Terpaksa menyetujui pernikahan antara ibu dan kekasihnya adalah sebuah kebodohan terbesar yang telah seorang gadis itu lakukan. Dimana kebodohan itu justru membuka kembali luka lama, tidak hanya itu, kenyataan yang selama ini ibunya tutupi terbongkar dan kegilaan kekasihnya itu yang membuat hidup seorang gadis itu hilang arah dalam menentukan kehidupannya.
"Kamu tetap kekasihku Siren, dan Anita ibumu tetap istriku."
"Mama egois, mengkhawatirkan anak haram itu. Tanpa memperdulikan keberadaan aku."
"Kamu hanya kesalahan yang selalu merusak kebahagiaan Mama."
Sirena Dzakiya Thalita, seorang gadis cantik, manis, serta cerdas. Orang-orang menganggap Siren sangat beruntung, memiliki Ibu yang sangat pengertian, memiliki kekasih seorang Dosen yang sangat penyayang, serta harta dan tahta yang dimilikinya. Namun semuanya hilang lenyap begitu saja saat malam itu malam dimana kekasihnya meminta izin menikahi wanita yang tak lain adalah ibu dari Siren sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma Tiana *Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Sakit & Ayah
Rintik hujan di malam yang sunyi ini mendukung suasana hati Siren, kini Siren tengah berjalan gontai di bawah rintik hujan, dia tidak peduli dengan baju nya yang sudah basah karena air hujan. Entah akan pergi kemana Siren, yang di inginkan saat ini hanyalah ketenangan setelah perdebatan siang tadi di kampus. Siren terus berjalan tanpa memperdulikan sekeliling nya, tanpa sadar di depan sana terlihat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, mobil itu terus saja membunyikan klakson agar Siren menepi ke pinggir jalan. Namun sepertinya Siren menulikan pendengaran nya itu, dia tidak peduli yang dia inginkan saat ini hanyalah ketenangan. Sampai pada akhirnya...
Brak.
Mobil itu menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan, lalu bagaimana keadaan Siren? Kini Siren meringkuk seraya menangis dia benar-benar capek dengan semua drama yang selalu muncul di hidupnya. Tidak bisakah sebentar saja dia merasakan kebahagiaan?
"Hei nak, kamu tidak papa?" tanya seorang pria paruh baya
Siren tidak menjawabnya dia hanya diam menunduk nangis, pria itu bingung harus berbuat apa, terlebih saat ini sudah larut malam. Bagaimana jika gadis itu sakit karena hujan yang terus mengguyur, dan yang lebih ditakuti ada orang jahat yang memanfaatkan keadaan. Pria itu terus membujuk agar Siren mau beranjak dari jalan.
"Nak, jangan diam saja ayo bangun nanti kamu sakit kalau diam terus disini."
Siren menengok ke arah pria paruh baya itu, Siren mengerjapkan mata beberapa kali, sampai dia bisa melihat dengan jelas pria itu. Betapa kagetnya Siren saat tau jika pria itu adalah...
"Ayah."
Pria itu terkejut saat mendengar ucapan gadis didepannya ini.
"Ayah, Ayah Siren kangen banget sama, Ayah," ucap Siren seraya memeluk tubuh pria itu dengan erat
"Siren? Nak ini kamu, kamu sudah sebesar ini, ya ampun Ayah juga kangen sama kamu," pria itu membalas pelukan Siren tak kalah erat, namun pria itu heran saat merasakan pelukan Siren tak seerat tadi.
"Nak, hei Siren."
Pria itu tak mendapat jawaban dari Siren, ah panggil saja pria itu Bagas. Ya Bagaskara Rendra Priawan, Ayah kandung dari seorang Sirena Dzakiya Thalita. Bagas merasa ada yang tidak beres dengan keadaan Siren dan ya dugaannya benar, saat ini Siren tak sadarkan diri di dalam pelukan nya, Bagas panik tentu saja, dia segera membawa Siren kedalam mobil untung saja mobil yang dia tabrakan masih bisa menyala dengan baik, dan bisa membawa Siren ke rumah sakit.
"Bertahan sayang, Ayah minta maaf."
Bagas mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi tidak peduli dengan pengendara lain, karena saat ini keadaan Siren lah yang lebih penting. Tidak sampai setengah jam kini Bagas telah sampai di rumah sakit dan segera memanggil suster.
"Suster, suster tolong anak saya!" teriak Bagas
Suster yang tengah jaga malam segera menyiapkan kursi roda untuk membawa Siren ke UGD. Bagas terus menggenggam tangan Siren dengan erat, dia tidak ingin kehilangan Siren untuk kedua kalinya, meskipun kejadian 19 tahun yang lalu memang karenanya, tapi sungguh dia sangat menyayangi Siren, saat itu dia benar-benar terpaksa melakukan sesuatu yang membuat Siren dan Anita benci kepadanya.
"Mohon maaf pak, bapak tidak bisa ikut masuk kedalam. Untuk keadaan pasien akan kami kabarkan kepada bapak saat pasien telah di periksa oleh dokter," ujar suster, Bagas terpaksa melepaskan genggaman tangannya dan menunggu Siren dengan perasaan gusar.
"Ayah harap kamu baik-baik aja sayang."
*
"Sayang, soal tadi siang aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja menampar Siren."
Anita menghela nafasnya, dia tidak marah ataupun kecewa kepada Saga, karena memang pantas Siren mendapat tamparan keras dari Saga, karena Siren telah mengatakan jika anak yang berada di kandungan nya ini adalah anak haram.
"Gak papa Mas, dia memang pantas mendapatkan itu."
Saga benar-benar tidak habis pikir, Anita akan bersikap seperti ini. Padahal saat dia menampar Siren itu semua hanya untuk melihat reaksi Anita, apa dia masih peduli dengan Siren atau tidak. Namun kenyataannya Anita memang sudah tidak peduli dengan Siren, dimana Siren adalah anak kandung dari Anita.
"Dia pantas mendapatkan tamparan itu, karena sudah mengatakan jika anak aku ini anak haram, aku tau anak ini hadir di saat yang tidak tepat, tapi tidak seharusnya dia berkata seperti itu," ungkap Anita
Saga tidak menjawab perkataan Anita dia segera mengalihkan pembicaraan, untuk tidak membahas masalah siang tadi bersama Siren.
"Eh iya sayang, kamu mau sesuatu gak?" tanya Saga
"Eum kayaknya aku mau pempek Palembang yang ada di pinggir jalan rumah sakit pelita itu loh, Mas," jawab Anita dengan mata yang berbinar
"Yang deket rumah sakit pelita berarti di jalan selatan itu kan ya, ah oke aku beli ya."
"Aku ikut ya? Please," mohon Anita
"Ini udah malam, gak baik udara malam buat ibu hamil kaya kamu," jawab Saga
"Yah, yaudah deh tapi beliin yang banyak ya hehe," timpal Anita
"Uhh istri siapa si ini gemesh banget, aku beliin yang banyak oke. Bye sayang."
*
kriet.
Bagas membuka pintu ruang rawat Siren, dia berjalan dengan gontai Bagas duduk di samping brangkar Siren lalu menggenggam tangan Siren yang belum siuman, dokter bilang kondisi Siren akan baik-baik saja, saat ini Siren hanya kecapekan dan terlalu banyak tekanan yang membuat dia drop ditambah tadi Siren dengan sengaja berjalan disaat sedang hujan.
"Bangun sayang, Ayah nunggu kamu."
Bagas tersentak saat tiba-tiba jari tangan Siren bergerak, dan mata cantik itu perlahan terbuka namun sepertinya dia sedang menormalkan penglihatannya sehingga Siren terpejam kembali saat Bagas memanggil nya.
"Siren, ini Ayah nak," panggil Bagas
"Ma-ma Mam," racau Siren
"Ini Ayah sayang, bangun yuk," timpal Bagas
Siren perlahan membuka matanya dan menatap Bagas yang berada disamping nya, Siren tidak berbicara sepatah katapun dia hanya menatap Bagas dengan tatapan yang sulit di artikan, dia tidak percaya jika saat ini dihadapannya terdapat Ayah kandungnya. Ayah yang dulu pernah menorehkan luka yang begitu dalam di hatinya, Ayah yang telah meninggalkan dia dan ibunya. Meski kecewa dengan sang Ayah, tapi Siren tidak bisa mengelak jika saat ini dia memang sedang membutuhkan seseorang yang bisa dia anggap sebagai rumah.
"Ayah, ini beneran Ayah?" tanya Siren seraya mengelus pipi Bagas
"Iya sayang ini Ayah. Ayah minta maaf Siren, maaf atas perlakuan Ayah 19 tahun lalu."
"Ayah Siren rindu Ayah."
Bagas merengkuh badan Siren dia menangis saat melihat Siren yang mengatakan jika dia rindu dengannya. Sudah lama sekali dia tidak memeluk tubuh kecil putrinya ini. Putri yang dia terlantar kan dulu, kini telah tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik nan manis. Namun sepertinya putri kecil nya ini menanggung beban yang begitu berat. Terlihat dari matanya yang sayu. Bagas melepaskan pelukan nya, dia menatap Siren dengan senyuman.
"Siren, kamu mau kabarin seseorang?" tanya Bagas
Siren menggeleng kan kepalanya tapi beberapa detik kemudian mengangguk kan kepalanya, Bagas terkekeh gemas melihat kelakuan anaknya itu.
"Mau kabarin siapa? Mama kamu," tanya Bagas sekali lagi
"Enggak, aku mau ngabarin Oliv, sahabat aku.
"Loh kenapa gak Mama kamu aja, Siren," heran Bagas
"Jangan sebut dia dulu bisakan yah," ujar Siren dengan wajah yang datar, Bagas hanya bisa menurut dengan perintah Siren, ah sepertinya hubungan antara Siren dan Mama nya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Setelah memberi kabar kepada Oliv, tiba-tiba Siren bertanya kepada Bagas, pertanyaan Siren membuat Bagas terdiam seribu bahasa.
"Yah, kenapa baru kembali saat ini. Kenapa Ayah gak datang saat Mama belum menikah. Kenapa Yah?"
BERSAMBUNG..
Jangan lupa like, share dan coment💙