"Aku dibenci nggak mati, kamu gak suka aku juga nggak tutup usia, selagi rasa nggak suka dan bencimu tidak menutup pintu rezekiku, aku tidak perduli." celetuk Joanna Eden dengan tatapan santai seolah tanpa beban dosa.
Awal mulanya dia masuk kedalam dunia mafia hanya karena sebuah misi pertolongan dengan membantu kakaknya Jordan Eden yang berprofesi sebagai anggota Kepolisian untuk melakukan tipu daya agar bisa meringkus seorang Bos Mafia, tapi siapa sangka hal itu justru membuat Joanna terjerumus dalam gelombang asmara, lalu bagaimanakah kisah cinta Joanna? akankah dia bahagia atau nyawa yang akan jadi taruhannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6.Boneka Mainan?
Raut wajah Anna terlihat sumringah saat jam kuliahnya sudah selesai, seolah beban dikedua pundaknya sudah terangkat dan terbang darinya.
Tulilut
Tulilut
Tulilut
Tiba-tiba ponsel Anna berdering dari dalam sakunya, karena tidak ada orang spesial yang dia tunggu kabar dalam kesehariannya, Anna meraih ponselnya dengan ogah-ogahan, apalagi saat nama Abangnya tertera dilayar ponsel miliknya, rasa malas mulai melanda, namun demi kesejahteraan hidupnya, dia tetap menjawab panggilan itu.
"Iya Bang, ada apa?"
"Judes amat, lagi datang bulan Loe!" Ucap Jordan yang tak kalah sewot saat mendengar suara adiknya dari balik telpon.
"Ckk... Hallo Abang sayang, apakah ada hal penting yang harus Kakanda sampaikan kepada diriku? sampai Kakanda harus repot-repot menghubungi Adinda yang sedang sibuk ini?" Dan akhirnya suara Anna berubah menjadi centil seperti sedang menggoda seorang pria.
"Hoeerrrk! Pengen muntah aku jadinya!" Namun hal itu justru membuat Jordan seolah mual dan jijik karenanya.
"Kalau begitu cepat katakan keperluanmu, aku sedang lapar ini! Jangan sampai Abang aku jadikan santapan siangku kali ini!" Teriak Anna yang semakin kesal saat menghadapi sikap Abangnya yang selalu membully dirinya.
"Ckk, berisik banget kamu ini, bisa pekak telinga Abang mendengarmu! Aku hanya ingin menawarkan hadiah untukmu, tapi kalau kamu nggak mau ya sudah, aku matikan saja panggilanku sekarang!"
Wow, tumben? Kenapa sawan apa ini Abangku?
"Eit.. Eits, tunggu Abang gantengku, jangan marah-marah gitu dong, nanti gantengnya hilang, ayo coba katakan hadiah apa yang ingin Abang berikan kepadaku?"
Begitu mendengar kata hadiah, Anna langsung sumringah dan mulai mengubah nada bicaranya dengan lembut.
"Kamu mau apa?" Tanya Jordan seketika, yang membuat Anna seolah masih belum bisa percaya apakah itu suara Abangnya, berkali-kali dia memastikan nama yang tertera dilayar ponselnya agar tidak salah bicara.
"Abang mau aku yang memilih sendiri, wow.. Abang luar biasa sekali." Anna sampai terheran-heran sendiri jadinya.
"Cepat katakan sebelum Abang berubah pikiran!"
"Ponsel gigitan Apel yang terbaru!" Jawab Anna dengan cepat, karena dia memang menginginkan hal itu, apalagi teman saingan di Kampusnya yang suka pamer harta kekayaan itu baru saja membelinya dan memang sangat bagus sekali pikirnya.
"Okey."
Tanpa alasan, tanpa kata tanya, apalagi kata umpatan, Jordan mengiyakan permintaan Anna dengan mudahnya, padahal harga ponsel itu tidak murah.
"HAH? beneran boleh ini Bang?" Tanya Anna kembali yang seolah seperti sedang bermimpi.
"Tapi ada syaratnya."
"Katakan Bang, apapun itu akan aku jabani!" Jawab Anna yang seolah sudah dibutakan oleh ponsel keluaran terbaru itu.
"Bantu Abang menggaet satu pria, untuk mencari info tentangnya."
"Apa dia tampan?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Anna dengan cepat, tanpa memperdulikan resiko dan yang lainnya.
"Kamu tidak perlu memikirkan ketampanannya, karena aku menyuruhmu mencari informasi, bukan untuk mengencaninya, paham kamu!" Selalu saja ada perkataan yang membuat darah Jordan naik drastis saat berbincang dengan Anna.
"Paham Bang, pokoknya siap 86!" Dia tidak memikirkan hal lain, yang ada diotaknya kini adalah ponsel mahal itu, lagipula bukan hal yang sulit baginya untuk menggaet seorang pria, apalagi ada Abangnya yang akan menjadi dekengan dibalik layar baginya.
"Cih, kenapa kamu yakin sekali, apa kamu tidak takut, dia pria yang cukup berbahaya lho?" Ucap Jordan yang hanya bisa terheran sendiri melihat adiknya yang dengan mudahnya menerima tawaran itu.
"Karena aku selalu percaya dengan Abang, pasti Abang akan melindungiku bukan?"
Maafkan Abangmu ini Dek, saat ini Abang pun terpaksa melakukannya.
"Tentu saja, apa kamu pernah melihat Abang kalah dalam pertandingan?" Celetuk Jordan yang seolah menghibur diri.
"Aku percayakan semua dengan Abang, yang penting ponsel terbarunya jangan lupa disiapkan!"
"Pilih ponsel yang kamu suka, jika sudah menemukan tempatnya Abang akan menemuimu untuk membelikannya."
"Sekarang boleh Bang? kelasku sudah selesai ini?" Ucap Anna yang sudah tidak sabar, karena selama ini dia tidak berani walau hanya bermimpi saja menggunakanponsel merk itu.
"Hmm, share lokasi saja, Abang akan segera datang."
"Yuhuuu! Asiap Abangku gantengku!"
Betapa bahagianya hati seorang Anna, dia tidak pernah menyangka jika Abangnya mau memberikan hadiah ponsel dengan harga semahal itu untuknya, sedangkan ponsel Abangnya saja hanya ponsel android biasa dan selalu melarang Anna membeli ponsel mahal karena katanya tidak ada faedahnya, yang penting bisa untuk komunikasi itu sudah cukup.
Dengan semangat empat lima, Anna pergi kesebuah pusat perbelanjaan terbesar dikota itu, sambil menunggu kedatangan Abangnya untuk memberikan hadiah untuknya.
"Hiks.. hiks."
Namun saat melewati sebuah Food Court yang ada dilantai satu pusat perbelanjaan itu, dia mendengar suara isakan tangis dari seorang wanita.
"Mbak, are you okey?" Karena saat ini siang hari, jadi Anna tidak takut, dan tidak mencurigai kalau wanita itu adalah sundel bolong, karena tidak ada sundel bolong yang keluar disiang bolong.
"Hmm, maaf apa saya menggangu?" Jawab wanita itu sambil mengusap air matanya.
"Bukan menggangu Mbak, tapi jika berkenan saya ingin menawarkan bantuan, apa ada yang bisa saya bantu, atau apa anda kehilangan sesuatu?" Tanya Anna sambil duduk disampingnya.
"Hmm." Dia hanya menggangukkan kepalanya dengan cepat.
"Apa itu Mbak, biar nanti saya bantu tanya keruang informasi."
"Kekasihku."
"HAH?"
Kedua mata Anna langsung terbelalak, dia pikir wanita itu kehilangan barang, namun ternyata kehilangan kekasihnya.
"Dia selingkuh dengan wanita lain." Air matanya kembali menetes, terlihat sekali dia begitu lemah dan sedih saat ini.
"Astaga, Mbak nggak salah lihat kan,mungkin bukan pacar mbak kali yang selingkuh?" Anna mencoba menghiburnya.
"Enggak, dia ada diujung sana yang sedang makan berdua pakai baju couple berwarna putih." Namun jari telunjuk wanita itu terarah kepada sepasang kekasih yang sedang suap-suapan makanan satu sama lain.
Dasar lelaki tak guna, tapi kenapa wanita ini lemah sekali, huft.. Aku harus bertindak ini!
"Okey, kalau begitu biar aku bantu menyelesaikan masalahnya." Anna langsung menyingsingkan kedua lengannya dan berjalan kearah sepasang kekasih diujung food court itu.
"Eh, mau kemana?" Wanita itu langsung ikut berjalan terburu-buru untuk mengejar Anna.
"Jika perkataan lembut kita tidak menyelesaikan masalah, labrak saja dia, setidaknya dia mendapatkan pelajaran yang hebat hari ini!"
"Tapi Mbak--"
"Jangan lemah Mbak, orang kalau udah selingkuh susah sembuhnya, kalau belum karma turun kepadanya." Ujar Anna yang sok tahu segalanya, padahal dia juga tidak terlalu berpengalaman akan hal itu, namun saat melihat keterpurukan wanita itu Anna merasa prihatin sebagai sesama kaum hawa.
"Ta-tapi kalau karmanya belum turun gimana Mbak?"
"Kita yang akan langsung turun tangan!"
Byuuurr!
Satu gelas minuman bersoda dan berwarna merah itu membasahi baju pria itu, sehingga terlihat sekali noda merahnya, karena baju pria itu berwarna putih.
"Hap, heii... Siapa kamu!" Dia mengusap wajahnya yang ikut basah karena air soda itu.
"Siapa aku, kamu tidak perlu tahu, tapi satu yang pasti, kalau kamu tidak bisa membahagiakan seorang wanita, setidaknya jangan pernah menyakitinya, jika memang kamu sudah bosan dengannya bicara baik-baik, jangan jadikan selingkuh sebagai solusimu." Ucap Anna, sedangkan wanita yang dia tolong memilih bersembunyi dibelakangnya.
"Itu bukan urusanmu!" Teriak pria itu yang mulai emosi.
"Jelas! Aku pun tidak mau berurusan dengan pria modelan kayak kamu, sudah tampang pas-pasan, hati busuk pula, bahkan sepertinya anjingpun ogah makan bagkaimu!" Hujat Anna dengan tatapan bengisnya, dia memang paling benci dengan pria yang suka berselingkuh walau dengan alasan apapun.
"Hei, tutup mulutmu!"
Plak!
Tidak cukup dengan mengguyur air soda, Anna bahkan menampar wajah pria itu.
"Mulutmu itu yang harus disumbat, agar tidak ada lagi korban dari Buaya sepertimu!" Hardik Anna sambil memundurkan langkahnya.
"Haish, awas kamu ya!"
Sreeeek!
Saat pria itu ingin berlari mendekat kearah Anna, seketika Anna menendang meja yang ada dihadapannya, sehingga menghalangi langkah pria yang sedang tersulut api kemarahan dan rasa malu karena aibnya dibongkar didepan umum itu.
"Sudah cukup Mbak, malu dilihatin banyak orang, ayo kita pergi darisini!" Dan ketika kondisi sudah rusuh, wanita itu langsung menarik lengan Anna.
"Tapi keren nggak gayaku? Sudah mewakilkan rasa sakit hatimu belum?" Tanya Anna dengan tingkah gilanya.
"Mbak memang luar biasa, terima kasih ya Mbak!" Jawab wanita itu sambil terus menarik lengan Anna agar menjauh dari tempat itu.
"Hmm, jangan terlalu bersedih, pria jahat seperti itu memang tidak panas untuk dipertahankan, lebih baik dilepaskan, karena modal tampan saja tidak menjamin satu kebahagiaan."
"Iya Mbak, aku pun setuju dengan pendapat Mbak."
"Kalau begitu toss dulu kita, haha!"
Akhirnya dua wanita itu bertos ria sambil berlari dengan senyum kepuasan tersendiri, karena sudah memberikan karma langsung kepada pria itu, walau mungkin hanya seujung kuku jika dibandingkan dengan karma dari sang Pencipta Alam Semesta.
"Woah, gadis itu imut sekali."
"Siap Sir, apa anda berminat dengan gadis itu? Saya akan mengurusnya sekarang juga, jika anda berkenan." Anak buah pria itu seolah siap siaga dengan segala perintah dari pria yang kini menampilkan senyum termanisnya itu, padahal dia jarang tersenyum sepanjang hidupnya.
"Emm, tidak perlu! aku hanya sekilas mengaguminya saja, karena gadis imut seperti itu tidak pantas untuk dijadikan Boneka mainanku."
Dari salah satu sudut Food Court itu, ada seorang pria tampan dan beberapa rekannya yang menggunakan pakaian serba hitam, sedang asyik tersenyum-senyum sendiri sejak melihat kedatangan Joanna ketempat itu, apalagi saat dia melakukan aksi gilanya terhadap sepasang kekasih yang sedang menikmati hidangan romantisnya, tak jauh dari tempat duduknya kini.
*Sekalipun kita tidak disukai, kita hanya tidak disukai oleh manusia, lalu mengapa kita harus menderita? Sekalipun kita dipuja dan dicintai, kita hanya dipuja dan dicintai oleh manusia, lalu mengapa kita harus bangga*?
semangat berkarya thor...
ditunggu karya selanjutnya
yaaaa aammpuunnnnn...
kocak abiz mereka itu...
btwxakhirnya up date...
mkasi byak ya aa kaakkkk
❤❤❤❤