cerita yang mengisahkan tentang suami yang harus bersandiwara dan berakting demi menjalankan sebuah misi. sehingga menimbulkan kesalahpahaman, antara dirinya dan sang istri.
lalu apa yang terjadi dengan mereka?mampukah mereka mempertahankan rumah tangganya ditengah belenggu masalalunya yang datang tanpa diundang, dan tanpa bisa dihindarinya?
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
penasaran???
mari kita ikuti kisahnya yuk...cekidot
Tolong baca per bab ya guys,
jangan lompat bab
karena dukungan kalian sangat berarti buat author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙼𝚎𝚗𝚝𝚊𝚛𝚒𝚂𝚎𝚗𝚓𝚊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Memberi Pelajaran
*
Selamat membaca⬇️
***
Barra mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, menuju rumah sakit. Sesampainya di sana dia langsung menjumpai anak buahnya yang ditugaskan untuk memantau dan memastikan bahwa klien mereka aman.
"Selamat malam Pak," sapa seorang pemuda
"Malam Joni. Bagaimana kronologinya?" Barra menjawab sapaan anak buahnya, sekaligus bertanya.
"Kejadiannya begitu cepat Pak. Begitu dia keluar dari minimarket tiba-tiba ada yang menyerempetnya. Entahlah itu ketidaksengajaan atau ada motif lain," ungkap pemuda yang bernama Joni
"Kamu sudah cek cctv?" tanya Barra lagi.
"Leo sudah memeriksanya Pak. Dan sepertinya memang murni ketidaksengajaan," sahut Joni.
"Trus di mana Leo sekarang?" Barra mengedarkan pandangannya.
"Dia membeli makanan. Kita belum makan dari tadi," sahut Joni.
"Ya udah sana kamu susul dia," titah Barra lalu dirinya masuk ke dalam ruang rawat Anita.
Dipandangnya sekilas sahabat masa kecilnya itu. Yang kini sedang terbaring di ranjang pasien.
"Kenapa harus serumit ini sih untuk memecahkan kasus ini. Sampai kapan aku harus terjebak dalam situasi yang ambigu begini." keluhnya.
"Emang dasar bos gak ada akhlaq. Mentang-mentang dia tau kalo gue pernah dekat sama dia waktu kecil, gue yang dijadiin umpan. Gue kan terpaksa harus berakting jadinya." Barra menggerutu. Lalu menggaruk kepalanya frustasi.
"Kalau saja Rissa bisa diajak kerjasama. Sayangnya dia sudah terlanjur ilfeel duluan. Terpaksa gue harus akting juga sama dia. Gue sampai rela dihujat pembaca dikiranya gue selingkuh." Barra masih dengan keluhannya.
"Awas saja ya loe pak tua. Sampai rumah tangga gue kenapa-kenapa. Gue bakalan minta pertanggungjawaban dari loe. Enak saja, gue yang kerja, dia yang dapat pujian," kesal Barra.
Namun sayangnya semua itu hanya bisa dia ucapkan dalam hati.
Tak lama kemudian kedua anak buah Barra datang. Barra keluar dari ruang perawatan dan pamit pada mereka.
"Berhubung kalian sudah ada di sini, saya juga mau makan dulu. Pastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan," ucap Barra
"Baik Pak," sahut keduanya
Barra kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Dengan alasan mau makan, padahal dia mau pergi ke tempat lain. Sesampainya di tempat parkir dia langsung masuk ke dalam mobilnya, dan melaju meninggalkan rumah sakit.
Barra mengemudikan mobilnya ke arah apartemennya. Dia ingin mencari sesuatu, mumpung penghuninya tidak ada.
Sesampai di apartemen, dia segera masuk ke dalam lift dan menekan angka unit apartemennya. Tak lupa Barra mengenakan masker untuk menutupi wajahnya. Tak lupa menonaktifkan cctv yang berada di depan pintu unit apartemennya dan juga di dalamnya.
Barra segera masuk, dan menuju kamar yang di tempati Anita. Sampai di dalam dia menelisik semua tempat yang sekiranya bisa menemukan informasi atau barang bukti.
Sampai akhirnya dia menemukan sebuah map di belakang tumpukan baju. Barra mengambil map tersebut dan memeriksa isinya. Matanya berbinar seolah mendapatkan jackpot.
"Kenapa tidak dari dulu gue menemukan ini sih. Eeh tapi kan dulu gue gak punya akses ke rumah dia. Lagipula dia juga baru beberapa bulan tinggal di sini. Cerdas emang ide loe Bar," puji Barra pada dirinya sendiri.
Dia segera membawa map dan memasukkan ke dalam bajunya. Dia berniat mengeprint semua berkas berkas itu untuk laporan sebagai barang bukti.
Sebelum keluar dia pastikan semuanya rapi dan tidak meninggalkan jejak, lalu dia meninggalkan tempat itu, dan kembali lagi kerumah sakit.
***
Pagi hari Rissa menjalani rutinitasnya seperti biasa. Seakan tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi semalam. Lebih tepatnya memang dia tidak peduli. Seolah hatinya sudah mati rasa. Sekarang yang ada dalam benaknya adalah langkah yang akan diambil ke depannya serta bagaimana dirinya memberi pengertian pada anak semata wayangnya yang saat ini sedang dalam fase kecewa.
Rissa mendapati sesuatu yang berbeda pada Vino. Dari bangun tidur hingga saat ini, anak itu berubah menjadi pendiam dan hanya menjawab seperlunya jika ditanya. Tidak ada suara tawa dan celotehannya yang khas seperti biasanya.
"Mamah sayang Vino banyak banyak. Apa Vino juga sayang mamah?" tanya Rissa
Dia mencoba mengambil hati anaknya, dan mencairkan suasana. Nyatanya Vino hanya menjawab dengan anggukan. Bahkan ketika masuk ke daycare dia juga hanya mengucap salam dan mencium pipinya.
Rissa menatap anaknya dengan sendu. Ada rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata kata. Lalu dia menghela nafasnya dalam dalam, untuk meredam semua beban yang seakan menghimpit raganya.
Selepas mengantar anaknya ke daycare, dia bergegas menuju kantornya. Sesampai di ruangannya dia langsung duduk di tempatnya.
"Tumben mbak Rissa datangnya kesiangan, padahal karyawan teladan loh. Jangan sampai nanti malah jadi karyawan telatan deh," sindir temannya dengan nada gurauan.
"Namanya juga manusia biasa, Telat sesekali ya wajarlah. Kayak kamu si paling rajin aja," sahut yang lain membela Rissa
Sedangkan Rissa hanya menanggapinya dengan senyuman. lalu menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Waktu istirahat tiba Rissa segera bergegas keluar ruangannya. Tak lupa mencangklong tas ranselnya. Dirinya hanya berjalan kaki menuju kafe, tempatnya janji ketemu dengan Jenayra sahabatnya
"Ris, mau kemana, buru buru amat?" tanya Winda
"Aku mau ketemu teman aku mbak," jawab Rissa.
"Oh ya udah kalau gitu," ucap Winda
Sesampai di kafe ternyata Jenayra sudah menunggu. Dia melambaikan tangannya ketika melihat Rissa memasuki kafe.
"Rissa sini!" serunya Jenayra, seraya melambaikan tangan
Rissa menghampiri sahabatnya dan duduk di hadapannya. Dia lantas menyerahkan amplop coklat tersebut pada sahabatnya.
"Apa ini!" tanya Jenayra.
"Tolong loe urus semuanya, gue ingin bercerai dari Bara secepatnya!" titah Rissa datar.
"Loe yakin dengan keputusan loe ini Ris?" tanya Jena. Rissa hanya mengangguk.
"Jangan mengambil keputusan di saat hati loe dikuasai amarah. Lebih baik loe mempertimbangkannya lagi," saran Jena.
Rissa hanya diam membisu. Pikirannya buntu.
"Ingat Ris. Kalian itu sudah lama bersama. Dari jaman putih abu abu sampai saat ini. Tentu banyak suka duka dan kenangan indah di antara kalian berdua. Apalagi sekarang sudah punya anak, coba loe pikirin sekali lagi." Jena mencoba menasehati sahabatnya itu
"Gue yakin Barra gak mungkin mengkhianati loe Ris. Dia sangat mencintai loe. Atau mungkin dia lagi ada misi tertentu, yang tidak bisa diceritakan sama loe," tutur Jenayra mencoba membuka pikiran Rissa
"Emangnya dia apaan, kayak detektif aja," ketus Rissa
"Emang loe lupa, profesi sampingan suami loe apa?" tanya Jena
Rissa terlihat diam seperti memikirkan sesuatu.
Lalu Jenayra membuka amplop coklat itu dan memperhatikan dengan teliti satu persatu foto tersebut. Sama sekali tidak ada raut keterkejutan di wajahnya.
"Loe dapat ini semua dari mana?" tanya Jenayra
"Dari Andre, gue minta sama dia buat mengikuti aktivitas mereka" jawab Rissa.
"Andre?" seru Jenayra
"Iya" jawab Rissa singkat
'Dasar si kutu kupret, malah manfaatin keadaan, awas aja kalau dia ketemu gue' batin Jenayra
"Oh ya tolong loe balik nama sertifikat itu atas nama gue. Soalnya gue pengin ngasih pelajaran sama Barra. Enak aja dia beli apartemen mewah tanpa ngomong sama gue. sekarang pun yang nempatin malah si perempuan itu lagi!" sungut Rissa.
"Oke, calm down Ris. Loe jangan terbawa emosi, gue akan urus semuanya," ucap Jenayra.
"Sekarang kita makan dulu deh. Gue yang traktir loe. Mumpung guenya lagi baik hati" imbuhnya
Kedua sahabat itu lantas memesan makanan untuk makan siang mereka.
Selesai makan keduanya bergegas keluar dari kafe tersebut.
"Thanks ya traktirannya bestie. Harusnya gue yang traktir loe," ucap Rissa.
"Gak masalah. Kayak sama siapa aja. Lagian udah lama kita gak hangout bareng," sahut Jenayra.
"Ya udah. Kalau gitu gue balik ke kantor dulu ya. Dan loe hati-hati di jalan, jangan ngebut," tutur Rissa.
"Iya ibu Rissa yang cantik dan baik hati," jawab Jenayra. Dia menatap ke arah Rissa sahabatnya yang berjalan menjauh darinya. Kemudian menggelengkan kepalanya.
"Awas loe Bar, gue akan ngasih pelajaran sama loe, biar loe tahu rasa" gumam Jenayra
...----------------...
"Tolong baca per bab ya guys, jangan loncat bab"
Jika suka dengan ceritanya silahkan tinggalkan jejak :
Like
Komentar
Vote
Terimakasih atas dukungannya dan salam sehat selalu
🙏🙏🙏😍😍😍