Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MINUMAN DINGIN
Di tengah debu halus dan potongan rumput yang beterbangan, Yukari sejak tadi tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Akira. Matanya terus mengikuti pergerakan punggung pria itu, memastikan setiap dorongan mesin tidak membuat luka memarnya kembali kambuh. Khawatir Akira terlalu memaksakan diri, Yukari akhirnya melangkah mendekat.
"Takagi-san!" panggil Yukari. Namun, deru mesin pemotong yang nyaring membuat suaranya tenggelam begitu saja. Yukari terpaksa maju beberapa langkah lagi lalu menyentuh bahu Akira dengan lembut.
Pria itu tersentak hebat. Refleks, ia berbalik dengan tatapan waspada yang tajam. Begitu menyadari bahwa itu hanya Yukari, ketegangan di bahunya perlahan mengendur. Yukari melemparkan senyum menenangkan, lalu buru-buru mematikan sakelar mesin. Halaman belakang mendadak kembali sunyi.
"Punggungmu nyeri?" tanya Yukari cemas.
Akira terdiam sejenak, memejamkan mata seolah sedang memeriksa sensasi di tubuh bagian belakangnya sebelum menggeleng perlahan. "Tidak."
"Kau yakin? Hmm... boleh aku periksa sedikit? Cuma mau memastikan ototmu tidak tegang."
Akira menatap wajah Yukari yang menunggu dengan sabar. Setelah beberapa saat hening, ia akhirnya angguk tipis. Yukari tersenyum lega. Gadis itu meletakkan telapak tangan di punggung Akira, memberi sedikit tekanan pada beberapa titik yang kemarin cedera parah. Namun begitu jemari Yukari menekan area dekat pinggang, Akira refleks meringis kecil dengan napas tertahan.
"Tuh, kan, masih sakit," gumam Yukari pelan. "Jangan terlalu dipaksakan dulu, ya."
"HEI! Aku mengawasi kalian dari sini, ya!"
Teriakan Daiki dari kejauhan memecah suasana. Pria itu berdiri sambil berkacak pinggang, memegang garu rumputnya dengan wajah cemberut.
Yukari memutar bola matanya malas. "Apa sih, Daiki? Kerja saja sana. Jangan sibuk mengurusi orang lain."
Daiki berjalan mendekat dengan langkah lebar yang sengaja dibuat dramatis. "Jangan dikira aku tidak melihatnya dari tadi, ya."
"Melihat apa?" tanya Yukari bingung.
"Kau pegang-pegang Takagi terus!" tuduh Daiki sambil menunjuk mereka berdua bergantian.
Akira hanya menghela napas pendek dan memilih mengabaikannya, sementara Yukari langsung mendengus kesal. "Jangan bicara sembarangan."
"Aku serius! Kau memijatnya, kan? Aku juga pegal-pegal dari tadi, kenapa aku tidak dipijat juga?" protes Daiki kekanak-kanakan.
Yukari menatap sahabatnya itu dengan pandangan datar. "Karena kau tidak sedang terluka."
"Tapi aku lelah."
"Itu beda cerita, Daiki."
"Bagiku sama saja!"
Yukari mengangkat sekop kecil di tangannya dengan gemas. "Mau kupukul?"
Daiki buru-buru mundur satu langkah sambil mengangkat kedua tangan. "Nah, lihat, kan? Mainnya kekerasan."
Akira yang sejak tadi berdiri menyimak perdebatan itu akhirnya membuka suara. "Kalian memang selalu seperti ini?"
Pertanyaan mendadak itu membuat Yukari dan Daiki kompak menoleh. "Seperti apa?" tanya Yukari.
".... Berisik."
Jawaban lempeng Akira sukses membuat Daiki tertawa puas sambil menunjuk pria itu. "Lihat? Bahkan pria sedingin kulkas ini saja mengakuinya!"
"Kalau begitu cepat selesaikan pekerjaanmu daripada mengobrol terus," balas Yukari jengkel, yang dibalas Daiki dengan helaan napas panjang yang pasrah.
Yukari terkekeh kecil melihat ekspresi Daiki, lalu kembali menatap Akira sebelum menyalakan mesin. "Takagi-san, kalau punggungmu mulai terasa tidak nyaman, langsung berhenti, ya? Jangan dipaksakan."
"Aku tahu," jawab Akira singkat.
Meskipun tanggapannya seadanya, Yukari tetap merasa lega karena setidaknya kali ini Akira tidak langsung menolak perhatiannya mentah-mentah. Yukari kemudian berjalan kembali menuju rumah untuk membuatkan minuman segar, meninggalkan Daiki yang masih merajuk dan Akira yang kembali bergulat dengan mesin pemotong rumputnya.
"Kau lihat itu, Takagi? Dia beneran pilih kasih!" gerutu Daiki dari belakang. Akira hanya bisa menghela napas panjang, mencoba memblokir suara bising sahabat Yukari itu dari kepalanya.
Tidak lama kemudian, suara nyaring Yukari terdengar memanggil dari ambang pintu belakang rumah. "Daiki! Takagi-san! Istirahat dulu, minumannya sudah siap!"
Kebetulan, Akira baru saja menyelesaikan baris rumput terakhirnya. Ia mematikan mesin, lalu berjalan menuju meja taman. Kaus abu-abu longgar pemberian Daiki yang ia kenakan tampak basah kuyup oleh keringat, mencetak siluet tubuh tegapnya di bawah terik matahari pagi.
Di atas meja kayu panjang, Yukari sudah menata tiga gelas kaca besar berisi minuman dingin berwarna cerah dengan es batu yang gemerincing halus. Daiki langsung meletakkan garunya dan berlari heboh seperti bocah. Tanpa tahu malu, ia langsung menyandarkan tubuhnya yang basah ke bahu Yukari.
"Daiki! Kau bau keringat!" protes Yukari sambil sekuat tenaga mendorong bahu sahabatnya itu menjauh.
"Kau beneran pilih kasih, Yukari!" keluh Daiki dramatis dengan bibir maju beberapa senti, lalu menunjuk Akira dengan dagunya. "Tadi saja kau menyentuh pria kaku ini dengan sangat lembut. Giliran aku yang lelah, kau malah mengusirku!"
"Apa sih... Sudah, minum saja ini!" sahut Yukari dengan pipi yang sedikit merona karena malu. Ia buru-buru menyodorkan segelas penuh minuman tepat ke depan wajah Daiki untuk membungkam mulut besarnya.
Akira yang baru tiba hanya memperhatikan interaksi akrab kedua orang itu dalam diam sebelum mengambil gelas bagiannya. Begitu cairan dingin meluncur melewati tenggorokannya, sepasang mata Akira sedikit melebar. Perpaduan rasa manis, asam segar, dan sensasi dinginnya benar-benar pas di lidah, langsung mengusir rasa dahaga setelah bekerja keras. Sesuai sifatnya, tidak ada pujian yang keluar, ia hanya terus meminumnya hingga tersisa setengah.
Melihat reaksi Akira, Daiki terkekeh geli setelah meneguk minumannya dengan rakus. "Hahaha! Dari dulu aku selalu heran denganmu, Yukari," ujar Daiki sambil meletakkan gelasnya hingga berdenting pelan di atas meja.
Yukari yang sedang menikmati minumannya mengangkat sebelah alis. "Heran kenapa?"
Daiki menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. "Kau kan tidak bisa memasak..."
"Daiki..." suara Yukari mulai terdengar mengancam.
"... Tapi kau selalu bisa membuat minuman seenak ini," lanjut Daiki santai, seolah tidak takut dengan tatapan tajam Yukari. "Kadang aku curiga, kemampuan memasakmu memang sengaja dikutuk agar rasanya hambar, biar hidupmu tetap seimbang."
Yukari mengambil sedotan plastik di meja lalu melemparkannya tepat ke wajah Daiki. "Diam."
Daiki justru tertawa semakin keras. Di seberang meja, Akira menikmati minuman dingin itu dalam keheningan. Rasanya sederhana, ada aroma jeruk, madu, dan daun mint segar, tapi entah kenapa terasa jauh lebih nikmat daripada minuman mahal yang biasa ia beli di Tokyo.
"Kau lihat?" Daiki menyenggol lengan Akira. "Bahkan Takagi-san menghabiskan minumannya lebih cepat dariku."
Yukari menoleh, dan benar saja, es batu di gelas Akira hanya tinggal beberapa potong. "Takagi-san, kau suka?" tanya Yukari penasaran.
Akira terdiam beberapa saat, seolah sedang menimbang kata yang tepat. "Lumayan," jawabnya akhirnya.
Daiki langsung menepuk meja dengan heboh. "Itu sudah pujian tertinggi yang bisa keluar dari mulutnya! Sejak datang ke sini, dia bahkan tidak pernah bicara lebih dari lima kata sekaligus."
Akira meminim sisa tetes terakhir di gelasnya. "Lalu?"
"Nah, itu dia! Singkat dan padat!" seru Daiki gemas.
Yukari tidak bisa menahan tawanya lagi. Di sela-sela candaan itu, angin musim semi berembus pelan melewati halaman belakang yang kini tampak jauh lebih rapi dan bersih. Rumput liar yang tadinya setinggi lutut sudah terpangkas habis, membuat rumah tua itu terasa lebih hidup.
Sambil bertopang dagu, Yukari memperhatikan Akira yang sedang mengusap keningnya dengan handuk kecil. "Apa kau lelah, Takagi-san?"
"Tentu saja lelah!" potong Daiki sebelum Akira sempat menjawab. Pria itu merosot di kursinya dengan pose dramatis. "Aku merasa umurku berkurang tiga tahun hanya karena menggaruk rumput di halaman seluas ini."
Yukari mengabaikan Daiki sepenuhnya, lalu kembali menatap Akira. "Aku bertanya pada Takagi-san, Daiki."
"Kejam sekali, aku dianggap tidak ada," gerutu Daiki sambil memegangi dadanya, pura-pura terluka.
Akira diam sejenak sebelum akhirnya menjawab jujur. "Sedikit."
Meski hanya satu kata, Yukari tersenyum puas karena setidaknya Akira tidak berpura-pura kuat lagi. "Itu sudah lebih jujur," gumam Yukari seraya bangkit berdiri. "Baiklah, karena pekerjaan hari ini selesai, kalian boleh masuk dan istirahat. Terima kasih atas bantuannya."
Daiki langsung melompat gembira. "Akhirnya! Aku mau merebut posisi terbaik di bawah kipas angin!" Pria itu langsung berlari masuk ke dalam rumah tanpa membuang waktu.
Yukari hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya, namun berbeda dengan Daiki, Akira tidak langsung beranjak dari kursinya. Langkah pria itu tertahan saat melihat Yukari merogoh saku kardigannya dan mengeluarkan sebuah buku memo kuning kecil yang tadi pagi sempat ia tunjukkan.
Tabungan Bacaan Takagi Akira.
Tanpa bicara, Yukari duduk kembali dan membuka halaman pertama. Ia mengambil pulpen, lalu mulai menulis sesuatu dengan ekspresi yang sangat serius. Akira memperhatikannya dalam diam, rasa penasaran perlahan terusik di balik wajah datarnya.
Setelah selesai menulis, Yukari mengeluarkan stempel kayu antik—hanko—dari sakunya. Ia membuka tutupnya, menekannya ke bantalan tinta merah, lalu menempelkannya di atas kertas dengan bunyi cap yang mantap.
Yukari menutup buku kuning itu, lalu menyerahkannya ke arah Akira dengan kedua tangan. "Kau sudah berhasil menyelesaikan ceritamu hari ini, Takagi-san. Selamat."
Akira mengernyit bingung. "Cerita?"
Yukari hanya membalasnya dengan senyuman misterius. Akira menerima buku itu, lalu perlahan membuka halaman depan. Di sana, tertera tulisan tangan Yukari yang rapi di samping cap tinta merah berbentuk bunga sakura:
Halaman 1
Judul: Melodi Mesin Tua dan Wangi Rumput Musim Semi
[LULUS - 🌸]
Akira terdiam, matanya terpaku cukup lama pada deretan tulisan tersebut.
"Setiap hari yang berhasil kau lalui di sini akan menjadi satu cerita," jelas Yukari lembut dari seberang meja. "Bagiku, hidup bukan cuma soal pencapaian besar. Hal sederhana seperti bangun pagi, membantu orang lain, bekerja keras, atau sekadar bertahan melewati hari yang berat... itu semua pantas untuk dicatat."
Angin musim semi kembali berembus pelan di antara mereka. Akira menatap halaman itu dengan perasaan yang mendadak terasa sesak—tetapi dengan cara yang sama sekali berbeda. Untuk orang lain, ini mungkin cuma permainan konyol seorang pustakawan. Namun bagi Akira, ini adalah kali pertama setelah sekian lama tenggelam dalam kegelapan, ada seseorang yang menganggap keberadaannya hari ini berharga. Hari ini ia bukan sebuah kegagalan, bukan pula beban, melainkan sebuah cerita yang berhasil ia lalui.
"Jadi," Yukari tersenyum hangat, "mari kita isi halaman itu bersama-sama, Takagi-san."
Akira tidak menjawab. Ia menutup buku kuning itu perlahan, lalu menggenggamnya erat di atas pangkuan seraya memalingkan wajah ke arah bukit hijau di kejauhan, menyembunyikan getaran kecil yang mendadak muncul di kedua matanya.