Lunna itu cuma anak kelas sebelas SMA. Rada julid, lumayan kalem, irit komentar, tapi kadang bisa juga cerewet bin rempong. Tapi walau kadang mukanya keseringan datar, Lunna itu sebenarnya asyik kok.
Lunna punya temen cewe. Namanya Kira, panjangannya Arkiera, guru-guru sering salah manggil, disebut lebih bagusan kalau Aksara.
Lunna juga suka novel fantasi. Tapi apa dia tahu... kalau sihir itu sesungguhnya ada? Bahkan pada dirinya sendiri?
Lunna itu rahasia, misteri dengan sejuta kata.
Lunna itu berbahaya, tapi juga amat memesona.
Kau tahu legenda tentang Razenskalavia? Negeri dongeng yang jauh di dimensi sihir sana? Karena ternyata, Lunna adalah anggotanya....
'Hello, Bangsawan Razenskalavia... masih ingat dengan Mitos Balaur dan Wiz?'~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafitria_571, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 6
Hari ini matahari bersinar cerah. Warna jingga dengan gradasi biru dan putihnya terlihat menakjubkan. Jauh memandang ke arah timur sana, deretan bukit dengan kabut tipis yang masih menyelimuti seluruh pelosok terlihat sangat teduh. Asri dan tak tersentuh.
Lunna menghirup nafas pagi dalam-dalam. Aroma embun di dedaunan melebur bersama aroma tanah yang basah memenuhi paru-parunya.
Gadis bersurai cokelat itu tersenyum. Lalu ia menyeret kopernya memasuki pekarangan sekolah. Baru saja supir kakek mengantar dirinya kemari. Tapi ia hanya minta diturunkan di depan gerbang. Ia lebih suka berjalan santai di sekitar taman depan gedung bertingkat itu.
Di lapangan upacara sudah ada tiga bus besar. Warnanya sama, model dan merk-nya juga sama. Terlihat beberapa orang sudah bekerja. Ada yang membersihkan kaca bus, ada yang membersihkan kursi penumpang, ada yang mengecek kelayakan, dan ada yang mengurus administrasi dengan pihak sekolah.
Lunna berjalan menuju lobi sekolah. Ada banyak koper di sana. Mulai dari yang kecil hingga besar, dari yang warna-warni motifnya dan yang polos. Ia meletakkan miliknya di kelompok kelasnya. Sudah ditandai dengan kertas bertuliskan nama kelas yang ditempel di sebuah tongkat triangle.
Lunna melihat beberapa murid juga melakukan hal yang sama. Mereka kemudian pergi ke kelas masing-masing.
Lunna pergi ke kelas dengan membawa tas ranselnya. Ia melihat sepanjang lorong yang ia lewati, ada banyak keramaian antarpenghuninya. Mulai dari yang sibuk mengobrol, main game, hingga yang sedang sarapan.
Lunna menyunggingkan senyum tipis. Saat ia memegang handel pintu, lalu membukanya, teman-teman yang sudah datang terlebih dahulu bersorak heboh.
"WOOWWW, MANTAPP!"
"WUUU, itu baru temen gue!"
"Hayya, udah ane bilang, kelas kita ituh yang paling kompak, udah fixs!"
"Harga diri aman brooo!"
Plok plok plok
"Amboyyy! Gitu dong, Lun!"
"Wah, untung Lunna datang!"
"Ya Allah, doa beta terkabul, kaka cantik datang pula!"
"Senyum dikit napa, Lun, ga bayar juga."
Lunna tertawa lepas. Konyol. Teman sekelasnya benar-benar kocak. Masa iya karena ia sempet bilang males ikut terus dikira ga ikut beneran. Terus waktu ia udah datang malah di sambut heboh, kaya baru menangin lotre gede.
"Astaga, jangan segitunya lahh," kekeh Lunna. Ia berjalan ke bangkunya. Di mana sudah ada Kira yang sedang ngemil di sana.
"Habis di grup kelas lo bilang males, karena inilah karena itulah, gimana kata tetangga kalau kita yang selalu mengunggulkan kekompakan kelas malah ga solid. Kalo lo sampe ga dateng... wuuihh, kita nih sekelas rame-rame bakalan seret lo dari kasur kesayangan," jelas Kan. Nama panjangnya Arkan, tapi temen sekelas lebih suka manggil Kan doang. Biar enak kalo mau ngerjain.
Arkan itu orangnya gaul abis. Dia tergolong tinggi tapi otaknya rerata. Dia itu heboh, suka ngelawak walau garing, dan kadang bisa alay. Tapi bagusnya, dia itu yang paling setuju soal kebersamaan. Katanya, dia bakalan yang maju pertama kalo ada yang bikin persahabatan kelas pecah. Keren kan si Kan.
"Jangan gitu dong, aku kan cewek," protes Lunna.
Kan dan teman sebangkunya-Agra ngakak. Mereka berdua tertawa terpingkal sambil memukul meja. Heboh sendiri. Teman-teman yang lain meringis. Malu punya segeng yang bobrok dan humornya receh.
"Woy, diem napa!" seorang di pojokan melempar kertas yang diremas jadi bola segenggam.
Bola kertas itu mengenai kepala Kan. Orangnya sewot seketika. Kan berdiri. Wajah Asianya kelihatan ga terima.
"Woy dasar bucin! Itu dikurangi dikit napa nempelnya, geli gue, Ya Allah, laknatlah saja salah satu penyembahmu itu..." doa Kan dramatis. Lihat kan, anak itu ga bakalan cari gara-gara yang bikin keretakan. Dia lebih ke nasihat tapi pake lelucon.
Londo- plesetan dari Orlando, tersenyum masam. Guyonan unfaedah dari Kan sudah jadi makanan sehari-hari. Ia sudah kebal. Apalagi sejak ia berpacaran dengan Iris, gadis sekelasnya. Teman seserver itu semakin gencar menjahilinya.
"Oiya, Lun? Kau bawa cemilan apa?" tanya Kira. Mengabaikan kerusuhan yang terjadi di antara trio bengek kelasnya.
"Kue kering, sama keripik kentang, kenapa? Mau?" tawar Lunna.
"Boleh dong, tapi entar aja yang waktu di bus," ujar Kira dengan senyum lebarnya.
Tok tok tok
Makhluk hidup yang ada di kelas sontak menoleh ke ambang pintu. Ada panitia kemah di sana. Si ketua koordinasi angkatan.
"Woy! Lengkap kaga?" tanyanya ngegas.
Kan berdiri. "MIPA DUA! MIPA DUA!" soraknya sambil mengangkat tangan. Udah mirip sponsor bola aja.
"LENGKAPPP!" lanjut sekelas kompak.
Si penanya sampai terlonjak. Kaget. Dia mengelus dada, seharusnya sadar kalo ke sini itu harus siap mental dan raga. Biar aman dari serangan jantung.
Kan tersenyum bangga. Anak-anak didiknya sudah pintar. Tak sia-sia dulu ia berkoar-koar buat slogan sampai di lempari tisu bekas keringat. Kini semua sudah menurut.
"Okeoke, bayy!" ketua koordinasi itu langsung melengos. Migrasi ke kelas sebelah.
Baru saja sekelas selesai menjawab interview kaka panitia, ada tamu lagi yang berkunjung ke sana. Kali ini cewe. Kayanya juga pengurus kegiatan ini.
"Woy! Sodara-sodara!" cewe itu malah lebih bar-bar ketimbang ketua koordinasi tadi.
"Apa, heh?" balas Londo. Dari tadi banyak banget yang mampir. Ia yang sedang mengobrol ria dengan Iris kan terganggu.
"Sans, mas broo, ayo buruan masuk bus! Kalian bus dua, ya" suruhnya. Lalu segera berlalu untuk memberitahu kelas lain.
"Let's go teman-teman!"
Murid berjumlah dua puluh empat itu serempak membereskan barang-barangnya. Lalu keluar ruangan bergantian dan berjalan beriringan.
Lunna dan Kira bersisian sepanjang lorong. Mereka sudah menentukan tempat duduk. Sesuai pilihan masing-masing dan tidak boleh berganti tanpa persetujuan kedua belah pihak.
Dan sudah tertebak bukan, Lunna dan Kira pasti sepaket. Mereka duduk di kelas bareng, jalan-jalan bareng, di bus juga bareng.
"Btw, berapa jam sih perjalanannya?" tanya Kira. Mereka sedang antri masuk ke bus.
Lunna terdiam. Matanya ber-roll sedikit dengan dahi mengerut dalam. Tapi dua detik kemudian mengendikkan bahu. "Ga terlalu ngerti."
Kira mendengus. Ia sangka gadis di sebelahnya itu tahu. Pake acara mikir keras pula, kan kelihatan beneran. Ga tahunya boongan.
Mereka segera naik ketika sudah gilirannya tiba. Kira duduk di dekat jendela dan Lunna di sisi yang lain. Mereka meletakkan ransel di laci atas dan duduk anteng di kursi masing-masing.
Lima menit kemudian, saat semua bus sudah siap dengan penumpang sesuai daftarnya, angkatan kelas 11 itu berangkat ke bumi perkemahan. Bernyanyi riang sepanjang jalan. Dan beberapa juga memilih tidur untuk menghemat energi.
Lunna tertawa. Teman-temannya sedang heboh main tebak-tebakan. Mulai dari yang ga masuk akal khas Kan, dan yang bucin khas Londo. Mereka bersorak ramai dan saling meledek. Waktu tempuh dua jam pun tidak terasa karenanya.
like blk karyaku ya
cinta rasa covid -19
the Thunder's love
bdw mampir juga ya kak di novel Ku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA
mampir ya