Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 6
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam lewat lima belas menit. Suasana di lantai teratas Pratama Tower sudah sangat sepi. Lampu-lampu koridor utama mulai diredupkan, meninggalkan ruang kerja CEO yang megah hanya diterangi oleh lampu meja dan cahaya temaram dari lanskap kota Jakarta yang basah oleh sisa hujan.
Tsania menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tenggorokannya terasa terbakar, dan pandangannya mulai kabur berpendar. Seluruh persendian tubuhnya ngilu bukan main, dampak dari membiarkan baju basah berlumpur menempel di kulitnya selama berjam-jam tadi siang.
Ia melirik Arsen yang masih duduk tenang di balik meja besarnya, mengetik sesuatu di laptop dengan wajah tanpa ekspresi. Dengan sisa tenaganya, Tsania berdiri. Langkah kakinya agak gemetar saat mendekati meja Arsen.
"Pak Arsen... seluruh draf revisi untuk proposal Bogor sudah selesai saya entry dan kirim ke email Bapak. Apa ada berkas lain yang perlu saya kerjakan malam ini?" suara Tsania terdengar serak dan sangat pelan.
Arsen tidak langsung mendongak. Ia sengaja mengulur waktu selama beberapa detik, mengetik satu kalimat terakhir sebelum akhirnya menatap Tsania. Matanya menyapu wajah Tsania yang kini pucat pasi bagai kertas, dengan bibir yang tidak lagi berwarna merah.
"Kamu sudah mau pulang?" tanya Arsen dingin, menyandarkan punggungnya santai.
"Waktu kerja resmi sudah selesai sejak jam lima sore tadi, Pak. Dan... kondisi saya sedang kurang fit," jawab Tsania jujur, berusaha menyembunyikan getaran di tubuhnya.
Arsen terkekeh sinis, menyilangkan jemarinya di atas meja. "Kurang fit? Tsania, kamu baru dua hari kembali ke kehidupan profesional, tapi ketahanan tubuhmu seburuk ini? Kemarin kamu yang bilang pada saya kalau kamu wanita mandiri yang tangguh, kan?"
Tsania memejamkan mata sejenak, mengatupkan rahangnya rapuh. "Ini tidak ada hubungannya dengan masa lalu, Pak Arsen. Saya hanya menjalankan hak saya sebagai karyawan."
"Di Pratama Group, hak kamu baru berlaku kalau pekerjaanmu sempurna," potong Arsen tajam. Ia menarik sebuah tumpukan map tebal dari sisi mejanya lalu melemparkannya hingga terdorong ke hadapan Tsania.
"Analisis kompetitor untuk produk baru ini belum kamu sentuh. Saya mau laporan analisis ini tersaji di meja saya besok pagi pukul delapan tepat. Kerjakan sekarang."
Tsania menatap tumpukan berkas tebal itu dengan ketidakpercayaan yang membuncah. "Pak Arsen, ini setidaknya butuh waktu tiga jam pengerjaan! Ini sudah malam!"
"Kalau begitu, kamu punya waktu tiga jam dari sekarang," sahut Arsen datar, kembali menatap layar laptopnya seolah percakapan telah usai.
"Atau kamu mau mengundurkan diri malam ini juga? Pintu keluar selalu terbuka lebar, Tsania."
Kalimat itu berulang kali menyerang pertahanan mentalnya. Mengundurkan diri berarti menyerah, dan menyerah berarti membiarkan Arsen menang di atas penderitanya.
"Baik. Saya kerjakan," desis Tsania penuh penekanan.
Ia mengambil map tebal itu, berbalik melangkah ke mejanya. Setiap detik yang berlalu terasa bagai siksaan. Suhu AC ruangan yang dingin terasa menusuk hingga ke sumsum tulangnya. Tsania beberapa kali harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah hanya untuk menjaga kesadarannya agar tidak tumbang di atas kibor.
Sementara itu, Arsen sesekali mencuri pandang. Ia melihat bagaimana jemari Tsania gemetar saat membolak-balik halaman kertas, melihat bagaimana napas wanita itu makin memburu dan hangat. Hatinya yang keras sempat bergejolak parah, ada dorongan tak kasat mata yang menyuruhnya untuk menghentikan kegilaan ini dan menyuruh Tsania pulang. Namun, rasa sakit hati di masa lalu meracuni akal sehatnya. Biarkan dia merasakannya, batin Arsen membentengi diri.
Pukul setengah sembilan malam.
Tsania akhirnya mencetak lembar terakhir. Ia berjalan melangkah pelan, meletakkan tumpukan dokumen itu di atas meja Arsen tanpa mengucap sepatah kata pun.
Arsen melirik dokumen itu, lalu menatap Tsania. "Sudah selesai?"
"Sudah, Pak," jawab Tsania pelan, nyaris berbisik. "Bila tidak ada hal lain... saya permisi pulang."
Arsen menatap Tsania datar, lalu melambaikan tangannya acuh tanpa kepedulian. "Ya. Kamu boleh pergi."
Tsania membalikkan badan. Ia mengambil tasnya, melangkah keluar dari ruangan megah yang terasa bagai penjara dingin itu. Begitu pintu kaca tebal itu tertutup rapat, Arsen menghela napas panjang. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi, mengusap wajahnya yang mendadak terasa lelah. Pria itu sama sekali tidak tahu bahaya apa yang sedang mengintai mantan kekasihnya di luar sana.
Langkah kaki Tsania menyeret di atas lantai marmer lobi yang sepi. Angin malam yang berembus masuk lewat pintu kaca utama langsung menyapu tubuhnya, membuat badannya menggigil hebat secara konstan. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski dadanya terasa membara oleh demam tinggi.
Saat melangkah keluar dari gedung menuju area drop off untuk mencari taksi, pandangannya mendadak berbayang. Dunia di sekitarnya seolah berputar hebat. Suara bising kendaraan di jalan raya terdengar semakin jauh dan bergema.
"Ungh..." Tsania meringis, memegang kepalanya yang berdenyut parah.
Langkahnya sempoyongan. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, meliuk lunglai ke samping. Tas di genggamannya terlepas, dan Tsania ambruk ke arah trotoar basah.
"Awas! Mbak!"
Sebuah suara bariton yang asing terdengar panik seraya sebuah lengan kokoh menahan tubuh Tsania tepat sebelum wajahnya menghantam lantai semen.
Pria itu, seorang pria bertubuh jangkung dan tagap dengan kemeja kasual yang tergulung hingga siku dan kacamata berbingkai tipis dengan sigap merengkuh pinggang Tsania. Pria itu baru saja hendak memasuki gedung Pratama Tower untuk sebuah janji temu bisnis malam, namun matanya memergoki Tsania yang berjalan tak tentu arah hingga hampir jatuh pingsan.
"Mbak? Mbak, Anda tidak apa-apa?" panggil pria itu cemas. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Tsania. Tangannya langsung tersentak saat merasakan kulit pipi wanita itu panas luar biasa.
"Astaga, badanmu panas sekali! Mbak, sadar Mbak!"
Tsania mencoba membuka matanya yang berat. Di antara kesadarannya yang hanya tinggal sepuluh persen, ia melihat samar-samar wajah asing seorang pria yang menatapnya penuh rasa khawatir sebuah tatapan penuh kepedulian yang sangat ia harapkan hadir dari Arsen beberapa saat lalu.
"Ssakit..." gumam Tsania lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh napasnya yang terengah-engah, sebelum akhirnya matanya terpejam sepenuhnya. Tubuhnya terkulai pasrah di dalam dekapan pria asing tersebut.
"Mbak! Mbak!" Pria itu panik. Tanpa membuang waktu lagi, ia menyapu tubuh kecil Tsania dan mengangkatnya dalam garapan gaya bridal carry.
"Pak! Tolong bukakan pintu mobil saya! Cepat!" teriak pria itu pada satpam gedung yang langsung berlari menghampirinya.
"Aduh, Mas Raihan! Itu Mbak Tsania staf baru di lantai atas! Kenapa bisa pingsan begini?" ujar satpam itu panik sambil membukakan pintu belakang sebuah mobil SUV putih yang terparkir tak jauh dari situ.
"Dia demam tinggi sekali, Pak! Saya bawa dia ke rumah sakit terdekat sekarang!" tegas pria bernama Adrian itu seraya membaringkan Tsania dengan hati-hati di kursi belakang.
Adrian langsung mengitari mobil, masuk ke kursi pengemudi, dan menekan pedal gas dalam-dalam. SUV putih itu melesat membelah kegelapan malam Jakarta, membawa Tsania yang terkulai tak sadarkan diri menuju ruang gawat darurat.
Sementara di lantai teratas Pratama Tower, Arsen masih berdiri di dekat jendela, menyesap kopinya yang mulai dingin. Ia menatap jalanan di bawah sana tanpa pernah menyadari, bahwa wanita yang baru saja ia siksa habis-habisan baru saja dilarikan ke rumah sakit oleh orang asing.