NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Mekarnya Impian sang Nyonya

Waktu berjalan bagaikan air yang mengalir tenang namun pasti, menghanyutkan sisa-sisa kenangan pahit dan menggantinya dengan lembaran baru yang penuh berkah. Satu tahun telah berlalu sejak badai besar yang hampir merenggut nyawa Baskara dan menghancurkan ketenangan keluarga Dirgantara. Kini, tidak ada lagi nama Chynthia Wijaya yang membayangi dinding-dinding rumah mewah itu, wanita kota itu telah resmi mendekam di balik jeruji besi untuk waktu yang sangat lama, sementara kekaisaran bisnis keluarganya yang serakah telah runtuh tak bersisa, menjelma menjadi puing-puing masa lalu yang tak lagi dihiraukan orang.

Seiring berjalannya waktu, roda kehidupan pun berputar ke arah yang jauh lebih makmur bagi orang-orang yang berhati tulus. Di lereng desa Sukamaju, kampung halaman Kinanti, pemandangan telah berubah total. Pabrik beras Dirgantara Sejahtera yang kini secara hukum kepemilikan administrasinya berada di bawah nama Kinanti Dirgantara, telah berkembang menjadi pusat urat nadi perekonomian seluruh kecamatan. Sistem bagi hasil yang adil yang dulu dirancang oleh Kinanti dan didukung penuh oleh wewenang Baskara, telah menyelamatkan ratusan nasib petani mandiri dari jeratan tengkulak.

Kemakmuran itu pun tentu berimbas langsung pada kehidupan kedua orang tua Kinanti di desa. Rumah bambu reot yang dulu sering bocor setiap kali musim hujan tiba, kini telah menjelma menjadi sebuah rumah panggung kayu jati yang kokoh, anggun, dan berhalaman luas, tanpa menghilangkan nuansa tradisional khas desa yang bersahaja. Padi di sawah mereka selalu menguning subur, dan tabungan mereka di bank syariah daerah lebih dari cukup untuk memastikan mereka tidak akan pernah lagi kekurangan apa pun hingga hari tua. Namun, meski hidup mereka telah berkecukupan, ayah dan ibu Kinanti tetap menjadi sosok yang rendah hati, selalu membagikan zakat dan sedekah kepada tetangga yang membutuhkan, membuat nama keluarga Dirgantara kian harum di mata masyarakat desa.

Di kota, kehidupan Kinanti pun mengalami transformasi yang luar biasa. Menjadi istri dari seorang konglomerat pertanian seperti Baskara Dirgantara sama sekali tidak membuat gadis desa ini terlena dalam kemewahan yang instan. Kinanti bukanlah tipe wanita yang suka menghabiskan waktu dengan arisan sosialita atau sekadar duduk berdiam diri di rumah menikmati fasilitas pelayan.

Sejak dulu, jauh sebelum dia mengenal Baskara dan terjebak dalam lingkaran takdir ini, Kinanti memiliki sebuah impian masa kecil yang selalu dia simpan rapat-rapat di dalam dadanya: memiliki sebuah toko kue dan toko bunga kecil yang menyatu dengan kafe yang nyaman. Baginya, aroma mentega yang dipanggang dan wangi kelopak bunga segar adalah kombinasi kedamaian yang paling sempurna di dunia.

Didorong oleh bakat memasaknya yang memang sudah terasah sejak remaja di dapur ibunya, Kinanti mulai bergerak. Setiap pagi, setelah memastikan kebutuhan Baskara dan Natasha terpenuhi, Kinanti tidak pernah absen mengikuti kelas baking profesional di pusat kota. Dia belajar teknik-teknik modern, mulai dari pembuatan croissant yang berlapis sempurna, mousse cake yang lembut, hingga seni menghias tart dengan buttercream yang estetik. Tak jarang pula, hingga larut malam di ruang kerjanya, Kinanti akan duduk menghadap laptopnya, menonton ratusan tutorial membuat kue dari para koki dunia di YouTube, lalu mencatat resep-resep modifikasi baru di buku catatan kecilnya.

Baskara, sang tuan pemaksa yang memiliki sifat kepemilikan mutlak itu, tentu tidak tinggal diam melihat kesungguhan istrinya. Pada awalnya, pria matang itu sempat melarang karena takut Kinanti akan kelelahan. Namun, melihat binar bahagia dan semangat yang menyala di sepasang mata jernih istrinya setiap kali membahas tentang resep kue baru, pertahanan Baskara runtuh total. Pria dingin itu tidak tanggung-tanggung dalam menunjukkan dukungannya. Tanpa sepengetahuan Kinanti, Baskara langsung membeli sebuah ruko dua lantai bersertifikat hak milik di sudut jalan protokol paling strategis di kota, sebuah kawasan elite yang dikelilingi oleh perkantoran dan pusat bisnis.

Ruko itu kemudian disulap sepenuhnya sesuai dengan sketsa impian yang pernah digambar Kinanti di buku catatannya. Lantai satu diubah menjadi sebuah kafe kecil yang estetik dengan nuansa kayu hangat, di mana sudut kirinya dipenuhi oleh etalase kaca berisi kue-kue premium buatan Kinanti, sedangkan sudut kanannya dipenuhi oleh rak-rak kayu berisi bunga-bunga segar yang aromanya merebak menenangkan ke seluruh ruangan. Kafe itu diberi nama "Kinan’s Blossom & Bakery". Bisnis itu langsung meledak sukses besar sejak bulan pertama dibuka, bukan karena nama besar Dirgantara, melainkan karena kelezatan kue buatan Kinanti yang tiada tanding serta atmosfer kafenya yang sangat menenangkan bagi para pekerja kantor yang mencari ketenangan.

Sore itu, lonceng di atas pintu kafe berdenting lembut, menandakan seseorang baru saja masuk. Kinanti yang sedang berdiri di balik meja kasir dengan mengenakan celemek linen berwarna krem, langsung mendongak. Senyuman manis seketika terukir di bibirnya yang ranum saat melihat siapa yang datang.

Seorang remaja perempuan dengan seragam sekolah menengah atas yang modis melangkah masuk dengan gaya sedikit angkuh, namun sepasang matanya langsung berbinar begitu melihat Kinanti.

Natasha.

"Tante Kinan!" panggil Natasha, melangkah terburu-buru mendekati meja kasir. Sikap bermusuhan dan tatapan sinis yang dulu sering dia tunjukkan kini telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh kedekatan emosional yang teramat manis, meskipun sifat manja khas anak kota yang dibesarkan dalam kemewahan tetap melekat erat pada dirinya.

"Eh, Natasha sudah pulang sekolah? Kok supir tidak memberi tahu Tante kalau mau langsung ke kafe?" tanya Kinanti lembut, mengulurkan tangan untuk mengusap pelan sisa keringat di pelipis anak tirinya.

Natasha mengerucutkan bibirnya, memasang wajah merajuk yang teramat menggemaskan. Dia meletakkan tas ranselnya di atas salah satu kursi kosong di dekat kasir. "Aku sengaja tidak mau bilang Papi atau supir, Tante. Hari ini di sekolah melelahkan sekali, guru matematika memberikan tugas kelompok yang banyak. Aku butuh strawberry shortcake buatan Tante untuk mengembalikan mood-ku. Oh iya, sama jus jeruk segar ya, Tante. Tolong buatkan sendiri, aku tidak mau buatan karyawan Tante yang di dapur."

Kinanti tertawa kecil melihat tingkah manja Natasha. Sifat manja remaja itu kini telah beralih sepenuhnya kepada dirinya, bukan lagi dalam bentuk pemberontakan, melainkan bentuk ketergantungan seorang anak kepada ibunya. "Iya, iya... Tante buatkan khusus untuk anak Tante yang paling cantik ini. Kamu duduk dulu di meja sudut dekat jendela, ya. Di sana udaranya lebih segar karena dekat dengan tanaman hias."

"Tante... setelah ini temani aku ke mall di seberang jalan ya?" rengek Natasha lagi, menahan lengan celemek Kinanti sebelum gadis itu melangkah ke dapur bersih. "Aku mau beli beberapa gaun baru untuk acara perpisahan kakak kelas minggu depan. Tapi aku tidak mau pergi kalau bukan Tante yang memilihkan warnanya. Selera baju Tante sekarang jauh lebih bagus dan elegan daripada teman-teman sosialita mami dulu."

Mendengar pujian yang tulus dari Natasha, hati Kinanti membuncah penuh kebahagiaan. Pengakuan dari anak tirinya ini adalah salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya sebagai seorang ibu sambung. "Baiklah, setelah kafe agak sepi sore nanti, Tante temani ke mall. Sekarang kamu kerjakan dulu tugas sekolahmu di meja."

Sekitar pukul lima sore, suasana kafe mulai lengang dari pengunjung kantor. Kinanti baru saja selesai membantu karyawannya membersihkan sisa meja di lantai satu ketika sebuah mobil sedan hitam mewah yang teramat dia kenali berhenti tepat di depan lobi kafe. Pintu belakang terbuka, dan sosok pria tegap dengan setelan jas kerja abu-abu gelap melangkah turun.

Baskara Dirgantara.

Pria itu berjalan masuk dengan langkah kaki yang konstan dan wibawa yang teramat kuat, membuat beberapa mata pelanggan wanita yang tersisa di kafe sempat melirik terpikat. Namun, mata elang Baskara sama sekali tidak melirik ke arah lain; tatapannya langsung terkunci mutlak pada sosok Kinanti yang berdiri di dekat meja kasir.

Begitu mendekat, tanpa memedulikan keberadaan beberapa karyawan dan pelanggan yang tersisa, Baskara langsung melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Kinanti, menarik tubuh istrinya merapat ke dada bidangnya, lalu mendaratkan satu ciuman yang cukup dalam dan posesif di kening Kinanti.

"Om... malu, dilihat orang," bisik Kinanti setengah memprotes, wajahnya merona merah muda seraya mencoba mendorong pelan dada Baskara, namun pelukan suaminya justru kian mengerat.

Baskara menaikkan satu alisnya, menatap lurus ke dalam mata Kinanti dengan kilat kepemilikan mutlak yang tidak pernah pudar sejak malam pertama mereka. "Kenapa harus malu? Kau adalah istriku yang sah. Seluruh ruko ini, kafe ini, dan wanita yang sedang memakai celemek ini adalah milikku sepenuhnya. Tidak ada yang berani melarangku mencium milikku sendiri."

"Papi ini selalu saja pamer kemesraan di depan umum," cicit Natasha yang baru saja berjalan mendekat membawa tas sekolahnya. Dia memutar bola mata remajanya dengan gaya bosan yang dibuat-buat, namun ada senyuman senang yang tersembunyi di sudut bibirnya melihat keharmonisan kedua orang tuanya. "Papi merusak acaraku dengan Tante Kinan. Hari ini Tante Kinan sudah berjanji menemaniku belanja baju ke mall di seberang jalan, tahu!"

Baskara mengalihkan pandangan tajamnya ke arah putrinya, namun nadanya terdengar santai. "Belanja baju bisa ditunda besok, Natasha. Sore ini Papi ada pertemuan makan malam bisnis penting dengan jajaran direksi Bank Pembangunan Daerah di hotel bintang lima. Dan Papi butuh Tante Kinan-mu untuk mendampingi Papi sebagai Nyonya Dirgantara.

Baskara kembali menatap Kinanti, jemari besarnya mengusap dagu ramping istrinya dengan kelembutan yang teramat eksklusif. "Ganti pakaianmu sekarang, Kinan. Gaun malam pilihan yang kupesan dari desainer kota sudah disiapkan oleh supir di dalam mobil. Malam ini, aku ingin memamerkan pada seluruh rekan bisnisku betapa cantiknya istri kecilku yang pintar memasak dan sukses berbisnis ini."

Kinanti tidak bisa menahan rasa hangat yang merayapi dadanya. Rasa minder sebagai gadis desa yang dulu selalu menghantuinya kini telah terkikis habis oleh bagaimana cara Baskara memperlakukannya di hadapan dunia. Pria matang ini tidak pernah menyembunyikannya dari bayang-bayang masa lalu sebaliknya, Baskara selalu menempatkan Kinanti di titik tertinggi kehormatan keluarga mereka.

"Baiklah, Mas. Berikan aku waktu lima menit untuk berganti pakaian di lantai dua," ucap Kinanti patuh dengan senyuman terbaiknya.

Baskara melonggarkan pelukannya namun sempat mencuri satu kecupan singkat di bibir ranum Kinanti sebelum membiarkan gadis itu melangkah naik ke lantai atas. Pria itu menatap punggung istrinya yang menjauh dengan rasa kepuasan batin yang teramat sangat. Di dalam hatinya, Baskara tahu bahwa seluruh kemakmuran, kesuksesan bisnis beras di desa, dan mekarnya impian Kinanti di kota saat ini barulah awal mula dari kebahagiaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!