Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Devan dan Nathan
Di sebuah ruang remang-remang yang terisolasi, bau amis dan lembap menusuk hidung.
Devan berdiri tegap di hadapan sang pembunuh berantai yang kini terduduk lemas, terikat dan berdarah.
Di jemari Devan, sebuah pisau berburu meliuk-liuk memantulkan cahaya lampu yang remang.
"Penjahat harus disiksa terlebih dahulu sebelum mati... Sama seperti caramu menyiksa para korbanmu," ucap Devan dengan suara dingin tanpa emosi. "Jika bukan karena campur tanganku yang mengacaukan jejakmu, kamu pasti sudah lebih cepat ketahuan oleh tim investigasi. Tapi aku tidak ingin kamu sekadar tertangkap dan dihukum begitu saja."
Devan mengukir senyum sinis yang merindingkan bulu kuduk.
Ia merogoh saku kemejanya dengan tangan kiri, lalu mengeluarkan sebuah foto lusuh berukuran kecil.
"Dulu, adik perempuanku juga mengalami hal yang sama," bisik Devan, matanya mendadak dipenuhi kilatan dendam yang membara.
"Dia diculik dan dilecehkan secara keji oleh teman-temannya. Kamu tahu apa yang aku lakukan pada mereka? Aku membunuh mereka semua! Satu per satu! Aku benci penjahat seperti kalian, dan aku membalas dendam dengan tanganku sendiri!"
Pria pembunuh berantai itu membelalak ketakutan.
Tubuhnya gemetaran hebat di atas tanah yang dingin, menyadari bahwa polisi di hadapannya ini jauh lebih berbahaya dan gila daripada dirinya.
Saat Devan mengangkat pisaunya tinggi-tinggi untuk mulai menyiksa pria itu, telinganya yang tajam mendadak menangkap derap langkah kaki samar di lantai atas.
Mata Devan menyipit curiga. "Ada yang masuk...!" pikirnya dalam hati.
Baru saja Devan berbalik hendak melangkah menuju tangga untuk menyergap penyusup tersebut, sesosok bayangan tinggi melangkah turun menyusuri anak tangga.
Nathan berdiri tegap di ujung tangga, menatap Devan dengan pandangan tajam dan tenang.
"Sudah kuduga, kamu pelakunya, Devan," ucap Nathan datar.
Devan terkejut setengah mati. Matanya membelalak tak percaya. "Kamu?! Bagaimana bisa kamu menemukan tempat ini?!"
Nathan tidak menjawab. Ia hanya menatap Devan lurus tanpa mengedipkan mata.
Melihat reaksi Nathan, Devan dengan cepat menyadari sesuatu. Ia teringat momen tepukan bahu dan jabat tangan ramah saat pertama kali mereka bertemu di ruang investigasi.
Devan tertawa pelan, terkekeh sinis pada dirinya sendiri. "Jadi begitu... Kamu memasang alat pelacak padaku saat kita berinteraksi waktu itu. Cerdas sekali. Benar-benar merepotkan."
Nathan menarik napas panjang, memasang posisi siaga penuh. Dalam hatinya, kepingan puzzle dari masa lalunya akhirnya menyatu dengan sempurna.
"Pantas saja di kehidupan sebelumku, penjahat berantai Distrik 2 ini tidak pernah ditemukan dalam keadaan hidup... Hanya mayatnya saja yang ditemukan membusuk di tempat tersembunyi. Ternyata dia dibunuh oleh orang ini."
"Aku tidak bisa membiarkanmu main hakim sendiri, Devan," ujar Nathan dingin.
Tanpa membuang waktu, Devan menerjang maju dengan kecepatan luar biasa. Pisaunya meluncur mengincar leher Nathan.
SET!
Nathan memiringkan kepalanya dengan presisi tinggi, mengelak tebasan pisau Devan hanya dalam hitungan milimeter. Pertarungan sengit di ruang sempit itu pun pecah.
Devan bergerak agresif, melayangkan kombinasi tebasan dan pukulan mematikan.
Namun, pengalaman bertarung dan refleks luar biasa Nathan jauh melampaui perkiraan Devan.
Nathan menangkis cengkeraman Devan, menghantamkan siku tangannya tepat ke dada Devan hingga polisi muda itu terseret mundur beberapa langkah.
Devan meringis kesakitan, menyapu sudut bibirnya yang berdarah. Ia menyadari satu hal yang pasti: dalam pertarungan jarak dekat, ia akan kalah telak dari Nathan.
Melihat Nathan melangkah maju untuk meringkusnya, rasa panik dan nekat menguasai Devan.
Dengan gerakan kilat, bukannya menyerang Nathan, Devan justru berbalik ke arah sang pembunuh berantai yang terikat.
STAB!
Dengan satu gerakan cepat dan kejam, Devan menancapkan pisaunya tepat di tenggorokan sang penjahat berantai, menghabisi nyawa pria itu seketika agar tidak bisa memberikan kesaksian apa pun.
Bersamaan dengan itu, Devan meraih sebuah lentera minyak di dekatnya dan melemparkannya ke tumpukan berkas dan bahan kimia penyiksa di sudut ruangan.
Api seketika membumbung tinggi, membakar area bawah tanah dan menciptakan ledakan asap tebal yang mengubur seluruh bukti fisik serta menyelimuti ruangan dalam kegelapan.
Nathan terpaksa menahan langkahnya untuk menghindari kobaran api yang melalap ruangan.
Menggunakan celah dan asap tebal tersebut, Devan melompati kobaran api dan melarikan diri melintasi tangga rahasia menuju kegelapan malam.
Dalam beberapa hari setelah peristiwa pertarungan malam itu, Nathan tidak bisa bertindak gegabah.
Devan telah membersihkan sisa-sisa bukti yang menghubungkan dirinya dengan pembunuhan sang pelaku secara sangat rapi.
Tanpa bukti fisik yang sah di mata hukum dan fakta bahwa pelacak yang dipasang Nathan adalah tindakan ilegal di luar prosedur, Nathan tidak memiliki dasar resmi untuk menangkap Devan di hadapan publik.
Hari kepulangan tim Distrik 1 pun tiba.
Di depan Markas Kepolisian Distrik 2, mobil yang dikendarai Reno sudah bersiap untuk melaju.
Niko sedang memasukkan barang-barang mereka ke bagasi.
Devan melangkah mendekati Nathan yang sedang berdiri di samping mobil.
Pakaian dinasnya tampak rapi seolah pertarungan berdarah malam itu tidak pernah terjadi.
"Terima kasih atas bantuan tim Distrik 1 selama di sini, Pak Nathan," ujar Devan ramah, mengukir senyum profesional di wajahnya.
Nathan menatap Devan lekat-lekat. Ia mengulurkan tangannya ke depan. "Sama-sama, Pak Devan."
Mereka berdua saling berjabat tangan erat. Di permukaan, jabat tangan itu terlihat seperti perpisahan hangat antar rekan sejawat.
Namun di balik genggaman tersebut, ada tekanan kuat dan tatapan mata yang saling mengunci sebuah kesepakatan tak tertulis antara dua orang yang kini saling mengetahui rahasia satu sama lain.
"Sampai jumpa lagi di lain waktu, Nathan," bisik Devan pelan dengan senyum tipis.
"Sampai jumpa, Devan. Jaga dirimu baik-baik," balas Nathan.
Nathan melepaskan genggaman tangannya, membalikkan badan, lalu masuk ke dalam mobil.
Sedan hitam itu melaju meninggalkan Distrik 2, sementara Devan berdiri di tepi jalan memperhatikan mereka hingga menghilang di balik sisa-sisa salju.