Namanya Sinta Anjani, janda satu anak yang mempunyai ambisi untuk mencari suami dan ayah baru untuk anaknya, James. Kegagalan rumah tangga disebabkan oleh mantan suami yang dengan tega menyelingkuhi dirinya bahkan ketika janda itu dalam keadaan hamil. Tentu saja banyak rintangan dalam masa pencarian jodohnya, beberapa konflik keluarga bahkan sahabat baru dalam hidupnya menjadi kendala besar bagi janda itu. Akankah Sinta melabuhkan lagi cintanya? atau dia memutuskan untuk hidup tanpa ikatan pernikahan dan memilih menjadi seorang janda seumur hidup? entahlah kita ikuti saja takdir sang kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurlaeli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FIRMAN ATAU .. ?
James rewel digendongan sang nenek, mama Sinta sudah sampai di Jogja dia datang bersama Firman, nampaknya aksi mendekatkan putri jandanya dengan pengusaha yang sudah tidak bisa dibilang muda itu masih berlaku, Firman yang sedari tadi gelisah matanya bergerak kesana kemari menunggu dengan sabar pujaan hatinya itu. Sudah satu jam sejak calon mertuanya menelfon Sinta dan perempuan itu belum juga sampai, Siti tengah memasak sesuatu untuk dia hidangkan kepada ibu majikannya, Sesekali dia melongok keruang televisi untuk mengecek keadaan bayi yang sudah hampir dua bulan diasuhnya itu, James kali ini sudah sedikit tenang tangisannya sudah tak sekencang tadi.
"Tenang dong Nak Firman, sebentar lagi dia juga pulang," Firman yang ketahuan sedikit gelisah hanya membalas dengan kekehan, tertarik dengan bayi laki-laki yang sedang menangis kecil digendongan sang nenek tangan Firman terulur untuk bergantian menggendong James, mama Sinta yang mengerti akan maksut Firman menyerahkan James kepada laki-laki itu namun tak disangka James menangis semakin kencang, Siti datang dengan dua piring makanan dinampan memberikannya dengan sopan kepada Dewi dan juga menaruh di meja Firman dia tidak tega dengan James yang terus menangis dengan sopan Siti mengambil James dan menenangkannya dibalkon apartemen, Siti menimang-nimang James yang sudah merasa tenang dan mata kecilnya sedikit mengintip bibir merahnya yang menguap, bayi itu mengantuk rupanya. Siti membawa ke dalam menuju kamar majikannya menidurkan James dengan telaten, Firman dan Dewi menikmati soto ayam buatan pengasuh James rasanya sedikit asin tetapi mereka tetap menikmatinya.
***
Dapur luas yang berisikan peralatan memasak berharga mahal itu tampak sudah bersih kembali setelah selesai membuatkan makanan untuk Bram Sinta tidak luput juga untuk membersihkannya, sekarang dia tengah duduk menyaksikan Bram seperti singa kelaparan, laki-laki itu memakan masakan Sinta dengan rakus.
"Kamu juga mau?" tawar Bram sambil menyodorkan satu sendok ayam goreng dan nasi kedalam mulut Sinta.
"Aa buka mulutmu!" Sinta membuka mulutnya menerima suapan Bram, rasanya tidak buruk tidak sia-sia dia selalu membantu mamanya ketika memasak tangan lihai sang mama ternyata juga menurun kepada putrinya.
"Aku sudah menuruti perkataanmu sekarang berikan kunci mobilku, aku harus segera pulang!"
Bram tidak mendengarkan meski sebenarnya dia sangat mendengar ucapan Sinta dengan jelas, mungkin maksudnya adalah pura-pura tidak mendengar.
"Baiklah kalau begitu aku akan naik ojek," Sinta berdiri yang membuat Bram menghentikan acara makannya, dia meminum segelas air putih lalu menyusul Sinta.
"Akan aku antar!"
"Tidak perlu Bram kamu hanya mempersulit keadaan laki-laki itu datang bersama mamaku."
"Lalu?" Bram dungu dan tetap masuk kedalam mobil dengan sangat terpaksa Sinta juga ikut masuk kedalam mobil itu, dilihat saja sekarang Sinta sedang gugup apa yang akan dikatakan mamanya nanti ketika dia bersama seorang laki-laki, meski Sinta tidak menginginkan Firman tetapi tetap saja dia yang dulu pernah memberi celah masuk untuk Firman, memberi laki-laki itu syarat jika mampu mengambil hati James jelas itu adalah seperti kalimat undangan untuk Firman.
"Kamu tidak perlu khawatir kita hanya perlu membicarakan yang sebenarnya," Bram seperti mengerti arti kegugupan Sinta.
"Maksud mu?"
"Akan aku katakan bahwa aku adalah calon ayah James yang baru."
"Jangan gila kamu Bram!" Sinta menoleh melihat raut ketenangan diwajah laki-laki itu.
"Kamu tahu kan Sinta kalau aku tidak pernah main-main dengan ucapanku?" mobil mereka sekarang sudah sampai didepan gedung apartemen Sinta.
"Pergilah kemanapun dengan mobilku aku akan turun sendiri!" Sinta turun dari mobilnya setelah beberapa langkah menjauh dia menoleh kebelakang, mobilnya itu sudah tidak ada sepertinya Bram kali ini bercanda dengan perkataannya laki-laki itu pergi menuruti perkataan Sinta.
huft
Dihelanya nafas bersyukur dia melanjutkan perjalanannya menaiki lift menuju kedalam apartemen, setelah pintu lift terbuka dia keluar membuka sandi pintu apartemennya setelah berhasil terbuka Sinta lalu masuk kedalam dia langsung merasakan mamanya memeluknya dengan erat, dibalasnya lebih erat lagi pelukan mamanya itu Sinta melirikkan matanya sekilas ketempat Firman berada laki-laki itu tersenyum kearahnya, sungguh Sinta merasa risi.
"Sudah cukup ma!"
"kamu ini kenapa si sayang ketus banget sama mama," Dewi mengikuti langkah kecil Sinta menuju dapur, mengambil segelas air putih lalu meminumnya.
"Mama kenapa kesini sama dia?" kepala Sinta bergerak mengisyaratkan arah Firman berada.
"Loh mama kan kangen sama kamu dan juga James kebetulan Firman juga tidak keberatan mengantar Mama."
Sinta melangkahkan kembali kakinya yang selalu diikuti oleh Dewi.
"Bisa kita bicara sebentar?" Sinta mengajak Firman tanpa menoleh ke orangnya dia keluar apartemen yang langsung disusul cepat oleh Firman, sedangkan Dewi tampak tersenyum penuh arti dibalik tangannya yang ia pakai untuk menutupi bibir tebalnya itu.
........
Sinta dan Firman terus berjalan tanpa arah kini mereka berada didepan taman kota letaknya memang tidak begitu jauh dari apartemen, Sinta berhenti begitu juga Firman.
"Aku akan mencabut kembali ucapanku ketika di Bandung waktu itu," Sinta mengamati sekeliling banyak sekali anak-anak yang berlarian kesana kemari muda-mudi yang sedang asyik dimabuk asmara hingga orang-orang berusia lanjut yang sedang berolahraga sore.
Firman mengerutkan keningnya tidak tahu apa maksut perkataan Sinta.
"Maksud mu?"
"Lupakan niatmu untuk mendekatiku dan juga James aku sudah tidak tertarik mencari suami baru," Sinta sangat ingin mencabik tampang dingin didepannya itu, Firman tidak berekspresi sama sekali, meski sudah setengah tua tetapi laki-laki itu masih terlihat segar.
"Maaf Sinta tetapi usaha dan niatku sudah bulat mau tidak mau jika nanti aku berhasil mengambil hati James maka aku akan menikahimu!"
"Lupakan tentang itu karena aku tidak akan menerimamu."
"Aku sudah mendapat restu dari tante Dewi hanya tinggal menaklukan seorang ibu muda dan bayi kecil saja itu sangat mudah," Firman mengucapkannya dengan angkuh dan datar, Sinta kesal bukan main tidak Bram tidak Firman semuanya sama-sama membuatnya pusing.
"Aku akan pergi kamu pulang saja ke Bandung!" Sinta menghentakkan kakinya tepat didepan Firman laki-laki itu tersenyum tipis, perempuan dengan sejuta pesona dan menarik kata Firman dalam hati.
"Hallo Bram kamu dimana?"
"Apa Sinta aku tidak mendengarnya?" suara berisik dari seberang sana membuat telinga Sinta terasa sakit, apa yang sedang laki-laki itu lakukan Sinta menghampiri Bram ke rumahnya kalaupun laki-laki itu sedang bepergian pasti nanti akan pulang juga.
***
Bram tengah menjajal performa mobil sport Sinta bersama mantan suami dari Sinta juga, Kelvin. Kedua laki-laki itu tampak berbincang tanpa sekalipun terganggu dengan suara bising disekitarnya, Sinta sampai juga dirumah Bram dengan ojek yang mengantarnya dia tidak melihat dengan jelas siapa laki-laki yang tengah bersama Bram kebetulan posisinya membelakangi Sinta, dia melangkah dengan pasti menghampiri keduanya.
"Bram!" Sinta menegur laki-laki itu namun tak ada respon dia sadar sumber dari kebisingannya itu berada pada mobil miliknya, para laki-laki itu tengah berdiri dibelakang mobil, perempuan itu mematikan mesin mobilnya menghampiri lagi kedua laki-lali itu dan matanya bersiborok dengan mata coklat milik sang mantan suami, Bram yang melihat kedua orang itu saling berpandangan merasa hatinya panas, Bram menarik tangan kasar Kelvin untuk segera pulang dan dengan senang hati duda tampan itu meng-iyakan. Meski banyak sekali pertanyaan dipikirannya kenapa bisa Sinta berada dirumah Bram dia juga baru menyadari mobil merah itu milik Sinta. Suatu kebetulan sekali dia dengan tidak sengaja mampir kerumah Bram yang tengah asyik dengan mobil milik sang mantan istri bagaimana bisa Kelvin sampai tidak menyadari tentang mobil Sinta.
Sinta menatap kesal kepada Bram laki-laki itu hanya cengengesan, dia mencolek dagu Sinta dan langsung ditepis dengan kasar oleh Sinta, tak berhenti sampai disitu Bram juga mengeluarkan rayuan gombalnya tetapi Sinta masih tidak bergeming.
"Baiklah tadi Kelvin kesini sendiri aku sama sekali tidak mengundangnya."
"Terserah apa katamu aku akan segera pulang."
"Tunggu dulu, nanti malam aku mau mengajak James makan malam."
"Hanya kamu dan James?"
Bram tersenyum penuh arti Sinta menggeleng dan menyadari perkataannya.
"Maksud ku bukan begitu aku tidak mungkin membiarkan James hanya pergi berdua denganmu aku akan menyuruh Siti untuk ikut."
"Sayangnya aku hanya mengajak James dan ibunya," mata Bram mengerling, tubuh kekarnya menjauh dari Sinta dia memasuki rumah mewahnya, Sinta merasa pipinya sangat merah sekarang entah mengapa janda itu sangat senang dengan ajakan makan malam Bram.
Setelah melawan rasa tersipu malunya Sinta langsung pulang dan sekarang tengah memandikan James meminta sang mama untuk memakaikan pakaian hangat untuk putranya, Dewi memang belum pulang ke Bandung Kalau Firman sudah langsung berpamitan ketika Sinta datang, sekarang giliran ibu muda itu yang membersihkan diri, hanya memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit dia telah selesai membuka lemari pakaiannya dan mengambil dress sewarna jingga yang bermotif bunga anggrek itu, di polesnya wajah halus Sinta dengan bedak tipis dan juga blush on berwarna peach bibir ranumnya dia olesi lipstik warna pink muda ditengahnya dia ombre dengan lipstik yang lebih matte sewarna merah hati, dia memakai anting lurus memanjang yang semakin menambah kesan manis, rambutnya ia kuncir kebelakang memperlihatkan tengkuk putihnya, seperti biasa flatshoes yang selalu menjadi andalannya ketika lebih santai, Sinta mengambil gendongan warna hitam bercorak jerapah di pinggiran tali gendongan itu, dia menggendong James yang sudah dulu dia beri asi tadi.
"Kamu mau kemana Sin?" mamanya datang dari arah luar, heran dengan penampilan Sinta yang sangat anggun dihari yang sudah malam ini.
"Teman aku mengajak makan malam Ma."
"Siapa?"
"Ck seseorang."
"Pria?" sang mama memicing, Sinta yang menyadari kesan tidak suka sang mama hanya bisa berbohong.
"Teman wanita memangnya siapa kalau dia seorang pria?" Sinta kembali bertanya, Dewi hanya memutar bola matanya malas membiarkan anak dan cucunya itu untuk segera berangkat mengingat hari sudah malam, udara yang dingin diluar juga tidak cukup bagus untuk James.
James terus menangis sedari tadi ketika dia masih dimobil hingga kini Sinta sudah sampai ditempat yang di janjikan bersama Bram, Sinta mencari laki-laki yang kini tengah melambaikan tangan kepadanya, James terus menangis yang membuat beberapa pengunjung menoleh kearahnya, Sinta tidak menggubris tatapan orang-orang dia hanya fokus menimang-nimang James yang tangisnya tidak mereda.
"Biar aku yang menggendongnya!" Bram mengambil James dari gendongan Sinta, membawa bayi laki-laki itu mengelilingi beberapa pengunjung, sesekali bibirnya tertawa dan juga mengerucut untuk meredakan tangis James tidak membutuhkan waktu yang lama bayi laki-laki itu terdiam dan menghentikan tangisnya, diamati wajah laki-laki yang menggendongnya sesaat James tertawa kegirangan, sedangkan orang-orang yang menyaksikan adegan manis itu tampak berbisik dan juga tertawa gemas, Sinta mengamati Bram dari kejauhan dia merasa hatinya menghangat Bram benar-benar mampu mengambil hati James. Laki-laki itu kembali ketempat Sinta berada masih dengan James yang ada di dekapannya, setelah mendudukkan diri dia menatap Sinta yang juga sedang melihat kearahnya keduanya tersenyum canggung, James seolah cemburu dia mencari perhatian dengan menepuk-nepuk ringan dada milik Bram laki-laki dewasa itu menoleh kearah James dia kembali menampilkan ekspresi yang mampu membuat james tertawa.
"Aku akan makan lebih dulu nanti gantian aku yang menggendong James," Bram mengangguk mengiyakan, mereka kini sangat sempurna sebagai keluarga yang bahagia dimata orang-orang yang melihatnya.
Sinta melahap satu mangkuk sup iga yang menghangatkan perutnya di udara yang dingin, setelah selesai dan meminum jeruk panasnya dia berdiri mengambil James dan mempersilakan Bram untuk makan.
James seperti mengantuk, Sinta mengambil satu botol asi yang sudah dia pompa sewaktu di apartemen tadi Sinta menyusui James dengan telaten, Bram yang juga mengamati James merasa ingin lebih jauh mengenal bayi itu merawatnya hingga besar nanti, kalau dia mencintai ibu dari bayi itu maka dia juga menyayangi buah hatinya.
"Sepertinya James menyukaimu," Sinta tersenyum menatap Bram yang sudah menyelesaikan makan malamnya, laki-laki itu mengelap bibirnya dengan selembar tisu.
"Aku juga menyukainya," dia balik menatap Sinta, perempuan itu sangat cantik lebih dari apapun di mata Bram, statusnya tidak mampu menepis keayuan parasnya Kulitnya putih pucat rambutnya panjang dan tertapa rapi semua pakaian apapun terasa pas ditubuh Sinta.
"Lalu bagaimana dengan ibunya apa dia juga menyukai ku?" Bram menyorot mata teduh Sinta dengan serius berharap mendapat jawaban yang sama dengan keinginannya.
"Tidak!" Sinta memalingkan wajahnya dia menjawab tanpa kebenaran.
"Maka sekarang aku akan berusaha lebih keras lagi untuk membuat Ibu James ini menyukaiku," Sinta mendapat cubitan di pipinya tidak mampu menepis tangan besar Bram karena tangannya memegang satu botol susu dan menopang James di pangkuannya.
Bram merasa gemas dengan kedua manusia berbeda gender dihadapannya itu, gemas dengan kelucuan dan tingkah James gemas dengan kecantikan si pemilik hatinya itu.
"Tidak mudah untuk seorang laki-laki menerima anak dari wanita yang pernah menikah."
"Tetapi menurutku sekarang aku berhasil menerimanya."
"kamu hanya merasa kesepian bram karena semua yang ada pada aku dan James tidak atau bahkan belum pernah kamu dapat dari Natasya."
"kamu berbeda dengan dia."
"kami sama-sama perempuan dan semua perempuan memiliki rasa kasih sayang."
"kalau begitu kenapa Natasya tidak pernah menunjukkannya kepadaku?"
"Dia hanya tidak tahu caranya."
"Kuanggap dia berbeda darimu!"
Sinta terdiam laki-laki itu tak pernah menyerah akan perdebatannya, James sudah tertidur dan jam juga sudah menunjukkan angka sembilan malam, Sinta masih ingin berada disana bersama dengan laki-laki itu menikmati kesalahan terbesar yang pernah ia buat kepada Natasya, sahabat barunya.
Tidak punya harga diri rupanya
Lanjut lagi
Mau lanjut baca nih
Maaf tekat
Lama ya, kita nggak berjumpa.wkwkwk
Btwe sekarang author sudah ada kerjaan lain. Alhamdulillah.
Aku datang membawa info tentang cuan. Hehe.
Apakah di sini ada yang mau menjajal platfrom lain? Kebetulan saya salah satu Editor Akuisisi di sana. Maaf sebelumnya, saya sengaja tulis ini di kolom komentar. Takutnya kalau lewat pengumuman menyinggung pemilik rumah. Buat kalian yang mau dapat fee hingga 400 dollar. Boleh whatsapp ke saya 081413030520.. untuk info lain saya jelaskan di wa ya teman-teman. Terima kasih.
apa dibiarkan menggantung..
up trus Thor sukak banget sma karyamu lope lope
semangat terus jangan sampai DOWN
Contohnya dilapak aku banyak siders yang baca perhari tapi kamu lihatkan yang komen hanya itu2 saja, like cuma seberapa? Tapi itu tak apa? Yang penting Aku sudah memberikan yang terbaik untuk mereka kalau masalah like dan komen itu Bonus bwat aku yang penting mereka BACA.
Sebenarnya aku nulis ini desakkan dari temen2 sesama author padahal aku sibuk banget kerja.Ini aku juga nulis di sela-sela waktu santai kalau gak ada kerjaan.Makanya saat ada yang minta bwat crazy Up itu tidak mungkin terjadi...??!
Semangat jangan sampai menyerah begitu mudah 🤗🤗🤗
main main ke karyaku ya mkasih