NovelToon NovelToon
KATAKAN CINTA

KATAKAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:266
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retak Senyap

Malam hari setelah insiden kecelakaan hebat dan penangkapan Nicholas di kawasan industri Pulogadung, Jakarta tidak lantas menjadi tenang. Bagi Rangga, udara kota ini justru terasa semakin pekat, panas, dan menyesakkan. Berkas laporan kepolisian mengenai tindakan nekat Nicholas telah dilimpahkan sepenuhnya ke tim hukum korporasinya di London, mengunci posisi anak oligarki itu agar tidak bisa lolos dari jerat hukum pidana. Namun, saat Rangga duduk sendirian di bangku kayu panjang depan bengkel "Bina Karya Motor" yang sudah tutup, pikirannya tidak tertuju pada kemenangan hukum tersebut. Sepasang matanya menatap nanar ke arah sisa-sisa oli yang mengering di atas lantai semen bengkel—tempat di mana semua perjuangan ini bermula.

Pintu geser bengkel perlahan terbuka. Tasya melangkah keluar membawa dua botol teh manis dingin. Gadis itu mengenakan kaus oblong kasual dan celana jins pudar. Wajahnya tampak lelah setelah seharian mengurus administrasi penutupan buku tahunan bengkel, namun dia memaksakan sebuah senyuman tipis saat menyodorkan satu botol minuman kepada Rangga.

"Hebat ya lu, Ngga," ucap Tasya, suaranya terdengar datar saat dia duduk di ujung bangku yang sama, sengaja memberikan jarak beberapa puluh sentimeter di antara mereka. "Baru beberapa hari di Jakarta, lu udah bisa bikin anak konglomerat kayak Nicholas masuk sel. Lu bener-bener udah berubah jadi orang besar yang punya kuasa."

Rangga menerima botol itu, namun tidak meminumnya. Dia menoleh, menatap profil samping wajah Tasya yang diterangi oleh pendar kuning lampu jalanan gang sempit. "Ini semua berkat dasar yang kita bangun di sini, Sya. Kalau bukan karena lu yang rapihin pembukuan dan manajemen bengkel ini selama tiga tahun sampai kita bisa ekspansi, gue gak akan punya modal rekam jejak bisnis yang bersih buat dipamerin ke bos-bos Eropa."

Tasya tidak menyahut. Dia hanya menatap lurus ke depan, memperhatikan rintik gerimis yang mulai membasahi aspal jalanan. Di dalam dadanya, sebuah pergolakan emosional yang teramat dahsyat sedang terjadi. Pergolakan yang dipicu oleh sebuah alasan yang teramat logis dan manusiawi, bukan sekadar kecemburuan buta ala anak sekolahan.

Selama tiga tahun terakhir, sejak kepergian Rangga ke London, hidup Tasya sepenuhnya didedikasikan untuk mengembangkan sayap bisnis Bina Karya. Hasilnya tidak sia-sia. Dari yang awalnya hanya bengkel modifikasi lokal, Tasya berhasil mengubahnya menjadi salah satu vendor komponen lokal yang diperhitungkan. Kerja keras itu membuahkan hasil finansial yang sangat mapan bagi dirinya; Tasya kini mampu membeli sebuah unit rumah kluster minimalis modern di kawasan Jakarta Timur dan mengendarai mobil kota hasil jerih payahnya sendiri. Dia adalah representasi wanita mandiri yang sukses di usia muda.

Dia menolak banyak ajakan kencan dari pria-pria mapan di lingkungannya karena dia memiliki sebuah keyakinan logis di dalam kepalanya: *Cinta Alisya hidup di dunia kasta tinggi yang berbeda di Eropa. Cepat atau lambat, perbedaan gaya hidup dan tekanan Tuan Kresna akan membuat Cinta melupakan masa lalunya di Jakarta.*

Tasya selalu berpikir bahwa waktu dan jarak akan menyembuhkan Rangga dari bayang-bayang Cinta. Dia sangat yakin, ketika Rangga kembali ke Jakarta nanti sebagai pria sukses, dirinyalah—gadis mandiri yang setia menjaga takhta bisnisnya dari titik nol—yang secara rasional paling berhak bersanding di sisi Rangga. Semua investasinya, baik waktu, tenaga, maupun perasaan, dikalkulasikan dengan sangat matang.

Namun, panggilan video malam itu di restoran London telah menghancurkan seluruh logika yang dibangun Tasya selama tiga tahun.

Melihat Cinta duduk begitu anggun di sebelah Rangga yang mengenakan jas mewah, menyadari bahwa kasta tinggi Cinta tidak memudar melainkan justru bersatu dengan kesuksesan baru Rangga di level internasional, membuat Tasya merasa terlempar ke sudut tergelap. Pengorbanannya selama tiga tahun mendadak terasa seperti lelucon yang tidak berharga di hadapan takdir Rangga dan Cinta. Rasa tidak berdaya, ketakutan akan disisihkan, serta penolakan jantan dari Rangga di bengkel kemarin justru memicu sebuah mekanisme pertahanan diri yang ekstrem di dalam psikologis Tasya: **Obsesi**. Hatinya menolak untuk menerima kenyataan bahwa dia harus kalah setelah menyerahkan seluruh masa mudanya demi kesuksesan Rangga.

Keesokan paginya, suasana di dalam kantor diler digital baru tempat Rangga bekerja di kawasan Jakarta Pusat tampak sangat sibuk. Rangga sedang berdiri di depan papan tulis kaca, berdiskusi dengan Pak Hendra mengenai rute distribusi perdana unit kendaraan listrik mereka.

Pintu ruang rapat diketuk perlahan. Tasya masuk dengan membawa sebuah map tebal berwarna merah. Penampilannya hari ini sangat berkelas; dia mengenakan kemeja formal satin dengan celana bahan berpotongan rapi, memancarkan aura seorang eksekutif keuangan yang tegas dan profesional. Tidak ada lagi sisa-sisa bau oli dari penampilannya.

"Ngga, ini laporan audit fisik terakhir untuk seluruh peralatan dan aset mekanik dari bengkel Bina Karya yang mau diintegrasikan ke sistem diler baru lu," ucap Tasya dengan nada suara yang teramat dingin dan profesional di depan Pak Hendra.

Rangga agak terkejut melihat perubahan sikap Tasya yang begitu formal, namun dia mengangguk menghargai. "Oke, makasih banyak, Sya. Tolong taruh di meja aja. Nanti malam gue periksa sebelum gue balik ke London akhir minggu ini."

Mendengar kata "balik ke London", gerakan tangan Tasya yang sedang meletakkan map mendadak terhenti selama satu detik. Sepasang matanya yang tajam menatap lekat ke arah Rangga, memancarkan kilatan emosi yang tertahan.

"Lu gak bisa balik akhir minggu ini, Ngga," ucap Tasya, suaranya terdengar sangat tenang namun membawa tekanan atmosfer yang aneh di dalam ruangan tersebut.

Rangga mengerutkan dahinya, meletakkan spidolnya. "Maksud lu apa, Sya? Urusan polisi soal Nicholas udah diurus tim hukum, dan sistem distribusi digital sama Pak Hendra udah berjalan mandiri. Gue harus balik karena Cinta dan dewan komisaris udah nunggu laporan fisik gue di London."

Tasya membalikkan badannya menghadap Rangga sepenuhnya, mengabaikan keberadaan Pak Hendra yang mulai merasa canggung. "Ada beberapa kejanggalan dalam laporan pajak tahun pertama ekspansi bengkel kita yang baru gue temukan semalam. Tiga tahun lalu, saat lu masih berstatus pemilik tunggal sebelum magang ke London, ada tanda tangan lu pada dokumen investasi diler konvensional lama yang sempat bermasalah. Kalau lu pergi sekarang tanpa menyelesaikannya secara personal di kantor pajak Jakarta, status hukum lu sebagai *Chief Innovation Officer* di London bisa digugat atas tuduhan malapraktik bisnis masa lalu."

Rangga tertegun. Sebagai seorang eksekutif di perusahaan Eropa yang sangat ketat menjaga regulasi, tuduhan sekecil apa pun mengenai masalah kepatuhan pajak masa lalu bisa menghancurkan reputasinya secara global dan membatalkan hak vetonya atas proyek Asia Tenggara ini.

"Dokumen yang mana, Sya? Gue gak pernah ngerasa tanda tangan dokumen investasi aneh sebelum ke London," tanya Rangga, suaranya mulai terdengar tegang.

Tasya tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sarat akan kendali penuh. "Dokumennya ada di laptop pribadi gue, di rumah kluster gue. Gue gak akan serahkan data sensitif ini ke tim hukum lu di London lewat email. Lu harus ikut gue pulang ke rumah malam ini, periksa sendiri, dan urus ini berdua sama gue. Cuma gue yang tahu celah hukumnya untuk bersihin nama lu, Ngga."

Malam harinya, di belahan bumi yang lain, hujan badai sedang mengguyur kota London dengan hebat. Cinta Alisya duduk di depan meja kerjanya di apartemennya yang mewah, menatap layar laptop yang menampilkan panggilan internasional yang terus berdering namun tidak kunjung diangkat oleh Rangga. Perasaan cemas mulai merayap di dalam dada Cinta. Biasanya, sesibuk apa pun Rangga di Jakarta, cowok itu tidak pernah membiarkan telepon darinya tidak terjawab lebih dari dua jam.

Cinta mengalihkan pandangannya ke arah sebuah (email) masuk yang dikirim oleh sistem keamanan server diler digital mereka di Jakarta. Surel itu berisi notifikasi mengenai pengunduhan data enkripsi dan algoritma logistik secara massal dari akun internal diler. Dan nama pengguna yang melakukan pengunduhan itu adalah: **Tasya Amelia**.

Insting Cinta sebagai seorang wanita yang cerdas seketika bergolak. Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di Jakarta yang melibatkan masa lalu Rangga dan perasaan Tasya yang belum tuntas. Cinta menarik napas panjang, menutup laptopnya dengan tegas, lalu berjalan menuju lemari pakaiannya untuk mengambil paspor dan mantel tebalnya. Dia tidak akan tinggal diam di London dan membiarkan hubungannya kembali goyah oleh badai masa lalu. Hari itu juga, Cinta memesan tiket penerbangan pertama menuju Jakarta.

Sementara itu, di dalam ruang tamu rumah kluster minimalis modern milik Tasya di kawasan Jakarta Timur, suasana terasa sangat sunyi dan mencekam. Rumah yang tertata rapi dengan furnitur berkelas itu mendadak terasa seperti penjara tak kasat mata. Rangga duduk di atas sofa kulit, menatap layar laptop premium milik Tasya yang menampilkan baris demi baris dokumen pembukuan lama. Setelah memeriksa dengan saksama selama dua jam, Rangga menyadari sebuah kenyataan yang mengejutkan: **tidak ada masalah pajak yang serius**. Dokumen itu hanyalah laporan pengeluaran rutin biasa yang sengaja diubah formatnya oleh Tasya agar terlihat berbahaya di mata hukum otomotif Eropa.

Rangga menutup layar laptop itu dengan kasar, lalu berdiri dan menatap Tasya yang sedang berdiri di dekat meja bar dapur bersihnya sambil memegangi sepotong kain rajutan.

"Sya, lu bohongin gue," ucap Rangga, nada suaranya terdengar sangat kecewa dan dipenuhi amarah yang tertahan. "Dokumen ini aman. Gak ada masalah hukum apa pun yang bisa ngegugat posisi gue di London. Lu sengaja bikin skenario ini cuma buat nahan gue di Jakarta, kan?!"

Tasya berjalan mendekat dengan sangat tenang, langkah kakinya terdengar konstan di atas lantai granit yang bersih. Dia tidak tampak panik atau merasa bersalah karena kebohongannya terbongkar. Dia menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Rangga dengan pandangan yang kosong namun penuh obsesi yang mendalam.

"Iya, gue emang bohong, Ngga," jawab Tasya, suaranya sangat lirih namun terdengar dingin di dalam kesunyian rumah tersebut. "Gue terpaksa melakukan ini karena cuma ini satu-satunya cara supaya lu mau duduk diam dan ngeliat gue! Gue udah punya segalanya sekarang, Ngga. Gue punya rumah ini, gue punya mobil, gue punya karier dari hasil kerja keras kita. Tapi semua ini gak ada artinya kalau lu tetep milih pergi ke London!"

Tasya melangkah maju, mencengkeram kerah kemeja hitam Rangga dengan kedua tangannya yang gemetaran, air matanya mulai mengalir deras membasahi pipinya. "Gue gak mau kehilangan lu, Rangga! Bengkel itu, kesuksesan lu, semuanya ada karena investasi waktu dan hidup gue! Lu gak boleh balik ke London! Kalau lu melangkah keluar dari pintu kluster ini malam ini juga, gue bersumpah bakal hapus seluruh data enkripsi sistem diler baru lu. Kita hancur bareng-bareng di sini, Ngga!"

Rangga membeku, tubuhnya kaku menatap transformasi mengerikan dari wanita mandiri yang selama ini dia hormati sebagai rekan kerja terbaiknya. Di bawah sorotan lampu ruang tamu modern yang temaram, Rangga menyadari bahwa konflik asmara yang kini dia hadapi jauh lebih berbahaya dan menguras emosi daripada perang bisnis melawan Nicholas. Kali ini, dia tidak sedang menghadapi musuh yang jahat, melainkan sebuah hati yang terluka teramat dalam hingga kehilangan akal sehatnya, siap menghancurkan sistem bisnis yang mereka bangun sendiri demi sebuah obsesi kepemilikan.

1
Kam1la
keren aksinya Cinta👍😍
Kam1la
👍👍
Kam1la
aksi penyelamatan yang keren...
Kam1la
nah, kan ada pernyataan maaf
Kam1la
keren...💪 tetap semangat Rangga, meski diremehkan
Kam1la
Aldi, ada selera humor juga
Kam1la: siap...👍
total 2 replies
Kam1la
seru....! Pernikahan 2 Rahasia, hadir kak....
Lalat Mu
Ceritanya seru kak, semangat nulisnya ya! /Good/
Raden Saleh: Terimakasih atas partisipasinya, semoga terhibur, dan aku semangat lagi menulis, insya Allah lebih seru lagi 😍
total 1 replies
Kim Borahae
ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!