NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewi Takdir

Reinkarnasi Dewi Takdir

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Iblis / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:24.1k
Nilai: 5
Nama Author: ShinZa_17

Sejak ribuan tahun lalu, dunia telah diatur oleh sang Dewi Takdir. Namun sang Dewi harus mengorbankan kehidupannya yang pada saat itu tengah terjadi perang di alam dewa, antara kubu dewa dewi dengan kubu iblis.

Namun, pengorbanannya itu tidak bertahan lama, sang Dewi harus melakukan reinkarnasi untuk kembali menyeimbangkan dunia.

Akankah sang Dewi Takdir mampu kembali menyatukan takdir yang telah dijaganya beribu tahun yang lalu?

ikuti kisahnya dalam bab berikut ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Pagi itu, udara terasa lembut. Embun menetes dari dedaunan di taman belakang istana, menyelimuti suasana dengan kesejukan.

Burung-burung kecil hinggap di dahan pohon saling berkicau dengan merdu menyambut mentari yang baru muncul dari balik awan.

Ling Xi duduk di bawah pohon sakura yang mulai berbunga. Angin berhembus pelan, menggoyangkan setiap helaian rambut hitamnya yang panjang.

Ia bernyanyi dengan sangat merdu diiringi dengan suara kicauan burung.

...Na~ na~ na~...

...Di pagi hari yang cerah ini~...

...Ku melihat burung berterbangan di langit~...

...Mengepakkan sayapnya di udara~...

...Menjelajahi langit biru yang luas~...

...La~ la~ la~...

...Terbanglah tinggi~ oh wahai burung kecil~...

...Jangan takut, jangan menyerah~...

...Teruslah bawakan lagu tentang harapan~...

...Di pagi yang indah ini~...

Para pelayan yang melewati taman itu, seketika berhenti sejenak menikmati nyanyian Putri Ling Xi.

Ling Xi terus bernyanyi, hingga tiba-tiba ia mendengar suara, "Kyuu... kyuuhh... aaauu... kyyaa..." Ia pun langsung berhenti bernyanyi. Dan para pelayan yang sedang menikmati nyanyian itu, langsung kembali mengerjakan tugasnya.

Sedangkan pelayan pribadi Ling Xi, yaitu Shu Li, menatap Ling Xi dengan bingung, "Ada apa, putri?"

Bukannya menjawab pertanyaan Shu Li, justru Ling Xi malah balik bertanya, "Apa kau mendengar suara itu, Shu Li?"

Shu Li langsung mengernyitkan dahinya. "Suara apa putri? Saya tidak mendengar apapun."

"Kyuu... kyuuhh... aaauu... kyyaa..." suara itu terdengar kembali namun lebih jelas.

Ling Xi dan Shu Li pun saling bertatap, kemudian mereka pun menganggukkan kepalanya.

Mereka langsung berdiri dari duduknya dan berjalan mengikuti arah suara itu. Perlahan namun pasti, mereka mulai dekat dengan sumber suara, rintihan itu semakin terdengar jelas.

Akhirnya mereka pun sampai di tempat asal suara tadi. Mereka melihat anak seekor rubah ekor sembilan tengah merintih kesakitan.

Ling Xi memindai dari kepala hingga ekor dan kaki. Ia melihat perut rubah itu berdarah. Ia pun mendekat, namun dicegah oleh pelayannya Shu Li.

Sambil memegang tangan sang putri, Shu Li berbicara dengan tegas, "Putri, jangan mendekat. Biar saya saja."

"Tak apa Shu Li, biar aku saja," jawab Putri Ling Xi tak kalah tegas.

Setelah itu, Ling Xi berjalan pelan mendekati rubah itu.

"Jangan sakiti aku lagi. Aku sudah sangat kesakitan."

Putri Ling Xi langsung terdiam mendengar suara itu. Ia pun menoleh ke arah pelayannya dan bertanya. "Apa kamu berbicara sesuatu, Shu Li?"

Sambil mengernyitkan dahinya, Shu Li menjawab, "Tidak, putri. Saya tidak bicara apapun."

Akhirnya, Ling Xi pun berada di hadapan rubah tersebut. "Apa yang akan kau lakukan?"

Putri Ling Xi terdiam kembali. Ia melihat ke sekeliling tapi tidak ada siapapun selain dirinya, rubah ekor sembilan dan juga Shu Li. "Aneh sekali, apa perasaanku saja?" gumam dirinya.

"Aku yang berbicara wahai manusia."

Dengan terkejut, Ling Xi langsung menatap ke arah sang rubah. Ia menatap rubah itu, "Apa kamu yang berbicara?" tanyanya.

"Iya, aku yang berbicara dari tadi. Apa yang kamu lakukan? Aku tidak memiliki apa-apa yang dapat diberikan kepadamu." ucap Sang Rubah dalam hati.

"Jadi, suara yang aku dengar dari tadi adalah suaramu. Aku ingin menolongmu. Kau jangan takut, aku tidak akan melakukan apapun selain mengobatimu. Karena hidupmu masih panjang, jadi kau tidak akan mati hari ini." ucap Ling Xi.

Sedangkan Shu Li, ia menatap putrinya dengan kebingungan. "Putri, kau bicara dengan siapa?"

Ling Xi terkejut mendengar ucapan Shu Li. Ia pasti mengira bahwa Ling Xi aneh karena bicara dengan binatang. Untuk menutupi itu semua, Ling Xi pun terpaksa berbohong. "Tidak ada, aku hanya... bergumam supaya dia tidak takut padaku."

"Oh... begitu." ucap Shu Li. Sambil menatap sang putri, Shu Li bertanya kembali, "Putri, apakah ada yang bisa saya bantu?"

Sambil membersihkan darah yang keluar dari perut rubah itu, Ling Xi kemudian berucap, "Tolong ambilkan daun untuk menghentikan pendarahannya."

Setelah beberapa lama mencari, akhirnya Shu Li pun kembali dengan segenggam daun. "Ini, putri. Lalu daun ini diapakan lagi, putri?"

Dengan tatapan ke arah perut rubah, tangan kecil Ling Xi merobek hanfu nya sambil berkata, "Tolong kamu tumbuk daun itu sampai halus, jangan lupa kasih air sedikit agar cepat halus."

Shu Li yang mendengar itu langsung melaksanakan perintahnya.

¼ dupa kecil, akhirnya daun yang ditumbuk pun telah halus, dan kemudian memberikannya pada Putri Ling Xi.

"Terima kasih, Shu Li," sambil mengambil daun yang telah dihaluskan dari Shu Li.

Ling Xi pun kemudian membalurkan halusan daun itu ke perut yang terluka pada rubah ekor sembilan.

Ketika membalurkan itu, tangan Ling Xi perlahan mengeluarkan cahaya.

Cahaya itu hanya dilihat oleh Ling Xi dan juga rubah ekor sembilan. Sedangkan Shu Li, ia hanya bisa melihat keajaiban itu dengan samar.

Cahaya lembut itu menyelimuti luka di perut rubah kecil tersebut. Darah yang semula keluar dari perut perlahan berhenti. Luka yang tadinya tampak parah kini sedikit demi sedikit mulai tertutup, meninggalkan bekas samar yang seolah tersapu oleh sinar mentari pagi.

Rubah kecil itu memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Suara yang tadinya terdengar lirih, kini berubah menjadi desahan lega, "Hangat sekali... kekuatan ini... bukan dari kekuatan manusia biasa."

Kemudian, untuk menutupi hal itu, Ling Xi langsung membalurkan kain yang sudah ia robek ke perut sang rubah dengan melilitkannya ke sekeliling perut. Terakhir, ia mengikatkan kain tersebut agar tidak lepas.

Barulah setelah itu, ia menatap telapak tangannya. "Tadi... cahaya keluar dari tanganku dan menyembuhkan luka di perut rubah kecil," gumamnya.

Sambil menatap penyelamatnya, rubah itu berbicara lagi, "Siapa kamu sebenarnya, wahai manusia?"

Putri Ling Xi yang mendengar itu pun menjawab, "Aku Putri Kekaisaran Qin, Qin Ling Xi."

Masih menatapnya, rubah kecil itu berbicara lagi, "Kamu seperti bukan anak-anak pada umumnya. Aku tahu jiwamu bukanlah jiwa anak kecil, tapi jiwa orang dewasa. Selain itu, kamu juga dapat mengeluarkan cahaya yang dapat menyembuhkan luka dengan telapak tanganmu. Ini bukanlah kekuatan biasa. Aku yakin dalam dirimu terdapat energi suci yang hanya dimiliki oleh mereka yang terpilih oleh langit."

"Energi suci? Apa maksudmu?" tanya Ling Xi.

"Kamu harus memecahkan teka-teki itu. Untuk sebagai ucapan terima kasih, aku akan menjadi hewan kontrakmu," jawab sang rubah dengan lembut.

"Hewan kontrak? Aku tidak bisa, aku takut jika melakukan hubungan kontrak, akan membatasi gerak-gerikmu," tolak Ling Xi.

"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Jika ada yang menolongku, maka aku akan menjadi hewan kontraknya. Dan karena itulah, aku bersedia menjadi hewan kontrakmu." ucapnya dengan memohon.

"Baiklah. Tapi bagaimana caranya?" tanya Ling Xi.

Dengan sedikit tersenyum, rubah itu menjawab, "Kau cukup meneteskan darahmu di kepalaku, maka setelah itu, hubungan kontrak akan terjalin."

"Tapi apa bisa, kita melakukan hubungan kontraknya nanti, ketika sudah berada di kediamanku?" Tanya Ling Xi sekali lagi.

"Tentu saja bisa," ucap sang rubah kecil.

Sedangkan Shu Li, ia masih menatap tuan putrinya dengan sang rubah dengan seksama. "Putri, apa Anda baik-baik saja?"

Ling Xi pun kembali ke kesadarannya, dan ia pun menjawab, "Aku baik-baik saja, Shu Li. Kau jangan khawatir."

Dengan raut wajah yang khawatir, Shu Li membalas, "Bagaimana saya tidak khawatir, putri. Tadi saya melihat dari tangan putri keluar cahaya samar, setelah itu, putri langsung melamun."

Dengan raut wajah yang tegang, Ling Xi menjawab, "Itu hanya pantulan sinar matahari, Shu Li. Dan untuk aku yang sedang melamun tadi, aku hanya terpikirkan, kenapa rubah kecil ini masuk ke taman belakang istana."

Shu Li yang masih dengan raut wajah khawatir, ia membalas, "Sepertinya iya, putri. Istana Kekaisaran ini tak jauh dari arah hutan, putri. Mungkin karena itu ia masuk ke sini mencari tempat aman."

Dengan raut wajah yang berubah menjadi semangat, ia berbicara, "Mungkin saja, ya. Baiklah. Shu Li, ayo kita kembali ke kediaman, aku akan bawa sekalian rubah kecil ini ke kediamanku."

"Baik, putri," balas Shu Li.

Setelah itu, mereka pun berjalan kembali menuju kediaman Lotus.

Maaf lama up nya, karena aku sedang sibuk 🙏🏻, semoga bab ini sesuai dengan rasa penasaran kalian.

1
Ita Xiaomi
Auto shock 😁
Ita Xiaomi
Lg digendong 😁
Alia Chans
🌹✍️👈😉
Mamah Nissa
wooow
🔵🌹 Widian🧕
permaisuri dan raja sudah setuju....jadi aman kau berteman dengan rubah dan membuat kontrak .
🔵🌹 Widian🧕
putri Lin xi akhirnya punya teman meskipun seekor rubah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: done... aku kurang ngerti bola jadi pusing/Cry//Pray//Pray/
total 1 replies
Senja
😍 keren banget
SANG
Semangat, jangan kendor, pantang mundur👍💪
SANG
Lanjutkan aksimu Thor👍💪
SANG
Like, iklan plus komentar👍💪
ANDANA
semangat kk
SANG
Lanjutkan aksimu👍💪
SANG
Lanjut👍💪
SANG
Semangat👍💪
SANG
Seri ceritanya👍👍....
SANG
Mampir Thor👍
SANG
Aku kasih like, beserta semangat.
SANG
Aku kasih suka, ya thor
Dewi Payang
Xue Yun Jun, daku kehilangan satu iblis ganteng nahhhhh🙈🙈🙈🙈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!