Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pagi itu, ruangan kerja Presiden Direktur Dhanubrata Group telah di penuhi berkas-berkas proyek yang harus segera diselesaikan.
Han Seokjin berdiri di depan jendela kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Dari lantai tertinggi gedung itu hamparan gedung pencakar langit tampak begitu sibuk.
Di tangannya, sebuah map berwarna hitam masih terbuka. Halaman terakhir menampilkan peta perluasan kawasan bisnis Distrik Timur. Beberapa bidang tanah telah diberi tanda hijau. Sementara beberapa bangunan masih diberi lingkaran merah.
Ketukan pelan terdengar dari balik pintu. Asisten Kim masuk sambil membawa tablet. "Selamat pagi, Tuan."
Seokjin menutup map itu perlahan. "Asisten Kim."
"Ya, Tuan."
"Pergilah ke Distrik Timur," ujar Seokjin datar. "Belilah beberapa kotak cake dan roti yang kau inginkan di toko kue kemarin."
Asisten Kim sempat terdiam seperkian detik. Mencerna setiap kata yang keluar dari atasannya. Tatapannya tanpa sengaja terjatuh pada map hitam di tangan pria dingin itu. Ia tentu mengetahui isi berkas di dalamnya.
Tidak bertanya lebih jauh, Asisten Kim bisa dengan cepat mengetahui arti sekaligus arah perintah itu. Karena setiap kata yang diucapkan atasannya selalu memiliki tujuan yang terkadang tidak diucapkan secara langsung.
"Baik, Tuan," jawabnya patuh.
Seokjin hanya mengangguk singkat. Tatapannya kembali tertuju pada map di tangannya, seolah pembicaraan mereka telah selesai.
Asisten Kim membungkukkan badan tipis sebelum keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, ia melirik kembali catatan di tabletnya.
Tujuh bangunan. Distrik Timur.
Sudut bibirnya terangkat nyaris tak terlihat. Ia jelas memahami arah yang ingin dicapai atasannya. Tidak mungkin, pria yang begitu menghargai waktu justru memintanya pergi menempuh waktu dua jam hanya untuk membeli cake yang bisa dibeli di toko bakery dekat kantor.
Meski begitu, ia tidak berniat menebak ataupun mencampuri keputusan sang Presiden Direktur. Tugasnya hanya satu; melaksanakan setiap perintah dengan hasil sebaik mungkin.
****
Dua jam kemudian ...
Bel di atas pintu berdenting pelan ketika Asisten Kim melangkah masuk ke dalam Sweet Cake. Suasana toko cukup ramai. Aroma kopi dan mentega memenuhi ruangan. Beberapa pelanggan tampak menikmati cake di atas meja dekat jendela, sementara Siska dan Rani sibuk melayani antrean.
Asisten Kim berdiri sejenak di depan etalase. Tatapannya menyapu deretan cake, lalu berhenti pada papan menu yang tergantung di belakang kasir.
Ia tersenyum tipis. "Selamat siang."
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" sapa Siska ramah.
Asisten Kim mengeluarkan ponselnya. "Saya ingin memesan dua belas croissant, enam strawberry shortcake, empat tiramisu, dan delapan menu andalan lain di sini."
"Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar." Siska segera mencatat pesanan sebelum menyerahkannya ke dapur.
Di balik meja kerja, Viola membaca daftar pesanan itu sekilas. Jumlahnya cukup banyak. Tanpa banyak bicara, ia mulai membantu menyiapkan beberapa cake yang masih berada di ruang pendingin.
Sementara menunggu pesanan selesai dikemas, Asisten Kim memilih duduk di salah satu kursi dekat kasir. Pandangannya mengamati ruangan tanpa terlihat berlebihan.
Ia memperhatikan tata letak meja, dapur terbuka, tangga melingkar menuju lantai atas, hingga ramainya pelanggan yang datang silih berganti.
Beberapa menit kemudian, Dimas keluar dari gudang sambil membawa kardus kemasan baru. Melihat pria muda itu sedang tidak terlalu sibuk di sudut ruangan, Asisten Kim bergegas mendekat untuk membuka percakapan ringan.
"Tokonya sangat nyaman," ucap Asisten Kim membuka obrolan. "Cake dan roti yang dibuat juga rasanya sangat lezat sampai bikin ketagihan."
Dimas tersenyum bangga. "Terima kasih, Pak."
"Bukankah sebelumnya bangunan ini kosong?" tanya Asisten Kim, ia mulai menjalankan misinya.
Dimas mengangguk pelan tanpa menghentikan aktivitasnya melipat kardus tempat cake untuk pesanan besok. "Tadinya tempat ini hanya bangunan kosong. Tapi syukurlah ... sejak Bu Viola menyewanya beberapa bulan yang lalu, bangunan ini jadi terlihat jauh lebih bermanfaat." Kalimat itu keluar begitu saja.
Asisten Kim mengangguk pelan. "Pantas saja semuanya masih terlihat baru." Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
"Apa Bu Viola menyewanya untuk waktu yang lama?"
Dimas menghentikan sejenak aktivitasnya. Tatapannya beralih pada pria berkacamata di hadapannya. "Maksud anda?"
Asisten Kim tersenyum tipis, seolah baru menyadari pertanyaannya terdengar terlalu jauh. "Maaf. Saya hanya berpikir ... kalau suatu hari toko ini harus pindah karena masa sewanya habis, di mana lagi saya harus mencari bakery dengan rasa seenak ini." Nada suaranya terdengar ringan. Bahkan disertai senyum kecil yang membuat alasan itu terdengar masuk akal."
Kerutan di dahi Dimas perlahan menghilang. "Oh ... begitu." Ia terkekeh pelan.
"Tenang saja, Pak. Setahu saya kontrak sewanya masih lama. Bu Viola kan baru menyewanya beberapa bulan yang lalu."
Asisten Kim menganggukkan kepala. "Syukurlah." Kalimat itu singkat. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Informasi yang ia butuhkan sudah cukup.
Pada saat yang sama, Siska keluar dari dapur sambil membawa beberapa kotak cake dan roti yang telah tersusun rapi di atas troli kecil. "Maaf menunggu, Pak. Pesanannya sudah siap."
Asisten Kim segera berdiri. Tatapannya sekilas menyapu isi setiap kotak. Jumlahnya sesuai, kemasannya rapi, bahkan setiap label ditempeli dengan presisi. "Semuanya sudah lengkap?"
"Lengkap, Pak," jawab Siska sopan. "Bahkan Bu Viola menambahkan beberapa potong tiramisu sebagai bonus."
"Benarkah? Kalau begitu sampaikan terima kasih saya pada beliau." Ia lalu menyelesaikan pembayaran, menerima struk kemudian mengangkat sebagian kotak ke dalam pelukannya. Dimas membantu membawakan sisanya hingga ke mobil.
Setelah semua kotak cake berada di dalam mobil, perlahan mobil hitam itu meninggalkan halaman Sweet Cake.
Di balik kaca depan, Asisten Kim melirik map proyek yang tergeletak di kursi belakang. Sudut bibirnya nyaris tak bergerak. Perjalanan dua jam itu ternyata tidak sia-sia.
Pesanan telah didapatkan dan satu keping informasi yang dibutuhkan atasannya ... juga sudah berada di tangannya.
****
Sementara itu ....
Viola yang sejak tadi menyelesaikan hiasan beberapa cake dari balik dapur sempat menangkap pemandangan Dimas berbincang cukup lama dengan pria berjas tersebut.
Ia meletakkan spatula di atas meja stainless, lalu berjalan menghampiri. "Dimas," panggilnya pelan.
"Iya, Bu?"
"Tadi ... kalian ngobrolin apa?"
Dimas tampak berpikir sejenak. "Beliau memuji cake kita. Katanya enak. Terus sempat bertanya tentang toko ini."
"Hanya itu?"
"Iya, Bu ... karena sepertinya beliau tahu kalau dulu bangunan ini sempat kosong sebelum dijadikan toko kue."
Viola mengangguk pelan. "Lalu?"
Dimas menggaruk tengkuknya. "Beliau khawatir jika suatu saat toko ini pindah karena masalah sewa bangunannya."
Hening.
Viola tidak segera menjawab. Tatapannya perlahan mengarah ke luar jendela, ke jalan yang terlihat lenggang.
Entah mengapa ... ucapan Dimas tentang obrolan bersama pria itu terus berputar di dalam kepalanya.
Mengapa seorang asisten Presiden Direktur Dhanubrata Group begitu tertarik pada masa sewa sebuah toko kue kecil di pinggiran kota?
Jika hanya pelanggan biasa, mungkin Viola tidak akan memikirkannya terlalu jauh. Namun, pria itu bukan pria biasa. Ia adalah tangan kanan pemimpin Dhanubrata Group. Bahkan rela menempuh perjalanan dua jam dari pusat kota hanya untuk membeli cake yang sebenarnya bisa ditemukan di mana saja di pusat kota.
Tidak ....
Pasti ada alasan lain yang sengaja disembunyikan.
Viola menghembuskan napas pelan, mencoba mengusir segala dugaan yang mulai memenuhi kepalanya. "Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir ...."
Meski begitu, entah mengapa, firasatnya berkata bahwa pertemuan dengan Han Seokjin beberapa hari lalu dan kedatangan asisten pria itu tadi, bukanlah sebuah kebetulan.
***
Sementara itu, mobil hitam yang membawa Asisten Kim melaju membelah jalanan menuju pusat kota.
Di dalam kabin yang sunyi, pria itu membuka tablet dan mulai menyusun laporan singkat. Jemarinya bergerak cepat, menuliskan hasil kunjungannya hari ini dengan bahasa yang ringkas dan rapi. Beberapa detik kemudian, sebuah nama muncul di layar. Han Seokjin.
Asisten Kim membaca kembali laporannya sekali lagi, memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat. Setelah merasa yakin, ibu jarinya menekan tombol kirim.
Laporan itu meluncur menuju atasannya. Entah bagaimana tanggapan Han Seokjin setelah membacanya ...
Namun, satu hal yang pasti. Sejak hari itu, sebuah toko kue kecil bernama Sweet Cake perlahan mulai masuk ke dalam perhatian seorang pria yang selama ini hanya hidup untuk pekerjaan dan angka-angka.
Dan ketika Han Seokjin mulai memberi perhatian pada sesuatu ....
Ia hampir tidak pernah menghentikannya sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan.
****
Han Seokjin.
**** Bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor