"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 06
Mas Firman membawaku berkeliling, entah kemana tujuannya. Sepanjang jalan, aku hanya bisa menutup wajah dan terisak pelan. Dia tak menggangguku, Mas Firman bahkan membiarkanku meluapkan tangis meski mungkin mengganggu telinganya.
"Menangis saja sepuasmu, Harsa memang sebreng-sek itu," serunya terlihat menahan emosi.
Tangisku mereda, mengusap wajahku kasar lalu menatap Mas Firman.
"Sebenarnya Mas Harsa orang yang seperti apa?"
Mas Firman terlihat menghela napas panjang, lalu melirikku sekilas.
"Waktu itu, aku sedang merintis pabrik dan lebih sering pulang malam. Aku mungkin tak memperhatikan Naura, apalagi saat itu dia tengah hamil. Aku bukan sedang lari dari tanggung jawab, tapi kenyataan itu menghantam telak dadaku, harga diriku sebagai suami terluka."
"Maksudnya, Mas?"
"Istriku namanya Naura, dan anaknya Haikal!"
"Anaknya, atau anak kalian?" aku sedikit terkejut dengan pernyataan Mas Firman yang tak mengakui keberadaan Haikal.
"Anak Naura dan Harsa!" tegas Mas Firman membuatku terhenyak, syok.
"Anak Mas Harsa?" tanyaku berulang. Tubuhku menegang, syok sekaligus terkejut dengan kenyataan yang keluar dari bibir Mas Firman.
"Ya, Haikal anak Harsa dan Naura!"
"Lalu, kenapa mereka tidak menikah setelah Mas Firman dan Mbak Naura bercerai? Kenapa Mas Harsa malah mendekatiku dan bersikap seolah... Ahh sial, apa dia menipuku?" Air mataku kembali menetes, tak menyangka akan ditipu oleh Mas Harsa sejauh ini. Selama ini, ia selalu memintaku agar tak berlebihan memberi perhatian pada Mbak Naura, dan ternyata ini? Ini rahasia besar yang ia sembunyikan? Sungguh bang-satt sekali.
Mas Firman menepikan mobil dan berhenti, lalu menatapku iba.
"Hanin, mereka tak direstui Ibunya Harsa. Kamu tahu kan kalau Naura adalah mantan istriku? Oh ya, ngomong-ngomong kamu mau kemana untuk menghibur diri?" tanya Mas Firman membuyarkan lamunanku. Ia malah menyodorkan sapu tangan miliknya ke pangkuanku.
"Kemana aja, asal jangan aneh-aneh, Mas! Aku sumpek, pikiranku masih pusing mengaitkan ini semua. Apalagi selama ini Mas Harsa terlihat polos." aku mengusap air mataku yang tak sederas tadi, mungkin saking kecewanya sampai bingung harus meluapkan sedihku seperti apa. Ini terlalu menyakitkan dan aku tak bisa mengendalikan rasa kecewaku.
"Terlihat polos dan mencintaimu? Hanin- Hanin, hidup lagi capek-capeknya malah dikhianati kekasih. Nasibmu jelek banget, kenal Harsa dimana sih?"
"Aku,--" Aku terdiam, tak mungkin juga aku cerita kalau Mbak Naura yang mengenalkan kami.
"Kenal dimana?" tanya ulang Mas Firman seolah ingin tahu.
"Di jalan, gak sengaja juga." bingung menjawab apa, aku hanya bisa menjawab asal.
Kembali melajukan mobilnya, Mas Firman membawaku ke dufan. Ini sedikit aneh, tapi aku malah menurut mengikuti langkahnya menuju loket masuk.
"Ngapain kita kesini, Mas? Aku bukan anak kecil."
"Memang! Siapa yang bilang kamu anak kecil, hm?" dia mengusap rambutku dan tersenyum tipis.
Ya Tuhan, aku hanya bisa berdoa jangan sampai terpesona pada Mas Firman yang notabenenya suami orang.
"Mikir apa? Jangan mikirin Marsya, dia gak akan lagi melabrak kamu! kita bahkan sudah memasukkan berkas cerai ke pengadilan."
Glek...
"Mas Firman beneran mau cerai? Bukannya Mbak Marsya lagi hamil?"
"Hahahaha, memang. Justru karena itu, karena dia hamil anak laki-laki lain."
"Mas jangan asal bicara, memangnya Mas sudah tes DNA?"
"Marsya sendiri yang mengakuinya, dia yang minta cerai. Aku ini sama bodohnya dengan kamu, kan? Hanin, ada kalanya pasangan itu mau sehebat apapun kita mengikatnya kalau asalnya tak setia dia akan tetap berkhianat. Begitupun sebaliknya, mau sebebas apapun kalau dia setia, dia pasti tau batasan."
"Astaga!" aku menghela napas kasar, entah kenapa kali ini aku lebih percaya pada Mas Firman.
"Mau naik tornado? Kamu bisa teriak sepuasnya di atas?" tawar Mas Firman.
Aku bergidik ngeri menatap wahana itu, akan tetapi kesedihanku sepertinya butuh pelampiasan.
Tanpa terduga, Mas Firman menarikku menuju antrian loket wahana itu. Sempat cek tinggi badan, kini aku sudah duduk tegang di wahana tornado sambil memejamkan mata takut. Namun, rasa takutku sirna tatkala telapak tangan Mas Firman menggenggam tanganku.
"Mas aku takut," lirihku, apalagi saat melihat ke bawah.
"No takut-takut Hanin. Kamu nggak akan jatuh, cukup biarkan kesedihanmu yang berjatuhan!"
Saat wahana mulai bergerak, berputar dan terbalik. Aku hanya bisa menjerit kencang, teriak sepuasnya.
"Mas Harsa breng-sekkk!" Mungkin kata itu yang ingin aku teriakan dengan kencang disini, tak peduli jika Mas Firman akan menatapku beda, tak peduli jika dia menilaiku gadis bodoh yang gila karena cinta, pada dasarnya aku memang sebodoh itu bukan!
Lega, turun dengan perasaan lebih baik meski kepalaku rasanya kliyengan.
"Kamu nggak apa-apa? Ayo cari minum."
Puas berkeliling dan naik berbagai wahana, aku dan Mas Firman akhirnya istirahat di salah satu cafe dekat dufan. Rasa lapar mendera karena berulang kali aku teriak meluapkan kekecewaan dan rasa sakit.
"Makan yang banyak, buktikan kalau cowok seperti Harsa gak pantas bikin kamu galau!"
Aku mengangguk, menatap ramen yang tampak menggiurkan di depan mata. Rupanya nafsu makanku sama sekali tak berkurang, bahkan malah cenderung ingin makan banyak.
Aku harus berterima kasih banyak sama Mas Firman. Berkatnya, aku sadar akan beberapa hal. Meski begitu, aku tetap akan menunggu waktu yang tepat untuk membongkar semua kebusukan Mas Harsa.