Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 KEPOLOSAN CALISTA
SELAMAT MEMBACA !!!
Amara berdiri dari tempat duduknya, lalu melangkah ke arah Nyonya Celine yang sedang menggandeng putrinya.
"Mau mencari gaun untuk putrinya ya, Nyonya Celine? Saya juga baru datang mengantarkan adik saya, tuh adik saya!" serunya dengan tersenyum sambil menunjuk ke arah Fira yang masih duduk di kursi kebesarannya.
Nyonya Celine membelalakan matanya lebar, tak percaya bahwa Butik Kembar ini milik adiknya Amara. "Benarkah itu, Nyonya Amara. Wah beruntung sekali bisa berkenalan dengan adiknya Nyonya Amara dan ternyata Owner Butik Kembar!" ucapnya tersenyum.
Fira berdiri dari kursi yang didudukinya, lalu melangkah menuju empat orang yang masih berdiri di dekat pintu ruangannya.
"Silahkan duduk, Nyonya. Maaf kakak saya sampai kelupaan menyuruh anda dan putri cantik anda untuk duduk, Nyonya Celine!"
Amara tersenyum malu, mendengar sindiran adiknya itu. Dia juga ikut duduk di sofa ruangan itu.
"Adik cantik siapa namanya?" tanya Fira lembut dengan tersenyum.
Gadis kecil yang semula takut itu, kini dia tersenyum saat ditanya Fira dengan lembut dan ramah. Ia menoleh ke arah Mommy, lalu Nyonya Celine segera menganggukan kepalanya mengizinkan ia memperkenalkan namanya.
"Namaku Calista, Aunty!" serunya dengan malu-malu, tapi pandangannya ke arah perut Fira yang membuncit.
Fira yang sadar akan tatapannya Calista ke perutnya, ia tersenyum, "Kenapa, Sayang? Perutnya Aunty besar ya?" tanyanya kembali dengan lembut.
Calista menganggukan kepalanya dengan polosnya dan wajahnya menggemaskan sekali.
Fira tersenyum melihat kepolosan Calista, "Di perutnya Aunty ini ada dua adik bayi, lho," ucap Fira.
Mata Calista berkedip-kedip lucu, seketika ia tersenyum dan berjalan ke arah Fira yang duduk di sebelahnya Amara.
Amara tersenyum lembut lalu bergeser sedikit, untuk memberikan ruang kepada Calista yang tampak ingin mendekat ke arah Fira.
Setelah sampai di depannya Fira, matanya berbinar menatap perut Fira yang buncit. "Aunty...di sini ada dua adik?" tanyanya polos sambil mengangkat dua jarinya.
Fira terdiam sejenak, lalu tersenyum tangannya memegang tangan gadis kecil itu meletakkan perlahan di atas perutnya.
"Benar sekali Sayang...di sini ada dua adi bayi yang ada di perutnya Aunty," jawab Fira.
"Mommy!! Perutnya bergerak, Mommy!" serunya dengan heboh sambil loncat-loncat kecil.
Amara tersenyum melihat kepolosan Calista, sambil mengusap kepalanya Calista, "Iya, nanti Aunty Fira akan melahirkan dua bayi yang lucu seperti kamu."
Suasana ruangan itu semakin ramai dengan teriak-teriak kecil Calista yang bermain dengan kedua bayi yang berada di dalam perutnya Fira.
"Ayo, Kak Calista diukur dulu badannya, katanya mau buat gaun ulang tahun yang ke berapa, Sayang?" tanya Fira kembali.
Rubi sigap mengambilkan alat ukur untuk mengukur badannya Calista.
"Aku ulang tahun yang kelima, Aunty," jawab Calista sambil tangannya masih berada di atas perutnya Fira.
Fira menganggukkan kepalanya, ia mengambil alat ukur dari tangannya Rubi. "Ayo, Kak Calista diukur dulu. Bajunya mau tema apa, Sayang?"
Calista berdiri, Fira mulai mengukur tubuh kecilnya untuk menyesuaikan ukuran baju yang dipesannya.
"Hmmm...aku mau seperti Princess, Aunty. Iya kan Mom?" tanyanya ke Mommynya.
Nyonya Celine hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Calista tersenyum bahagia, karena Mommynya menyetujui permintaan.
"Oke, sudah selesai mengukur badannya!" seru Fira sambil memberikan alat ukir dan buku untuk mencatat berapa ukuran badannya Calista.
"Nyonya Amara, Nyonya.."
"Panggil, Fira saja, Nyonya Celine," jawab Fira dengan ramah.
Nyonya Celine sangat kagum dengan kepribadiannya Fira. Padahal dia punya Butik yang cukup terkenal, kalau orang lain pasti ingin disanjung dan minta hormati.
"Kalau saya panggil Fira saja, berarti kamu harus panggil Kakak ya!" pinta Nyonya Celine dengan serius.
Fira tersenyum, begitu pun Amara ikut tersenyum, Fira menyetujui permintaannya Nyonya Celine dengan memanggilnya dengan panggilan Kak Celine.
"Itu pun berlaku kepada anda Nyonya Amara...panggil Kak Celine saja. Aku akan memanggilmu Dek Amara setuju?" tanyanya sambil menatap Amara.
Amara menganggukan kepalanya mantap, "Siap, itu lebih baik, supaya terlihat lebih akrab, hehehehe."
Nyonya Celine menatap wajah Putrinya yang sedang bahagia mengusap perutnya Fira. "Ayo pulang, Sayang! Dek Fira berapa yang harus aku bayar untuk bajunya Calista?" tanyanya sebelum mereka pergi dari ruangan.
Fira tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tak usah, Kak. Bajunya hadiah spesial untuk Kak Calista saja, sebagai kado ulang tahun yang kelima tahun ya, Sayang," jawab Fira sambil mengusap pipinya Calista.
"Terima kasih, Aunty untuk bajunya hahahaha," jawab Calista dengan tertawa lepas, hatinya senang sekali akan mendapatkan baju Princess dari Fira.
Nyonya Celine mau menolak, tangan Fira memberi kode tak boleh menolak, "Terima kasih, Dek. Kami malah merepotkanmu. Tapi kalian harus datang ya, ke acaranya Calista, acaranya akan diadakan di rumah kami saja!" pesan Nyonya Celine, sambil berdiri mengajak pulang Calista tapi yang diajak pulang justru menolak dan menggelengkan kepalanya.
Hahahaha...tawa Fira, Amara dan Rubi. Calista masih betah duduk di tengah-tengah Fira dan Amara.
"Mommy, aku mau di sini saja sama Aunty Fira dan Aunty Amara, Mom!" tolaknya.
"Lho...lho kok di sini dengan Aunty! Terus siapa yang akan membeli kue ulang tahunnya, Sayang?" tanyanya heran kepada putrinya itu. Padahal Auntynya sendiri juga sedang hamil tapi tak sedekat itu.
"Mommy yang beli sendiri ya," jawabnya tanpa menoleh ke arah Mommynya.
Hahahaha... tawa mereka kembali pecah, memenuhi ruangan itu. Semua orang tak kuasa menyembunyikan tawanya melihat kepolosan Calista. Gadis kecil itu tak menunjukkan tanda-tanda
mau pulang, malah menatap Mommy penuh harap.
"Kak Calista pulang dulu sama Mommy ya, Aunty juga mau pulang sambil mendesain bajunya, Kak Calista. Kalau Kak Calista tak mau ikut beli kue ulang tahunnya terus kalau adik kembar mau kue bagaimana dong?" tanya Fira pura-pura sedih, supaya Calista mau diajak pulang bersama Mommynya.
Calista terdiam memikirkan ucapannya Fira, ia langsung tersenyum bahagia. "Baik aku akan membeli kue ulang tahun yang besar sekali, supaya adik kembarnya senang ya, Aunty," jawab Calista.
Hahahaha....semua orang tertawa lagi, mereka merasa terhibur dengan kata-katanya Calista. Akhirnya ia pamit untuk pulang bersama Mommynya.
Setelah kepergian Nyonya Celine dan Calista, Amara
tiba-tiba berucap, "Bahagianya ya, Dek. Nanti saat Kembar seumuran Calista, pasti rumah terasa sangat ramai sekali!" ujar Amara membayangkan betapa ramainya rumahnya nanti.
"Benar, Kak. Semoga mereka lahir dengan sempurna tanpa kekurangan suatu apapun," ucap Fira dengan berharap.
"Amin-amin ya robbal'alamin."
"Kita pulang yuk, Kak. Desain bajunya Calista biar aku buat di rumah saja. Kak Rubi aku pulang dulu ya, kalau ada apa-apa telepon saja!" pesan Fira kepada Rubi sambil membereskan pekerjaannya.
Mereka bertiga keluar dari ruangannya Fira dan pintu otomatis tertutup dan terkunci. Untuk ruang kerjanya Rubi berada di sebelahnya.
Sesampainya di depan rumahnya Amara, mobil berhenti dan mereka berdua keluar dari sana melangkah masuk ke dalam rumah.
Mereka kaget melihat siapa yang di ruang keluarga, gelak tawa terdengar dari pintu luar. Amara menoleh ke arah Fira tapi dia hanya menaikan kedua bahunya tanda tak tau siapa yang berada di ruang keluarga.