi rasanya senang saja."

Maya tertawa kecil mendengar jawaban ngawur dari Budi.

"Ada ada saja Mas Budi ini, silakan barangnya Mas, terima kasih."

"Sama sama Mbak, saya permisi dulu."

Budi mengambil kantong plastiknya dan bergegas keluar dari minimarket.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Dia menghela napas panjang saat hawa dingin malam kembali menerpa wajahnya.

'Kenapa aku malah gugup begitu di depan Mbak Maya.'

'Padahal dia cuma kasir minimarket biasa yang ramah pada semua pelanggan.'

Budi menggelengkan kepalanya mencoba mengusir pikiran aneh yang mulai muncul.

Fokus utamanya sekarang adalah mengisi perut dan merencanakan masa depan.

Sesampainya di kamar kos yang pengap, Budi langsung duduk bersila di atas lantai.

Dia membuka bungkusan Nasi Padang itu dengan tangan gemetar saking tidak sabarnya.

Aroma rendang dan bumbu gulai yang kaya rempah langsung memenuhi ruangan sempit itu.

Budi menyendok nasi beserta potongan daging rendang ke dalam mulutnya.

Nyam nyam nyam.

1
Rickielessta
baguss...lanjutkan...semangat yaaa thoorr
Just Nokk
semangat 💪
irena
lanjut thor
Gege
baru juga 100jt kurang sebulan bud... masih belom milyarder namanya...🤣🤭 buka saja usaha sesuai kemampuan. misal bikin aplikasi kasir menengan kebawah tidak mahal tapi lengkap dan mudah via bahasa Excel. target 1 juta UMKM yang pakai beli..omset prediksi milyaran sebulannya...contoh lho bud...Yen cocok.
Ahmadi 241215: itu orang kantoran apa supir kantor murah apa gajihnya🤣
total 2 replies
Wega Luna
hidupnya berputar disitu saja ,kerja, supermarket,nasi goreng,kost ,main sistem🤭.GK ada suasana yang lain kah
Just Nokk
mangat Thor
Yui: makasih kak😊
total 1 replies
Gege
disini kesalahan othor. jelas jelas semalam dapat pengetahuannya, Eeh mengklaim nya kemarin siang...🤭🤣
Yui: terimakasih atas koreksinya/Applaud/
total 1 replies
adib
dua vote meluncur efek hari ni update banyak
Yui: Terimakasih kak🤭
total 1 replies
Gege
kita....othor aja kalee😄🤣🤭
Yui: Kita/Smile/
total 1 replies
Gege
kereen Thor.. dibawa ringan santai ceritanya... Yoo mas Budi lemparan dadu kedua dapat semilyar..🤣🤣
Gege
asik ringan ngalir ceritanya
Gege
gass lagi thorrr 10k kata
Gege
laah sisa 200k + 500k dibelanjakan 40k.. sisanya yaa 660k doong bud... sekolah engga ini..😄🤭
Fantastik: waduh
total 2 replies
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!