Karena suatu kesalahan, Anastasia Lambert terpaksa menikah dengan Paman angkatnya, Henry Theodor, di usianya yang masih delapan belas tahun.
Semua bermula karena kebaikan dan perhatian Paman angkatnya, membuat Anastasia, yatim piatu yang diadopsi Henry, diam-diam jatuh cinta pada Henry, hingga hubungan mereka yang tadinya baik-baik saja menjadi dingin.
Dan, sampai datangnya orang ke tiga dalam kehidupan mereka, membuat hubungan mereka menjadi sangat jauh, seperti jarak antara terbitnya matahari dari timur, hingga matahari terbenam di barat.
Saat Anastasia menyadari telah salah mencintai Paman angkatnya, dan membuka hati untuk mengenal pria lain, sikap Henry tiba-tiba berubah menjadi hangat padanya.
Apakah hubungan mereka yang tadinya baik-baik saja, akan kembali seperti dulu lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 6.
Seperti tahun-tahun yang lalu, Anastasia merayakan bertambah usianya selalu hanya berdua saja dengan Henry.
"Terimakasih, Paman!" ucap Anastasia begitu bahagianya, melihat hadiah yang diberikan Henry.
Sebuah kalung dengan liontin berinisial namanya, terlihat begitu indah terbuat dari berlian merah muda.
Anastasia kemudian menghamburkan tubuhnya memeluk Henry, dan Henry membalas pelukan Anastasia.
"Paman, aku suka sekali hadiahnya!!"
Setiap kali Anastasia mendapatkan hadiah darinya, Anastasia selalu spontan memeluknya mengungkapkan rasa bahagia.
"Buat gadis kecil Paman, tentu harus hadiah yang paling terbaik!" jawab Henry membalas pelukan Anastasia.
Mendengar nada lembut Henry, Anastasia merasa hatinya semakin ingin Henry selalu seperti ini padanya seumur hidupnya.
Kata-kata yang terdengar tulus, dan perhatian Henry yang menghanyutkannya, rasanya tidak rela diberikan kepada wanita lain.
"Apa baru saja yang kamu inginkan di usiamu yang ke tujuh belas?" tanya Henry.
Anastasia melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke arah gelas anggur merah milik Henry.
"Apakah aku boleh mencicipinya sedikit?" tanya Anastasia.
Mungkin dengan sedikit alkohol mengalir pada tubuhnya, bisa memicu keberaniannya untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.
"Tidak boleh!" Henry menggelengkan kepalanya.
"Sedikittt saja!" jari telunjuk dan jari jempol Anastasia membuat kata sedikit yang ia inginkan.
"Tidak, tetap tidak!" dengan tegas Henry tetap tidak memperbolehkan.
"Ayolah, Paman! aku sudah tujuh belas tahun!" rayu Anastasia dengan nada merengek.
Henry menghela nafas, "Baiklah! sedikit saja, ya!"
Anastasia dengan cepat menyambar gelas anggur Henry, lalu meneguknya sedikit.
Anastasia mengerutkan keningnya merasakan anggur mengalir ke tenggorokannya, rasanya sangat aneh.
Terasa pekat dan sedikit pedas, bagi pemula sepertinya yang belum pernah merasakan minum anggur.
"Cukup! jangan lagi! bukankah kamu bilang hanya sedikit saja?!" Henry meraih gelas anggur dari tangan Anastasia.
Anastasia sudah melebihi satu teguk mencicipi anggurnya, tapi ia belum merasa cukup dengan satu teguk saja.
"Tidak! sedikit lagi!"
Tangan panjang Henry meraih gelas anggur dari tangan Anastasia, yang menjauh darinya menghindari tangannya.
Anastasia yang akan kembali meneguk anggur itu, terhuyung ke depan begitu Henry dapat meraih gelas, yang akan kembali Anastasia dekatkan ke bibirnya.
"Paman! sedikit lagi!!"
Anastasia menghambur ke arah Henry untuk merebut kembali gelas itu, tapi Henry dengan cepat mengangkat tangannya dengan tinggi.
"Cukup! jangan lagi! bukankah kamu bilang hanya satu teguk saja?!"
Anastasia yang belum punya keberanian ingin mengungkapkan isi hatinya pada Henry, merasa belum cukup menyesap dua teguk anggur itu.
"Satu teguk lagi saja, Paman!"
Anastasia memanjat tubuh Henry untuk mendapatkan gelas, yang semakin tinggi di angkat Henry pada tangannya.
Perebutan gelas itu membuat wajah Anastasia nyaris bersentuhan dengan wajah Henry, dan bahkan bibir mereka nyaris bersentuhan.
Anastasia menatap mata Henry yang begitu dekat dengannya, dan hembusan nafas Henry terasa menerpa wajahnya.
"Paman.. "
Anastasia seketika merasakan darah pada tubuhnya, membuat ia ingin sekali mencium bibir Henry.
Mereka saling menatap satu sama lain.
Henry sesaat terpana menatap manik mata Anastasia, yang tiba-tiba membuat dirinya seakan tersedot ke dalam diri Anastasia.
"Paman.. " mata Anastasia berkedip, "Aku akan mengatakan, apa yang kuingin di usiaku yang ke tujuh belas ini" bisik Anastasia.
Ke dua tangannya perlahan memeluk wajah Henry, dan semakin mendekatkan wajahnya semakin dekat ke wajah Henry.
"Saat aku berusia lima belas tahun, aku sudah menyukaimu, Henry! aku ingin kamu selalu disisiku selamanya sampai kita menua" bisik Anastasia lembut.
Mata Henry berkedip.
Dan tubuhnya seketika membeku, merasakan bibirnya kemudian dicium Anastasia.
"Anastasia!!" sentak Henry, dan dengan cepat tangannya mendorong tubuh Anastasia.
Tubuh Anastasia terlempar ke sandaran sofa.
Bersambung........
lma2 up thor tk inak menunggu n klau up yg buanyk n hrs tiap hri
nie malah berbeilit²🙄🙄🙄🙄
kalo ragu, untuk apa minta ketemuan sama henry🙄🙄🙄