Seina adalah gadis cantik yang bercita-cita menjadi aktris terkenal. Setelah lulus sekolah, hidupnya terasa sempurna ketika dia berhasil debut di dunia hiburan. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Di puncak awal kariernya, Seina justru dibunuh oleh seorang haters yang iri padanya.
Saat membuka mata, Seina tidak lagi berada di tubuhnya sendiri. Dia terbangun di tubuh Serina Elvano, seorang wanita egois yang dibenci banyak orang. Lebih mengejutkannya lagi, dia berpindah tubuh saat Serina sedang berjuang melahirkan anaknya.
Serina harus menjalani kehidupan baru sebagai istri Cristian Elvano, pria dingin dan berkuasa yang sama sekali tidak mencintai istrinya. Tidak hanya diabaikan oleh sang suami, Serina juga diperlakukan rendah oleh keluarga Elvano karena sikap buruknya di masa lalu.
Dia bertekad mengubah hidupnya, merebut kembali harga dirinya, dan membuat semua orang yang meremehkannya menyesal, terutama Cristian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06
Selama ini, Serina selalu bersikap tidak peduli dan hanya tahu menghamburkan uang saja bahkan wanita itu melupakan perannya sebagai seorang istri.
Cristian menatap istrinya tajam, apalagi trik yang sedang Serina mainkan. Serina yang tidak mendapatkan jawaban dari sang suami mengambil apa pun yang menurutnya enak, setelah itu dia mengambil untuknya.
Mereka makan dengan keheningan, tetapi ada raut terkejut dari mereka karena cara makan Serina yang terlihat anggun berbeda dengan biasanya yang terlihat seperti kasta bawah.
Mereka sudah selesai makan dan mengobrol bersama. Serina merasa dirinya sangat asing di keluarga ini. Sedari tadi Serina tidak mengucapkan apa pun. Jika ditanya dia akan menjawab seadanya, tetapi jika tidak dia akan diam.
"Serina, berapa usia anakmu?" tanya Abigail.
"Dua minggu, Nek."
"Oh nak, maafkan nenek yang tidak hadir saat kamu melahirkan. Apakah ada salah satu dari keluarga ini yang berada di sampingmu saat itu?" tanya Abigail sambil memegang tangan Serina.
Mereka yang mendengar waswas, takut Serina jujur dan membongkar semua tindakan mereka yang membiarkan Serina di rumah seorang diri.
Namun, jawaban Serina mampu membuat semua orang tak percaya. Serina tersenyum anggun. "Nenek tenang saja, mereka datang dan ada di sampingku sampai aku pulang ke rumah ini."
Mereka terkejut mendengar Serina berbohong, bahkan Cristian yang tadinya malas mendengar ocehan orang-orang di sini menatap istrinya intens.
"Oh syukurlah, nenek senang mendengarnya."
Serina membalasnya dengan senyuman saja, toh dia juga tidak rugi berbohong seperti itu.
"Ibu, berapa hari Ibu akan tinggal di sini?" tanya Hans, sang kepala keluarga mengalihkan pembicaraan.
"Hanya satu minggu. Ibu ingin menemani cicit Ibu yang sangat tampan." Terlihat raut wajah Abigail yang bahagia.
Setelah makan beres mereka kembali ke kamar masing-masing, termasuk Serina yang sekarang menggendong bayinya. Saat membuka pintu dia dibuat terkejut dengan kehadiran Cristian di kamarnya, tetapi dirinya berusaha tenang. Mungkin karena ada Abigail di sini makanya Cristian mau tidur di kamar berdua dengannya. Bukankah ini kesempatannya?
Serina menidurkan Arcelio di box bayi, setelah itu dia duduk di tempat rias dan menghapus aksesori yang dirinya pakai tadi.
"Kenapa kamu baru pulang sekarang?" tanya Serina santai tanpa melihat suaminya.
Cristian yang sedang memejamkan matanya tidak berniat menjawab ucapan Serina, dia memilih bungkam seperti tidak menganggap Serina ada di ruangan yang sama dengannya.
"Aku tahu kamu tidak tidur, bisakah kamu jawab pertanyaanku?" ucap Serina lagi. Dia berusaha sabar.
"Apa urusannya denganmu?"
"Aku istrimu dan sekarang aku baru melahirkan bayimu, kenapa kamu tidak datang dan menjenguk bayi kita? Setidaknya, berikan sedikit simpatimu pada anak kita," tanya Serina. Entah kenapa hatinya terasa sakit mengucapkan itu.
"Bayimu, bukan bayi saya. Jadi itu bukan urusanku."
Serina berdiri lalu mendekati suaminya. Dia menarik napas panjang, mencoba tetap tegar dan mengendalikan emosinya. Jika tidak mengingat dia sedang bergantung pada pria itu, sudah pasti dia akan meninju wajah Cristian sampai keunguan agar menjaga cara bicaranya. Tapi dia tidak mungkin melakukannya, karena saat ini dia hanya punya Cristian.
"Aku tahu aku salah menjebakmu agar menikahiku, tetapi apa tidak bisa kamu menerima anak itu? Dia tidak bersalah, kalau kamu marah lampiaskan padaku jangan pada bayi itu," lirih Serina di hadapan suaminya.
Cristian membuka matanya dan menatap Serina tajam. "Apa menurutmu saat ini kami berada di posisi untuk bernegosiasi denganku?"
"Tidak, hanya saja... Sebagai orang dewasa, bukankah harusnya kamu mengesampingkan egomu sedikit?"
"Untuk apa?" Cristian bertanya dingin. "Kamu yang menginginkan pernikahan ini, jadi kamu harus menanggung resikonya sendiri."
Serina tersenyum kecut, dia paham kenapa Cristian begitu keras kepala. Jika dia yang berada di posisi pria itu, mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama. Siapa juga yang mau menikah karena jebakan? Memang sikap Serina asli benar-benar di luar batas wajar.
"Baiklah, tetapi satu pesan dariku untukmu. Tidak masalah kamu membenciku, tetapi aku mohon jika di hadapan orang lain anggap dia sebagai anakmu. Agar besar nanti dia tahu kalau dia pernah disayangi oleh ayahnya dan agar dia tidak membenci ayahnya sendiri."
Setelah mengatakan itu Serina berlalu ke kamar mandi tanpa mendengar jawaban dari suaminya lagi, rasa panas menjalar di kepalanya. Dia bukanlah wanita yang sabar, tapi demi mencapai hubungan yang dia inginkan setidaknya dia harus menahan diri.
Cristian menatap istrinya sendiri dengan tatapan yang sulit dimengerti, tetapi dari pupil matanya terlihat terkejut dengan sikap istrinya yang biasa saja jika melihatnya. Apalagi bahasanya yang berbeda menjadi sopan dan santun. Biasanya Serina akan menggoda dan bersikap murahan di hadapannya, tetapi sekarang sungguh sangat berbeda dengan sikap Serina yang dulu.
Dirinya juga sudah bertanya kepada Emma dan ternyata sikap istrinya seminggu ini sungguh sudah berbeda dan berubah. Ya, Emma adalah mata-mata dirinya untuk mengawasi istrinya dan melaporkan apa pun tentang bayinya.
Meskipun dia terlihat tidak peduli, tetapi sebenarnya dia sangat peduli. Orang tua mana yang tidak peduli kepada anaknya sendiri? Meskipun hadir karena kesalahan, tetapi bayi itu tetaplah bayinya. Hanya saja dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dirinya terlalu kaku dan juga gengsi mengakuinya, makanya menyuruh Emma mengawasinya.
Dan dia tidak mau Serina jadi besar kepala kalau tahu dia peduli pada anak mereka, sikap Serina yang pembangkang itulah yang membuat Cristian merasa risih.
***
Malam semakin larut, Serina dan juga Cristian sudah terlelap akan tetapi suara tangisan dari bayi mereka membuat Serina terbangun dari tidur nyenyaknya, dia meregangkan otot-otot di tubuhnya yang terasa sakit lalu pandangannya teralihkan pada sosok suaminya yang masih terlelap di ranjang.
Mereka memang tidak tidur dalam satu ranjang, Serina lebih memilih tidur di sofa panjang. Dia masih belum terbiasa dengan keberadaan Cristian yang begitu membencinya.
Saat tangisan Arcelio semakin sering, Serina turun dari sofa dan menghampiri anaknya yang berada di dalam box bayi. Dia mengulurkan kedua tangannya, lalu mengangkat bayi itu ke dalam gendongannya.
"Cup, cup. Anak baik, kenapa nangis? Laper, ya?" Tanya Serina meski dia tahu tidak akan mendapat jawabannya.
Dia meletakan jari telunjuknya di bibir Arcelio yang langsung di lahap oleh anak itu, Serina terkekeh ternyata benar jika bayinya lapar.
"Mau minum susu?" Saat itu Serina tersadar jika di dalam ruangan itu tak hanya ada dirinya.
Dia lantas melihat ke arah ranjang untuk memastikan jika suaminya masih tidur, helaan napas lega terdengar dari bibir Serina saat yakin jika Cristian masih tidur.
Serina menggendong anaknya menuju sofa, lalu membuka kancing baju teratasnya dan memberikan asi pada bayi itu. Seketika wajah Serina memerah, meski sudah beberapa kali menyusui dia masih saja belum terbiasa dengan kenyataan kini dirinya menjadi seorang ibu.
"Anak pintar, pelan-pelan sayang. Tidak akan ada yang mengambilnya," Serina terkekeh sendiri mendengar ucapannya, sesekali dia juga meringis kesakitan saat anaknya menelan asinya terlalu kuat.
Tanpa Serina sadari, Cristian terbangun setelah mendengar ocehan Serina pada bayinya. Pria itu menatap Serina dengan ekor matanya yang tajam, tatapan pria itu begitu intens dan rumit seakan memiliki banyak arti yang sulit di katakan.
novel kmrin blm selesai thor
cerita mu makin seruuu
ada sistem aseekkkk... bisa bantu seina menjinakkan Cristian 😁😁😁😁
ayoooo semangat update. aku maraton nih bacanya😁
lama lama kalau diperlakukan baik lemah lembut Cristian juga akan luluh yaa gaaakkkk😄😄😄
bagus si Serina, ambil hati suamimu. kalau ga bisa cara halus cara kasar aja. terjang 🤣🤣🤣
heheheheeheeee
tunjukkan bahwa kau bisa berubah jauuuhhh lebih baik. kalau bisa tinggalkan jauuhhh Cristian sampei dia menyesal atas pengabaiaannya selama ini. 😊