Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Dijemput untuk menjauh
“Kamu pucat sekali, Nad.” Tante Almi menatap wajah Nadine dari kaca kecil di tengah mobil.
Nadine menatap sang tante. “Karena belum sarapan saja mungkin, Tan. Aku tadi tidak sempat makan.”
Tante Almi membuka laci mobil mencari makanan yang dapat keponakannya makan sebagai pengganjal perut. “Makan roti ini dulu, ya, Nad.”
Nadine mengambil 1 roti dari tangan sang tante dan air putih. “Terima kasih, Tante. Nadine jadi bikin tante repot. Maaf, ya, Tan.”
“Jangan bilang seperti itu, Nadine. Om dan Tante tidak merasa direpotkan oleh kamu,” sambung Om Divaz sambil tertawa kecil melihat sang keponakan menggigit roti yang sang istri berikan.
“Iya, Om, Tante. Terima kasih, ya sudah menerima Nadine dan memperlakukan Nadine sama seperti Andin.” Andini Vanessa—sepupu Nadine yang merupakan anak kandung dari Om Divaz dan Tante Almi.
“Kamu, kan anak pertama tante, Nad. Andin, anak kedua tante.”
Om Divas menganggukkan kepalanya. “Om tidak suka membeda-bedakan, Nad. Kamu juga anak om, anak pertama om dan tante.”
Nadine menitikkan air matanya. “Terima kasih, ya, Om. Nadine tidak pernah dapat kasih sayang sebesar om dan tante beri dari papa dan mama.”
“Biarkan saja, Nad. Papa dan mama kamu sama-sama bodoh,” ucap Tante Almi dengan nada kesal. Kakaknya benar-benar bodoh. Mereka dengan tega membedakan kasih sayang untuk Gerald Alvero—kakak laki-laki Nadine dan Nadine Ayunda.
“Kamu beri kabar ke papa dan mama kamu, Nad? Atau ke abang kamu?” tanya Om Divaz.
Nadine menggelengkan kepalanya. “Nadine belum ada tenaga untuk beri kabar ke keluarga Nadine, Om. Alasan lainnya, Nadine masih takut. Nadine takut kalau papa dan mama datang lalu paksa Nadine untuk kembali dengan Adinata.”
Tante Almi. “Tidak usah beri kabar ke orang tua kamu, Nad. Biarkan saja mereka mengetahui dari Adinata. Sekarang kamu tidak usah pikirkan mereka, pikirkan saja kesehatan kamu dan kandungan kamu, ya.”
“Iya, Tante. Nadine juga sempat USG dan kabar baiknya janin Nadine sehat, Tan.” Nadine mengusap perutnya yang masih rata. Mungkin beberapa bulan lagi perut Nadine akan membesar.
“Senangnya. Tante segera menimang cucu.” Ucapan Tante Almi disambut dengan tawa lepas dari orang-orang yang ada di dalam mobil.
“Dijaga kandungnya, ya, Nad. Kalau kamu ngidam, boleh panggil om, ya. Nanti om yang akan carikan keinginan cucu om.”
Nadine menganggukkan kepalanya. “Iya, Om. Pasti anak aku bahagia karena banyak yang sayang dengan dirinya.”
Tante Almi menganggukkan kepalanya dengan antusias. “Belum lagi kalau Andin mendengar kabar ini, Nad. Bisa dipastikan kalau dia yang paling heboh. Sayangnya, dia baru bisa pulang minggu depan.”
“Tapi Andin udah tahu belum, ya, Tan?”
“Andin tahu kalau kamu akan tinggal dengan kita, Nad. Tapi Andin belum tahu tentang hubungan kamu dan Adinata.” Om Divaz yang menjawab. “Nanti kamu bisa cerita ke Andin, ya kalau kamu kurang nyaman bercerita dengan om dan tante. Mungkin aja, Andin bisa membantu kamu lebih banyak, Nad.”
Tante Almi menganggukkan kepalanya. “Karena kalian, kan seumuran. Tante rasa pemikiran kalian akan menyambung. Jadi kalau kamu merasa kurang nyaman cerita ke tante, kamu bisa cerita ke Andin. Jangan selalu dipendam sendiri, ya, Nad, tante sedih.”
Sampailah mobil yang membawa Om Divaz, Tante Almi dan Nadine di pekarangan rumah milik Om Divaz.
“Kamu turun aja, Nad. Biar om yang bawa koper kamu masuk ke dalam.”
Nadine menganggukkan kepalanya dan ia keluar dari mobil setelah dibukakan pintunya oleh sang tante.
“Nadine masih bisa kok, Tan. Wajah tante khawatir sekali.”
“Gak apa-apa. Tante mau kamu nyaman, Nad.”
Nadine mengikuti langkah kaki Om Divaz dan Tante Almi yang membantu Nadine membawa koper miliknya.
Tante Almi membuka pintu kamar yang akan Nadine tempati. “Ini kamar yang selalu kamu inginkan saat kamu menginap di rumah ini, Nad. Tante selalu rawat kamar ini, jadi ketika kamu menginap disini, kamu merasa nyaman.”
Nadine masuk ke dalam kamar bersama dengan Tante Almi, sedangkan Om Divaz sudah berlalu untuk membuka toko rotinya yang berada di samping rumah.
“Aduh, so sweet sekali, Tante. Terima kasih, ya, Tan. Nadine jadi semakin betah tinggal disini.”
“Tante jadi merasa tersanjung.” Tante Almi menyentuh dadanya. “Kalau kamu merasa ada yang ingin kamu ubah, bilang tante, ya, Nad. Nanti biar Om Divaz yang mengubah sesuai permintaan kamu.”
Nadine menggelengkan kepalanya. “Tidak usah, Tan. Nadine nyaman kok disini.”
Tante Almi menganggukkan kepalanya. “Di samping kamar kamu ada kamarnya Andini, jadi nanti ketika Andini pulang, kamu ada temannya, ya, Nad. Kalau kamar om dan tante ada di dekat ruang tamu. Kalau butuh sesuatu, datang saja, Nad.”
Nadine menganggukkan kepalanya. “Iya, Tan. Setelah ini, tante pergi ke toko?”
“Iya. Tante, kan bantuin Om Divaz disana.”
“Nadine boleh ikut tidak, Tan?”
Tante Almi menganggukkan kepalanya. “Boleh, Nad, tapi tidak hari ini, ya. Hari ini kamu menata pakaian kamu dulu. Besok, baru boleh ikut om dan tante di toko samping, ya.”
Nadine tertawa kecil. “Yaudah deh, Tan. Padahal Nadine masih sanggup untuk bantu om dan tante.”
Tante Almi memeluk tubuh Nadine. “Besok saja, ya, sayangnya tante. Tante tidak mau kamu kecapekan. Kasihan dedek di perut kamu, ya.”