Setelah menerima penolakan Shena yang memilih untuk hidup bersama pria lain, dunia Joe Mafarulls tentu runtuh hingga hancur lebih dari apa yang dirasakannya ketika dulu gadis itu pergi jauh akibat terlalu sering ia lukai hatinya. Joe berubah menjadi pria kaku nan dingin.
Kehancuran yang dirasakan Joe nyatanya tidak berhenti sampai di situ saja. Saat gadis yang dicintainya itu dalam perjalanan menuju bandara, ia terlibat dalam kecelakaan hebat dan nahasnya menewaskan semua orang. Kecuali Shena. Gadis itu mengalami luka yang cukup serius dan berujung koma.
"Aku bisa saja merebutmu dengan paksa dari laki-laki mana pun! Tapi jika Pemilik Kehidupan yang mengambilmu, aku bisa apa?" Adakah seseorang yang bersedia merangkul pemilik segenap luka yang melumuri jiwa hampa seperti Joe? Jikapun ada, apakah Joe akan menerimanya dan berpaling dari Shena?
Kisah ini merupakan sequel kedua dari "JARAK ANTARA DUA HATI"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06 - Aku Rindu!
Zoe tersenyum miring saat pintu ruangan dibuka dengan kasar, ia sudah bisa menebak bahwa hal ini akan terjadi. Dengan gerakan santai, ia beranjak dari sofa seraya memperbaiki letak jaket di tubuhnya, kemudian menyambar topi dan masker berwarna hitam yang ada di atas meja.
Sambil merapikan penampilannya hingga sempurna, matanya terus menatap pada Vivian yang berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu, disusul Kriss di belakangnya.
Sementara wanita tadi masih duduk bersimpuh di atas lantai yang dingin, tepat di dekat kaki Zoe sambil sesekali terisak dan menyeka air matanya yang terus berjatuhan.
"Tolong maafkan saya, Pak! Saya tidak akan mengulanginya lagi!" ucap wanita itu sembari menangkupkan kedua tangan di dada.
Vivian dan Kriss keheranan dengan apa yang mereka saksikan, mulanya mereka mengira akan memergoki 2 manusia sedang bergulat indah, tetapi ternyata hal itu tak terjadi. Entah kesalahan apa yang dilakukan wanita itu terhadap Zoe.
"Pergi, dan jangan pernah lagi tunjukkan wajah menjijikanmu itu ke hadapanku!" usir Zoe begitu dingin. Wanita itu buru-buru berdiri, mengucap kata maaf dan terima kasihnya berulang kali, kemudian berlalu dari sana.
Tanpa banyak berkata, Zoe keluar dari ruangan tersebut melewati Vivian dan Kriss yang masih melongo keheranan. Berjalan tegap menuruni tangga bar, langkah Zoe tiba-tiba terhenti lantaran dihadang Vivian yang muncul di hadapannya.
"Kamu marah karena aku mengganggu kesenanganmu, Zoe?" tanya Vivian menggunaan sapaan santainya, ia memang dibebaskan oleh atasannya itu jika sedang bertemu di luar jam kerja seperti sekarang ini.
Zoe menaikkan satu alisnya. "Nggak sama sekali!" jawabnya singkat.
"Terus kenapa langsung pergi? Mau ke mana?"
"Pulang."
Zoe terus melangkah, hingga Vivian pun mau tak mau berjalan mundur menuruni anak tangga satu demi satu seraya menjaga keseimbangan tubuhnya supaya tidak terjatuh.
"Ke rumah?"
"No, rumah sakit."
"Aku antar, ya!" tawar Vivian.
Langkah Zoe terhenti, dan Vivian pun melakukan hal yang sama. "Nggak perlu!" tolak Zoe, kemudian berlalu meninggalkan Vivian yang nampak kesal.
Zoe berjalan melewati kerumunan para pengunjung yang tengah menikmati musik beat menghentak-hentak di atas dance floor, sesekali ia menurunkan letak topi dan memperbaiki maskernya saat tak sengaja berpapasan dengan seseorang atau ketika ada perempuan yang tiba-tiba saja menyentuh dadanya dengan gerakan nakal.
Tak ayal Zoe pun langsung menepis tangan si wanita penggoda tersebut. Sebelum ia benar-benar keluar dari bar, Kriss muncul menyusul dirinya dari arah belakang dengan terengah-engah. Sesaat lalu Kriss menemui wanita penghibur tadi yang bersimpuh di hadapan Zoe, ia penasaran dengan kesalahan apa yang wanita itu lakukan. Namun, ia tidak puas dengan jawabannya.
"Lo mau ke mana, Zoe? Masa mau pulang gitu aja, itu cewek sampai nangis lo apain emang, ha?" tanya Kriss menggebu.
"Gak usah bahas itu di sini, minggir!" Zoe mengencangkan suaranya, sebab wajahnya yang ditutup masker tentu mengganggu volume yang dihasilkan. Baginya ini adalah safety, lantaran tak ingin tertangkap kamera paparazi sehingga menimbulkan rumor-rumor tidak jelas seperti dulu. Zoe tidak ingin kejadian tersebut terulang kembali setelah susah payah ia membangun citranya lagi di hadapan publik. Karena nama perusahaanlah yang dipertaruhkan.
"Gak asyik lo! Kalau emang nolak harusnya lo bilang dari awal, malah tuh cewek lo kerjain begitu," sentak Kriss masih belum puas.
"Gue gak sudi!" Zoe terus berjalan keluar area bar, meninggalkan Kriss yang tidak berhenti mengoceh seraya mengikutinya dari belakang.
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, Zoe pun berbalik badan kemudian berkata, "Ini terakhir kalinya, ya, lo nyodorin cewek-cewek rendahan kayak tadi! Lo pikir gue setuju dateng ke sini karena pengen beli kesenangan sesaat?" Zoe mengambil napas sejenak kemudian melanjutkan, "Nggak, Kriss!"
"Oke, oke, oke! Gue paham, lo mau pulang, kan? Ayo, gue temenin!"
"Pulang sana sendiri! Gue mau nemuin Shena."
Kriss berhenti melangkah, membiarkan Zoe mengendarai mobilnya seorang diri. Kriss mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi seraya membuang napas kasar, ia frustasi menghadapi bosnya sendiri. Padahal ia sudah membayar mahal wanita cantik itu, tetapi ternyata Zoe tidak benar-benar menginginkannya.
"Sial!" umpatnya. Ia membuang ludah, kemudian kembali memasuki bar dan akan melampiaskan emosinya pada minum-minuman keras di sana.
"Kok lo balik lagi, Pak Zoe di mana?"
"Ini semua gara-gara lo, Vi. Kenapa lo harus tiba-tiba muncul, sih, ha?" sentak Kriss pada Vivian yang seketika mendengus. Wanita itu merebut gelas minuman dari tangan Kriss, kemudian menenggaknya hingga tandas.
Sesampainya di rumah sakit, Zoe segera memarkirkan mobilnya. Namun, sebelum keluar ia mengganti pakaiannya terlebih dahulu, laki-laki itu memang sudah biasa membawa baju cadangan di mobil kalau-kalau ia harus pergi mendadak keluar kota dalam urusan pekerjaan.
Tetapi, kali ini ia berganti pakaian karena tak ingin sampai Shena mencium bau minuman serta asap rokok ketika tadi ia di bar. Meski Zoe nantinya akan mengenakan pakaian khusus untung menemuinya, ia tetap melakukannya. Zoe juga tidak meminum minuman memabukkan itu, tetapi aromanya bisa saja menempel di pakaiannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, laki-laki itu memang selalu memanfaatkan akses yang dimilikinya bisa mendatangi rumah sakit kapan pun ia ingin. Melewati lorong rumah sakit yang sudah sepi, Zoe terus berjalan menuju ruangan yang ditempati Shena. Tepat ketika ia menyentuh handle pintu, saat itu juga seseorang keluar dari dalam ruangan.
"Kak Davina?" Zoe agaknya sedikit terkejut dengan kehadiran kakak kedua Shena. Lantaran yang ia tahu, Davina dan suaminya kini sudah tidak tinggal lagi di Jakarta. "Kapan datang, Kak?"
Davina tersenyum kemudian menepuk kedua bahu Zoe, kedekatan hubungan kedua keluarga memang sudah tidak diragukan lagi. Jika Shena sudah dianggap seperti putri sendiri oleh ibunda Zoe, maka Zoe pun sudah dianggap seperti adik sendiri oleh kakak-kakak Shena. Zoe adalah bagian dari keluarga mereka.
"Tadi sore. Kamu apa kabar, Zoe?"
"Baik. Kakak dan keluarga gimana kabarnya?"
"Kami semua sehat, Kakak datang ke sini karena udah kangen banget sama Shena. Makasih banyak, ya, Zoe. Dan maaf semua ini jadi kamu yang menanggungnya," tutur Davina sendu. Sudah terlalu lama rasanya ia membebani laki-laki di hadapannya. Zoe bahkan rela menutup hati pada semua perempuan hanya karena perasaan cintanya sudah terlalu dalam pada Shena. Semua orang berhak bahagia, bukan? Termasuk Zoe.
Zoe menggeleng pelan. "Jangan berkata seperti itu! Kakak tahu aku akan lakukan apa pun demi kesembuhan gadis yang kucintai, ini kemauanku."
Davina sangat berterima kasih, ia bersyukur adiknya itu dicintai pria sebaik Zoe. Ia sendiri merasa bersalah lantaran harusnya dirinyalah yang mengurus segala sesuatunya, namun keadaan tidaklah memungkinkan. Untuk biaya pengobatan sang adik tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sang suami yang hanya bekerja serabutan tidak mungkin mampu menutupi nilai yang harus disediakan.
"Kami percaya sama kamu," kata Davina seraya tersenyum. Keduanya lanjut berbincang sebentar sebelum Davina pamit pulang.
Kini tinggalah Zoe sendiri, menemui sang kekasih hati yang masing setia berbaring di sana. Digenggamnya tangan Shena dengan erat, kemudian ia kecup lembut di sana. Zoe harap setelah bangun nanti Shena tidak marah lagi padanya, tidak membencinya, tidak lagi-lagi meninggalkannya.
"Bangun, Sayang. Aku rindu!"
Ada pedes-pedesnya
Ada pahit-pahitnya.
Nano-Nano memang.
Best-lah
Ya namanya bener sih