Mika pikir ini adalah akhir hidupnya. Gelap dan dinginnya musim dingin tak lagi membuatnya takut. Bahkan tubuh yang mulai kaku atau dada yang sesak tak lagi menyakitkan.
Selama hidupnya, Mika selalu patuh pada kedua orang tuanya. Bahkan memanjakan adik tirinya. Tak pernah ada keraguan pada diri Mika atas setiap kata perintah untuknya. Tanpa sadar Mika sedikit demi sedikit masuk ke dalam jurang kehancuran. Karirnya di industri hiburan semakin meredup dengan banyaknya rumor jelek tentangnya. Kehancuran suaminya juga disebabkan olehnya mengakibatkan banyak bencana bagi semua orang. Saat sudah pada ujung nafasnya bahkan Mika tak melihat satu orangpun datang menyelamatkannya. Membuatnya menutup mata dengan banyak beban yang tersisa.
Namun saat matanya terbuka lagi, Mika tertegun sesaat. Ruangan tempatnya berada dihias begitu indah. Begitu pula dirinya yang sedang mengenakan gaun mewah yang bagus. Saat itu Mika tersadar dirinya kembali ke tujuh tahun lalu, ke hari ketika dia menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elmanuradha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIYB 6
Matahari menunjukkan sinarnya dengan malu-malu. Mewarnai air laut dengan warna keemasan di satu sisi dan kegelapan di sisi lainnya.
Dengan Mika yang bersandar pada bahunya, Gavin duduk diam sejak satu jam yang lalu. Duduk dengan kaki selonjor dan Mika yang merangkul lengannya.
Siang ini keduanya akan kembali setelah menghabiskan lima hari bulan madu di kota C. Karena di hari-hari sebelumnya keduanya tak pernah keluar menyaksikan matahari terbit. Maka di hari terakhir ini Mika memaksa Gavin bangun lebih awal dan menuju pantai untuk melihat matahari terbit.
Dibandingkan menatap matahari terbenam yang bisa dilihat dari luar kamar di resort. Untuk melihat matahari terbit keduanya harus berjalan cukup jauh dari resort. Setelah menemukan tempat yang cocok untuk menatap cahaya keemasan matahari terbit keduanya duduk di atas pasir.
Awalnya perempuan berusia 22 tahun itu begitu bersemangat duduk di pasir dengan sang suami. Dengan selendang sebagi selimut keduanya, Mika menyandarkan tubuhnya pada Gavin. Tak lama setelah mengoceh tentang banyak hal, mata Mika tertutup diiringi nafas pelan yang teratur.
Walau tak melihat dari awal tapi Mika tetap bahagia saat melihat matahari yang telah muncul setengah. Bahkan tak lupa mengambil beberapa foto untuk mengabadikan moment.
Saat matahari mulai menampakkan dirinya, Mika membantu Gavin duduk kembali ke kursi roda. Dengan santai Mika mendorong kursi roda Gavin kembali ke tempat mereka menginap.
Di tengah jalan keduanya dihentikan oleh seorang anak kecil yang menjual kerajinan tangan. Banyak hal yang anak tersebut tawarkan namun pandangan Mika tertuju pada dream catcher bewarna putih dan coklat dengan kerang di ujung rumbainya.
Menyadari kemana pandangan sang istri tertuju, Gavin menunjuk barang tersebut. Meminta anak itu agar mengambilnya untuk mereka lihat.
Begitu dream catcher tersebut diangkat beberapa kerang di ujung rumbai saling bertabrakan dengan ringan. Membuat suara yang cukup menarik.
"Mau ini?"
Mika segera mengangguk begitu mendengar Gavin menanyakan keinginannya. "Mau."
Tanpa sadar Gavin tersenyum ringan melihat pandangan istrinya tak teralihkan dari benda tersebut. Setelah membayarnya, Mika menggantung dream catcher tersebut ke pegangan kursi roda Gavin.
Suara gemerincing terdengar saat kerang di ujung rumbai bertabrakan. Bahkan tangan Mika tergerak untuk mengelus kerang-kerang tersebut agar mengeluarkan gemerincingnya.
Perjalan pulang dari kota C cukup melelahkan bagi keduanya. Namun, terlihat sangat bahagia saat asisten Gavin menjemput mereka.
Seperti saat berangkat, Mika adalah orang yang mendorong kursi roda Gavin. Sedangkan sang asisten membawa barang-barang mereka berdua.
"Mau mampir dulu, Pak, Bu?" tanya sang asisten begitu mobil sudah siap membawa mereka kembali ke rumah.
"Langsung pulang aja deh. Udah malam juga."
Keduanya tiba di kota tempat tinggal mereka saat bulan sudah menggantikan matahari. Walau euforia bahagia masih menyelimuti tapi tak menutupi jika keduanya begitu lelah dan ingin kembali istirahat di rumah.
Mobil melaju dengan tenang menuju ke rumah. Mika menyandarkan tubuhnya dan menutup mata dengan tenang. Sedangkan Gavin memilih mengecek pekerjaan yang belum sempat ia cek sama sekali.
"Semuanya aman selama saya tinggal?" tanya Gavin sambil mengecek pekerjaannya.
Awalnya Gavin masih sering mengecek email yang dikirim. Namun, karena Mika kesal akhirnya laptop tersebut dikunci di dalam koper dan Gavin tak bisa mengambilnya untuk bekerja. Hanya dari ponselnya dia bisa menghubungi sang sekertaris sesekali
"Ada sedikit masalah sama proyek di pinggir kota sebenarnya, Pak."
"Proyek yang dipegang sama Kakak saya?"
"Iya," asisten tersebut melirik atasannya dari spion tengah.
Tak mendengar apapun, Mino kembali bersuara untuk menjelaskan kondisinya. "Beberapa hari saat Pak Gavin pergi terjadi kecelakaan kerja di tempat pembangunan. Sepertinya ada pertengkaran dan salah seorang pekerja terluka karena terjatuh. Beruntungnya tak sampai meninggal. Namun, Pak Derry enggan mengeluarkan uang untuk merawat orang tersebut dengan alasan kecelakaan tersebut bukan disebabkan saat bekerja.
Mino kembali melirik Gavin yang masih diam. "Walau kecelakaan terjadi di saat jam kerja tapi pemicu kecelakaan adalah pertengkaran antar pekerja. Menyebabkan pak Derry enggan bertanggung jawab sepenuhnya. Meminta orang yang bertengkar dengan korban tersebut untuk membayar biaya perawatan. Lalu terjadi beberapa perdebatan antara Pak Derry dan pekerja lain di lokasi. Kemudian keributan besar lainnya terpicu. Pak Derry tanpa sengaja menyinggung pekerja lainnya menyebabkan mereka melakukan aksi mogok kerja dan meminta gaji segera dibayarkan. Membuat proyek terhenti dan menyebabkan penundaan."
"Sekarang masih sama?"
"Masih, Pak. Pekerja enggan bekerja dan menuntut gaji. Apalagi korban menuntut perawatan dari perusahaan. Selain menyebabkan penundaan pembangunan. Ini membuat desas-desus buruk lainnya untuk perusahaan."
Gavin mengangguk singkat lalu melepaskan kacamatanya. "Saya paham. Kamu bisa diam dan jangan lakukan apapun tanpa perintah dadi saya."
"Iya, Pak."
lhoo wis bisa jalan
ternyata malah sdh hamil si mika... gak di ekspose ternyata ya wik wik nya
semoga mau terapi ya pak gavin..biar gak merasa gak berguna krn gak bisa melindungi istri tercinta