Ezzelea Regata wanita pendiam itu harus menerima pernikahan yang tidak diinginkannya, begitu juga dengan Daffin Auriga Gautama, lelaki dingin yang di kenal tidak pernah memiliki kekasih, terpaksa harus menerima permintaan papanya yang memiliki hutang budi dengan ayah dari Ezzel.
Pernikahan paksa yang harus di terima oleh Ezzel dan Daffin mendapat tentangan dari mama Daffin yang tidak setuju dengan pernikahan putra semata wayangnya itu.
Daffin juga tidak ingin menikahi wanita pendiam itu, di hatinya hanya ada satu wanita yang tersimpan di sudut hatinya, teman masa kecilnya yang sudah lama terpisah darinya.
Bagaimanakah pernikahan paksa yang harus mereka jalani tanpa adanya rasa cinta?
Assalamu'alaikum, hai.. semuanya ketemu lagi di cerita baru author, mampir yuukk.. pastinya seru.. 🤗
Salam author ariista 🩷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Boyong ke Rumah Baru
Selesai acara akad di rumah papi Regata, Daffin langsung memboyong istrinya ke rumah baru. Daffin masih belum ngeh jika istrinya adalah sekretaris rekan bisnisnya sendiri.
Daffin memang cuek kurang perhatian di sekelilingnya terutama cewek. Ezzel lah yang sudah mengetahui siapa suaminya sekarang, lelaki angkuh yang sangat menyebalkan. Entah pernikahan seperti apa yang akan mereka jalani nantinya.
Di dalam mobil menuju ke rumah baru, mereka masih berdiam-diaman. Ezzel dengan pandangannya ke jendela samping di mana ia duduk, Daffin pandangannya terus ke depan.
Daffin melirik ke istri sah nya ini. Di rumah nanti ia sudah mempersiapkan surat kontrak nikah mereka. Ia tidak ingin di ganggu dengan hal-hal yang remeh temeh, Daffin yang workaholic lebih suka melihat trend grafik di pasar saham dan juga angka-angka terutama angka rupiah yang terus naik di laporannya membuat pundi-pundi di rekening nya semakin menggunung.
Mobil mereka memasuki mansion mewah. Ezzel sampai melongo begitu mobil melaju ke halaman luas mansion.
Daffin mematikan mesin mobil. Ia membuka seatbelt dan pintu mobil.
"Turunlah," perintah Daffin ke istrinya.
Ezzel membuka seatbeltnya dan membuka pintu mobil. Dilihatnya suami bukan impiannya itu berjalan meninggalkan dirinya. Daffin sudah memasuki rumah, dengan tergesa-gesa Ezzel menyusulnya.
Daffin menaiki tangga yang memutar, mansionnya memang mewah sekali, perabotan di dalam ruang tamu semuanya high quality, Ezzel mengikuti langkah kaki suami nya di lihatnya suaminya masuk ke ruangan, ia sendiri tidak tau ruangan apa itu.
Ezzel mengikutinya, ia membuka pintu ruangan yang di masuki suaminya. Ezzel heran ini bukan kamar tapi ruang kerja.
Sofa mahal, komputer di meja kerja juga lemari besar berisi buku-buku dan ada lemari lebih kecil koleksi minuman beralkohol. Ezzel terus mengamati ruangan tersebut. Ia masih berdiri di tengah ruangan.
"Apa kau akan terus mematung di situ?" tanya Daffin.
Ezzel bersungut, ia sangat tidak suka dengan keangkuhan lelaki sebagai suaminya itu.
"Ini kau baca dulu," Daffin melemparkan map di mejanya di depan Ezzel. Ezzel sudah duduk di depannya.
"Apa ini?"
"Kau baca saja dulu,"
Ezzel membuka map dibacanya judul kepala surat.
Kontrak Pernikahan
"Apa ini maksudnya?!" tanya Ezzel bingung.
"Jangan banyak tanya kau baca saja,"
Sialan, dalam hati Ezzel mengumpat.
"Aku tidak mau," ia menyodorkan kembali map di depan suaminya.
"Kau harus menandatangani nya,"
"Aku tidak mau ya tidak mau jangan kau paksa!"
Daffin mengetatkan rahangnya.
Keras kepala ternyata wanita ini, batin Daffin.
"Jadi apa maumu?" tanya Daffin ketus.
"Maksudnya?"
"Ya apa mau mu dengan pernikahan ini,"
"Dengar ya tuan Daffin yang angkuh, aku ini istrimu, jadi aku akan menjadi istri yang sesungguhnya bukan sebagai istri kontrak, kau paham tuan Daffin," ketus Ezzel gak mau kalah.
Sialan, ternyata aku salah berpikir tentang wanita ini, harusnya aku yang menekannya, kenapa dia lebih galak daripada aku, Daffin bermonolog di dalam hatinya.
"Ciiihh.. istri sesungguhnya, apa kau tau apa yang harus di lakukan oleh seorang istri? Salah satunya menurut kepada suami, belum apa-apa kau sudah membangkang perintah suami,"
"Dengar tuan yang angkuh, jika perintah suami itu benar istri tidak akan membangkang, kau membawa aku ke rumah ini hanya untuk menandatangani surat kontrak ini?! Kau saja sendiri yang tandatangan, aku tidak mau, di mana kamar ku?!" Ezzel berdiri ia akan meninggalkan suaminya yang angkuh ini.
"Duduk atau kau tidak akan ke mana-mana, aku masih belum selesai bicara,"
"Aku tidak mau membahas hal yang tidak masuk akal, tunjukkan di mana kamarku!"
Daffin yang malas berdebat akhirnya berdiri ia yang harus nya bisa menekan istri yang baru dinikahinya ini ternyata salah menduga.
Daffin membuka pintu ruang kerjanya berjalan menuju kamar untuk istri nya. Daffin memang sudah menyediakan kamar sendiri buat istrinya. Ia tidak ingin di ganggu dengan kehadiran istrinya ini. Mereka menikah tanpa cinta. Menikah dengan begitu tiba-tiba dan wanita yang di nikahinya bukan merupakan istri pilihannya sendiri.
Daffin membuka pintu kamar buat istrinya, ia masuk ke dalam di ikuti oleh Ezzel.
"Ini kamarmu, kamarku di sebelah, ada pintu konekting di situ," Daffin menunjuk pintu yang ada engselnya.
"Jika papa mama berkunjung dan menginap di mansion ini kita harus pura-pura menunjukkan ke mereka sebagai suami istri sesungguhnya,"
"Kau sudah merencanakan ini semua?" tanya Ezzel masih mengamati isi kamar untuk dirinya.
"Ya, kita menikah karena terpaksa, uruslah dirimu sendiri begitu juga aku, jangan campuri urusan masing-masing, kau paham?" tegas Daffin.
"Terserah kau saja tuan angkuh!" ucap Ezzel sarkas.
"Itu walk in closed semua pakaian mu sudah ada di sana, akan ada pelayan yang akan melayani dan membantumu,"
"Aku tak butuh," ucap Ezzel kesal.
"Terserah kau saja, aku akan pergi, jangan mencariku,"
Ezzel merotasi kan matanya.
"Jangan ke ge-eran Tuan,"
Daffin keluar dari kamar istrinya. Ia masuk ke kamarnya. Besok pagi ia harus berangkat keluar kota. Daffin akan membersihkan dirinya kemudian ia akan ke club bertemu dengan sahabatnya.
Daffin sebagai pengantin baru tidak merasa dirinya baru saja menikahi seorang gadis cantik. Daffin merasa dirinya masih lajang saja, tidak ada yang berubah, makanya ia akan pergi hang out bersama sahabat nya.
Daffin masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya, istirahat sebentar dan bersiap akan pergi.
Di dalam kamarnya, Ezzel masih mengumpati suaminya yang angkuh itu.
"Sialan, dasar laki-laki angkuh, enak saja mau membuat surat nikah, emangnya pernikahan ini main-main apa," Ezzel geram sendiri ia membuka pakaian nikahnya dan akan membersihkan dirinya. Waktu sudah menjelang malam.
Daffin sudah rapi dengan outfit casualnya ia bersiap akan pergi ke club. Daffin keluar kamar melewati depan kamar istrinya. Ia menatap pintu kamar istrinya kemudian melanjutkan jalannya.
Daffin melajukan mobilnya, ia akan singgah dulu di restoran untuk makan malam, seorang suami yang mengabaikan istrinya. Daffin memasuki restoran sendirian.
Duduk di restoran dan memesan makan malam. Seorang wanita mendekati mejanya.
"Kau Daffin kan?"
Daffin mengernyitkan alisnya. Ia sama sekali tidak mengenal gadis yang sok akrab itu.
"Iya benar, kamu Daffin apa kamu lupa? Aku Rhea teman SMA yang dulu pernah kamu tolongin waktu ada murid sekolah lain mengganguku di jalan,"
Daffin mengingatnya saat itu ia sedang menaiki motor sport nya untuk pulang ke rumah, tetapi di jalanan ia melihat segerombolan anak laki-laki sebaya dirinya sedang mengganggu seorang gadis yang ketakutan. Daffin menolong gadis itu dan membawa gadis itu pulang menaiki motornya ke rumah gadis itu.
Daffin hanya menganggukkan kepalanya ia menjawab pertanyaan gadis di depannya ini.
"Apa kabar Fin? Aku sudah memasukkan lamaran di kantor mu sebagai sekretaris, apakah aku di terima? Aku mendengar di kantor mu seorang wanita susah untuk menduduki jabatan penting, apakah aku bisa minta tolong ke kamu Fin? Ayahku sakit keras aku butuh biaya untuk pengobatannya,"
Daffin mendengarkan semua kata-kata wanita tersebut. Dirinya memang sedang mencari seorang sekretaris karena ia belum memiliki sekretaris pengganti di kantor nya yang sebelumnya seorang lelaki sudah mengundurkan diri karena pindah ke kota lain.
"Baiklah kau datangi saja ke bagian HRD, katakan jika aku merekomendasikan dirimu,"
Si gadis tersebut tersenyum lebar. Ia langsung menarik tangan Daffin dan menggenggamnya.
"Terimakasih Fin, kamu baik sekali, apa aku boleh ikut makan denganmu di meja ini,"
Daffin hanya menganggukkan kepalanya. Ia hanya makan sebentar saja setelah itu ia akan ke club.
Gadis agresif tersebut tersenyum licik dengan bibir yang di tariknya. Ia memang sudah mengincar Daffin dari masa sekolah apalagi setelah Daffin menolongnya dari segerombolan murid laki-laki sekolah lain di jalan.
seandainya ingin minum wine dingin, biasanya botol wine direndam ke batu es baru dinikmati..
kecuali whiski atau beer br bisa dicemplungin es batu.
masukan dikit gak papa ya kak... semngata terus yaa..