Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 6 Purwasaga vs Rendhang
Tanpa ada suara, tiba-tiba sesosok lelaki berjubah merah terang muncul di atas bongkahan batu di tengah arena.
Zerzz!
Bersamaan dengan kemunculan lelaki berwajah tua dan berambut kuning pirang itu, ia juga mengulurkan tangannya ke arah tubuh Purwasaga yang meluncur jatuh dari atas setelah dilempar oleh Lintha.
Purwasaga behenti menjerit ketika tubuhnya disergap oleh aliran sinar ungu seperti pola listrik yang berasal dari jari-jari lelaki berjubah merah. Penyergapan sinar ungu itu membuat tubuh Purwasaga tertahan beberapa meter dari dasar arena Pertarungan Darah Biru. Purwasaga melayang di udara, lalu bergerak perlahan mendekat ke posisi lelaki berjubah merah.
Sergapan sinar ungu itu tidak membuat Purwasaga kesakitan sedikit pun karena memang sifatnya tidak menyakiti.
Purwasaga kemudian diturunkan di depan lelaki tua berjubah merah. Setelah kedua kaki si pemuda berpijak dengan baik, sinar ungu menghilang.
“Lelaki Manusia, apakah kau siap bertarung di Pertarungan Darah Biru ini?” tanya lelaki berjubah merah yang merupakan announcer pertandingan atau juru arena. Namanya sangat populer, yaitu Gebar Gebak.
“Siap,” jawab Purwasaga mantap. Dia sudah terjun ke arena, maka pantang bersikap setengah-setengah.
“Siapa namamu dan kau berasal dari mana?” tanya Gebar Gebak.
“Namaku Purwasaga. Aku berasal dari Kerajaan Pasir Langit.”
“Perlihatkan Gelang Penanggungmu.”
Purwasaga pun mengulurkan tangan kanannya, menunjukkan Gelang Penanggung.
“Di sana ada berbagai senjata digantung. Kau bebas memilih di dalam pertarungan,” kata Gebar Gebak sambil menunjuk senjata-senjata yang menggantung di beberapa gawang.
“Baik.”
“Kau boleh menggunakan kesaktian apa pun yang kau miliki dan dalam pertarungan ini, kelicikan tidak dilarang. Kau boleh bermain curang.”
“Baik.”
“Pergilah ke hadapan Rendhang!” perintah Gebar Gebak.
Purwasaga hanya mengangguk, lalu pergi berjalan menuju posisi Rendhang yang tampak tersenyum-senyum seolah-olah meremehkan.
Sementara itu, Gebar Gebak berseru kepada khalayak ramai yang terus riuh.
“Bangsa Penjaga Biru!” panggil Gebar Gebak.
“Bah!” jawab semua orang Elindra, sehingga suaranya menggema tebal. Sampai-sampai ada yang memuncratkan air ludah hingga ke makanannya.
“Hari ini Pertarungan Darah Biru kedatangan Petarung Darah Merah. Menang di kandang adalah kehormatan dan kalah di rumah sendiri adalah kemaluan. Tidak memandang siapa penanggung Petarung Darah Merah, kehormatan Petarung Darah Biru tidak boleh tergadaikan!” teriak Gebar Gebak berapi-api dan berair-air.
“Betuuul!” teriak para penonton yang kali ini tidak terpecah dua.
“Sebagai seoang penengah di arena ini, kali ini aku mendukungmu, Rendhang!” seru Gebar Gebak. “Jangan kalah hanya menghadapi seorang Lelaki Manusia!”
“Baik, Gebar Gebak!” sahut Rendhang bersemangat sambil tersenyum jumawa.
“Rendhang!” panggil Lintha tiba-tiba.
Panggilan itu membuat mereka yang ada di bawah mendongak memandang Lintha.
Deg!
Terkejut jantung Purwasaga ketika melihat wujud utuh Lintha yang tadi merangkulnya dan menempelkan pinggiran dadanya. Meski tinggi dan besar, ternyata Lintha adalah sosok wanita yang sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Azhmar. Karena itulah, jantung Purwasaga sampai terkejut.
“Jika kau merasa menang, tahan tanganmu. Lelaki Manusia itu calon suamiku!” seru Lintha lagi.
Terkesiap Purwasaga mendengar pernyataan si gadis besar.
“Siap! Hahaha!” sahut Rendhang yang berbadan besar berotot, nyaris dua kali lipat ukuran raga Purwasaga.
“Hahaha!” tawa rendah sebagian besar penonton di atas.
“Bersiap!” teriak Gebar Gebak.
Rendhang segera memasang kuda-kuda siap bertarung. Purwasaga pun mengikuti.
Clap!
“Mulai!” teriak Gebar Gebak setelah wujudnya menghilang lebih dulu dari pandangan semua orang.
“Hiaaat!” pekik Rendhang sambil mendorong tubuhnya maju dengan satu kaki bertolak kencang.
Maka tubuh besar melesat dengan kaki tanpa menyentuh lantai, seperti gerakan animasi.
Wut wut wut!
Cukup terkejut Purwasaga melihat kecepatan gerak tubuh besar tersebut. Namun, dia masih mampu mengelaki beberapa tinju pembuka dari Rendhang. Purwasaga dapat merasakan estimasi kekuatan tinju Rendhang.
Dak! Begg!
Setelah hanya mengelak seperti seorang guru menghadapi muridnya, akhirnya Purwasaga mencoba menangkis satu tinju yang mengancam dadanya.
Meski sudah ditahan dengan batang tangannya, tetapi tetap saja Purwasaga harus termundur dua tindak dengan tubuh yang terguncang.
Tiba-tiba satu tinju sudah datang dari samping kiri. Refleks Purwasaga memegang sisi kiri wajahnya, membuat tinju keras itu mendarat di punggung telapak tangan kiri.
Meski demikian, kekuatan tinju itu tetap membuat Purwasaga langsung terbanting keras ke samping menghantam lantai. Kepala Purwasaga keras membentur lantai yang tidak lembek.
“Yiiiaaarrr!” teriak Rendhang sambil menarik kedua sikunya ke belakang dan membusungkan dadanya. Itu tanda bahwa ia unggul.
“Yiiiaaarrr!” teriak seluruh penonton, kecuali Lintha selaku pendukung Purwasaga. Atmosfer tempat itu semakin panas.
“Aaak!” erang Purwasaga yang merasakan sakit dan pusing berat akibat benturan kepalanya di lantai.
“Ayo, Lelaki Manusia. Jangan buat Lintha kecewa karena menikahi manusia lemah sepertimu,” kata Rendhang memprovokasi.
Di sela-sela rasa sakit dan pusing, memerah telinga Purwasaga mendengar kata-kata lawannya.
“Hiaaat!” pekik Purwasaga tiba-tiba sambil melompat ke depan seperti seekor kucing menerkam tikus. Saat itu, kedua tangannya diselimuti tali-tali sinar hijau seperti bola benang kusut. Itu ilmu Bola Petir Hijau.
Rendhang cepat melompat mundur, menjauhkan kakinya karena serangan tiba-tiba Purwasaga mengincar kaki.
Namun, Purwasaga kembali melompat seperti kucing bermaksud meraih salah satu kaki Rendhang dengan tangan kanannya. Kali ini Rendham memilih melompat tinggi sambil bermaksud melepaskan ilmu Tinju Lebur Gunung.
Zusst! Zerzzz!
“Aaakk!” jerit Rendhang kencang dengan tubuh mengejang di udara ketika tubuhnya tersengat sinar hijau.
Rendhang masih sempat melepaskan sebola sinar merah dari ilmu Tinju Lebur Gunung, tetapi bola sinar hijau lebih dulu menghantamnya dan menyengatnya dalam durasi dua detik saja, hingga kemudian jatuh menghantam lantai.
Pada saat yang sama, bola sinar merah yang kalah cepat hanya seper sekian detik itu menghantam dan meledakkan energinya di lantai.
Purwasaga yang lebih dulu berguling ke samping, terhindar dari hantaman sinar merah, tetapi ia terpental oleh hantaman gelombang ledakan Tinju Lebur Gunung.
Bdak!
Di saat tubuh Purwasaga terpental liar menghantam dinding arena, tubuh besar Rendang juga jatuh seperti tubuh mati.
Suara penonton seketika hening melihat hasil pertarungan itu.
“Yiiiaaarrr!” teriak seluruh penonton saat mereka melihat Rendhang bergerak bangkit, meski petarung berambut pirang itu tampak gemetar akibat efek serangan Bola Petir Hijau.
Sementara itu, Purwasaga menggeliat kesakitan di pinggir arena. Terlihat jelas darah merah menggaris di wajahnya.
Tepat ketika Purwasaga menggeliat sambil mengerenyit memunggungi dinding.
“Kirim ke Kamar Beku!” teriak seorang penontong.
Teriakan itu memancing teriakan yang serupa oleh sebagian besar penonton, terutama penonton yang berjubel di sisi utara dan selatan.
“Kirim ke Kamar Beku! Kirim ke Kamar Beku! Kirim ke Kamar Beku!” teriak para penonton.
“Hiaaat!” teriak Rendhang sambil menghentakkan kedua lengannya.
Zusst!
Slass! Zlass!
Dua bola sinar merah dari ilmu Tinju Lebur Gunung melesat cepat dari kepal tangan Rendhang.
Sekejap sebelum dihantam dua sinar merah, Purwasaga mengeluarkan ilmu perisainya yang bernama Kepompong Sutera Baja. Seketika seluruh tubuh Purwasaga diselimuti sinar putih redup. Mirip kepompong.
Ketika dua sinar merah menghantam tubuh itu, Purwasaga justru terpental melambung tinggi mengudara, bahkan lewat jauh di atas kepala Rendhang yang mendongak mengikuti pergerakan kepompong manusia itu.
Fuuuss!
Terkejut Rendhang dan para penonton karena selimut sinar putih redup di tubuh Purwasaga membuka. Pada saat itu juga, kedua tangan Purwasaga keluar menghentak, melesatkan bola sinar hijau sebesar bola kaki menyerang Rendhang di bawah.
Frekrr!
Bola sinar hijau dari ilmu Tinju Dingin Sunyi itu menghantam lantai arena sehingga memunculkan lapisan es beku. Rendhang telah menghindar dengan cara melesat naik memburu arah tubuh Purwasaga.
“Pasukan Jarum Kedua!” teriak Rendhang sambil mengibaskan tangan kanannya dengan kelima jari menghentak.
Seeet!
Sebelum tubuh itu mendarat, Rendhang berkelebat sambil melesatkan puluhan jarum yang bersinar merah. Lapisan sinar putih pada tubuh Purwasaga yang tidak hilang, kembali menutup rapat saat diserang oleh pasukan jarum dari ilmu Pasukan Tiga Jarum.
Nyatanya, Purwasaga tidak bisa menghindar selain mengandalkan perlindungan ilmu Kepompong Sutera Baja. (RH)
hahhhh