Berprofesi sebagai seorang penulis, Dinara berharap kisah cintanya akan semanis novel yang ditulisnya. Akan tetapi, menemukan seseorang yang tepat tidaklah semudah saat kita menulis cerita. Kisah cinta yang penuh lika-liku membuat Dinara belum juga menikah meski usianya hampir menginjak kepala tiga.
Kehidupan Dinara semakin bertambah kacau saat Mama mulai mencampuri urusan asmaranya. Jika dalam waktu tiga bulan Dinara belum juga mendapatkan lelaki yang tepat, terpaksa dirinya harus menerima pria yang mamanya jodohkan.
© 2023 | Nur Azizah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurAzizah504, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburunya Arhan
"Sher, saputangan aku kamu taruh di mana, sih? Kok, aku cariin gak ketemu?"
"Ada di dalam kotak atas nakas. Cari yang bener, Dam!"
"Gak ada, Sher!"
"Ada, Adam, ada. Coba cari pake mata."
Dari dapur, Sherly tak mendengar teriakan Adam lagi. Mungkin saja suaminya sudah menemukan benda yang dicarinya atau malah memutuskan untuk tidak membawanya hari ini. Akan tetapi, Sherly ragu pada pilihan kedua. Setahunya, Adam selalu membawa saputangan ke mana pun ia pergi.
"Abis masak apa?"
Adam mendekati Sherly kemudian memeluknya dari belakang. Aroma sabun mandi yang dipakai istrinya menguar harum, membuat Adam betah berlama-lama dengan posisi seperti itu.
"Abis goreng telor. Perut aku sakit, Dam. Jadi, gak sanggup masak banyak pagi ini."
"Harusnya kamu bilang kalau gak sanggup masak. Biar bisa aku beliin di warung depan," cakap Adam seraya mengelus perut istrinya yang semakin membesar.
"Mau beli pake apa, Dam? Duit kita udah menipis. Mana sebentar lagi aku mau lahiran. Pasti kita butuh uang banyak."
Sherly mengeringkan tangan pada kain lap usai mencuci piring. Saat berbalik, dirinya menemukan Adam dengan wajah muram.
"Maafin aku, ya, karna belum bisa jadi suami yang baik. Aku janji, setelah ini bakalan lebih berusaha lagi buat ngembangin kafenya. Jadi, kita gak perlu hidup pas-pasan lagi."
Sherly tersenyum dan mengelus pipi Adam yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Sarapan dulu, yuk."
Adam mengangguk lalu mengikuti Sherly ke meja makan. Sementara Sherly mengalaskan nasi ke piring, Adam mengisi gelasnya dengan kopi panas dan gelas istrinya dengan susu cokelat.
"Kalau boleh milih, kamu maunya anak kita cewek atau cowok?"
"Cewek aja, sih. Pasti bakalan cantik banget. Terus nanti rambutnya aku panjangin, biar bisa diikat terus," jelas Adam dengan wajah semringah.
"Tapi, aku sukanya cowok, Dam. Karena kata orang, anak cowok biasanya bakalan mirip ibunya. Aku mau anak yang mirip sama aku. Lagipun, anak cowok pasti bakalan bisa jagain mamanya." Sherly menunduk, mengusap perut buncitnya dengan sayang. "Tapi, apa pun yang Tuhan berikan, aku bakalan tetap bersyukur, Dam. Aku bakalan terus jagain dia, sayangin dia, dan gak pernah ninggalin dia barang sehari pun."
"Kita jagain dia sama-sama, ya, Sher. Kita hadiahkan untuknya keluarga yang harmonis dan bahagia."
Sherly tersenyum, memeluk Adam sangat erat. "Aku sayang kamu, Dam."
Prang!
Adam terbangun. Tidur nyenyaknya terhenti oleh suara berisik dari arah dapur. Buru-buru Adam bangkit dari sofa hanya untuk menemukan Agam yang berdiri dengan pecahan kaca di sekelilingnya.
"Agam? Kamu gapapa?"
Adam mengecek kondisi Agam. Beruntung, jagoan kecilnya tidak kenapa-kenapa.
"Agam mau minum, tapi gelasnya jatuh."
"It's okay. Agam bisa duduk di sana dulu, biar Papa yang ambilin minum," ujar Adam sambil mengulas senyum dan mengelus kepala Agam sekilas.
Anak kecil itu menurut. Namun, baru dua langkah menjauh, dirinya mendadak berhenti lagi. Agam berbalik, memanggil sang ayah dan berkata, "Malam ini Aunty Dinara ngundang kita makan malam, 'kan, Pa?"
Astaga! Adam menepuk dahi. Bagaimana bisa dirinya melupakan janji dengan Dinara?
* * *
"Ini Mas Adam lupa atau gimana, ya? Kok, gak dateng-dateng, sih?"
Dinara berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Sesekali, ia menatap ke arah meja makan, di mana menu makan malam telah ia siapkan.
"Kalau gue samperin ke rumahnya bakalan keliatan aneh banget gak, sih? Eh, tapi jangan, deh. Gue tunggu bentar lagi aja."
Tepat setelah monolog Dinara selesai, pintu rumahnya diketuk dari luar. Tanpa menunggu lama, Dinara bergegas untuk membukanya.
Senyumnya terpatri lebar, wajahnya secerah bulan purnama. Akan tetapi, apa jadinya saat orang yang berdiri di hadapannya ini bukanlah Adam ataupun Agam?
"Hai, Din."
"Ma--Mas Arhan? Kok, bisa di sini?"
"Ya, bisa aja," jawab Arhan dengan santai. "Coba tebak aku sini bareng siapa?"
"Siapa?" Dinara melongokkan kepala ke arah samping Arhan. Seketika, kedua matanya membuntang tak percaya. Ia memekik girang, berlari ke arah pagar untuk memeluk seseorang.
"Kok, gak bilang-bilang mau ke sini, sih, Mas?"
Wisnu melerai pelukan Dinara, tertawa singkat saat adik perempuannya tampak begitu bahagia. "Awalnya, sih, emang bukan ke sini tujuannya. Tapi, karena kantor klien kami di kota ini, jadinya Mas sama Arhan mampir, deh."
"Jadi, Kinara gak ikut, Mas?" tanya Dinara.
"Enggaklah. Orang gak ada rencana juga."
Dinara berdecak singkat lalu mengajak Wisnu dan Arhan untuk masuk ke rumah.
"Kamu tinggal sendiri, kok, masaknya banyak banget, sih, Din?"
Dinara tersenyum lebar seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Sebenernya ... aku lagi nunggu seseorang, Mas."
"Siapa?"
"Dia itu--"
Sekali lagi, pintu rumah Dinara diketuk ketika ucapannya belum sempurna selesai. Sambil meninggalkan senyum di wajahnya, ia berlari kecil ke arah pintu untuk menyambut kedatangan dua orang.
Dan, benar saja.
Tepat di depan pintu, Adam berdiri bersama Agam. Kedua laki-laki itu terlihat tampan dan rapi.
"Mbak Dinara udah nunggu lama, ya? Maaf banget, ya, Mbak. Saya ketiduran tadi."
"Oh, enggak lama-lama banget, kok, Mas," jawab Dinara, "Yuk, masuk, Mas Adam, Agam."
Adam mengangguk sopan. Bersama Agam, mereka mengekor Dinara hingga ke meja makan. Namun, ekspresi Adam sedikit berubah. Ada sorot bingung di matanya saat ia menemukan dua pria asing yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Mas Adam, Agam, kenalin, nih. Yang ini Mas Wisnu, abang saya. Dan, yang satunya lagi Mas Arhan, temennya Mas Wisnu." Dinara memberikan jeda pada kalimatnya. Dua detik kemudian, ia kembali melanjutkan, "Dan, Mas Wisnu, Mas Arhan, Mas Adam dan Agam ini tetangganya aku. Aku ngundang mereka makan malam karena pagi tadi, Mas Adam udah nolongin aku."
Wisnu mendekati Adam dan menjulurkan tangan. Dia tersenyum hangat ketika Adam membalas jabatannya dengan sama sopan. "Makasih banyak, ya, udah mau nolongin adik saya."
"Sama-sama."
"Hai, Jagoan." Wisnu menyapa Agam, tetapi malah diabaikan.
Setelah sesi perkenalan diri selesai, Dinara mengajak keempat tamunya untuk menikmati makan malam bersamanya. Suasana berjalan santai dan meriah. Wisnu dan Adam juga terlihat akrab dalam obrolan mereka.
Namun, Arhan tidak seperti itu. Dirinya sedikit sulit untuk menikmati setiap detik yang terlewati. Dia kurang suka karena Adam lebih dulu mengambil tempat di sebelah Dinara saat ia juga ingin mengisi kursi yang sama. Terlebih lagi, Dinara merasa nyaman-nyaman saja.
Bukankah setahunya Dinara sedikit susah untuk dekat dengan orang baru? Namun, mengapa dengan Adam tidak?
"Jadi kamu owner-nya Palazzo Kafe? Baru siang tadi, lo, kita ke sana. Ya, kan, Han?"
Arhan mengangguk singkat. Tiba-tiba saja mood-nya hilang karena Dinara benar-benar tidak mengajaknya berbicara.
"Mas Arhan kenapa lemes gitu? Makanannya gak enak, ya?" Dinara tidak buta. Perubahan seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Melihat Arhan hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa minat, Dinara merasa bingung.
"Makanannya enak, kok, Din. Beneran."
"Tapi, kenapa gak dimakan?"
"Makan, kok." Demi menghilangkan raut sedih di wajah Dinara, Arhan memilih untuk menikmati makanannya.
Sejauh ini, dia berpikir rasa cemburu ini akan disimpan seorang diri. Arhan merasa tak pantas untuk menunjukkan pada siapapun. Bahkan, mengatakan kepada Dinara saja dia tak bisa.
Namun, Wisnu yang duduk di sebelahnya menyadari perasaan tersebut. Laki-laki seumuran dengannya itu mendekatkan mulut ke telinga Arhan dan bertanya, "Lo cemburu, kan, Han?"
"Diem, Nu."
Ini salah. Arhan ingin menyudahi rasa cemburunya di meja ini.
Namun, mereka tak tahu kalau Agam adalah pendengar yang baik. Tanpa malu sedikit pun, anak kecil itu memutuskan untuk bertanya, "Cemburu itu apa, Om?"
* * *
sequel cerita arhan, dong