Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: DMAM
"Prannnnggngng!!!"
Suara benturan keramik mahal yang hancur berkeping-keping bergema di seluruh sudut ruang tamu kediaman mewah milik keluarga Rosma.
Serpihan cangkir teh porselen bertabur cat emas berserakan di atas lantai marmer impor. Beberapa orang pelayan rumah tangga menunduk dalam-dalam, mereka berdiri gemetar di sudut ruangan tanpa berani mengangkat wajah mereka sedikit pun.
"Perempuan tidak tau diri! Guru honorer miskin! Anak yatim yang tidak tau diuntung!" jerit Rosma dengan suara melengking yang hampir memecahkan kaca jendela.
Napas wanita paruh baya itu terengah-engah. Wajahnya yang biasa dipoles bedak tebal bernilai jutaan rupiah kini memerah padam karena amarah yang meluap-luap. Selendang sutranya yang bernilai puluhan juta tergantung berantakan di bahunya.
Kejadian malam lamaran itu terus berputar di kepalanya bagai kaset yang rusak, bagaimana seorang gadis miskin yang tinggal di rumah kayu beratap seng berani menolak lamaran putranya di depan seluruh kerabat terpandang.
Paman Heru, adik kandung Rosma yang malam itu turut hadir, duduk tenang di sofa kulit sambil menghembuskan napas yang panjang. "Kak Rosma, sudah lah. Tidak perlu sampai merusak barang-barang mahal begitu. Kamu yang mempermalukan dirimu sendiri malam itu."
"Apa kamu bilang, Heru?!" Rosma menunjuk muka adiknya dengan jari berhias cincin berlian yang berkilau tajam. "Aku mempermalukan diri sendiri?! Dia yang menolak kita! Dia yang menghina anakku di depan semua orang! Kamu dengar sendiri bagaimana dia bilang Dimas tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri? Bagaimana dia bilang Dimas cuma bisa teriak 'Mami, Mami, Mami'? Itu penghinaan untuk keluarga kita!"
"Tapi apa yang dikatakan Aisyah itu tidak salah, kak Ros," jawab Paman Heru dengan suara datar namun menohok. "Dimas memang kamu manjakan sampai tidak tau cara jadi laki-laki. Kamu lihat sendiri kan, di tengah acara sakral malam itu, anakmu malah teriak minta uang sepuluh juta cuma buat nongkrong karena bosan?"
"Tutup mulutmu, Heru!" pekik Rosma semakin histeris. "Dimas itu anak tunggal saya! Penerus kekayaan almarhum suamiku! Wajar kalau semua keinginannya saya penuhi! Aisyah itu yang kegatalan, merasa sok suci dan jual mahal!"
Rosma berjalan bolak-balik di atas karpet Persia dengan langkah menyentak. Tangannya yang terkepal rapat menandakan dendam yang mulai membakar hatinya.
Bagi wanita sepertinya, kekayaan dan harga diri di mata sosialita adalah segalanya. Ditolak oleh seorang guru SD berpenghasilan sejuta rupiah per bulan adalah tamparan paling memalukan sepanjang hidupnya.
"Aku tidak akan tinggal diam," bisik Rosma dengan nada dingin yang penuh dengan kedengkian. "Aku akan buat perempuan itu menyesal. Aku akan pastikan seluruh orang di kota ini tau siapa Aisyah yang sebenarnya!"
**
Hanya dalam hitungan hari, kabar burung mulai menyebar bagaikan api yang menyambar jerami kering.
Di sebuah kafe mewah bintang lima di kawasan Jakarta Selatan, belasan wanita dari kalangan atas berkumpul dalam acara arisan bulanan. Denting sendok silver yang menyentuh cangkir kopi dan tawa renyah membahana di sudut restoran khusus tersebut.
Rosma duduk di kursi utama, mengelus tas kulit buaya miliknya sambil memasang wajah paling memelas yang bisa ia ciptakan.
"Aduh, Jeng Rosma... beneran acara lamaran Dimas kemarin batal?" tanya Jeng Rita, salah satu anggota arisan yang terkenal paling gemar bergosip.
"Hhhhhhh..." Rosma menghela napas panjang dan pura-pura menghapus sudut matanya dengan tisu halus. "Aduh, Jeng Rita... jangan ditanya lagi. Saya itu sebenarnya kasihan sama Dimas. Anak saya yang polos dan baik hati itu hampir saja dimanfaatkan sama perempuan tidak benar."
"Maksudnya gimana, Jeng?" celetuk Jeng Sandra penasaran, lalu menggeser duduknya menjadi lebih dekat.
"Ya itu... si Aisyah, guru SD yang pernah saya ceritakan," ujar Rosma dengan volume suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar dramatis. "Kalian tau tidak? Ternyata di balik hijab lebarnya dan mukanya yang sok polos itu, perempuannya materialistis banget! Dia itu sengaja pancing-pancing Dimas biar dilamar. Tapi pas malam lamaran, begitu tau harta keluarga kami tidak bisa diatasnamakan dia sepenuhnya, dia langsung pasang aksi!"
Para wanita itu saling berpandangan dengan wajah terkejut dan nada bisik-bisik yang mulai ramai.
"Masa sih, Jeng Rosma? Kelihatan dari luar padahal anaknya anteng," puji Jeng Rita yang pernah melihat foto Aisyah.
"Aduh, Jeng Rita! Zaman sekarang kelakuan cewek-cewek miskin itu makin lihai!" potong Rosma dengan mata yang berkilat tajam. "Dia itu cuma mau mengincar harta Dimas! Begitu saya bilang kalau seluruh aset keluarga tetap di bawah kendali saya demi keamanan Dimas, dia langsung ngamuk! Dia nolak lamaran sambil menjelek-jelekkan Dimas di depan semua kerabat saya. Katanya Dimas tidak berguna, anak mami, dan segala macam! Bayangkan, kurang ajar sekali kan?"
"Ya ampun! Kasihan sekali Dimas ya!" seru Jeng Sandra prihatin. "Untung belum sampai kejadian nikah, Jeng Rosma! Cewek modal tampang dan agama palsu begitu memang bahaya!"
"Makanya!" Rosma menepuk dadanya pelan dan berpura-pura tegar. "Saya syukuri saja Allah membuka kedok perempuan itu lebih cepat. Perempuan kayak Aisyah itu tidak punya etika. Sudah miskin, sombong, materialistis pula. Saya kasihan sama sekolah tempat dia mengajar, punya guru kok wataknya buruk begitu."
Racun itu disebarkan Rosma dengan amat rapi. Dari satu kelompok arisan ke kelompok arisan lain, dari ibu-ibu pejabat hingga wali murid berpunya di sekitar sekolah SDN 04 Pagi.
Dalam waktu singkat, narasi bahwa Aisyah adalah gadis matre yang memanfaatkan ketampanan dan kekayaan Dimas mulai berhembus liar, merayap perlahan menuju kehidupan tenang sang guru honorer.
"Guru materialistis berkedok agama"
Bersambung...