"Cih, sekalinya udah rusak ya tetep aja rusak!"
"Sok suci!!"
"berjilbab tapi kelakuan kayak orang nggak punya adab!!"
**
Setiap hari selalu saja ada kata-kata hinaan yang keluar dari mulut orang-orang di sekitarnya untuk menghina dan menjatuhkan mental ANINDITA RAHMA.
Gadis yang terkenal badung dan suka melepas-pakai hijab sesukanya.
Namun selepas insiden terakhir kali yang membuatnya harus kehilangan orang tuanya membuat gadis badung itu sadar dan mulai berhijrah.
Insiden apakah itu ? yuk baca dan ikuti kisah Anindita di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMAK DIBA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Anindita" gumamnya pelan.
"Mari lewat sini Pak Adrian" ucap seorang manager pada laki-laki yang mengenakan setelan jas itu.
"Mall Citra Raya ini termasuk Mall yang paling banyak pengunjungnya karena paling lengkap dan juga ada bioskop di lantai 4" jelasnya pada Adrian.
Adrian hanya mengangguk samar saat manager Mall tersebut menjelaskan dari A sampai Z keadaan Mall Citra Raya tersebut. Fokusnya telah hilang dan kini matanya kembali mencari keberadaan Anindita yang telah hilang dari pandangannya.
*
"Kenapa Nin?" Tanya Dara yang melihat Anin terlihat seperti orang yang sedang bersembunyi.
"Ee. . Enggak, nggak apa-apa. Kamu udah dapet bajunya ?" Anin balik bertanya.untuk mengalihkan pembicaraan.
"Belum, kita coba cari di toko yang lainnya aja yuk" ajak Dara.
Anindita melihat ke arah luar untuk memastikan Adrian tidak ada lagi di sekitar sana.
"Yuk"
Plak
"Awh astaga naga Nenek, sakit tahu!" Sungut Gavin.
"Makanya kalau di ajak ngobrol tuh dengerin ! Kamu lihat apa sih tadi, kok kayaknya girang banget?" Tanya Nenek Kinanti sembari melihat ke seluruh arah yang cucunya lihat tadi.
"Nggak lihat apa-apa kok, udah ayo katanya mau baju baru" rangkul Gavin pada Neneknya.
Gavin sengaja merangkul Neneknya da membawanya memasuki toko baju yang di masuki Anin.
"Nenek lihat-lihat dulu deh, pilihin yang paling bagus buat Mama sama Neysa" ujar Gavin.
"Eits, mau ke mama kamu?" Tanya Nenek Kinanti menyelidik sembari memegang tangan Gavin.
"Mau nyapa temen Nek, tuh" tunjuk Gavin pada Anin yang sedang melihat gamis coklat polos.
"Temen apa Demen ? Nenek nggak percaya kamu punya temen cantik binti sholeha kayak gitu" cemoohnya.
Gavin memutar bola matanya malas, belum sempat Gavin menjawab cemoohan Neneknya, Dara dan juga Anindita berjalan ke arah rak yang ada di belakang Gavin dan juga Neneknya.
"Hai! Kita ketemu lagi" Sapa Gavin melambaikan tangannya pada Anin.
Anin menaikkan sebelah alisnya lalu menarik tangan Dara melewati Gavin begitu saja tanpa menjawab sapaannya.
Wajah Nenek Kinanti bahkan sampai memerah karena menahan tawa, apalagi saat melihat wajah cucunya yang terlihat kesal karena sapaannya tak di gubris.
"Kalau mau ketawa ya ketawa aja Nek jangan di tahan ntar jadi kentut" cibir Gavin.
"Wuahahahaha maap maap, aduh duh duh ahahahaa"
Gavin meninggalkan Neneknya yang tertawa terbahak-bahak.
Setelah Gavin pergi dan tawanya mereda, Nenek Kinanti menghampiri Anindita dan Dara yang berada di depan kasir.
"Assalamualaikum Nak"
"Waalaikumussalam Bu" jawab Dara dan Anindita bersamaan.
"Kalian kenal dengan cucu saya Gavin ?" Tanya Nenek Kinanti.
"Maaf maaf, perkenalkan nama saya Kinanti panggil saja Nenek Kinanti. Laki-laki gagah yang menyapa kalian tadi adalah cucu saya" sambungnya menjelaskan karena melihat Anindita dan Dara terlihat bingung.
Dara menyenggol bahu Anindita pelan karena Dara yakin kalau Anindita pasti mengenal laki-laki yang menyapanya tadi.
"Saya tidak mengenalnya Bu, maaf. Saya hanya pernah melihatnya sekali saat bersama Mas Juna" jawab Anin sopan.
"Oh kalian temannya Juna to"
"Bukan bu, kami hanya anak yang Kos di rumah Ibunya Mas Juna. Maaf kami permisi dulu bu" pamit Anin.
"Silahkan silahkan"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Nenek Kinanti mengamati punggung Anin dan Dara yang semakin menjauh, senyumnya tersungging melihat wajah cantik dan teduh kedua gadis berhijab itu.
"Andai saja salah satu dari mereka mau jadi cucu mantu ku" lirih Nenek Kinanti.
*
Setelah lelah berputar-putar melihat-lihat baju, tas dan sepatu akhirnya Anindita dan Dara memutuskkan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum lanjut untuk belanja bulanan di supermarket yang ada di lantai 1.
"Mau makan apa Dar?" Tanya Anin.
"Nasi ayam bakar aja deh, minumnya es jeruk"
"Oke, kamu cari tempat duduk dulu deh biar aku aja yang antri" saran Anin karena di jam makan siang seperti ini foodcourt begitu penuh.
Dara mengangguk lalu bergegas mencari tempat duduk.
Beberapa menit kemudian tiba giliran Anin untuk memesan, usai memesan dan mengambil nomor meja Anin pergi ke kedai ice cream.
"Mbak sunday strawberry 1 ya"
"Baik Kak, tunggu sebentar"
Anin mengamati pegawai yang begitu piawai menyiapakan pesanannya tersebut hingga tiba-tiba dia di kejutkan dengan suara seseorang yang tak ingin dia dengar dan lihat lagi.
"Nin!"
Deg !
Tes
Air mata Anin tiba-tiba terjatuh namun dengan cepat Anin menghapusnya.
"Ini pesannya Kak" pegawai itu memberikan pesanan yang Anin pesan tadi.
"Makasih" jawab Anin tersenyum sekilas lalu segera membalikkan tubuhnya dengan cepat setelah mengambil pesannya.
"Maaf, anda kenal saya ?" Tanya Anin menatap tajam laki-laki di hadapannya tersebut.
"Nin! Sorry!" Adrian mencoba meraih tangan Anin namun dengan cepat Anin memundurkan langkahnya.
Ya, laki-laki itu adalah Adrian. Laki-laki yang pernah begitu ia percaya dan juga pernah ia kagumi, namun kini tidak lagi setelah Adrian menghianati Ayahnya dan membuat Orang tuanya meninggal.
Tangan Anin mulai gemetar, air matanya mulai mengembang di pelupuk mata, hanya mampu menundukkan kepala karena gejolak emosi yang tengah dia rasakan saat ini, dia hanya takut emosinya meledak tiba-tiba dan membuat dirinya sendiri malu di depan umum.
"Permisi, anda siapa?"
"Seharusnya saya yang bertanya anda siapa ? Kenapa menghalangi saya berbicara dengan Adik saya?"
"Adik ?" Tanya Gavin setengah tak percaya.
Gavin membalikkan tubuhnya dan memegang kedua pundak Anin "Dia Kakak Lo ?"
"Bukan" jawab Anin singkat sembari melepaskan kedua tangan Gavin dari pundaknya.
" ayo pergi" ajak Gavin sembari menyeret Anin pergi.
Anin membiarkan Gavin membawanya pergi, dalam hati ia bersyukur karena jika tidak ada Gavin entah bagaimana jadinya dia yang harus terus berhadapan dengan Adrian.
"Makasih"
Anin menghentikan langkahnya dan melepaskan tangannya yang di pegang Gavin dengan erat.
Gavin tak menjawab ucapan terimakasih Anindita, dia hanya melihat Anindita dengan tatapan tajam.
"Lain kali jangan pernah tundukkan kepala lo, itu hanya akan membuat lo kayak pengecut" ujarnya dengan nada dingin membuat senyum Anindita terlihat getir.
Anindita kembali masuk ke dalam untuk mencari Dara, sedangkan Gavin hanya melihat punggung Anin yang semakin menjauh.
Ada rasa marah dan juga kesal saat melihat ada laki-laki lain yang ada di dekat Anin. Apalagi saat melihat Anin begitu lemah di hadapan laki-laki tadi, rasa kesalnya berubah menjadi amarah.
Ngapain gue mikirin dia, seharusnya tadi gue juga nggak nolongin dia. Batin Gavin lalu berlalu pergi.
kabar dan kesalah pahaman dr kakak Anin blm juga kebuka Thor,,,,🥺🥺
semangat Thor,,,, semoga sehat selalu juga,,,,ditunggu karya selanjutnya,,,,,
semangat kak,, semoga kakaknya sehat " ,,,,,🤲
baru aja hilang kesalah pahaman eeehhh ada cobaan lagi,,,,
jangan " saingan bang Gavin lagi,,,,, hayo loh nin,,,,,
semakin gk sabar nunggu up nya Thor,,,, 💪
semoga kakaknya juga senantiasa diberikan kesehatan,,,
tetap semangat kak,,,,,💪
Lo nya aja yg gk mau ngerti,,, wanita tu ya cari yg seiman lah,,,, kamu aja masih ragu dgn agamamu,,,