6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. PINTU SUMUR MENUTUP
Obor di tangan Pak Lurah Karjo masih menyala ketika tubuhnya jatuh ke dalam sumur.
Api itu tidak padam. Justru semakin besar. Membakar tubuh Pak Lurah dari dalam. Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, kulit Pak Lurah yang keriput itu retak, mengeluarkan cahaya oranye dari dalamnya. Dia tidak berteriak. Dia hanya menatap kami bertiga, Selvi, Maya, dan Farhan, sambil tersenyum.
"Perjanjiannya... sudah lunas..." bisiknya untuk terakhir kali sebelum seluruh tubuhnya menjadi abu di dalam api obor itu sendiri.
Dan saat abu itu menyentuh air hitam di dasar sumur, suara gemuruh yang sangat keras muncul.
BUMMM!
Bukan dari sumur. Tapi dari Balai Desa di belakang kami.
Aku, Maya, dan Farhan menoleh bersamaan. Pintu balai desa yang dari tadi terbuka lebar, perlahan-lahan tertutup sendiri. Berderit. Sangat pelan. Seolah-olah ada seseorang yang mendorongnya dari dalam dengan tenaga yang sangat besar.
"SELVI! JANGAN DILIHAT!" Farhan menarik tanganku.
Tapi sudah terlambat. Aku sudah melihatnya.
Dari celah pintu yang hampir tertutup itu, aku melihat mereka. Warga tanpa bayangan. Puluhan. Ratusan. Mereka berdiri di dalam balai desa yang gelap. Mereka semua menatap ke arah kami. Wajah mereka datar. Tidak ada mata. Hanya lubang hitam.
Dan di barisan paling depan, aku melihat Bima. Riko. Dan Sinta.
Bima melambaikan tangan ke arahku. Senyumnya lebar. Tapi senyum itu bukan senyum Bima yang aku kenal. Itu senyum yang robek sampai ke telinga.
Maya menjerit. Jeritan yang sangat panjang dan melengking.
"MAYA!" Aku memeluk Maya. Tubuh Maya gemetar hebat. Dingin. Sangat dingin seperti es.
"Kak Selvi... mereka manggil aku... mereka bilang giliran aku..." Maya berbisik dengan suara yang bukan suara Maya. Suaranya berat, seperti suara nenek-nenek.
Farhan langsung mengambil obor yang jatuh di tanah, bekas Pak Lurah. Obor itu masih menyala, tapi apinya sudah kecil, tinggal seujung korek api.
"LARI! KITA HARUS LARI DARI SINI SEKARANG!" Farhan berteriak.
Kami bertiga lari. Tidak menoleh ke belakang lagi. Kami lari menjauhi sumur, menjauhi balai desa. Kami lari ke arah hutan di belakang balai, satu-satunya jalan yang tidak tertutup.
Di belakang kami, aku mendengar suara pintu. Suara PINTU SUMUR MENUTUP.
Suara itu bukan seperti pintu kayu biasa. Tapi seperti batu besar yang diseret. Berat. Dalam. Dan final.
BRAKKK!
Saat suara itu selesai, seluruh desa menjadi senyap. Jangkrik berhenti berbunyi. Angin berhenti berhembus. Bahkan suara nafas kami sendiri tidak terdengar.
Kami berhenti lari setelah sekitar 100 meter masuk ke dalam hutan. Nafas kami terengah-engah. Farhan meletakkan obor di tanah, mencoba membuat api itu lebih besar dengan meniupnya.
"Farhan, obornya mau mati..." kataku.
Farhan tidak menjawab. Dia terus meniup. Tangannya gemetar.
Maya tiba-tiba duduk di tanah. Dia memeluk lututnya. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Rambutnya yang panjang menutupi seluruh wajahnya.
"Maya? Kamu kenapa?" Aku mendekati Maya.
Maya mengangkat kepalanya perlahan. Dan saat itu aku melihatnya. Mata Maya. Mata Maya yang biasanya coklat, sekarang menjadi hitam semua. Hitam pekat tanpa putih. Air mata hitam mengalir dari matanya.
"Selvi... aku udah di dalem sumur dari tadi..." Maya tersenyum. Senyum yang sama seperti senyum Bima tadi. Robek sampai telinga.
Aku mundur. Jantungku berdetak sangat kencang sampai rasanya mau keluar dari dada.
"MAYA KESURUPAN!" Farhan berteriak. Dia mengambil obor yang apinya tinggal sedikit itu dan mengarahkan ke wajah Maya.
Maya tidak takut api. Dia justru tertawa. Tertawa cekikikan seperti anak kecil.
"Obor Pak Lurah sudah tidak mempan... perjanjiannya sudah lunas dengan darahnya... sekarang giliran kalian yang jadi tumbal..." Suara yang keluar dari mulut Maya adalah suara banyak orang. Suara laki-laki, perempuan, anak kecil, semua jadi satu.
Farhan panik. Dia mencari sesuatu di tasnya. Dia mengeluarkan botol air mineral dan menyiramkan ke wajah Maya sambil membaca ayat kursi dengan suara terbata-bata.
"ALLAHU LA ILAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM..."
Maya menjerit. Jeritan yang sangat keras. Tubuhnya kejang-kejang di tanah. Dari mulutnya keluar asap hitam yang sangat bau, seperti bau bangkai dan kemenyan terbakar jadi satu.
Asap hitam itu melayang di udara, membentuk wajah. Wajah Pak Lurah Karjo. Tapi wajahnya marah.
"KALIAN TIDAK AKAN BISA KELUAR! HUTAN INI ADALAH PENJARANYA!" Asap itu berteriak sebelum akhirnya hilang ditelan angin malam.
Maya pingsan. Tubuhnya lemas di pelukanku. Aku memeriksa nafasnya. Masih ada. Tapi lemah.
"Farhan, kita harus bawa Maya keluar dari hutan ini sekarang. Kita harus cari bantuan," kataku sambil menangis.
Farhan mengangguk. Wajahnya pucat. Dia adalah satu-satunya laki-laki yang tersisa. Riko dan Bima sudah tidak ada.
"Selvi, kamu denger gak?" Farhan tiba-tiba diam dan memasang telinga.
Aku diam. Awalnya aku tidak mendengar apa-apa. Tapi lama-lama aku mendengarnya.
Suara gamelan. Suara gamelan Jawa yang pelan, mengalun dari dalam hutan yang lebih dalam. Suaranya mendayu-dayu, sedih, tapi juga mengundang.
"Jangan didengerin, Vi. Itu yang bikin KKN tahun 98 dulu gak bisa pulang. Jangan didengerin!" Farhan menutup telinganya.
Tapi Maya yang pingsan di pangkuanku tiba-tiba bangun. Dia berdiri tegak, seperti ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat. Matanya masih hitam, tapi dia tidak kesurupan lagi. Dia seperti orang yang berjalan dalam tidur.
Maya berjalan ke arah suara gamelan itu. Masuk semakin dalam ke hutan.
"MAYA! MAU KEMANA KAMU!" Aku mengejar Maya. Farhan juga ikut mengejar sambil membawa obor yang sekarang hanya tinggal bara merah saja.
Kami mengikuti Maya selama hampir 20 menit. Hutan ini semakin gelap. Pohon-pohonnya semakin besar dan tinggi, sampai cahaya bulan tidak bisa masuk sama sekali. Hanya cahaya bara obor Farhan yang menjadi satu-satunya cahaya.
Sampai akhirnya, kami sampai di sebuah tempat terbuka. Di tengah hutan.
Di sana, ada sebuah rumah. Rumah kayu kecil, dengan lampu minyak yang menyala di terasnya. Dari dalam rumah itu, suara gamelan itu berasal.
Dan di depan rumah itu, duduk seorang nenek tua. Nenek itu sedang menenun kain. Kain putih panjang.
Maya berhenti tepat di depan nenek itu. Berlutut.
Nenek itu mengangkat kepalanya. Menatap kami bertiga. Wajahnya keriput, tapi matanya jernih. Sangat jernih.
"Kalian sudah ditunggu dari tadi... akhirnya datang juga cucu-cucuku..." kata nenek itu dengan suara lembut.
Aku dan Farhan saling pandang. Kami tidak mengerti.
"Mbok... Mbok siapa?" tanyaku dengan suara gemetar.
Nenek itu tersenyum. Senyum yang tulus, bukan senyum robek seperti warga tanpa bayangan.
"Mbok Darmi... yang dulu KKN di sini tahun 1998... satu-satunya yang bisa keluar hidup-hidup... karena aku yang jadi penenun kain kafan untuk mereka..."
Darahku berdesir. Merinding dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kain kafan? Jadi kain putih yang ditenun nenek itu adalah...
Farhan menjatuhkan obornya. Bara terakhir obor Pak Lurah padam. Gelap total, hanya lampu minyak Mbok Darmi yang menyala.
Dan dalam cahaya lampu minyak itu, aku baru sadar. Kain putih yang ditenun Mbok Darmi, ada tulisannya.
Ada 6 nama yang ditulis dengan benang merah.
SELVI
MAYA
SINTA
RIKO
BIMA
FARHAN
Nama kami berenam. Lengkap.
Maya yang berlutut di depan Mbok Darmi, tiba-tiba menangis. Tangisan yang keras. Tangisan Maya yang asli.
"Kak Selvi... di kain itu... nama aku... udah dicoret pakai darah..." bisik Maya sambil menunjuk ke arah kain.
Aku melihatnya. Benar. Nama MAYA sudah dicoret dengan garis merah tebal.
Artinya...
Giliran Maya sudah selesai.
Dan sekarang, suara pintu sumur menutup itu terdengar lagi dari kejauhan. Padahal kami sudah jauh di dalam hutan. Tapi suaranya terdengar jelas, seolah sumur itu ada tepat di belakang kami.
BRAKKK!
Mbok Darmi berhenti menenun. Dia menatap ke arah kegelapan hutan di belakang kami.
"Dia sudah bangun... yang di dalam sumur sudah bangun... karena pintu sudah tertutup... dia tidak bisa keluar lewat sumur lagi... jadi dia akan keluar lewat hutan... lewat kalian..."
Farhan langsung menarik aku dan Maya untuk masuk ke dalam rumah kayu Mbok Darmi. Kami mengunci pintu kayu itu dari dalam. Pintu itu rapuh, lapuk.
Dari luar, kami mendengar langkah kaki. Banyak langkah kaki. Mengelilingi rumah kayu kecil itu.
Langkah kaki tanpa bayangan.
Dan dari sela-sela dinding kayu yang bolong, aku melihatnya. Di luar, berdiri Bima, Riko, Sinta, dan Pak Lurah Karjo yang tubuhnya sudah hangus, tapi masih berdiri. Mereka semua tersenyum melihat ke dalam rumah, ke arah kami bertiga.
Mereka menunggu obor padam sepenuhnya. Mereka menunggu lampu minyak Mbok Darmi padam.
Karena mereka tahu, dalam gelap, kami tidak akan bisa melihat mereka datang.
[BERSAMBUNG KE BAB 13. HUTAN LARANGAN]
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐