Mesha tidak pernah menyangka, bahwa beberapa kali menikah, berkali-kali pula ia menjadi janda, karena semua suaminya, meninggal saat malam pertama. Semua ia jalankan demi menuruti keinginan orang tuanya.
Orang tuanya tidak memikirkan bagaimana perasaan Mesha. Yang mereka inginkan, Mesha harus membuktikan bahwa ia bukan perawan tua yang tidak laku-laku.
Namun, karena beberapa pernikahannya yang gagal, secara misterius, malah membuat ia semakin dipandang bagai monster.
Apakah ini sebuah kesialan? Atau kutukan? Bagaimana kehidupan Mesha selanjutnya?
Adakah yang bisa mengubah nasibnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 : Nontoni.
Pagi-pagi, Mayang sudah sibuk berbenah. Ia menata ulang beberapa pajangan dan hiasan di ruang tamunya. Mesha baru saja keluar dari kamarnya, terheran-heran melihat ibunya.
"Kebetulan banget kamu dah keluar kamar, Nduk. Yuk temenin ibu belanja ke pasar."
"Emang ada apa sih ini, Bu? Arisan keluarga?"
"Ndak ... bukan, pokoknya ayo!"
Mesha tidak mau membantah lagi.
"Ya, Bu. Echa ganti baju dulu."
Beberapa menit kemudian, Mesha dan ibunya sudah mulai berbelanja di pasar tradisional terdekat. Mesha mengekor ke mana pun ibunya berjalan.
"Kamu ndak pengen beli apa gitu, Cha?"
"Gak, Bu. Sini Echa bawain belanjaannya."
Setelah membeli beberapa barang yang dibutuhkan, Mesha dan ibunya pulang ke rumah.
"Sebenernya, ada apa sih, Bu?" tanya Mesha pada ibunya yang masih sibuk menata belanjaannya di lemari es.
"Oh itu, kata bapak, keluarga pak Wiryawan mau berkunjung ke rumah, nanti malam, Nduk."
Mesha mengernyitkan dahinya.
"Siapa pak Wiryawan?"
"Atasan bapak yang pengen menikahkan putranya denganmu ...."
Mesha terbelalak.
"secepat itu, Bu?"
"Ya kan mereka mau nontoni dulu, gitu."
Mesha menghela nafas, sebal.
"Udah, sekarang bantu ibu masak ya?"
Mesha mengangguk.
*******
Beberapa hari sebelumnya ....
Bagas baru saja pulang dari kantornya. Motornya terhenti saat melihat seorang perempuan berjubah, berdiri di depan rumahnya.
"Maaf, Anda siapa?"
Perempuan itu memalingkan mukanya ke arah Bagas, dan tersenyum dingin.
"Ka ... kamu!"
"Hai, Bagas? Masih ingat aku, Sayang?"
"Retno ... sedang apa kamu di sini?"
"Mmmm ... cuma mau lihat, sebahagia apa hidupmu tanpaku."
"Bukankah kau sudah melihatnya? Aku bahagia bersama Mayang!"
"Ya ... ya ... mari kita lihat, sampai kapan kamu akan bahagia, Bagas."
"Maksudmu apa?"
"Aku cuma mau bilang, anakmu sangat cantik, tapi sayang, ndak akan ada yang bisa menikahinya!"
Kemudian Retno terkekeh-kekeh.
"Omong kosong! Akan aku buktikan, padamu. Akan ada yang mau melamarnya!"
Retno semakin keras tertawa.
"Kamu lihat saja nanti!" ucap Retno sambil tertawa dan berjalan menjauh.
Bagas menggeleng prihatin, melihat kondisi mantan kekasihnya itu.
*******
Saat Bagas pulang, lalu masuk ke dalam rumah, ia mencium aroma wangi masakan menggelitik hidungnya. Ia meletakkan tasnya di meja, lalu berjalan menuju ke dapur. Ia melihat istri dan anaknya masih menata makanan di meja.
"Waduhhh, kayaknya enak ni, baunya sampai ke pintu depan tadi!"
Melihat Bagas yang sudah pulang, Mayang dan Mesha mendekat untuk menyalami dan mengecup punggung tangan Bagas.
"Bapak ganti baju dulu, kayaknya pak Wiryawan dan keluarga datang jam delapan malam, Bu."
"Oh iya, iya, Pak," jawab Mayang.
Mayang melirik ke jam dinding, ternyata sudah jam empat sore.
"Dah, dah. Kamu istirahat saja, Nduk, Cha. Nanti dandan yang rapi dan cantik. Biar ibu yang menyelesaikan sisanya."
"Ya, Bu."
Malam harinya, jam delapan malam lewat sedikit, sebuah mobil berhenti dan parkir di halaman rumah Bagas. Dari dalam mobil, turun beberapa orang, kemudian salah satu di antara mereka, mengetuk pintu.
"Waaahh, ternyata pak Wiryawan, monggo ... monggo, silakan masuk."
Mayang keluar menyambut keluarga Wiryawan. Menyalami mereka satu per satu.
"Ah ternyata ini, mas Giyan. Ganteng seperti di foto," celetuk Mayang setelah melihat putra pak Wiryawan.
"Selain ganteng, mas Giyan ini juga pinter lho, Bu. Lulusan universitas di luar negeri! Dan udah kerja kantoran," tutur Bagas.
"Ooooh ...." Maryam menganggukkan kepala.
Setelah mengobrol basa-basi, Bagas memberi kode kepada istrinya. Mayang mengangguk dan bangkit dari duduknya.
"Sebentar, saya siapkan minuman dulu ya ...."
"Aduh, jangan repot-repot lho, Jeng."
"Ndak repot kok," jawab Mayang dengan senyum basa-basi.
Beberapa saat kemudian, Mayang keluar dari dapur membawa sebuah nampan berisi minuman. Di belakangnya, berjalan Mesha dengan membawa sebuah nampan berisi jajanan tradisional buatan mereka.
Mata Giyan tertuju pada Mesha. Ia terpesona dengan wajah Mesha.
"Ini lho, Mesha. Putri saya, yang baru lulus SMA," tutur Mayang saat Mesha duduk di sebelahnya.
"Gimana, Le? Giyan? Udah mantep belum?" tanya bu Wiryawan pada putranya.
"Eh ... anu ... cantik! Eh iya, Bu," Giyan menjawab dengan gelagapan.
"Kenapa gelagapan Le? Baru pernah liat gadis secantik Mesha?" seloroh bu Wiryawan.
Semua orang tertawa, kecuali Mesha. Ekspresi wajahnya datar.
"Ndak perlu terburu-buru, ndak apa-apa, pelan-pelan aja, biar pada saling kenal dulu. Biar anak-anak saling kenal, nyaman, dan mantap, ya to?" saut pak Wiryawan.
"Iya, Pak. Tapi kita juga harus mengikat mereka dulu, biar gak lari, ya to?" jawab bu Wiryawan tidak mau kalah.
"Kalau saya, terserah anak-anak saja. Mau gimana, orang tua kan maunya putra-putri mereka, bahagia," Bagas menimpali.
"Gimana, Nduk? Le?"
"Kalo Giyan, Giyan pengen Mesha diikat dulu, seperti yang ibu bilang, biar laki-laki lain tau, itu calon Giyan."
Mesha mengerling Giyan dengan sebal.
Mayang dan Bagas mengajak makan malam keluarga Wiryawan. Giyan tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Mesha. Sedangkan Mesha, menampakkan wajah yang datar saja.
Saat duduk santai dua keluarga, mereka mengobrol di teras belakang. Para orang tua duduk di kursi, sedangkan Mesha duduk di lantai teras memandangi kolam ikan milik bapaknya. Ia mengamati ikan koi yang berenang ke sana ke mari.
"Namaku Giyan, Giyan Arkatama. Temen-temen suka memanggilku, Gi," tutur Giyan sembari mengulurkan tangannya, saat dia duduk di sebelah Mesha.
Mesha menoleh, dan menatap laki-laki itu dengan pandangan dingin. Tetapi ia tetap mengulurkan tangannya pada laki-laki itu.
"Mesha Indira ...."
Giyan tersenyum.
Sebenarnya untuk masalah wajah, Giyan termasuk kategori laki-laki berwajah sedap dipandang. Dengan warna kulit yang terang, untuk ukuran laki-laki. Tubuhnya juga ideal dan terawat.
Mesha bukan membencinya, hanya saja masalah pernikahan di antara mereka lah yang membuat Mesha enggan berinteraksi dengan laki-laki itu. Ia merasa masih terlalu cepat baginya untuk menikah. Ia baru saja genap berumur 19 tahun.
"Apa aku jelek banget ya? Sampe kamu malas melihatku atau berbicara denganku?"
"Gak kok, jangan berprasangka buruk," jawab Mesha masih dengan ekspresi datar.
"Lalu kenapa? Wajah secantik itu tapi gak ada senyum sedikit pun."
Mesha meringis, memaksakan dirinya untuk tersenyum pada Giyan.
"Puas?"
Melihat itu, Giyan terpingkal-pingkal, Mesha melengos.
"Kamu kok bisa seimut itu sih?"
"Dah dari lahir!" jawab Mesha ketus.
Keempat orang yang duduk di kursi, memandangi sepasang anak muda di depan mereka.
"Mereka cocok ya, Jeng?"
"Iya ... pas udah, Jeng."
"Kami ingin menikahkan Giyan karena kebetulan, Giyan dapat beasiswa dari tempatnya bekerja untuk meneruskan kuliah magister di luar negeri, aku sebagai ibunya, khawatir tidak ada yang merawatnya di sana. Kalo sudah punya istri, kan ada yang nemenin, dan ngurus dia," tutur bu Wiryawan.
"Oh, tapi putri kami masih belia, takutnya malah tidak sesuai harapan ...." sahut Bagas.
"Tapi kan Mesha juga bisa sambil kuliah di sana juga, nanti biar kami yang membiayai, Gas."
"Iya, pak Bagas. Yang penting ada yang nemenin Giyan di sana gitu," sahut bu Wiryawan lagi.
Sementara di pinggir kolam, Mesha benar-benar malas berbicara. Mesha hanya menjadi pendengar setia Giyan, dengan wajah yang semakin lama semakin masam dilihat.
Bagaimana tidak? Mesha harus menikah muda dan menikahi laki-laki yang belum ia kenali. Tentunya membuat Mesha kesal setengah mati. Ia mau bertemu dengan keluarga Wiryawan hanya karena ia ingin menjaga kehormatan bapak dan ibunya.
Malam semakin larut, keluarga Wiryawan berpamitan, Bagas sekeluarga pun mengantar mereka sampai di depan rumah.
Setelah mobil Wiryawan tak terlihat, Bagas sekeluarga masuk ke dalam rumah. Mesha menghela nafas dalam-dalam dan duduk di pinggir ranjangnya, di dalam kamar.
"Kenapa aku harus mengalami nasib begini sih?" gumamnya, kecewa.
Bersambung ....
*Nontoni : melihat dari dekat keberadaan keluarga dan gadis/calon mempelai wanita yang sesungguhnya.
Thanks thor 🙏😘💗