NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

Dari kerumunan pelayan di dekat meja potong daging, seorang wanita bertubuh besar melangkah maju sambil mengelap tangannya yang basah ke celemek kotor.

Martha.

Wanita itu menyipitkan matanya, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Nyonya?" suaranya terdengar kasar, memecah keheningan dapur. "Apa yang Anda lakukan di sini?"

Pertanyaan itu bukan bentuk kesopanan. Itu adalah tuduhan. Di rumah bangsawan mana pun, seorang Nyonya tidak pernah turun ke dapur, tempat yang dianggap kotor dan kasar. Nyonya seharusnya duduk manis di kamar, menunggu pelayan datang melayani.

Elara menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang kering. "Selamat pagi, Martha," jawabnya. Suaranya pelan namun jernih, terdengar asing di antara suara gemeretak api perapian. "Saya mencari sarapan."

Suara bisik-bisik mulai terdengar di antara para pelayan lain. Martha mendengus, melangkah lebih dekat hingga aroma keringat dan bawang menguar darinya. Ia berkacak pinggang, menatap Elara dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.

"Sarapan akan diantar ke kamar, Nyonya," kata Martha ketus. "Itu aturannya. Pelayan akan naik ke Menara Barat setelah semua pekerjaan di kastil utama selesai. Mungkin satu atau dua jam lagi."

Satu atau dua jam lagi. Elara bisa pingsan sebelum itu. Dan nada bicara Martha menyiratkan bahwa 'satu atau dua jam' itu bisa saja berarti 'saat kami ingat'.

"Saya lapar sekarang," kata Elara. Ia tidak menaikkan suaranya, tapi ia tidak mundur. "Dan air di kamar saya membeku. Saya tidak bisa minum."

Beberapa pelayan muda di belakang Martha saling menyikut dan menahan tawa kecil. Mereka tahu kondisi Menara Barat. Mereka tahu itu adalah hukuman. Dan melihat 'Putri Ibu Kota' ini turun sendiri ke dapur dengan wajah pucat adalah hiburan tersendiri bagi mereka.

Martha tersenyum miring, senyum yang tidak mencapai matanya. "Ah, airnya membeku? Itu biasa di Utara, Nyonya. Kami semua juga kedinginan. Tapi kami tidak berkeliaran di dapur mengganggu pekerjaan." Ia memberi isyarat tangan mengusir. "Kembalilah ke menara. Nanti saya suruh anak buah saya naik. Kalau Anda berdiri di sini, Anda menghalangi jalan."

Penolakan itu terang-terangan. Martha sedang menguji batasnya. Ia sedang menunjukkan siapa yang berkuasa di wilayah domestik ini.

Elara merasakan panas merambat di wajahnya. Bukan karena malu kali ini, melainkan karena amarah yang dingin. Ia melihat ke sekeliling. Lusinan mata menatapnya, menunggu reaksinya. Apakah ia akan lari menangis? Apakah ia akan memohon?

Elara melangkah maju. Bukan ke arah pintu keluar, tapi masuk lebih dalam ke dapur.

Para pelayan terkesiap dan mundur selangkah, memberi jalan secara refleks. Elara berjalan menuju sebuah meja kayu panjang di sudut ruangan, tempat yang biasanya digunakan para pelayan senior untuk makan. Meja itu kosong saat ini. Ada keranjang berisi roti yang baru dipanggang di sana, uap panas masih mengepul darinya.

Elara menarik sebuah kursi kayu kasar. Kakinya terlalu lemah untuk berdiri lebih lama lagi. Ia duduk perlahan, mengatur napasnya, lalu meletakkan kedua tangannya yang masih mengenakan sarung tangan di atas meja.

Ia menatap Martha lurus-lurus. Tatapan matanya tenang, meski jantungnya berdegup kencang seperti drum perang di dalam dadanya.

"Saya tidak akan kembali ke menara tanpa membawa makanan, Martha," ucap Elara. Nada suaranya berubah. Hilang sudah keraguan di sana. Itu bukan lagi suara seorang gadis yang terbuang, melainkan suara seorang Duchess yang memberi perintah. "Dan saya tidak akan berdiri di koridor menunggu belas kasihanmu."

Keheningan kembali menyergap dapur. Kali ini lebih berat. Martha terdiam, mulutnya sedikit terbuka karena kaget. Ia tidak menyangka gadis kecil yang kemarin tampak gemetar ketakutan itu berani menantangnya di wilayah kekuasaannya sendiri.

"Berikan saya teh panas," lanjut Elara, matanya tidak lepas dari wajah Martha. "Dan potongkan roti itu. Serta keju. Dan telur, jika ada."

Martha tidak bergerak. Wajahnya memerah karena marah. "Saya sibuk, Nyonya. Tuan Duke harus sarapan sebentar lagi dan..."

"Tuan Duke tidak ada di sini," potong Elara tenang. "Tapi istrinya ada di sini. Duduk di mejamu. Dan dia lapar."

Elara mengambil pisau roti yang tergeletak di meja. Ia tidak menggunakannya untuk mengancam, melainkan menarik keranjang roti itu mendekat, lalu dengan gerakan yang lambat dan sengaja ia mulai memotong roti itu sendiri. Gerakannya canggung karena sarung tangan tebal, tapi ia terus melakukannya.

Tindakan itu sederhana, namun di mata para pelayan, itu adalah pelanggaran tatanan alam yang mengejutkan. Seorang bangsawan memotong rotinya sendiri di meja pelayan karena kepala dapurnya menolak melayani. Jika Tuan Duke atau Silas melihat ini, Martha bisa dalam masalah besar. Pengabaian adalah satu hal, tapi membiarkan Nyonya rumah melayani diri sendiri di dapur kotor adalah penghinaan terhadap martabat House Draxos itu sendiri.

Martha menyadari posisinya. Ia menggeram pelan, rahangnya mengeras. Ia sadar ia kalah dalam pertempuran kecil ini. Bukan karena Elara lebih kuat, tapi karena Elara tidak peduli pada aturan main yang coba diterapkan Martha.

"Lina!" bentak Martha tiba-tiba, membuat seorang pelayan muda kurus melonjak kaget. "Apa yang kau lihat, bodoh? Buatkan teh untuk Nyonya! Sekarang!"

Gadis bernama Lina itu buru-buru berlari mengambil teko. Martha membalikkan badan dengan kasar, kembali ke talenan dagingnya, dan mulai mencincang dengan tenaga berlebihan. Brak! Brak! Brak! Suara pisau menghantam kayu menjadi pelampiasan kekesalannya.

Elara menghela napas panjang, bahunya turun sedikit. Ia berhasil.

Sesaat kemudian, Lina datang dengan gemetar, meletakkan secangkir teh panas yang mengepul dan piring berisi potongan keju serta daging asap di depan Elara.

"Tehnya, Nyonya," cicit gadis itu, tidak berani menatap mata Elara.

"Terima kasih, Lina," ucap Elara tulus. Ia melepaskan sarung tangannya, memperlihatkan jari-jarinya yang merah dan bengkak. Ia melingkarkan kedua tangannya di cangkir keramik kasar yang panas itu.

Panas itu menjalar ke telapak tangannya, mengirimkan sinyal kenyamanan ke seluruh tubuhnya yang beku. Elara mengangkat cangkir itu ke bibirnya, menyesap cairan hitam pekat yang pahit dan panas. Rasanya seperti kehidupan yang mengalir kembali ke dalam tubuhnya.

Ia mengambil sepotong roti hangat, mengoleskan mentega tebal-tebal, dan menggigitnya. Rasanya sederhana—tepung, ragi, garam—tapi bagi Elara saat ini, itu adalah makanan paling lezat yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Di sekelilingnya, aktivitas dapur perlahan kembali berjalan, meski sesekali masih ada mata yang mencuri pandang ke arahnya. Elara tidak peduli. Ia makan dengan perlahan, menikmati setiap gigitan, setiap tegukan air hangat.

Ia duduk sendirian di meja pelayan, di sudut dapur yang bising dan berbau asap, diabaikan oleh suaminya dan dibenci oleh pelayannya. Namun, saat ia menelan roti hangat itu, satu hal tertanam kuat di benaknya: ia masih hidup.

Kaelen boleh menempatkannya di menara es. Martha boleh memberinya sisa makanan. Tapi Elara Vane tidak akan layu. Ia baru saja memenangkan kemenangan kecil pertamanya. Dan di neraka beku bernama Blackiron ini, kemenangan sekecil apa pun adalah bahan bakar untuk bertahan satu hari lagi.

1
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!