NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Buruk Rupa

Transmigrasi Ke Tubuh Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Transmigrasi / Fantasi Wanita
Popularitas:47.9k
Nilai: 5
Nama Author: cute women

Dikhianati oleh sahabatnya sendiri dalam misi rahasia, Xiao Su tewas dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.

“Kenapa…?”

“Karena kau menghalangi jalanku.”

Ia mengira kematian adalah akhir.
Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan yang dihina semua orang — Xiao Mei.

Wajah buruk rupa. Tubuh lemah. Keluarga penuh kepalsuan.
Saudari tiri yang menginginkan kematiannya. Tunangan yang memandangnya dengan jijik. Dunia kuno yang kejam dan penuh intrik.
Tapi mereka tidak tahu…

Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi Xiao Mei yang lemah.

Ia adalah Xiao Su. Seorang wanita modern yang tak akan membiarkan dirinya diinjak dua kali.

Kali ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup — Ia akan mengubah takdir. Menghancurkan mereka yang meremehkannya.
Dan membuktikan bahwa bahkan wanita yang disebut “buruk rupa” pun bisa menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Karena untuk kedua kalinya… Ia tidak akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cute women, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bertemu dengan Xiao mei asli

“Kadang, rahasia masa lalu muncul di mimpi, membimbing mu menghadapi takdir yang belum selesai.”

Happy reading>.<..........

.

Malam pun tiba. Xiao Mei duduk di kursi kayu di kamarnya, larut dalam buku yang dipegangnya.

Cahaya lampu minyak temaram menyoroti halaman-halaman yang rapuh, memantul di mata yang penuh rasa ingin tahu. Suasana tenang, hanya terdengar suara halaman buku yang dibalik perlahan, angin lembut yang masuk melalui jendela yang sedikit terbuka, dan desir malam yang damai.

Aroma kayu dari lantai dan rak buku menciptakan ketenangan yang hangat.

Tiba-tiba, pintu terbuka perlahan. Fu Xian melangkah masuk dengan langkah ringan, wajahnya serius namun sopan.

“Nona, Tuan Besar meminta Anda untuk makan malam bersama,” ucapnya.

Xiao Mei menutup bukunya dan meletakkannya di meja dengan rapi. “Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi,” jawabnya sambil tersenyum tipis, berusaha menyingkirkan rasa kantuk yang mulai merayap.

Mereka melangkah keluar menuju ruang makan keluarga. Saat sampai di depan pintu, seorang kasim berseru lantang, “Nona Xiao Mei, silakan masuk ke ruangan!”

“Meimei, sini duduk di sebelah Gege,” ajak Xiao Yuan ramah, sambil menyilangkan tangannya di depan kursi kosong.

“Baik, Gege,” balas Xiao Mei, duduk di sampingnya. Aroma hidangan hangat dan lezat menyelimuti ruangan—udang segar, ikan bakar dengan bumbu harum, dan sayuran hijau yang masih beruap, tersaji rapi di meja panjang. Xiao Yuan menyerahkan mangkuk berisi udang yang sudah dikupas.

“Ini, Meimei, kan? Kamu suka udang, kan?”

“Terima kasih, Gege. Aku suka semua makanan laut,” jawab Xiao Mei, tersenyum tulus. Suasana hangat dan riang langsung menyelimuti meja makan, membuat rasa lapar dan lelahnya hilang sejenak.

Setelah selesai makan, Marquis mengajak keluarga ke ruang santai. Xiao Cheng menatap Xiao Mei dengan wajah ceria, matanya berbinar.

“Mei’er, lusa adalah ulang tahun sekaligus hari kedewasaanmu. Kau ingin acara seperti apa?”

“Em… aku terserah ibu dan ayah saja. Bagusnya bagaimana?” jawab Xiao Mei, masih bingung dengan perhatian keluarga yang begitu hangat dan menyenangkan.

Ibu Xiao Mei, Liu Xin, tersenyum lembut, menepuk tangan anaknya dengan penuh kasih.

“Baiklah, jika Mei’er mempercayakan semuanya pada ibu dan ayahmu, maka kami yang akan mengurusnya. Besok datang ke halaman ibu, kita akan memilihkan gaun yang kau suka, dan membuat pesta kecil untukmu.”

“Baik, Bu,” jawab Xiao Mei sambil menunduk sopan, hatinya hangat merasakan perhatian keluarga.

Percakapan berlanjut dengan tawa dan candaan, suara riang mengisi ruangan.

Namun, di pojok lain, dua pasang mata tetap waspada. Xiao Wei menatap Xiao Mei dengan mata yang menyimpan kebencian, pikirannya bergemuruh penuh dendam.

“Kenapa Xiao Mei selalu dimanja oleh semua orang? Seharusnya waktu itu dia mati saja! Agar perhatian keluarga menjadi milikku,” gumamnya dalam hati, penuh rasa iri dan dendam.

Li Si Yu, yang menyadari tatapan putranya, menenangkannya dengan suara pelan dan lembut.

“Tenang, jangan sampai kebencianmu tersirat di matamu, nak. Bersabarlah, ibu punya rencana.”

“Aku tidak terima, Ibu! Kenapa semua orang memanjakannya? Seharusnya itu jadi milikku. Seharusnya ia tidak usah lahir saja waktu itu!” geram Xiao Wei, suaranya nyaris tak terdengar, namun napasnya berat menandakan kemarahannya.

“Tenang saja, ibu punya rencana. Nanti kita bicarakan di kamar ibu. Terlalu berbahaya jika dibicarakan di sini,” bisik Li Si Yu lagi.

Xiao Wei sedikit tenang, tapi hatinya tetap terbakar api dendam. “Nikmati saja tawa terakhirmu itu, Xiao Mei, karena sebentar lagi kau akan kubunuh. Kali ini aku tak akan membiarkanmu hidup!” gumamnya penuh niat jahat.

Tanpa disadari, Xiao Mei menangkap gerak-gerik mencurigakan mereka. Hatinya berdebar, namun ia menahan ketakutan.

“Apa yang mereka rencanakan? Aku harus menyelidikinya nanti,” gumamnya pelan.

Sebelum memejamkan mata, ia memerintahkan pengawalnya untuk tetap siaga dan mengawasi semua gerak-gerik Xiao Wei dan Li Si Yu.

Xiao Yuan yang penasaran bertanya, “Apa yang kau bicarakan, Meimei? Aku tidak begitu mendengar.”

“Oh, tidak… aku hanya bergumam. Aku mengantuk, itu saja,” alibi Xiao Mei buru-buru, tersenyum manis agar tak menimbulkan kecurigaan.

“Lebih baik kau kembali ke kamarmu, Meimei,” saran Xiao Yuan sambil tersenyum hangat.

“Baiklah, aku pamit dulu,” kata Xiao Mei, lalu berjalan bersama Fu Xian ke halaman kamarnya.

Di perjalanan, Xiao Mei menoleh ke Fu Xian.

“Apakah aku punya penjaga bayangan?”

“Ada, Nona. Sekitar tiga orang,” jawab Fu Xian

dengan tegas, penuh hormat.

“Hmm, baiklah,” gumam Xiao Mei, merasakan ketenangan kecil mengetahui keselamatannya tetap dijaga.

Sesampainya di halaman Paviliun Mawar, Xiao Mei berganti pakaian dan naik ke kasur. Sebelum memejamkan mata, ia menatap Fu Xian dan pengawalnya dengan serius.

“Fu Xian, dengarkan baik-baik. Malam ini, aku ingin kalian mengawasi semua gerak-gerik Xiao Wei dan Li Si Yu. Jika mereka melakukan sesuatu yang mencurigakan, beri tahu aku segera. Catat semuanya dengan rinci. Jangan sampai ada yang lolos,” perintahnya tegas, penuh kewaspadaan.

“Baik, Nona. Kami mengerti,” jawab Fu Xian hormat.

“Selamat malam, Nona,” ucap Fu Xian setelah menerima perintah.

“Hmm, malam… jangan lupa matikan lilinnya,” balas Xiao Mei sambil tersenyum tipis. Ia memejamkan mata, tapi pikirannya tetap waspada, merancang langkah-langkah untuk menjaga keselamatan dirinya dan keluarganya.

Tiba-tiba, ia berada di taman indah dengan bunga berwarna-warni, terhanyut dalam suasana tenang tapi aneh. Danau berkilau di kejauhan, burung-burung bernyanyi, dan aroma bunga memenuhi udara. Warna-warni bunga yang memantulkan cahaya lampu bulan membuat seluruh taman seolah hidup.

“Dimana ini? Kenapa aku ada di sini? Bukankah aku tadi sedang tidur?” gumam Xiao Mei, langkahnya perlahan di atas rerumputan yang lembap.

Ia melihat tubuhnya sendiri, terkejut dan bahagia.

“I… ini tubuhku? Aku kembali ke tubuhku?”

Suara lembut terdengar dari belakang, membuatnya menoleh.

“Halo, Xiao Su.”

Xiao Su pun berbalik, wajahnya terkejut bercampur bingung.

“Kok… lo bisa tahu namaku? Lo siapa?”

“Aku pemilik tubuh yang saat ini kamu tempati,” jawab Xiao Mei tegas, dengan mata penuh tekad.

“L… Lo, Xiao Mei?” tanya Xiao Su, matanya membelalak.

“Benar. Aku ingin minta tolong padamu untuk menjaga keluargaku dan membalaskan dendam pada Xiao Wei serta Wang Hao Jian.

Mereka yang menyebabkan kematianku, terutama Xiao Wei,” jelas Xiao Mei sambil meneteskan air mata.

“APA? Jadi si Xiao Wei yang membuat lo mati?” tanya Xiao Su dengan emosi yang jelas terdengar.

“Hah, waktuku tidak banyak. Aku hanya ingin menyampaikan ini padamu. Aku juga akan memberikan ingatanku padamu sekarang. Oh ya, aku minta tolong… balas perasaan Wang Jin Chen karena hanya dia yang selalu ada untukku. Aku sudah tidak bisa membalas perasaannya lagi,” jelas Xiao Mei.

Setelah itu, Xiao Mei menyalurkan cahaya putih ke kening Xiao Su.

Suara teriakan kesakitan terdengar, “Ahk… ahk… tahan sebentar! Itu adalah ingatanku yang masuk ke kepalamu,” ucapnya.

Beberapa menit kemudian, teriakan itu mereda. Wujud Xiao Mei perlahan menghilang.

“Setelah aku pergi, kamu akan kembali ke tubuhmu. Selamat tinggal, Xiao Su,” ucap Xiao Mei, lalu menghilang.

Keesokan paginya, cahaya matahari

menembus jendela Paviliun Mawar. Xiao Mei membuka mata, tersenyum tipis, dan menarik napas panjang. Hatinya lega, tapi juga tegang—perjuangan baru menunggu, dan rencana untuk menjaga keluarganya kini mulai berjalan.

Pikirannya melayang pada pengawalnya, pada pesta ulang tahun yang akan datang, dan pada ancaman yang masih mengintai.

BERSAMBUNG…

__________________________________

Maaf update sedikit, karena bukan pakai HP author, tapi HP sepupu. Terima kasih sudah sabar menunggu. Jangan lupa komen ya biar author semangat lanjutkan novel-nya!

1
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Hhmm 🤔 apaa yaa ceritana kaya bertumpuk-tumpuk, ga runtut, padahal bacana pelan 🤧
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Hhmmm
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
ini ceritana jaman kerajaan cina apa barat sih 🤔
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Rencana jahatmu ga akan berhasil
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Mantuul 😊
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Mayan lah
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Hhmm 🤔 apa ga dikasih bekel gitu itu setelah transmigrasi
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Lanjuutt
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Okeh nyimak
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Cakeepp
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Mampir
Retno Palupi
kata kata nya d ulang apa babnya diulang? jd tambah pusing
evi carolin
terlalu banyak bermonolog dalam hati n pikiran ,ga ada strategi sama sekali
Retno Palupi
permainan blm selesai kok terus, kata katanya banyak yg diulang
Retno Palupi
ini bab nya d ulang g sih
Retno Palupi
MC nya terlalu banyak mikir tp g ada solusi
Meeraa Biyyu
MC mleyot
Andira
👍
Dede Bleher
kunyit emng bisa menyembuhkan jerawat dan luka.
kucingku aja yg pulang dengan kepala bocor aku borehin dengan kunyit.
tp terlambat krna Bakterien sudah masuk ke jantung.
luka emng kering.
itu mpuuus ampe jejeritan nahan pediih dr borehan kunyit
Dedek Azha
terlalu berbelit"....
mana prajurin bayanganx strategix jgk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!