NovelToon NovelToon
Figuran Yang Polos

Figuran Yang Polos

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Mafia / Tamat
Popularitas:108.1k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
​Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mati?

"Pengen banget pulang..." bisik Anna lirih pada dirinya sendiri, suaranya nyaris hilang ditelan hiruk-pikuk kelas. Ia merasa sangat lelah dengan segala drama yang terus menghimpitnya di dunia novel ini.

​Tak lama kemudian, suasana kelas mendadak mencekam. Kiel melangkah masuk dengan aura dingin yang menusuk, diikuti oleh Arland yang tampak meledak-ledak.

​"Elo apain Zela?!" tanya Kiel dengan nada rendah namun penuh ancaman, matanya menatap Anna tajam seolah ingin menguliti rahasianya.

​Anna hanya menghela napas panjang. Ia sudah terlalu lelah untuk merasa kaget karena terus-menerus dituduh atas kesalahan yang tidak ia lakukan.

​"Elo kenapa sampai nampar dia?! Liat, pipinya sampai merah!" bentak Arland, suaranya menggelegar hingga membuat beberapa murid di kelas terlonjak.

​Gausah dilawan, mending dibunuh langsung aja, ucap Anna dalam hati, mencoba memasrahkan diri pada alur cerita yang kejam ini.

​Arland yang sudah dikuasai emosi menatap Anna dengan kemarahan yang meluap-luap. Ia maju dan menarik paksa lengan Anna dengan sangat kasar. Entah kenapa, Kiel yang biasanya tidak peduli merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat melihat perlakuan Arland—sebuah rasa tidak suka yang asing—namun ia hanya diam mematung, membiarkan egonya menang.

​"Ikut gue!" Arland menyeret Anna dengan kasar keluar kelas, mengabaikan rintihan kecil gadis itu, menuju ke arah rooftop gedung sekolah.

Arland mencengkeram bahu Anna, menekannya hingga punggung gadis itu membentur tembok pembatas rooftop yang rendah. Di bawah sana, ketinggian gedung sekolah terlihat mengerikan, namun Arland seolah buta karena amarah.

​"Lo mau gue dorong, hah?!!" bentaknya tepat di depan wajah Anna.

​Anna hanya diam. Ia tidak meronta, tidak juga menangis ketakutan seperti biasanya. Ia justru sedang mengatur napasnya yang pendek, mencoba menenangkan debar jantungnya agar ia siap menyambut apa pun yang terjadi selanjutnya.

​Evan yang melihat situasi semakin tidak terkendali mulai merasa cemas. "Land, tenangin diri elo. Jangan gila!" serunya mencoba menengahi.

​Namun, Arland tidak bergeming. Ia menatap Anna dalam-dalam dengan sorot mata yang penuh kebencian murni. Sementara itu, Kiel yang berdiri di belakang hanya terdiam. Wajah tulus Anna saat mengobati lukanya semalam terus terngiang-ngiang di kepalanya, menciptakan konflik batin yang membuat tangannya mengepal erat di dalam saku celana.

​Melihat keraguan di mata orang-orang di depannya, Anna justru mengambil langkah nekat. Ia mundur perlahan hingga tumitnya berada tepat di tepi rooftop.

​"Ayok," ucap Anna pelan namun terdengar sangat jelas di tengah hembusan angin kencang. Ia menatap Arland dengan tatapan pasrah yang kosong. "Sekarang dorong aku."

​Anna memejamkan mata, siap jika ini memang menjadi akhir dari perannya di dunia novel yang melelahkan ini.

"Lo nantangin gue?" Arland menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak berbahaya namun terselip keraguan di matanya.

​Anna sama sekali tidak berniat meladeni gertakan itu. Fokusnya hanya satu: mengakhiri semua kegilaan ini. "Enggak," jawabnya singkat dengan suara yang sangat tenang, hampir tanpa emosi.

​Melihat Anna yang tidak melawan, nyali Arland justru sedikit menciut. Sejahat-jahatnya dia, ia tidak benar-benar ingin menjadi pembunuh. "Kalau lo minta maaf sekarang, gue bakal maafin elo," ucap Arland, mencoba memberi jalan keluar bagi Anna—dan juga bagi nuraninya sendiri.

​Namun, jawaban itu justru membuat Anna kecewa. Ia tidak butuh dimaafkan; ia butuh bebas dari dunia ini.

​"Kalau kamu nggak mau..." Anna menatap Arland dengan tatapan yang sulit diartikan, "biar aku sendiri."

​Tanpa memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk bereaksi, Anna dengan cepat menyentak tangan Arland yang masih memegang lengannya. Dengan satu gerakan mundur yang mantap, ia melepaskan tumpuan kakinya dari tepi gedung dan membiarkan tubuh mungilnya terjun bebas ke udara.

​"ANNA!!" teriak Evan dan Arland bersamaan, suara mereka pecah oleh keterkejutan.

​Kiel, yang sedari tadi hanya diam membeku, membelalakkan matanya. Waktu seolah melambat saat ia melihat tubuh Anna meluncur jatuh dengan wajah yang tampak sangat damai, seolah beban berat yang selama ini dipikulnya baru saja terangkat.

​Angin kencang menerpa seragam Anna saat ia jatuh, dan di dalam pikirannya, ia hanya membisikkan satu harapan terakhir: Semoga aku bangun di kamarku sendiri.

Angin kencang bersiul di telinga Anna saat tubuhnya membelah udara, sebelum akhirnya—BYURRR!—permukaan air danau yang sedingin es menghantam punggungnya dengan keras. Air danau belakang sekolah yang gelap dan dalam itu seolah menelan tubuh mungilnya dalam sekejap, menyisakan riak gelembung yang perlahan menghilang.

​Di atas rooftop, Arland terdiam mematung. Wajahnya pucat pasi, kedua tangannya gemetar hebat saat menatap telapak tangannya sendiri yang tadi sempat memegang Anna. Ia tak menyangka gertakannya akan berakhir dengan nekatnya gadis itu melompat.

​"Anna..." gumam Arland dengan suara tercekat, napasnya terasa berhenti.

​Namun, sebelum Arland sempat bergerak, sebuah bayangan hitam melesat melewati dirinya.

​Kiel.

​Tanpa ragu sedikit pun, sang mafia itu terjun bebas. Suara dentuman air yang keras terdengar saat tubuh atletisnya menghujam danau. Di dalam air yang pekat dan nyaris tanpa cahaya itu, Kiel membuka matanya. Rasa perih menusuk penglihatannya, namun ia tidak peduli.

​Kiel berenang semakin dalam, menembus kedinginan yang menggigit tulang. Paru-parunya mulai terasa sesak, namun bayangan wajah Anna yang tenang saat mengobati lukanya semalam serta tatapan pasrah gadis itu sebelum melompat terus membayangi pikirannya.

​Ia terus menggerakkan tangannya di tengah kegelapan air, mencari-cari keberadaan Anna. Di dasar yang lebih dalam, ia melihat siluet seragam sekolah yang melayang tak berdaya. Anna sudah tidak bergerak, rambut panjangnya terurai seperti ganggang di tengah air yang sunyi.

​Kiel mengerahkan seluruh tenaganya, membelah air dengan cepat untuk meraih tangan gadis itu. Saat jemarinya berhasil mencengkeram lengan Anna, ia segera menarik tubuh itu ke dalam pelukannya dan menendang sekuat tenaga menuju permukaan, membawa Anna keluar dari kedalaman yang mematikan.

Kiel menarik tubuh Anna ke tepian danau dengan napas terengah-engah. Dinginnya air danau yang menusuk tulang tak ia hiralkan. Ia segera membaringkan tubuh gadis itu di atas rumput yang basah, menatap wajah Anna yang kini sepucat kertas.

​"Anna! Buka mata lo!" bentak Kiel, suaranya parau menahan kepanikan yang luar biasa.

​Ia menekan dada Anna, mencoba melakukan CPR dengan tangan yang gemetar. Tubuh Anna terasa sangat kaku dan dingin di bawah telapak tangannya. Tidak ada tanda-tanda napas, tidak ada gerakan dari kelopak mata yang biasanya menatapnya dengan penuh binar kagum itu.

​Kiel terdiam sejenak, menatap lekat wajah gadis yang selama ini selalu mengejar-ngejarnya tanpa lelah. Selama ini, ia hanya menganggap Anna sebagai pengganggu, gadis manja yang haus perhatian. Namun, melihatnya terkapar tak berdaya setelah dengan sengaja melompat ke kematian, ada perasaan aneh yang menghantam dada Kiel.

​Rasa sesak yang menyesakkan mulai merayap di hatinya. Mengapa gadis ini lebih memilih mati daripada meminta maaf padanya? Mengapa tatapan pasrah itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian musuh-musuhnya?

​"Bangun, sialan! Jangan mati sekarang!" teriak Kiel lagi, kali ini suaranya pecah.

​Ia teringat betapa lembutnya tangan ini saat mengobati lukanya semalam di gang sempit. Anna yang polos, yang memintanya berhati-hati di malam hari, kini justru sedang bertaruh nyawa di pelukannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai seorang mafia yang berhati dingin, Kiel merasakan ketakutan yang murni—ketakutan kehilangan sosok yang selama ini ia abaikan.

​"Gue belum izinin lo pergi, Anna... bangun!" desisnya sambil mendekatkan telinganya ke dada Anna, berharap mendengar detak jantung yang masih tersisa.

1
Suci Uci
ending terkecewaaa si 🤣Axel pemeran utama dan ana jadi tidak jodoh gara2 Naya sakit banget jadi pembacaa
safitriindahh
ini awalya bgus ko tiba tiba ganti pu?
Liza Chilra
yeyy ceritanya mau selesai, transmigrasi cmn mau nyatuin benang kusut axel dan nayara aja🗿, mnding ga ush transmigrasi 😭🗿
tapi senang nya anna (raisa) bisa pulang kedunia dia, walau msih bnyak yang blum di bahas🗿, reygan bagaimana keadaannya dan sahabat anna (raisa) pas SMA 😭🗿
Liza Chilra
singkat saja kk thor, kapan anna (raisa) pulang kedunia dia??
dari pada msih di transmigrasi, yang sinopsis siapa yang bahagia siapa??
sebenarnya kak author baca ga sih komenan kami?
tentang endingnya anna (raisa)?
tokoh tambahan diksih ending bahagia!
saya baca cerita ini dari awal cuman ngikutin perjalanan anna (raisa), malah di buat kek gni kisah anna.
singkat saja lhh, kapan anna (raisa) pulang ke dunia dia??
Satria Hadi pranata
ciiii yg iyanya Axel yg murahan abis Anna, di embat, sekarang Naya, cinta murahan, bilangnya cinta sejati
Liza Chilra
Udah cukup kak. Jangan makin ngancurin Anna. Dari awal ceritanya tentang Anna transmigrasi, kok endingnya malah Nayara yg jadi sorotan? Ga adil banget. Anna juga berhak bahagia dan pulang ke dunianya!
Liza Chilra
balikin aja lh kak author anna (Raisa) ke dunia asal dia, ceritanya ga sinkron , sinopsis tentang anna (raisa), yang malh dpat bahagia nayara, klo seandainya nayara yang di sinopsis dari awal mngkin aku akan berpihak ke nayara!
ini yang berjuang dari awal siapa, yang bahagia siapa, masih penasaran baca novel ini cmn mau baca dialog anna (raisa).
singkat saja, kapan anna (raisa) pulang ke dunia dia?
Satria Hadi pranata
abis itu Anna kyk mn balik ke asalnya atau tetap, sekarang ini menceritakan figuran siapa lah 🤷🤔🧐
Psyche 01
jujur aja awalnya aku suka banget sama cerita ini , karna di bab 90an alurnya udah mulai gak enak . jadi aku langsung ke part ini . dan ini agak mengecewakan sih kak
Satria Hadi pranata
🤭
Shela Pereira
aduuuh menurutku ceritanya lumqyqn ga bagus karna tookoh nya kan anna kenapa jadi naya harus nya nay itu gaada gaa menaariik
Liza Chilra: iya kak benar pendapat kakak, klo seandainya sinopsis ceritanya tentang naya itu bru pas dan cocok, ini yang transmigrasi raisa ke tokoh anna, malah dijadiin antagonis, sedangkan penambahan tokoh dijadiin tokoh utama / disebut protagonis.
kakak author nya ga mau bals komenan kita, bagi aku yang buat smngat bacanya karena tokoh anna (raisa), tapi malah dibuat kek gni jalan ceritanya, huftt!😮‍💨
total 1 replies
Satria Hadi pranata
axel sama Naya Anna sama siapa, sementara dia ud GK perawan, kasian Anna nya
Liza Chilra: anna nya sama aku aja kak, kita merenung nasib dia dipojokan😭
total 1 replies
olenlmie olen
sdh tidak minat...lari dri tajuk sdh... makin ke sini, makin lain alur critanya... katanya polos, aikkk ....makin pelik jadinya... sorry thor sdh ilang minat dgn alurnya
Din Din Dinda
ijin gak lanjut baca lagi thour am so sorry
dari awal aku udah berekspektasi kalo si ana yg bakal hidup bahagia orang mahkota berharganya juga udah di ambil eeh tbtb kok jari nayara tokoh utamannya 😭
Liza Chilra: kk ga sendiri pendapat kek gitu.
excited baca novel ini karena tokoh anna (raisa), tapi malah di buat seolah-olah antagonis, naya penambahan tokoh di jadiin protagonis / pu (pameran utama), kalau cerita ini awal tentang naya kenapa ga dari awal aja ceritain tentang naya?
ini yang transmigrasi siapa?
naya apa anna?
ga espek anna (raisa) tokoh favorit yang aku tunggu muncul kapan ceritanya dijadiin antagonis!
padahal yang buat smangat bacanya dan yang paling tunggu muncul adalah tokoh anna (raisa).
bagi aku ga adil buat tokoh anna, kalo emg cerita ini hanya untuk naya?
kenapa harus buat sinopsis tentang anna?
maaf yah kak author, ini aku cmn berpendapat aja yah, soalnya aku excited baca pas pertama kali cmn nngu scane anna (raisa) aja.
kirain pu nya anna, malah penambahan tokoh (nayara) yang jadi tokoh utamanya ga espek pas tau kek gitu dan ga smngt baca lagi:(
total 1 replies
Satria Hadi pranata
di sini Anna bisa mengorbankan cintanya untuk Naya sama Axel dan kembali ke dunianya sendiri
Liza Chilra
maaf kak, keknya ga baca lagi deh🙏
soalnya aku dari awal dukung anna sama axel dan sekarang malah naya yang jdi pu nya, dan alurnya ga sesuai yang di deskripsi dari awal novel ini.
soalnya aku lebih suka anna yang dulu, tapi malah dijadiin antagonis, malah naya yang protagonis
Liza Chilra
maaf yah kak, jdi greget bacanya! soalnya ceritanya menyimpang dari alur awal.
selama baca novel, novel ini yang buat greget dan ga sesuai ekspektasi dah dukung anna dari awal malah dibuat kek gni, terus raisa (anna) pulang ke dunia nyatanya kapan?
malah anna yang ppb, huftt 😮‍💨
Forta Wahyuni
apaan nich thor, koq jd menyimpang gini critanya n maaf ya thor jd males bacanya krn anna jd antagonisnya. 🙏🙏🙏🙏
Liza Chilra
kok bisa yah tiba" anna jdi antagonis kek gni, kan dia yang ajak naya ikut serta liburan meraka. makin kesini malah anna yang ppb, yang transmigrasi dari awal raisa ke tubuh anna makin kesini malah anna yang jdi antagonis. hufttt😭
Liza Chilra
anna dh diambil kesucian sama axel yang malah pu malah naya, dari awalkan tentang raisa yang transmigrasi didunia novel jadi (anna) ini malah yang jdi antagonis, pusing + greget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!