Handi harus meregang nyawa akibat kecelakaan, meninggalkan Lisa dan kedua anak mereka.
Haris yang hidupnya diselamatkan Handi dan menyaksikan kematian Handi secara tragis mengalami trauma dan hampir gila. Dia menutup diri selama 1 tahun sejak kepergian sahabatnya.
Dini dan Bu Nani sudah kehilangan akal untuk memaksa Haris mendapatkan perawatan. Hingga akhirnya, Dokter Van Heerdt memberikan ide kepada Dini untuk mendekatkan Lisa dan anak-anaknya kepada Haris.
Di sela-sela usaha Lisa membantu Haris mendapatkan pengobatan atas traumanya, Arga hadir dengan menjanjikan cinta tulus kepada Lisa dan anak-anaknya. Saat itulah Haris menyadari bahwa dia jatuh hati kepada Lisa.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Akankah usaha Lisa membantu Haris berhasil?
Apakah Haris tega mengkhianati Dini dan beralih hati kepada Lisa?
Baca sampai tamat ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAMPAI DI APARTEMEN MEWAH
Dini, Lisa, Hana dan Hamza berangkat keesokan harinya. Dini telah kalah debat dengan Abah To dan Bu Sri untuk tidak berangkat ke Jakarta pada hari itu juga sebab Dini butuh istirahat. Perjalanan dari Jakarta ke Kuningan seorang diri pasti melelahkan bagi Dini. Abah To dan Bu Sri bersikeras atas nama orang tua tidak mengizinkan Dini membawa menantu dan cucu-cucunya pada hari itu. Mereka diperbolehkan berangkat ke Jakarta keesokan harinya setelah Dini beristirahat semalam.
Maka, Dini bermalam disana. Demi menjaga kesopanan terhadap orang tua, Dini menerima perintah ayah dan ibu Handi untuk tinggal menginap semalam. Bukannya beristirahat, acara menginap ini justru dimanfaatkan Dini, Lisa dan Peni untuk mengobrol semalaman sambil tertawa-tawa, hingga akhirnya Abah To membubarkan perkumpulan kecil yang menyenangkan itu.
Tepat sebelum matahari terbit, Dini dan Lisa sudah bangun mempersiapkan diri dan barang-barang mereka. Bu Sri dan Peni memasak di dapur untuk sarapan dan bekal Dini dan Lisa di perjalanan nantinya.
Dini membantu Lisa memasukkan kardus terakhir berisi pakaian Hana ke dalam bagasi mobil Dini lalu mereka masuk lagi ke dalam rumah untuk sarapan. Hana dan Hamza baru saja bangun, mereka dituntun nenek mereka ke meja makan sambil menguap dan mengucek-ucek mata.
" Nah, mari kita sarapan dulu," kata Bu Sri. Beliau duduk di sebelah kanan Abah To. Di sebelah Bu Sri duduklah Peni dan Dini mengambil kursi di sebelah kanan Peni. Lisa dan anak-anaknya duduk di sisi kiri meja.
Dini sudah bersiap-siap. Dia sedang mengecek chat di handphonenya ketika Lisa keluar kamar bersama anak-anaknya yang sudah berpakaian rapi. Bu Sri dan Peni yang tadi ikut membantu Lisa mempersiapkan Hana dan Hamza ikut keluar dari kamar. Mereka berjalan beriringan.
Dini berdiri menyambut mereka. "Sudah siap?," katanya kepada Lisa.
Lisa mengangguk. Hana sudah menggandeng tangan kanannya, sedangkan Hamza di tangan kirinya.
"Hana dan Hamza sudah siap?," tanya Dini sambil tersenyum.
Hana menjawab," Sudah, Aunty." Hamza hanya diam saja.
" Bagus. Mari kita berangkat!," kata Dini meraih tangan Hana.
Hana menggandeng tangan Dini. Mereka semua beriringan berjalan ke depan menuju mobil.
Lisa berpamitan kepada Bu Sri, Abah To dan Peni. " Ibu, Abah, Peni, kami pamit dulu. Jaga kesehatan kalian ya." Dia mencium tangan Abah To terlebih dahulu, kemudian mencium tangan Bu Sri dan memeluknya, terakhir dia memeluk Peni dan mencium pipinya.
" Hati-hati di jalan," kata Abah To. " Jangan ngebut ya, Din."
"Siap, Abah," jawab Dini. Dia juga melakukan hal yang sama seperti yang Lisa lakukan kepada Abah To, Bu Sri dan Peni. "Terimakasih atas kebaikan kalian."
" Sama-sama," jawab Bu Sri. "Titip Lisa dan anak-anak ya. Sampaikan salamku kepada Nani."
" Siap, Bu Sri," kata Dini.
" Jaga diri baik-baik, Nak. Jaga anak-anakmu juga. Jangan lupa sering telpon Ibu ya," kata Bu Sri kepada Lisa.
" Iya, Bu," jawab Lisa.
" Hana, Hamza, kalau sudah sampai, jangan lupa telpon Tante ya," kata Peni.
" Iya, tante," jawab Hana dan Hamza bersamaaan.
Kemudian mereka berangkatlah. Dini melajukan mobilnya perlahan-lahan melewati jalan desa. Sesekali Lisa menyapa warga yang dikenalnya. Hana dan Hamza juga berteriak memberitahu teman-teman mereka yang bertemu sepanjang jalan bahwa mereka akan ke Jakarta.
" Din, boleh aku tanya sesuatu?," kata Lisa.
" Boleh. Tanya aja," jawab Dini.
" Kira-kira apa yang membuat Haris tidak mau berkonsultasi ke dokter?," tanya Lisa.
" Mungkin dia mau mati," jawab Dini lugas.
" Apa?," Lisa terbelalak.
" Kematian Handi benar-benar melukai hati Mas Haris. Kamu ga lihat bagaimana dia seperti orang gila setelah Handi dimakamkan. Dia benar-benar ga waras."
Lisa melongo. Ya, dia ingat bagaimana kelakuan Haris ketika jenazah Handi dipulangkan ke kampung halamannya. Dia tak sekalipun pergi dari sisi peti mati Handi, walaupun mungkin lima langkah jauhnya di belakang Lisa. Mata Haris bengkak merah pertanda dia tidak berhenti menangis kala itu. Yang lebih mengejutkan, Haris lah yang menjerit keras ketika peti mati Handi dimasukkan ke liang lahat dan ditutup dengan tanah. Semua pelayat yang mengikuti pemakaman Handi menengokkan kepalanya kepada Haris. Beberapa mengerjapkan mata, ada yang melongo, ada juga yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Lisa yang mengetahuinya tidak mempedulikan Haris pada waktu itu. Dia berkonsentrasi penuh pada kemalangan yang dia alami, hanya itu. Akibat sikap anaknya yang berlebihan, Bu Nani menyeret Haris dengan susah payah menjauhi makam Handi, dibantu Dini. Haris menangis meraung-raung seperti anak kecil, tangannya menggapai-gapai di antara pelukan Dini dan ibunya. Sepulang para pelayat dan keluarga Handi dari pemakaman, Haris mendekati makam Handi dan bersimpuh di hadapannya, masih menangis. Bu Nani dan Dini yang kelelahan, memutuskan untuk meninggalkan Haris membiarkannya melampiaskan kesedihannya. Dini yang membujuk Bu Nani agar meninggalkan Haris seperti itu untuk beberapa menit. Bu Nani dan Dini pulang ke kediaman keluarga Bu Nani disana, tak jauh dari rumah Handi. Namun, lebih dari tiga jam setelah pemakaman Handi, Haris tidak juga pulang. Bu Nani sudah ribut, dia memanggil Dini dan menyuruhnya untuk ke rumah Handi, barangkali Haris disana, tetapi Haris tidak ada. Bu Sri dan Abah To bahkan ikut panik gara-gara Haris mendadak hilang.
" Jangan-jangan mas Haris masih di makam mas Handi?," kata Bagas.
Mereka semua saling berpandangan. Mungkinkah? Dini, Bu Nani, diiringi Bagas dan Riza pergi ke makam Handi lagi. Benar saja, Haris ada disana, sedang tidur memeluk pusara Handi dengan erat. Dia benar-benar kacau. Bu Nani menangis dibuatnya, melihat anak laki-laki satu-satunya begitu frustasi. Pemandangan itu pun tak kalah mengherankan bagi Dini. Dia tak pernah diperlakukan seromantis ini oleh Haris. Kematian Handi benar-benar membuat akal sehat dan hati Haris mati suri. Dini sudah merasakannya. Hati Haris pasti tersayat-sayat dan menyesakkan.
" Kok kedengarannya seperti Haris yang jadi istri Handi sih," kata-kata itu keluar dari mulut Lisa ketika dia mengingat peristiwa satu tahun yang lalu itu.
" Nah, kamu merasa begitu kan? Aku aja cemburu kok," kata Dini tertawa. " Tapi itulah yang terjadi. Seperti yang dibilang ibu mertuamu kemarin, jiwa Handi dan Haris terikat. Kehilangan salah satu dari mereka, yang lain akan merasa mati juga. Kamu mungkin bilang aku berlebihan, tapi kalau nanti kamu lihat kondisi Haris, kamu akan bilang kalau apa yang aku katakan ini benar adanya."
" Aku benar-benar penasaran," lanjut Lisa.
Dini tersenyum kecil. Dia menghela napas berat. Dia teringat kata-kata Bu Nani kepadanya saat dia mengatakan ingin membawa Lisa dan anak-anaknya dalam rangka membujuk Haris secara emosional agar mau berkonsultasi dan berobat ke psikiater.
" Kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan, Din?," tanya Bu Nani.
" Apa maksud Ibu?," kata Dini.
" Dengan kamu mendekatkan Lisa dan anak-anaknya ke Haris, hal itu bisa menimbulkan sesuatu yang lain di hati Haris."
Dini terdiam. Air mukanya berubah seketika. Dia paham maksud Bu Nani tapi dia tak ingin mengutarakannya. " Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud Ibu."
" Jangan berpura-pura tidak tahu, Din. Kamu tahu betul apa maksudku," kata Bu Nani.
Dini seketika diam.
" Bagaimana bila nantinya Haris mencintai Lisa?," tanya Bu Nani, langsung menohok ulu hati Dini. Sebetulnya dia juga berpikiran yang sama. Hal tersebut bisa saja terjadi seiring berjalannya waktu. Ketika Haris sembuh secara emosional karena dia merasa telah bertanggung jawab atas hidup keluarga Handi yang telah dia pisahkan dengan Handi, rasa cinta pasti tumbuh di hatinya kepada Lisa dan anak-anaknya. Namun Dini berusaha mengacuhkan kemungkinan buruk itu. Dia tidak bisa mengandalkan perasaan Haris yang saat ini mencintainya. Dia hanya bisa berpegangan kepada Bu Nani yang jelas akan memilih dirinya sebagai menantu ketimbang Lisa. Bagaimanapun dia sudah memilih cara ini untuk bisa membantu Haris sembuh, dia juga yang akan bertanggung jawab atas hasilnya dan apapun yang terjadi selanjutnya. Dia sudah siap.
" Bukankan Ibu ngga akan membiarkan hal itu terjadi?," tanya Lisa balik.
Bu Nani mendelik. " Tentu saja, Lisa ngga mungkin jadi menantuku kan?"
****
Dini, Lisa, Hana dan Hamza memasuki lingkungan apartemen mewah setelah tiga jam perjalanan. Lisa mendongak dari dalam mobil ketika melewati portal pertama. Lisa baru kali ini melihat bangunan apartemen yang menjulang tinggi secara langsung. Bangunan ini adalah bukti keborjuisan pemiliknya. Lisa tak mungkin memiliki unit apartemen dimana pun selama hidupnya.
" Hati-hati kepalamu copot," kata Dini tersenyum geli melihat kelakuan Lisa.
" Oh maaf," Lisa kembali pada posisinya semula, merasa malu sendiri. " Aku belum pernah melihat apartemen secara langsung." Dia tersenyum malu.
Dini tertawa," Ya ampun, Lisa. Suamimu bekerja membangun apartemen megah, tapi dia ngga pernah ngajak kamu lihat apartemen?"
Lisa menggeleng sambil mesem-mesem.
Dini kembali tertawa. Kasihan sekali Lisa ini, kelewatan udiknya, batinnya. " Nah, mulai hari ini kamu akan tinggal disini," kata Dini. " Lebih baik bangunkan anak-anakmu sekarang. Kita sudah sampai."
Mereka memasuki parkir basement apartemen komplek apartemen itu. Unit milik Haris berada di Gedung Lima atau sebutan disana Fifth Building, jadi letaknya agak jauh dari jalan utama. Ada sepuluh Gedung di dalam komplek apartemen ini, dengan fasilitas mall di Gedung Satu, food court, cafe, perpustakaan, kolam renang, taman bermain, danau buatan, bahkan ada sekolah Baby School, Play Group dan TK. Serasa ada mini kota dalam komplek apartemen ini. Segala yang kamu butuhkan tersedia disini.
Dini sudah memarkir mobilnya. Dia turun dan mengambil troli yang diletakkan berjejer-jejer di tempat parkir untuk membawa barang-barang Lisa, sementara Lisa berkutat dengan anak-anaknya. Lisa menggendong Hamza yang tidak bangun dan satu tangannya menggandeng Hana yang menguap lebar-lebar.
" Dini...," Lisa hendak mengatakan bahwa dia ingin minta maaf karena tak bisa membantu Dini menurunkan barang-barangnya. Dilihatnya Dini sudah memindahkan separuh barang-barangnya dari bagasi ke atas troli.
" Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri kok," sahut Dini. Dia sudah menutup pintu belakang mobilnya, kemudian menguncinya dengan remote.
" Aku ngga tahu kalau kamu sekuat wonder woman," kata Lisa menggoda Dini.
" Loh, jangan dikira ya! Kalau segitu doang mah kecil," kelakar Dini. Dia dan Lisa tertawa terbahak-bahak.
Dini membimbing Lisa dan anak-anaknya menuju lift yang ada di lantai dasar gedung apartemen itu.
" Gedung ini berapa lantai sih?," tanya Lisa saat mereka berada di depan lift.
" Dua puluh lima lantai," jawab Dini. Lisa melihat Dini menekan tombol untuk membuka lift.
" Rumah Haris ada di lantai berapa?," tanya Lisa lagi.
" Lantai sepuluh. Kamu ngga takut ketinggian kan?"
" Ngga sih, aku cuma ngga pernah naik lift sebelumnya," kata Lisa tersipu malu.
Dini melongo. " Ya ampun, Lisa. Handi itu ngga pernah ngajak kamu kemana-mana atau gimana? Masa naik lift aja ngga pernah?"
Lisa tersenyum kecil. " Aku takut naik lift."
" Apa?"
Lift berdentang terbuka di depan mereka. Dini mendorong troli masuk ke dalam lift, tangannya menekan tombol lift agar pintunya tidak segera menutup. Sementara itu Lisa masuk lift dengan perlahan dan ragu-ragu. Dia tidak sadar mencengkram tangan Hana begitu keras, membuat Hana menjerit. " Bunda, tanganku sakit."
" Oh, maafkan Bunda, Kak," Lisa mengendurkan genggaman tangannya pada Hana.
Dini menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menekan tombol lagi agar pintu lift tertutup dan selanjutnya menekan angka sepuluh. Tujuan mereka ada di sana.
Lisa mencengkram besi pegangan yang ada di lift. Hana dia biarkan berdiri sendiri di tengah-tengah lift. Dini kembali tertawa melihat tingkah laku Lisa.
" Hahahahaha....Hana, coba lihat Bundamu!," kata Dini menjawil bahu Hana. " Masa Bunda kalah sama Hana ya? Bunda ngga berani naik lift, kalah sama Hana yang masih kecil."
Lisa yang terpancing kata-kata Dini tidak mampu menjawab. Dia hanya mendelikkan matanya kepada Dini. Mulutnya terkatup rapat. Dia berusaha agar tidak muntah. Hana menoleh ke belakang melihat ibunya yang ketakutan dan dia tersenyum kepada Dini dengan memamerkan giginya yang ompong.
Mereka sampai di lantai sepuluh dengan selamat. Lisa berjalan tertatih-tatih keluar dari pintu lift, Dini masih menahan tawa melihat Lisa. Dia tahu tidak mungkin mengajukan pertanyaan kepada Lisa sebab Lisa sedang berusaha menahan muntah, ditambah dia sedang menggendong Hamza. Dini membimbing mereka ke lorong sebelah kiri, dan dia berhenti di depan pintu di sebelah kanan lorong itu dari arah mereka memasukinya. Dini menekan beberapa angka di sebuah kotak berkelip hijau di samping kenop pintu yang berfungsi membuka kunci pintu dengan password kombinasi angka tertentu. Lisa tak sempat memikirkan betapa apartemen ini begitu canggih karena kunci pintunya hanya menggunakan kombinasi angka seperti brankas. Hana yang sedari tadi memperhatikan Dini menatap Dini dengan rasa ingin tahu yang besar. Dia memperhatikan gerakan Dini. Terdengar suara bip bip bip sebanyak 6 kali dan pintu terbuka dengan sendirinya diiringi musik tiriring.
Hana berlari masuk dengan antusias ketika Dini membuka pintu. Mulutnya terbuka lebar dan tujuan utamanya adalah jendela. Dini tersenyum sangat lebar melihat kelebatan Hana yang berlari melewatinya. Dia lupa pada Lisa yang masih mengatupkan mulutnya menahan muntah. Lisa menemukan sofa empuk dan nyaman saat memasuki apartemen itu, kemudian dia meletakkan Hamza yang masih tidur di atas sofa tersebut.
" Ya ampun, aku sampai lupa!," celetuk Dini, dia baru ingat akan Lisa. " Toilet ada di sebelah..."
Lisa mengangkat tangan Dini yang mengarahkan sebelah kanan mereka dan dia langsung melesat kesana sebelum Dini menyelesaikan kalimatnya. Dia menemukan pintu kecil di sisi kanan dan masuk ke dalamnya. Seketika terdengar gemericik air dan suara orang yang berusaha memuntahkan isi perutnya. Dini hanya bisa mendesah sambil tertawa kecil.
Dini meletakkan troli yang berisi barang-barang Lisa dan anak-anaknya di depan pintu kamar yang sudah dirancang Dini untuk mereka tampati. Dia lalu menghampiri Hana yang sedang berdecak kagum dengan pemandangan di depan jendela. Berada di lantai sepuluh sebuah gedung membuat mereka sangat tinggi. Dari unit Haris ini, mereka tidak hanya melihat gedung-gedung yang lain, tapi juga bisa melihat langit terbentang luas begitu indah. Melihat ke bawah pemandangan juga tak kalah indah. Mereka bisa melihat komplek gedung apartemen ini dalam versi mini.
" Hana suka tinggal di sini?," tanya Dini mengelus rambut Hana.
" Iya, Aunty," jawab Hana polos. "Coba lihat deh, Aunty! Orang yang di bawah kelihatan kayak semut ya, mobil juga kelihatan kayak mainan Adik."
" Iya, bagus kan?," kata Dini. " Hana bisa lihat pesawat lebih dekat dari sini loh."
" Masa?," mata Hana berbinar-binar mendengarnya.
" Iya, coba Hana lihat awan yang menggumpal kecil-kecil itu," Dini menunjuk ke arah awan yang dia maksudkan." Awan-awan itu baru aja dilewati pesawat, sayang."
" Wah, hebatnya!," Hana bertepuk tangan menggemaskan. Dini mencium pipinya dalam-dalam dan memeluk Hana sepuasnya.
Lisa keluar dari toilet sambil menyeka mulutnya. Dia melihat Dini dan Hana tertawa-tawa di depan jendela besar dengan kaca setinggi empat meter. Lisa mengedarkan pandangannya sekeliling ruangan. Apartemen itu begitu besar, seukuran rumah kontrakannya dengan penataan apik dan semua berkesan minimalis. Aura maskulin begitu kentara karena semua perabotan berwarna abu-abu gelap dan terang. Melewati pintu utama, tamu akan disuguhkan dengan pemandangan langit luas bila tirai jendela dibuka lebar. Sebelah kiri pintu ada dapur mewah dengan meja bar dan empat kursi khasnya disana. Ada sebuah kulkas besar setara dengan lemari pakaian Lisa di rumah kontrakannya dulu, satu set kompor besar dan panggangan di bawahnya, dan berbagai peralatan memasak lainnya, bahkan ada alat pembuat kopi, Lisa terheran-heran. Sebelah kanan pintu utama ada toilet kecil dan dua buah pintu yang menurut Lisa adalah kamar. Ruang tamu dan ruang keluarga dijadikan satu dalam ruangan luas di depan pintu, memanjang hingga sepanjang dapur dan ada dua pintu lagi di kiri dapur. Dini meletakkan barang-barangnya di depan salah pintu di kiri dapur tersebut. Kembali ke ruang keluarga, ada sebuah sofa nyaman berwarna abu-abu terang letter U dengan banyak bantal sofa dan sandaran yang bisa digunakan untuk menyandarkan kepala dan sebuah meja tamu dari kaca. Di hadapan jajaran sofa itu terdapat TV super besar sepanjang hidup Lisa. Entah berapa ukurannya, bisa jadi lalat kecil yang lewat di sinetron bisa terlihat dengan TV sebesar itu. Sisi apartemen itu adalah kaca setinggi empat meter dengan tirai yang berwana abu-abu terang juga. Lisa tidak bisa membayangkan bagaimana dia akan melepaskan tirai itu bila dia hendak mencucinya. Lisa akan memikirkannya nanti.
Lisa menghampiri Hamza yang masih tertidur lelap dan melihat apakah ada tanda-tanda dia bisa dibangunkan, tapi rupanya Hamza benar-benar kelelahan. Wajahnya sangat damai dalam tidurnya. Lisa ganti berjalan menuju Dini dan Hana yang berada di depan jendela kaca. Benar, pemandangannya benar-benar indah. Hanya saja ini kaca, tanpa sekat dan penghalang apapun, apakah aman bila ada anak kecil yang dekat dengannya? Lisa sudah berada di dekat Dini dan Hana, dia bisa mendengar Dini sedang menceritakan dongeng tentang Jack dan Kacang Ajaib kepada Hana yang sangat antusias. Dini baru mencapai cerita tentang Jack yang berhasil mencapai atas awan ketika Lisa menyelanya.
" Apakah jendela ini aman untuk anak-anak?"
Dini dan Hana menoleh kepada Lisa seketika. Mereka berdua malah tertawa melihat wajah Lisa. " Lihat, Han, Bundamu sudah sehat."
" Bunda sudah selesai muntahnya?," kata Hana.
Wajah Lisa berubah merah. Ya ampun, dia malu sekali Hana melihatnya tak berdaya selama berada di lift tadi, apalagi Hana tahu dia muntah-muntah setiba di apartemen.
" Iya, sudah selesai," jawab Lisa tanpa ekspresi.
" Tenang, Lisa. Jendela ini dipastikan aman. Kacanya berlapis-lapis, sangat tebal, tidak akan pecah bila kamu lemparkan sesuatu kepadanya dan tidak akan bisa ditembus peluru," begitulah penjelasan Dini sembari tersenyum.
Ya Tuhan, apartemen ini pasti mahal, batin Lisa.
" Oh, baiklah," jawab Lisa.
Dini menunjukkan kepada Hana adanya TV super besar dan menyetelnya. Gambarnya jernih dan suaranya menggelegar. Dini memilih acara kartun di salah satu channel TV itu dan Hana duduk di sofa menontonnya.
" Mari kutunjukkan kamarmu," kata Dini kepada Lisa.
Lisa mengikuti Dini ke arah pintu di sebelah kiri dapur berdekatan dengan meja bar dapur, tempat Dini meletakkan barang-barang Lisa. Dini membuka pintunya dan mempersilahkan Lisa masuk. Lisa berdecak kagum memasuki kamar itu. Ada satu tempat tidur besar disana, seprainya berwarna putih dan ada selimutnya yang berwarna putih, pasti sangat nyaman. Ada juga lemari besar berwarna putih dengan dua pintu. Seluruh baju Lisa dan anak-anaknya pasti muat disana. Ada juga nakas dan meja di kamar itu dengan cermin menempel di dinding di atasnya. Di pojok kamar ada pintu kecil yang pastinya adalah kamar mandi. Luar biasa, baru kali ini Lisa punya kamar dengan kamar mandi pribadi.
" Nah, Lisa, semoga kamu dan anak-anakmu nyaman berada disini," ujar Dini sambil tersenyum simpul dan memeluk bahu Lisa.
" Dengan adanya lift itu, aku ngga seberapa yakin," jawab Lisa.
Dini tertawa seketika, begitu juga dengan Lisa.
****
Sore itu Lisa membereskan barang-barangnya dan Dini mengajak Hana dan Hamza bermain. Dini menunjukkan caranya menggunakan remote TV kepada Hana dan Hamza dan channel mana yang bisa mereka pilih. Banyak sekali pilihan untuk menonton kartun atau acara anak-anak, kebanyakan dari acara itu berbahasa Inggris. Dini menjelaskan kepada Hana dan Hamza itu bisa membantu mereka belajar bahasa Inggris.
Menjelang petang, mereka benar-benar lapar dan Dini menutuskan untuk memesan makanan via online. Dia mengurangi resiko Lisa akan memuntahkan lagi makanannya bila dia naik turun lift di hari pertama mereka tinggal di apartemen.
Akhirnya setelah satu jam, makanan pesanan mereka datang. Ayam goreng dan ayam bakar beserta tiga porsi nasi untuk mereka semua. Mereka memutuskan makan di depan TV, karena Hana dan Hamza sedang asyik menonton acara anak-anak. Lisa menyuapi Hana daan Hamza terlebih dahulu sementara Dini langsung menyantap makanannya tanpa menunggu Lisa.
" Lisa," panggil Dini, mulutnya penuh dengan makanan," amu ga mahan?"
" Ya ampun, Dini, ditelan dulu makanannya baru ngomong," Lisa menjawab sambil tertawa melihat mulut Dini yang penuh, hingga kata-katanya tak dapat didengar. " Kamu lapar banget ya? Mulutnya sampai penuh begitu?"
Dini menelan makanannya sambil menahan tawa kemudiaan dia minum air dari gelasnya. " Benar, aku lapar sekali. Kamu ngga makan?"
" Nanti, setelah anak-anak selesai makan," jawab Lisa memasukkan sesendok nasi ke mulut Hamza.
" Lisa, kamu punya klaustrophobia ya?," tanya Dini kemudian.
" Apa itu?," tanya Lisa.
" Ketakutan pada ruangan sempit. Itulah kenapa kamu ga tahan di dalam lift," jawab Dini. Dia memasukkan sesendok nasi lagi ke dalam mulutnya.
" Bukan begitu. Aku ngga suka berada di lift. Rasanya perutku turun ke bawah begitu liftnya naik, kalau lift nya turun perutku naik ke atas. Begitu rasanya."
" Wah, berarti kamu juga perlu terapi kayak Haris nih!"
" Terapi apa?," Lisa membelalakkan matanya.
" Naik turun lift dong. Besok pagi kamu harus naik turun lift sama aku sebagai bagian dari terapi pertama," kata Dini sambil menyeringai jahil.
" Apa?," Lisa ketakutan. Dia yakin malam itu dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.
/Angry//Angry/
kadang kondisi kesehatan ga memungkinkan buat up tiap hari 😄
terimakasih sudah setia membaca 🥰