Instagram : @imeldona
SEASON 2 : Tentang Kasih Sayang dan Perjuangan Orangtua untuk mengungkap kebenaran anaknya, juga berlatar belakang kisah cinta Remaja.
SEASON 1 :Kisah Cinta pertama.
Saling mencintai namun karena pertentangan orangtua, mereka saling dipisahkan.
Hingga Kemudian Mereka dipertemukan kembali, tapi mereka sudah tidak dapat bersama karena Sefia sudah menjadi istri pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto Pernikahan
"sekarang kamu istirahat disini dulu ya, Fi!" pinta Dedi sambil menuntun Sefia duduk diatas Sofa.
Dedi menyuruh Sefia untuk beristirahat diruang istirahat yang terdapat ranjang luas nan besar, tetapi Sefia menolaknya.
Ia kemudian berjalan menuju kearah ruang Istirahat mengambil bantal dan selimut untuk Sefia kenakan.
"tidur Fi!", manaruh bantal diujung sofa, "rebahkan tubuhmu sejenak, tubuhmu kan masih lemah jadi kamu harus banyak istirahat"
"makasih pak, tapi..."
Dedi mendorong pelan tubuh Sefia dan membantunya berbaring, "kamu gak boleh nolak, jangan bikin aku khawatir sama kamu"
Sefia hanya terdiam mendapat perhatian dari atasannya, lalu Dedi memakaikan selimut guna menghangatkan tubuh Sefia.
"terimakasih pak, saya akan beristirahat sebentar saja", ucap Sefia lemah sambil memejamkan matanya.
Jemari Dedi secara langsung mengelus rambut Sefia tanpa perintah, dan Ketika Ia hendak memberi kecupan di kening. hal itu tertahan.
Ia sadar bahwa wanita yang sedang berbaring lemah didepannya ini adalah milik orang lain.
mengingat hal itu perasaan Dedi sangat kecewa dan marah, Ia melangkah pergi dari ruangan dan segera ke toilet membasuh wajahnya hingga terciprat ke kepala dan basah. Berharap pikirannya musnah.
tapi mengingat perkataan Sefia tadi, jelas sekali kalau Ia tidak bahagia. Rumah tangganya sedang dalam masalah.
Lantas Dedi menyuruh orang suruhannya untuk mencari tahu semua tentang suami Sefia, wanita yang Ia cintai.
"segera cari tahu informasi mengenai suami Fia, se detail mungkin", perintah Dedi pada orang di seberang.
"baik pak, saya akan segera menginformasikan nya segera"
****
Dedi mencoba konsentrasi mengamati berkas yang ada didepannya, tetapi tidak bisa karena pikirannya hanya tertuju pada Sefia yang berbaring didepannya.
Ia kemudian menyerah dan memilih duduk disamping Sefia, mengamati wajah polos wanita yang sangat Ia rindukan sepuluh tahun lamanya.
Dedi mengelus rambut Sefia yang tengah tidur dengan lembut dan perhatian, "Fia, apa kamu bahagia selama dengannya? apa kamu mencintainya? ku harap saat kamu meninggalkanku dan memilihnya, kamu tidak menyesalinya. aku hanya ingin kamu bahagia"
ucapan tulus dari Dedi menyentuh hati Sefia yang tengah pura pura tertidur, dan Ketika Dedi hendak bangkit. Sefia beranjak dari tidurnya dan memeluk kaki Dedi tak terduga.
"Fia, apa yang kamu lakukan?", Dedi kaget dengan apa yang Fia perbuat
"maafkan aku, maafkan aku", ucap Sefia terisak dalam tangisnya
"Bangun Fi! jangan seperti ini"
Sefia menggelengkan kepalanya tidak mau melepas pelukan dikaki Dedi, "tidak Ded, aku sungguh bersalah padamu. aku jahat Ded, aku jahat"
Dedi kemudian memegangi kedua sisi pundak Sefia menuntunya untuk berdiri, lalu Dedi memeluk Sefia dengan erat dan tenggelam dalam rambutnya yang wangi.
"sungguh aku tidak apa apa, aku tidak sekalipun menyalahkanmu. asal kamu bahagia, aku pun turut bahagia, Fi!"
Mendengar ucapan Dedi Sefia semakin terisak, sungguh hatinya sangat menyesal karena dalam kehidupan rumah tangganya yang Ia bina sebaik mungkin. Ia tidak pernah mendapatkan ke bahagiaan.
Dedi menghapus air mata Sefia yang mengucur begitu derasnya, mengusap lembut pipinya ketika Ia melepas pelukannya.
"jangan bersedih lagi, tersenyumlah!"
Sefia tak mampu dan hanya bisa menatap pilu pada pria yang berdiri didepannya.
"senyum seperti ini", Dedi mencubit kedua pipi Sefia hingga membentuk bibir lebar dan tipis, membuat Sefia jadi tertawa karenanya.
"Nah gitu dong!" Dedi juga ikut tertawa sambil memandangi wanita yang didepannya bahagia.
"yuk, ku antar kamu pulang Fi!" pinta Dedi
"ah tidak pak, saya bisa pulang sendiri"
"Fia, jangan berbicara formal lagi padaku karena kita hanya berdua saja sekarang!"
"tapi pak..."
"sudah jangan membantah, aku bisa marah loh Fi. ayo ku antar pulang!"
****
Kini mobil Dedi sudah terparkir tepat didepan rumah Sefia.
"terimakasih Fi", ucap Dedi pada Sefia yang hendak turun dari mobil
"seharusnya aku yang berterimakasih padamu, hari ini kami banyak membantuku"
"kalau begitu, ajak aku masuk ke dalam!" pinta Dedi memberikan senyum tengilnya
"hm oke, ayo masuk nanti akan ku buatkan kamu teh", jawab Sefia tanpa berpikir panjang.
Kemudian Mereka pun masuk kedalam rumah Sefia, Dedi berjalan mengelilinya setiap sudut ruangan milik Sefia dan pandangannya berhenti. tertuju pada foto pernikahan Sedia dan Angga yang di pajang membentang di ruang tengah.
Perasaan berkecamuk sangat jelas diwajah Dedi, sangat jelas tergambar. Ia tak tahan ingin berlari karena kecemburuan.
"Ded, ini teh untukmu!" ucap Sedia sembari meletakkan teh yang dibuatnya
"Ded?" panggil Sefia lagi pada Dedi yang tertegun masih memandangi foto pernikahannya.
"eh iya Fi maaf!" setelah sadar Dedi langsung meneguk teh yang disuguhkan Sefia, "aku harus segera pulang, makasih teh nya"
"ah iya"
Dedi buru buru pulang tanpa menoleh pada Sefia sekalipun karena Ia tengah menahan gejolak dalam dirinya, perasaan cemburu yang tak seharusnya.
****
Angga kali ini pulang lebih awal dari biasanya, karena mendapatkan undangan makan malam dari ibu dan sanak saudaranya.
"mas tumben jam segini pulang?" tanya Sedia sambil membantu suaminya melepas jasnya
"kamu gimana sih Sef, pulang malam salah, pulang sore juga salah" jawab Angga ketus
"ya bukan begitu mas, kan Sefi cuma nanyak"
"mas dapat undangan makan malam dari mama, katanya mas Bram lagi berkunjung dirumah"
"oh, yaudah Sefi siap siap dulu ya mas?"
"ya udah cepetan, aku gak enak kalo datang telat"
"belum juga jalan mas, huh"
Setelah selesai mengganti pakaian, Sefia dan Angga pun pergi kerumah mamanya, Lidia.
Didalam rumah, keluarga besar dari Angga sudah berkumpul. ada mama Lidia, Bram sepupunya, Istrinya Heni serta bayinya Lusi yang sangat lucu.
"Angga sudah datang", sambut mama Lidia sambil mencium pipi anak semata wayangnya
tapi tidak dengan Sefia, mertuanya bahkan tidak menoleh padanya.
"eh Sefia, sini duduk Sef!" sapa Heni yang tengah menggendong anaknya
Sefia pun menghampirinya, "aduh lucunya mbak", ucapnya sambil mencium pipi Lusi gemas, "Lusi udah umur berapa bulan ya mbak, aku lupa?"
"udah delapan bulan Sef, apa kamu mau menggendongnya?" tawar Heni melihat Sefia begitu bahagia
"boleh mbak?", tanya lagi Sefia yang mendapat anggukan, "sini mbak, duh gemasnya"
Akhirnya Sefia menggendong Lusi dengan raut wajah bahagia, memberikan candaan pada bayi seusianya.
tapi, mama Lidia yang duduk di depannya dengan Angga suaminya malah tersenyum sinis dan jijik.
"pasti sangat beruntung ya mamamu bisa menimang cucu, tidak seperti Tante", ucap Lidia memelas kepadanya Heni yang sebetulnya ditunjukkan untuk menyindir menantunya.
Tapi Sefia sudah merasa kebal, dan ia memilih tak menanggapinya.
"Tuhan memberi rejeki sama Heni, begitu pun mas Angga dan Sefia. suatu saat nanti pasti diberi juga kok, Tan"
"haduh, diberi apanya kalau memang anak Tante menikahi perempuan mandul", celetuknya membuat Sefia begitu sangat terpukul
****
aga & Yuna jg donk Thor.. lg seru2 nya..