NovelToon NovelToon
REINKARNASI SI PAHLAWAN 5 ELEMEN

REINKARNASI SI PAHLAWAN 5 ELEMEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Anime / Reinkarnasi
Popularitas:926
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.

Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Misi Penyelidikan di Pinggir Hutan

Pagi itu, sinar matahari menyebar hangat melalui celah jendela penginapan, membangunkan Rey dan Sylfia dengan lembut. Setelah beristirahat cukup dan memulihkan tenaga sepenuhnya, keduanya bersiap menuju Balai Persekutuan Petualang untuk melihat tugas-tugas terbaru yang tersedia. Suasana hati mereka terasa lebih ringan dan penuh semangat setelah menyelesaikan tugas pengawalan dengan hasil yang memuaskan.

Sesampainya di gedung persekutuan, suasana sudah mulai ramai seperti biasa. Para petualang berdatangan sejak pagi, berkerumun membaca daftar misi atau berdiskusi dengan rekan-rekan mereka. Rey dan Sylfia langsung menuju papan pengumuman yang kini menampilkan lebih banyak pilihan tugas yang sesuai dengan peringkat mereka saat ini.

Setelah membaca satu per satu dengan cermat, mata Rey tertuju pada sebuah pengumuman yang ditulis dengan tinta berwarna sedikit lebih gelap, menandakan tugas yang cukup diperhatikan.

MISI: PENYELIDIKAN AKTIVITAS MAKHLUK DI BATAS HUTAN UTARA

Tingkat Kesulitan: D+

Lokasi: Kawasan pinggiran Hutan Terlarang, sekitar 4 km dari jalur utama

Keterangan: Warga desa sekitar melaporkan peningkatan jumlah makhluk buas yang keluar dari hutan, merusak tanaman dan menyerang ternak. Belum ada korban jiwa, namun situasi mulai mengkhawatirkan.

Tugas: Lakukan pengamatan, cari penyebab perubahan perilaku makhluk, dan laporkan hasilnya. Jika memungkinkan, kendalikan gangguan tanpa memasuki wilayah inti hutan.

Upah: 90 keping perak + akses ke laporan informasi wilayah terkait

Peringkat yang dibutuhkan: Minimal D

Membaca keterangan itu, Rey dan Sylfia saling bertukar pandang. Ini adalah kesempatan yang pas—tidak terlalu berbahaya, namun membawa mereka lebih dekat ke wilayah yang menjadi pusat rasa ingin tahu mereka sekaligus mengumpulkan informasi awal.

“Bagaimana? Ini terasa cocok untuk langkah kita selanjutnya,” kata Rey pelan. “Kita bisa melihat langsung kondisi di sekitar hutan itu tanpa harus masuk terlalu dalam ke daerah terlarangnya.”

Sylfia mengangguk setuju dengan tatapan waspada namun antusias. “Setuju. Ini juga sesuai dengan rencana kita untuk mengumpulkan data sedikit demi sedikit. Tapi kita harus tetap berhati-hati, jangan sampai melangkah terlalu jauh jika situasinya terasa berbahaya.”

Mereka segera mendaftarkan diri ke meja pendaftaran. Lina yang melayani mereka mengangguk setelah melihat pilihan misi itu.

“Wajar saja kalian memilih tugas ini. Banyak yang menghindar karena lokasinya dekat dengan Hutan Terlarang, tapi selama tetap di batas aman, risikonya masih bisa dihadapi petualang peringkat D,” ujar Lina sambil mencatat nama mereka. “Ingat pesan ini: jangan sekali-kali melintasi garis batas yang sudah ditandai dengan tiang batu. Wilayah di baliknya berada di luar kendali hukum dan keamanan kerajaan. Tetap waspada dan segera mundur jika merasakan tekanan energi yang tidak wajar.”

“Kami mengerti dan akan berhati-hati,” jawab Rey dengan tegas.

Setelah mendapatkan peta wilayah dan keterangan tambahan, mereka segera kembali ke penginapan untuk memeriksa kembali perlengkapan. Kali ini mereka membawa lebih banyak ramuan deteksi racun, tali pengikat yang kuat, serta peralatan untuk mencatat jejak dan kondisi lingkungan. Rey juga menyiapkan energi dalam tubuhnya, menyeimbangkan aliran kelima elemen agar bisa menggunakannya secara cepat dan terkontrol kapan saja diperlukan.

Perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar dua jam. Semakin mendekati kawasan utara, pemandangan berubah secara bertahap. Padang rumput yang hijau dan teratur perlahan berganti menjadi tanah yang agak gersang dengan tumbuhan yang berwarna lebih kusam, dan pepohonan mulai tumbuh lebih rapat serta berukuran lebih besar. Udara pun terasa berbeda—sedikit lebih dingin, lembab, dan terasa berat seolah menekan paru-paru meskipun hanya sedikit.

Begitu sampai di pos pengamatan awal yang ditandai dengan tiang batu tinggi berukir lambang kerajaan, mereka berhenti sejenak untuk menyesuaikan diri. Di depan mereka terbentang hamparan hutan yang tampak gelap dan sunyi, dengan batas yang jelas terlihat: di sebelah kiri masih terlihat lingkungan alami yang seimbang, sedangkan di sebelah kanan masuk ke wilayah yang dikelilingi kabut tipis yang tidak tersapu angin sama sekali.

“Ini dia,” gumam Sylfia sambil mengerutkan kening, tangannya perlahan menyentuh batang pohon terdekat seolah merasakan denyutnya. “Lihatlah tanaman ini—daunnya layu meskipun tidak kekurangan air, dan energinya terasa tertekan seolah diserap sesuatu.”

Rey mengamati sekeliling dengan pandangan tajam dan juga menggunakan indra batinnya. Ia bisa merasakan aliran energi alam di wilayah ini terputus-putus, berputar tidak teratur, dan mengalir menuju satu titik tertentu yang terletak jauh di dalam kabut.

“Kau benar. Seolah ada lubang besar yang menarik semua kekuatan hidup ke arah sana. Tidak heran makhluk-makhluk di sekitar menjadi gelisah dan keluar mencari tempat yang lebih nyaman,” jawab Rey sambil membuka peta untuk menandai posisi mereka.

Mereka mulai bergerak perlahan menyusuri jalur pengamatan yang aman, berjalan sejajar dengan batas hutan sambil mencatat setiap perubahan yang terlihat. Tidak lama berjalan, mereka menemukan jejak kaki besar yang tercetak dalam di tanah—jejak serigala raksasa, jenis yang biasanya hidup jauh di dalam hutan dan tidak pernah mendekati wilayah pemukiman manusia.

“Besarnya dua kali lipat dari serigala biasa, dan jarak antar jejaknya menunjukkan gerakan yang tergesa-gesa seolah dikejar sesuatu,” ujar Sylfia sambil memeriksa jejak itu dengan cermat.

Mereka melanjutkan perjalanan lebih hati-hati, tetap menjaga jarak aman dari batas wilayah terlarang. Sekitar satu jam kemudian, mereka mendengar suara gemeretak ranting dan gerakan dedaunan yang berdesir. Keduanya segera bersembunyi di balik semak besar, mengintip ke arah sumber suara dengan waspada.

Tidak lama kemudian, muncul tiga ekor serigala besar dengan bulu berwarna abu-abu gelap yang kusam, mata mereka bersinar redup dengan cahaya kekuningan, dan napas yang terengah-engah. Gerakan mereka tidak lincah seperti hewan sehat, melainkan kaku dan terlihat dipaksa bergerak, seolah ada kekuatan asing yang mengendalikan tubuh mereka.

“Lihat matanya… tidak ada kesadaran yang jelas. Mereka seperti dikendalikan atau teracuni energi negatif,” bisik Rey perlahan agar tidak menarik perhatian.

Serigala-serigala itu berhenti sejenak, mengendus udara, lalu tiba-tiba menoleh ke arah tempat persembunyian Rey dan Sylfia. Tanpa peringatan apa pun, mereka menggeram rendah dan langsung melompat mendekat dengan kecepatan yang lebih cepat dari perkiraan.

“Siap! Jangan bunuh, cukup lumpuhkan saja!” teriak Rey singkat sambil melangkah keluar dari persembunyiannya, siap menghadapi serangan itu.

Ia mengerahkan energi angin dalam jumlah sedang, membentuk dua dinding udara tak terlihat yang menghantam tubuh dua ekor serigala terdepan tepat di dada. Serangan itu cukup kuat untuk membuat mereka terlempar mundur dan terjatuh pusing, tanpa melukai organ vital mereka.

Sementara itu, Sylfia segera mengeluarkan sihir elemen cahayanya. Ia memancarkan cahaya lembut namun terfokus yang menyinari mata serigala ketiga, membuat makhluk itu mengerang kesakitan dan menutup matanya, kehilangan keseimbangan. Cahaya itu juga berfungsi menetralisir sedikit energi negatif yang menempel pada tubuhnya, membuat gerakannya menjadi lebih lambat dan kurang agresif.

Dalam waktu kurang dari dua menit, ketiga serigala itu sudah tergeletak lemah dan tidak mampu melanjutkan serangan. Rey mendekati mereka dengan hati-hati, meletakkan telapak tangannya di atas kepala salah satu serigala itu sambil mengerahkan energi elemen air yang menenangkan dan elemen tanah yang menstabilkan.

Begitu energi itu mengalir, tubuh serigala itu bergetar sebentar, napasnya menjadi lebih teratur, dan cahaya kuning di matanya perlahan memudar kembali menjadi warna alaminya. Makhluk itu mendongak menatap Rey dengan pandangan yang kembali sadar, seolah mengungkapkan rasa bingung dan takut, lalu dengan cepat bangkit dan melarikan diri kembali ke dalam hutan, diikuti oleh kedua kawannya yang juga sudah mulai pulih.

“Mereka memang dipengaruhi sesuatu. Begitu energi negatifnya sedikit dinetralkan, kesadaran mereka kembali dan mereka tahu harus lari menjauh dari sumber bahayanya,” jelas Rey sambil berdiri kembali dan mengusap debu di bajunya.

Sylfia mendekat dengan wajah yang semakin serius. “Ini semakin jelas. Ada sesuatu yang memancarkan energi kacau yang mengganggu keseimbangan alam dan mempengaruhi perilaku semua makhluk hidup di sekitarnya. Jika dibiarkan, pengaruhnya akan terus meluas dan bisa mencapai desa-desa bahkan hingga ke kota nanti.”

Mereka terus melakukan pengamatan sepanjang hari, mencatat berbagai gejala yang sama pada tumbuhan dan jejak makhluk lain. Saat matahari mulai condong ke barat dan kabut di batas hutan mulai terlihat lebih tebal serta berwarna agak kelabu, mereka memutuskan untuk mengakhiri pengamatan hari itu dan kembali ke kota sebelum hari gelap.

Dalam perjalanan pulang, pikiran Rey terus bekerja. Apa yang mereka lihat bukanlah kejadian biasa. Ada kekuatan asing yang mengganggu keseimbangan alam, dan sebagai orang yang menguasai kelima elemen alam sekaligus, ia merasa memiliki kewajiban untuk mengetahui penyebabnya lebih dalam. Namun ia juga sadar, saat ini kekuatan mereka belum cukup kuat untuk menghadapi apa pun yang ada di dalam sana.

“Kita punya cukup bukti untuk laporan nanti,” kata Rey sambil berjalan berdampingan dengan Sylfia. “Ini baru permulaan. Semakin banyak informasi yang kita kumpulkan, semakin jelas gambaran apa yang sebenarnya terjadi. Dan nanti, ketika kita sudah cukup kuat dan memiliki izin resmi, kita akan kembali lagi untuk menyelidiki sampai ke akar permasalahannya.”

Sylfia mengangguk setuju, matanya menatap ke arah kejauhan tempat hutan itu tersembunyi di balik cakrawala. “Aku percaya kita akan menemukan jawabannya. Dan apa pun yang ada di balik sana, kita akan menghadapinya bersama-sama.”

Saat mereka melangkah mendekati gerbang kota, langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Hari itu telah memberi mereka pemahaman baru, serta mengarahkan jalan petualangan mereka ke tujuan yang lebih jelas—mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik Hutan Terlarang dan mengembalikan keseimbangan yang terganggu di dunia ini.

1
SecretivePlotter
setidaknya bukan keluarga budak
SecretivePlotter
rey keisuke cucunya kakek sugiono
SecretivePlotter
authornya pasti 29 thun juga🤭
SecretivePlotter
bayi koek
SecretivePlotter
kalo lu mau sosialisasi juga gak bakal sepi
SecretivePlotter
nolep
anggita
ikut ng👍like, iklan aja, moga novelnya lancar jaya👌.
Nacha Adhi: 😍😍😍😍 makasih senior
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!