Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Jauh dari kehangatan tawa yang memenuhi rumah Puja dan Jeffry, suasana tegang justru menyelimuti kediaman Ningsih malam itu.
Di dalam kamar tidurnya, Ningrum mondar-mandir dengan gelisah.
Wajahnya menyiratkan amarah dan frustrasi yang mendalam setelah melihat kemesraan Jeffry dan Puja siang tadi.
Ia tidak sanggup lagi menahan rasa iri yang membakar dadanya. Dengan napas memburu, Ningrum berhenti melangkah dan menatap tajam ke arah ibunya yang duduk di tepi ranjang.
"Bu, aku tidak peduli!" ucap Ningrum dengan suara bergetar penuh tuntutan.
"Aku mau Ibu datang dan lamar Mas Jeffry untukku sekarang juga! Aku tidak mau tahu, Mas Jeffry harus jadi milikku, bukan perempuan desa itu!"
Ningsih menatap putrinya dengan perasaan hancur dan iba.
Hatinya ikut perih melihat air mata kekecewaan menetes di pipi Ningrum.
Sebagai seorang ibu, ia tidak tega melihat ambisi buah hatinya hancur berkeping-keping di tangan Puja.
Ningsih bangkit dari duduknya, mengelus pundak Ningrum dengan lembut untuk menenangkan.
"Sudah, Nak... tenanglah. Jangan menangis terus," bujuk Ningsih lirih.
"Ibu tidak akan tinggal diam melihat kamu seperti ini. Ibu akan bicara pada Kyai Ali sekarang juga. Kakakku itu harus mendengarkan keinginan kita."
Dengan langkah pasti dan amarah yang mulai menguasai kepalanya, Ningsih meninggalkan kamar Ningrum.
Ia berjalan keluar rumah menuju paviliun utama tempat Kyai Ali biasanya menghabiskan waktu malam untuk beribadah dan merenung.
Tanpa mengetuk pintu dengan sopan, Ningsih langsung mendorong pintu kamar Kyai Ali hingga terbuka lebar.
Suara derit pintu yang keras membuat Kyai Ali yang sedang duduk membaca Al-Qur'an sontak menghentikan aktivitasnya.
Beliau mendongak, menatap adiknya dengan kening berkerut melihat kemunculan Ningsih yang datang dengan napas memburu dan tatapan penuh menuntut.
"Ada apa, Ningsih? Datang malam-malam begini dengan wajah marah seperti itu?" tanya Kyai Ali dengan suara tenang namun berwibawa, menutup kitab suci di pangkuannya.
Ningsih langsung melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan kakaknya tanpa rasa sungkan.
"Mas! Sampai kapan Mas mau pura-pura tidak tahu dan membiarkan anak kesayangan Mas itu merusak masa depan anak saya?!" seru Ningsih tanpa basa-basi.
Kyai Ali menghela napas panjang, menatap adiknya dengan sorot mata kecewa.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu, Ningsih? Siapa yang merusak masa depan siapa?"
"Jeffry, Mas!" geram Ningsih, meluapkan emosinya yang sudah di ubun-ubun.
"Jeffry seharusnya dijodohkan dengan Ningrum! Mereka tumbuh di lingkungan yang sama. Kenapa Mas malah membiarkan Jeffry menikahi perempuan murahan seperti Puja itu? Ningrum sangat terpukul, Mas! Anak saya menderita karena Mas lebih memilih membela anak orang lain daripada keluarga sendiri!"
Mendengar tuduhan kasar adiknya terhadap Puja, rahang Kyai Ali mengeras.
Pria paruh baya itu berdiri dari duduknya, menatap Ningsih dengan sorot mata tajam yang jarang sekali diperlihatkannya.
"Jaga mulutmu, Ningsih!" bentak Kyai Ali dengan nada rendah namun penuh penekanan yang membuat Ningsih tertegun sejenak.
"Jangan pernah kamu menghina Puja seperti itu di depan saya! Pernikahan Jeffry dan Puja sudah sah di mata agama dan negara. Mereka bahagia! Dan sejak kapan kamu merasa berhak mengatur jodoh Jeffry?"
"Karena saya Bibinya, Mas! Dan Ningrum adalah anakku!" balas Ningsih histeris, menolak mengalah.
"Kalau Mas memang kakak yang baik, Mas harus suruh Jeffry menceraikan Puja dan menikahi Ningrum! Itu satu-satunya cara membuat keluarga kita tenang!"
"Cukup, Ningsih!" Kyai Ali mengangkat tangannya, menghentikan ucapan ngawur adiknya.
Dada lelaki tua itu naik turun menahan amarah. "Selama ini saya sudah menutupi banyak aib keluarga kita, termasuk menjaga rahasia besar tentang masa lalumu dan status Ningrum, agar kalian tidak dikucilkan dan bisa hidup dengan hormat!"
Ningsih tersentak seketika. Wajahnya memucat pasi mendengar ucapan kakaknya.
"Tapi rupanya kebaikan yang saya berikan kalian balas dengan kebusukan dan keserakahan!" lanjut Kyai Ali dengan suara bergetar menahan murka.
"Dengar baik-baik, Ningsih. Saya tidak akan pernah merestui niat gila anakmu itu. Jangan pernah datangi saya lagi untuk membicarakan hal bodoh seperti ini!"
Kyai Ali membuang muka, menunjuk pintu keluar dengan tangan gemetar.
"Sekarang, keluar dari kamar saya!"
Ningsih berdiri membeku, air mata amarah dan rasa takut bercampur aduk di dadanya.
Rahangnya terkatup rapat, menyimpan dendam kesumat yang semakin membara di balik kepergiannya yang membanting pintu kamar sang kakak malam itu.
Selepas kepergian Ningsih yang meninggalkan amarah dan ancaman tak kasat mata, kamar Kyai Ali kembali diselimuti keheningan yang menyesakkan.
Lelaki paruh baya itu terduduk kembali di sofa ruangannya, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat.
Rasa lelah bercampur kecewa bergelayut di dadanya.
Di tengah kepenatan itu, bayangan wajah Puja dan Jeffry tiba-tiba melintas di benaknya.
Mengingat perangai Ningsih dan ambisi gelap Ningrum yang tidak kenal batas, sebuah firasat buruk mendadak mencengkeram hati Kyai Ali.
Beliau khawatir kebencian mereka akan berwujud tindakan nekat yang membahayakan
keselamatan menantunya.
Tanpa membuang waktu lagi, Kyai Ali meraih ponsel di atas meja nakas.
Jarinya yang sedikit bergetar mencari kontak sang putra tunggal, lalu menekan tombol panggil.
Di waktu yang hampir bersamaan, di rumah sederhana mereka, Jeffry baru saja mengantar kepulangan Norma dan kawan-kawan setelah acara syukuran kecil-kecilan selesai.
Suasana rumah berangsur-angsur tenang. Puja sedang membereskan sisa piring kotor di dapur ketika ponsel di atas meja ruang tamu berdering nyaring.
Jeffry yang kebetulan melintas segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Assalamualaikum, Abah," sapanya ramah.
"Waalaikumsalam, Jeffry." suara Kyai Ali di seberang sana terdengar berat dan serius, jauh dari biasanya.
Jeffry langsung menghentikan langkahnya, merasakan ada ketegangan dari nada bicara sang ayah.
"Ada apa, Bah? Suara Abah kedengaran kurang sehat. Ada sesuatu yang terjadi?"
Kyai Ali menarik napas panjang di ujung telepon. "Jeffry, dengarkan Abah baik-baik. Barusan bibimu, Ningsih, datang ke sini. Mereka, masih tidak terima dengan pernikahanmu dan Puja."
Rahang Jeffry mengeras seketika. "Mau apa lagi mereka, Bah? Bukankah sudah saya tegaskan tadi pagi?"
"Mereka sudah kehilangan akal sehat, Nak," lanjut Kyai Ali dengan nada penuh peringatan.
"Ningrum memaksa Ningsih untuk datang melamarmu, dan mereka terus mendesak agar kamu menceraikan Puja. Abah sudah usir mereka, tapi Abah tahu watak Ningsih dan anaknya. Mereka pendendam."
Kyai Ali terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang sarat akan kekhawatiran seorang orang tua.
"Abah cuma mau mengingatkanmu, tolong jaga Puja baik-baik. Jangan biarkan dia sendirian, dan waspadalah. Abah takut mereka nekat melakukan hal-hal di luar batas untuk mencelakai istrimu."
Pesan itu menohok langsung ke relung hati Jeffry.
Kemarahan dan rasa protektif bergolak bersamaan di dadanya. Ia mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat.
"Baik, Bah. Terima kasih infonya. Jeffry akan jaga Puja dengan nyawa Jeffry sendiri. Abah tenang saja di rumah," jawab Jeffry tegas.
Setelah sambungan telepon ditutup, Jeffry berdiri mematung sejenak, memandangi layar ponselnya dengan tatapan tajam.
Langkah kakinya kemudian membimbingnya menuju dapur, tempat Puja sedang berdiri membasuh piring dengan senyuman kecil di bibirnya, sama sekali tidak tahu bahaya apa yang sedang mengintai dari balik bayang-bayang keluarga mereka.
Jeffry mendekat perlahan, lalu memeluk istrinya dari belakang dengan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Puja.
"Mas, kenapa?" tanya Puja terkejut sambil meletakkan spons cuciannya, merasakan debaran dan pelukan suaminya yang terasa jauh lebih erat dari biasanya.
Jeffry menggeleng pelan, mengeratkan dekapannya seolah tidak ingin membiarkan siapapun merebut wanita di dalam pelukannya itu.
"Tidak apa-apa, Dek. Mas cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja di sini," bisik Jeffry lirih, bertekad untuk melindungi Puja dengan segala cara.