NovelToon NovelToon
Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.

Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali

“Sofia...”

Suara itu terdengar samar.

Jauh sekali, seolah datang dari balik kabut tebal yang tidak dapat disentuh. Pada mulanya, Sofia tidak menghiraukannya. Pikirannya masih berada di gedung opera. Ia masih dapat melihat bilik lima yang remang-remang, tirai beludru yang bergoyang perlahan, serta mawar merah yang tergeletak di atas meja.

Ia bahkan masih dapat merasakan ketegangan di udara.

“Christine...”

Suara itu kembali terdengar.

Bukan.

Bukan Christine.

“Sofia.”

Kali ini suara itu jauh lebih jelas.

Sofia mengerjapkan mata.

Satu kali.

Dua kali.

Dunia di sekelilingnya perlahan berubah.

Lampu-lampu gedung opera yang keemasan menghilang. Tirai beludru dan kursi merah tua lenyap seperti kabut yang tertiup angin. Suara musik yang masih terngiang di kepalanya perlahan meredup, digantikan oleh suara seseorang yang memanggil namanya dengan penuh kekhawatiran.

“Sofia, bangun.”

Ia membuka mata sepenuhnya.

Langit-langit apartemennya menyambutnya, kamar tidurnya yang sedikit berantakan, cahaya sore hari yang menembus sela tirai, dan seorang pria yang duduk di sisi tempat tidurnya.

Sofia terdiam beberapa detik.

“Leo?”

Pria itu tersenyum lega, “Akhirnya bangun juga.”

Sofia memandangnya dengan tatapan kosong, masih berusaha memahami keadaan.

“Kenapa kamu di sini?”

Leo menghela napas pelan. Ia kemudian mengulurkan tangannya dan menyentuh dahi Sofia.

“Kamu masih demam.”

Tangannya terasa sejuk di kulit Sofia yang panas.

“Aku baru pulang kerja,” jawabnya. “Aku mampir ke sini untuk membawakanmu makanan dan obat.”

Sofia mengerjapkan mata, “Kamu langsung ke sini setelah kerja?”

“Memangnya aku harus ke mana?" Leo tersenyum kecil.

Sofia ingin membalas senyum itu, tetapi tubuhnya terasa terlalu lelah. Bahkan mengangkat kepalanya saja terasa seperti membutuhkan seluruh tenaganya.

Leo segera menyadarinya.

“Ayo. Aku bantu duduk.”

Dengan hati-hati, ia menyelipkan satu tangannya di belakang punggung Sofia dan membantu kekasihnya itu bersandar pada kepala tempat tidur.

Sofia mengerang pelan.

“Pelan-pelan...”

“Iya. Aku tahu.”

Leo merapikan bantal di belakang punggungnya hingga Sofia mendapatkan posisi yang lebih nyaman.

Setelah memastikan Sofia tidak terlalu lelah, ia mengambil mangkuk yang sejak tadi diletakkannya di meja kecil.

“Aku belikan bubur.”

Sofia menatap mangkuk tersebut.

“Kamu bahkan sempat membeli bubur?”

“Kalau aku tidak membelikannya, kamu mau makan apa?”

Sofia terdiam.

Leo membuka tutup mangkuk itu. Uap hangat segera memenuhi udara.

“Sekarang makan.”

“Aku bisa makan sendiri.”

“Aku tahu.”

Leo mengambil satu sendok bubur, meniupnya sebentar, lalu menyodorkannya ke depan mulut Sofia.

“Tapi kali ini biar aku yang suapi.”

Sofia menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya membuka mulut.

Leo tersenyum puas, “Begitu lebih baik.”

“Kamu cerewet.”

“Dan kamu keras kepala.”

Sofia hampir tertawa.

Namun, tawanya berhenti ketika matanya menangkap sesuatu di atas tempat tidur.

Buku yang seharusnya hanya berisi kisah-kisah klasik dari masa lalu. Buku yang telah membawanya ke tempat yang tidak seharusnya bisa dijangkau oleh manusia.

Leo mengikuti arah pandangannya.

“Oh.”

Ia mengangkat alis.

“Kamu masih membacanya?”

Sofia mengangguk perlahan, “Sedikit.”

“Sedikit?”

Leo melirik buku itu, lalu kembali menatap wajah Sofia.

“Kalau sedikit, kenapa kamu sampai demam begini?”

Sofia mengerucutkan bibir, “Bukan karena buku.”

“Lalu?”

Sofia terdiam sejenak.

Sofia akhirnya menghela napas.

“Aku bermimpi lagi.”

Leo menghentikan gerakan tangannya.

“Bermimpi tentang buku ini?”

Leo menatapnya dengan serius.

“Phantom lagi?”

Sofia mengangguk.

“Bukan hanya phantom.”

Ia tersenyum tipis, “Aku bertemu nenek.”

“Nenekmu?”

“Mm.”

Sofia memandang ke arah jendela.

Dalam ingatannya, wajah sang nenek masih terasa begitu nyata. Senyum lembutnya, suara yang menenangkan, dan perasaan hangat yang menyelimuti dirinya ketika berada di dekat wanita tua itu.

“Aneh,” bisiknya.

“Apa?”

“Rasanya seperti aku benar-benar berada di sana.”

Leo tidak langsung menjawab.

Ia kembali menyendokkan bubur untuk Sofia.

“Mimpi memang kadang terasa nyata.”

“Tapi ini berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

Sofia menatapnya.

“Setiap kali aku tidur setelah membaca buku itu, aku selalu kembali ke tempat yang sama.”

Leo berhenti.

Sofia menelan buburnya perlahan.

“Dan setiap kali aku kembali, ceritanya terus berjalan.”

Leo mengamati wajah Sofia dengan saksama.

“Kamu membaca sampai bagian mana?”

“Belum selesai.”

“Jadi kamu sengaja membacanya karena penasaran?”

Sofia mengangguk.

“Sekarang aku ingin tahu bagaimana akhirnya.”

Leo tertawa kecil.

“Dalam keadaan demam pun kamu masih penasaran dengan cerita?”

Sofia mengangkat bahux “Kalau aku tidak tahu akhirnya, aku akan terus memikirkannya.”

“Itu alasan yang buruk.”

“Tapi benar.”

Leo menggelengkan kepala, “Baiklah. Tapi jangan sampai kamu memaksakan diri.”

Sofia memandang buku itu.

“Aku juga ingin tahu siapa sebenarnya Phantom.”

“Bukankah kamu sudah tahu?”

“Tidak.”

Sofia menggeleng, “Semakin banyak aku membaca, semakin banyak pertanyaan yang muncul.”

Leo menatapnya beberapa saat.

“Kamu benar-benar serius dengan cerita ini.”

Sofia tersenyum kecil, “Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang belum selesai.”

Kata-kata itu membuat Leo diam sejenak.

Ia kemudian menyuapi Sofia lagi.

“Kalau begitu, selesaikan setelah kamu sembuh.”

Sofia mengangguk, “Hmm.”

“Bukan sekarang.”

“Tapi—”

“Tidak.”

Leo mengangkat satu alis, “Kamu sedang demam.”

Sofia mendengus pelan.

“Kamu benar-benar seperti ibu.”

“Kalau aku tidak mengingatkanmu, siapa lagi?”

Sofia tersenyum.

Beberapa saat mereka hanya menikmati keheningan.

Setelah buburnya hampir habis, Sofia tiba-tiba teringat sesuatu.

“Leo.”

“Hmm?”

“Aku rasa aku harus mengunjungi rumah nenek.”

Leo menatapnya.

“Sudah lama sekali aku tidak ke sana.”

“Kalau begitu, kita pergi.”

Sofia menoleh, “Kita?”

“Tentu.”

Leo mengambil gelas air dan memberikannya kepada Sofia.

“Nanti saat kita sama-sama libur. Dan setelah kamu benar-benar sembuh.”

Sofia menerima gelas itu, “Baiklah.”

“Janji?”

“Janji.”

Setelah Sofia menghabiskan obatnya, Leo mengambil beberapa tablet dari kemasan dan menyiapkan air putih.

“Yang ini diminum sekarang.”

Sofia menatap obat di telapak tangannya.

“Banyak sekali.”

“Tidak banyak. Kamu saja yang malas.”

“Aku sakit.”

“Justru karena kamu sakit.”

Sofia akhirnya menelan obat tersebut.

Leo kemudian menyentuh dahinya sekali lagi.

“Masih hangat.”

“Aku merasa sudah lebih baik.”

“Belum.”

Leo berdiri dan mengambil kain kecil yang telah dibawanya.

Ia membasahinya, memeras airnya, lalu meletakkannya perlahan di dahi Sofia.

Gerakannya begitu telaten sehingga Sofia hanya dapat menatapnya.

“Leo.”

“Hmm?”

“Terima kasih.”

Leo menatapnya, “Untuk?”

“Untuk datang.”

Senyum tipis muncul di wajah pria itu, “Tidak perlu berterima kasih.”

Sofia terdiam.

Ia hanya melihat pria yang duduk di samping tempat tidurnya.

Pria yang selalu datang ketika ia membutuhkannya.

Sofia kemudian menarik selimut sedikit lebih tinggi.

“Leo.”

“Ya?”

“Kamu tidak mau menginap?”

Leo terdiam.

Sofia sendiri baru teringat bahwa semalam ia mengatakan Leo boleh menginap saat akhir pekan.

Sekarang justru dirinya yang berharap pria itu tinggal.

Leo tersenyum geli, “Bukankah kemarin kamu sendiri yang bilang aku hanya boleh menginap saat weekend?”

Sofia mengerutkan hidung, “Sekarang aku berubah pikiran.”

“Sayangnya aku tidak bisa.”

Senyum Sofia perlahan menghilang.

Leo mengusap rambutnya dengan lembut.

“Aku ada beberapa meeting besok pagi. Aku juga harus menyelesaikan beberapa pekerjaan malam ini.”

“Oh.”

“Aku janji akan datang saat weekend.”

Sofia menatapnya, “Benar?”

“Benar.”

Leo membungkuk sedikit dan mencium keningnya, “Setelah ini aku pulang. Kamu harus istirahat.”

Sofia mengangguk, “Baiklah.”

Leo berdiri, merapikan selimutnya sekali lagi.

“Jangan membaca buku itu lagi malam ini.”

Sofia melirik buku tua yang tergeletak di sisi tempat tidur, “Aku tidak janji.”

“Sofia.”

“Iya, iya.”

Leo tertawa kecil, “Tidur.”

Sofia menutup matanya.

Namun sebelum benar-benar terlelap, ia kembali membuka mata.

“Leo?”

“Hmm?”

“Kalau nanti aku bermimpi lagi...”

Leo menunggu kelanjutan kalimatnya.

Sofia akhirnya tersenyum kecil, “Tidak apa-apa.”

Ia menarik selimut hingga ke dagu.

“Mungkin kali ini aku akan menemukan jawabannya.”

Leo menggelengkan kepala sambil tersenyum.

“Dasar penasaran.”

Pintu kamar kemudian tertutup perlahan.

Sofia kembali sendirian.

Matanya perlahan beralih pada buku tua yang tergeletak di atas tempat tidur.

Untuk beberapa detik, ia hanya memandanginya.

Ia tahu seharusnya ia menjauh dari buku itu.

Namun, jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang membuatnya ingin terus membuka halaman berikutnya.

Karena kini, ia tidak lagi hanya ingin mengetahui akhir dari sebuah kisah.

Ia ingin mengetahui kebenaran di balik semua mimpi yang terus membawanya kembali ke gedung opera.

Jika semua itu benar-benar hanya mimpi...

Mengapa rasanya begitu nyata?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!