Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa yang Terus Berkembang
Pagi hari datang dengan kehangatan matahari yang menembus celah-celah dedaunan Hutan Kematian. Udara terasa segar dan dipenuhi aroma tanah yang subur. Tepat di luar rumah, Kaelin menjadi orang pertama di desa yang memegang hak istimewa menggunakan pisau besi buatan Brom. Bersama Hana, ia bersiap untuk berangkat ke dalam hutan demi mengumpulkan tanaman obat. Biasanya, ritual mengumpulkan itu memakan waktu lama karena mereka harus berhati-hati merusak batang tanaman yang keras dengan pisau batu yang rapuh. Namun, hari ini semuanya berbeda.
Begitu mereka tiba di area tempat tanaman obat tumbuh, Kaelin mencoba mengayunkan pisau besi itu ke salah satu batang tanaman yang paling liat. Slat! Batang itu terpotong rapi hanya dalam sekali ayun tanpa ada hambatan sama sekali. Hana yang berdiri di sampingnya bahkan sempat terbelalak, lalu dengan sengaja mencoba memotong batang serupa menggunakan pisau batu lama milik mereka. Perbandingannya bagaikan langit dan bumi; pisau batu itu langsung tuntas tumpul dan terkelupas, sementara bilah besi di tangan Kaelin tetap mengkilap dan tajam sempurna.
Ketika mereka kembali ke desa menjelang siang, keranjang di punggung mereka hampir dua kali lebih penuh dari biasanya dalam waktu yang jauh lebih singkat. Haruto, yang sedang merapikan beberapa bilah kayu di dekat bengkel, melihat hasil panen tanaman obat tersebut dan tersenyum tipis. "Ternyata, alat yang tepat memang benar-benar mengubah cara kerja seseorang, ya?"
Brom, yang sedang mengelap landasannya, mengangguk bangga mendengar komentar itu. Melihat betapa efisiennya pisau besi tersebut, pikiran Haruto langsung melayang jauh. Sebagai seorang petani yang terbiasa dengan skala besar, bayangan tentang masa depan pertanian desanya mulai berputar di kepalanya. Kalau pisau saja perbedaannya sejauh ini... bagaimana kalau nanti kita punya cangkul besi? Atau sabit? Atau kapak yang bisa menebang pohon tanpa harus menggunakan kekuatan bayangan?
Haruto langsung menoleh penuh semangat ke arah sang pandai besi. "Brom, kalau kita punya lebih banyak besi... apa kau bisa membuat semuanya? Cangkul, sabit, kapak?"
Brom tertawa renyah, merapikan perkakasnya. "Tentu saja bisa. Tanganku tidak akan menolak pekerjaan. Tapi masalahnya... cadangan besi yang kita miliki dari tebing merah kemarin belum cukup untuk membuat alat-alat besar seperti cangkul atau kapak. Kita butuh jauh lebih banyak bijih."
Haruto mengangguk mantap. Itu berarti mereka harus merencanakan ekspedisi kedua ke tebing merah di utara dalam waktu dekat.
Sementara itu, di sisi lain desa, musim panen kedua telah tiba. Tanaman-tanaman yang ditanam beberapa waktu lalu setelah panen pertama kini telah mencapai puncak kematangannya. Tomat-tomat merah berukuran besar menggelantung di dahan, mentimun tumbuh segar dengan kulit hijau cerah, selada membentuk kelopak yang renyah, cabai-cabai hijau mulai berubah menjadi merah menyala, dan daun-daun bawang siap untuk dicabut dari tanah. Kebun yang dulunya hanyalah hamparan tanah kosong kini benar-benar hidup dan berdenyut penuh warna.
Luna berlari kecil menghampiri Haruto sambil membawa keranjang anyaman yang nyaris tumpah. "Haruto! Lihat ini! Tomatnya banyak sekali, sampai cabangnya hampir patah!" teriak gadis cilik itu dengan mata berbinar-binar.
Haruto segera bergegas membantu mereka memanen. Namun, seiring dengan bertambahnya keranjang yang ditarik dari kebun, sebuah masalah baru yang tak terduga mulai muncul ke permukaan. Lumbung utama memang dirancang untuk menyimpan biji-bijian dan beras yang tahan lama, tetapi sayuran segar tidak memiliki ketahanan yang sama. Tomat-tumpuk mulai memenuhi sudut halaman, mentimun mulai bertumpuk tinggi, dan beberapa di antaranya bahkan mulai menunjukkan tanda-tanda terlalu matang akibat teriknya matahari siang.
Haruto duduk di atas bangku kayu kecil, menatap lautan sayuran segar yang memenuhi halaman depan. "...Kalau dibiarkan terus seperti ini, semuanya akan mubazir. Kita tidak akan sanggup menghabiskan ini semua sebelum membusuk."
Elara ikut duduk di sampingnya, menarik napas pelan sambil mengawasi tumpukan tersebut. "Kalau dipikir-pikir... semasa kelompok kami masih hidup berpindah-pindah di hutan, kami tidak pernah punya makanan sebanyak ini dalam seumur hidup kami. Bisa makan setiap hari saja sudah merupakan keajaiban."
Brom, yang ikut bergabung, melipat tangannya di dada. "Kalau di kota-kota manusia, kelebihan hasil panen seperti ini biasanya langsung dijual ke pasar untuk mendapatkan uang atau ditukar dengan komoditas lain."
Haruto menghela napas panjang, melirik ke arah luar pagar desa yang dikelilingi lebatnya Hutan Kematian. "Masalahnya, kita bahkan tidak tahu di mana jalur terdekat menuju kota, dan lagi, membawa sayuran sebanyak ini melewati teritori monster adalah ide bunuh diri."
Semua orang terdiam. Untuk pertama kalinya sejak desa ini dibangun, mereka benar-benar merasakan sisi lain dari keberhasilan: desa mereka kini menghasilkan jauh lebih banyak daripada yang bisa dikonsumsi oleh sembilan orang penghuninya. Luna sempat bolak-balik dari kebun menuju dapur karena kewalahan, berteriak bahwa keranjang mereka sudah habis, memaksa Haruto untuk duduk kembali dan menganyam keranjang baru dari ranting-ranting pohon pilihan.
Menjelang sore hari, setelah seluruh hasil panen berhasil dikumpulkan dan diamankan di tempat yang teduh, Haruto memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak menjernihkan pikiran di sekitar area desa. Ia melangkah menyusuri batas pagar bagian utara, tempat di mana ia menanam beberapa bibit pohon tak bernama pada hari-hari pertama kedatangan mereka di dunia ini.
Di sudut itu, pemandangannya telah berubah drastis. Batang-batang pohon yang tadinya hanya berupa tunas kecil kini telah menjulang tinggi mencapai dua hingga tiga meter, dengan dedaunan yang tumbuh semakin rimbun dan menaungi tanah di bawahnya. Haruto mendekati salah satu pohon, meraba batangnya yang mulai kokoh, dan tersenyum kecil.
"...Jadi benar," gumam Haruto pelan. "Pohon-pohon ini adalah pohon apel."
Tepat di sebelah pohon apel itu, tumbuh jenis pohon lain dengan bentuk daun yang berbeda—mungkin buah persik atau pir, hasil dari bayangan ingatannya yang tanpa sadar ia wujudkan saat itu. Haruto tersenyum hangat, mengingat betapa acaknya ia melempar benih-benih memori masa lalunya ke dalam tanah Hutan Kematian.
Elara menyusul langkah Haruto, berdiri di sampingnya dan menatap dahan-dahan yang bergoyang tertiup angin sore. "Apakah itu pohon buah?" tanya Elara penasaran.
"Seharusnya begitu," jawab Haruto. "Tapi sepertinya belum sekarang. Pohon tumbuh jauh lebih lambat daripada sayuran atau padi." Ia mengusap permukaan batang pohon itu dengan lembut. "Yah, alam punya kecepatannya sendiri."
Luna, yang ikut mengekor di belakang mereka, mendongak menatap daun-daun hijau di atasnya dengan mata penuh harap. "Kalau nanti pohon ini berbuah... apakah aku boleh memetiknya?"
Haruto tertawa kecil, mencubit hidung kecil gadis Ras Kelinci itu dengan penuh kasih. "Tentu saja. Kalau sudah matang dan siap, semuanya boleh makan sepuasnya."
Luna langsung bersorak girang, membuat suasana sore itu terasa jauh lebih ceria. Namun, kegembiraan tersebut tidak membuat masalah utama mereka hilang begitu saja.
Malam harinya, setelah mereka selesai menikmati makan malam bersama di dekat dapur terbuka dan suasana mulai tenang, Brom tiba-tiba membuka suara saat semua orang hendak membubarkan diri ke tempat istirahat masing-masing.
"Haruto," panggil Brom dengan nada serius yang langsung menarik perhatian seluruh warga desa. "Aku... tahu satu tempat yang mungkin masih menyimpan banyak peralatan pandai besi berkualitas tinggi, tanpa harus kita harus menambang dari awal."
Haruto menoleh, menatap sang pandai besi dengan kening berkerut. "Di mana?"
Brom menunduk sejenak, menatap telapak tangannya sendiri. "Di bengkel lamaku. Di kota tempat aku dulu bekerja sebelum semuanya dihancurkan."
Suasana di sekitar api unggun mendadak berubah menjadi sunyi senyap.
"Tempat itu sudah lama kutinggalkan dalam keadaan kacau," lanjut Brom dengan suara berat. "Tapi, jika bangunan itu belum sepenuhnya dijarah atau dibakar oleh para penjaga korup... mungkin masih ada stok besi batangan atau perkakas jadi yang bisa kita ambil dan manfaatkan di sini."
Elara langsung maju selangkah, menatap Brom dengan ekspresi waspada. "Tunggu dulu, Brom. Kota tempat tinggalmu... bukankah itu berarti kita harus keluar dari Hutan Kematian dan pergi ke wilayah manusia?"
Brom mengangguk pelan. "Cukup jauh. Dan... tentu saja, sangat berbahaya bagiku, dan mungkin juga bagi kalian."
Malam semakin larut, menyelimuti desa dengan keheningan yang pekat. Haruto berdiri seorang diri di depan bengkel, menatap bilah pisau besi pertama yang tergantung rapi di dinding kayu, memantulkan sisa cahaya dari bara api yang mulai meredup. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut desa kecil mereka: rumah utamanya, rumah besar Ras Kelinci, petak sawah yang menghijau, kebun sayur yang subur, lumbung yang mulai penuh, dapur yang hangat, dan bengkel tempat peradaban kecil mereka ditempa.
Desa ini mulai hidup, bernapas, dan berkembang dengan sangat indah. Namun, melihat tumpukan sayuran yang melimpah dan kebutuhan besi yang semakin mendesak, Haruto sadar akan satu kenyataan mutlak.
Mereka tidak mungkin bisa selamanya bertahan hidup dengan hanya mengandalkan apa yang ada di dalam pagar kayu ini. Cepat atau lambat, demi masa depan desa dan orang-orang yang ada di dalamnya, mereka harus mulai melangkah keluar.