Hiza Maladewa, seorang mahasiswa semester terakhir yang harus menikahi seorang perempuan berhijab yang telah di lecehkan nya.
Di dalam rumah tangga nya, dia berperan sangat manis terhadap istrinya, padahal, dia tidak memiliki setitik pun rasa pada istrinya. Dia hanya menghormati dan menganggap istrinya sebagai calon ibu dari anak anak nya, serta memanfaatkan tubuh nya.
Hingga suatu hari, sang istri yang sudah tumbuh benih benih cinta di hatinya untuk sang suami mengetahui, mengetahui bahwa, cinta suami nya telah habis pada masa lalunya.
Dan pada saat itu juga wanita di masa lalu sang suami telah kembali.
Hiza menghadapi dua pilihan, cintanya atau istrinya.
*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerin., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06- My bad husband.
“Mom, aku pergi dulu” pamit Elivan kepada Lintang yang kini sedang duduk di ruang santai bersama suami dan anak perempuan nya.
“Abang kenapa tidak menginap lagi, kan baru 3 hari” ucap Lavender— sang adik perempuan satu satunya itu.
“Tidak bisa sayang, kapan kapan lagi ya, Abang masih punya pekerjaan di London” jawab Elivan mengecup pipi Lavender.
“Ya, Abang El pergi, Abang Hiza juga pergi..” lirihnya.
“Nanti Abang Hiza pulang..” ucap Fareed.
“Aku pergi dulu bund” ucap Elivan melangkah pergi tanpa berpamitan kepada sang ayah. Dia masih merasa sangat sakit, ya meskipun sudah tak sesakit yg dulu.
Jika bertanya di mana pergi nya Lily, maka jawabannya adalah sudah kembali dua hari yang lalu, dia di paksa oleh Lion agar cepat pulang karena harus mengikuti kelas kuliah nya.
••••
Tiga hari sudah berlalu, kini, Erlita masih mengurung dirinya di dalam kamar dengan kegiatan sehari-hari nya adalah menangis.
Setelah melakukan Sholat, dirinya mesti berdoa dan menumpahkan seluruh keluh kesahnya Kepada Sang Pencipta selama berjam jam.
Rosa khawatir akan keadaan putrinya itu, namun ketika dirinya mencoba untuk membujuk Erlita agar tak terlarut dalam kesedihan Erlita pasti akan menjawab “Berikan aku waktu bund”.
Pun dengan Erlita, dirinya tak ingin terlarut di dalam kesedian, ia ingin bangkit, namun, dia masih belum bisa menerima takdir yang begitu kejam.
Seakan akan dirinya adalah orang yang paling tersakiti di dunia ini. Memang naif, tapi begitulah hidup ketika ia merasa terpuruk mesti merasa dirinya seakan-akan paling terluka. Padahal jika dibandingkan dengan orang lain pasti terlihat tidak apa apa nya.
“Hiks... Ya Allah...” lirih nya, memeras dada yang seakan akan akan terhenti saat itu juga. Begitu sakit dan sangat pedih.
Erlita menghapus air mata nya, menghela nafas kemudian duduk di tepi ranjang.
“Aku harus bangkit, aku tidak boleh terpuruk terus!” ujar Erlita menyemangati dirinya sendiri.
Pertama tama Erlita akan mandi, setelah itu ia akan mencari kegiatan berupa membantu bibinya merakit buket buket bunga yang di pesan oleh pelanggan.
Setelah selesai mandi dan bersiap, Erlita menarik nafas dan membuang nya perlahan, ada keraguan di hatinya dan dia berusaha untuk keluar dari keraguan itu.
Erlita keluar dari kamarnya, dengan jubah berwarna Sage di padukan dengan kerudung putih membuatnya semakin cantik.
Erlita kembali menarik nafas lalu membuang nya, kemudian melangkah mencari Bunda Rosa.
Erlita melihat Bunda Rosa tengah berdiri mengambil berbagai macam jenis bunga untuk di jadikan sebagai buket.
“Bundaa...” sapa Erlita dengan riang, dia memeluk bunda Rosa dari belakang, menaruh dagu nya di pundak milik bunda Rosa.
Rosa yang sudah melihat Erlita ceria kembali mengucap syukur. “Bagaimana keadaan anak bunda?” tanya nya membalikkan badan.
Menaruh bunga kemudian memeluk tubuh Erlita dengan sangat erat, tangannya tak tinggal diam, tangan kirinya ia pergunakan untuk memeluk, sementara tangan kanannya ia pergunakan untuk mengelus kepala Erlita yang tertutup oleh kerudung berwarna putih.
“Alhamdulillah, sudah baik bund...” jawab Erlita membalas pelukan itu.
Cukup lama mereka dalam posisi itu, hingga Erlita mengurai pelukannya.
“Aku mau membantu bunda merakit bunya boleh?” tanya nya dengan mata yang mengerjab-ngerjab.
“Huh... jangan menampilkan wajah itu padaku, aku tak tahan”
“Ya... Bund...” mohon nya.
“Ah... Baiklah.”
•••
Di belahan dunia lain, seorang pria berpakaian acak acakan tengah menyulut rokok di atas motornya.
Dengan satu kaki yang berada di body motornya ia tengah memantau semua kegiatan yang di lakukan oleh anak pondok pesantren.
Menurut yang pencarian yang di lakukan oleh nya di google, pondok pesantren adalah tempat orang muslim menuntut ilmu agama mereka.
Bermodalkan handphone di tangannya, dia berdiri dan menyebrang jalan, melepas rokok dan membuang nya di tengah tengah jalan agar rokok itu terlindas oleh ban ban motor ataupun mobil.
Pria itu Hiza, dirinya sudah membulatkan keputusan nya agar bisa menikahi Erlita–gadis yang sudah di lecehkan nya. Dan dia ingin bertanya tentang ilmu agama yang telah di anut nya empat hari yang lalu.
Sebenarnya dia terpaksa melakukan ini, namun, dirinya di ancam oleh Daddy nya, bahwa akan mencabut hak warisnya dan tidak akan mendapatkan sepeserpun.
Hiza pernah bertanya kenapa harus menikahi perempuan itu, padahal perempuan itu adalah sudah mengakhiri masalah ini.
“Dia perempuan baik baik, dan kau telah melukai hati mommy mu, dia terus menerus menangis dan Daddy tidak suka akan hal itu, lebih baik kau nikahi atau kau tak akan mendapatkan sepeserpun warisan dari Daddy”
Hanya karena kesedihan mommy nya ia harus menikah.
Hiza melangkah ke dalam pondok itu, membuat semua lelaki yang berpakaian putih melihat ke arah nya.
Hiza tak memperdulikan tatapan itu, bagi nya hal itu sudah biasa.
Langkah Hiza terhenti karena ada dua orang yang menghambat langkah nya.
“Kebetulan, di mana rumah kyai mu?” tanya Hiza enteng, mata nya melihat ke kanan dan ke kiri. Semua mata sepertinya memandangnya.
“Ada perlu apa ya mas menemui kyai kami?” ucap salah satu pria berkopiah putih.
“Ada urusan, urgent banget” jawabnya melihat sepatunya yang kotor.
“Mas nya ga salah? tampilan kayak gini pantas nya ada di pas—”
Bug...
“Aku tidak memiliki masalah dengan mu, masalah penampilan, kenapa kau iri?” Hiza murka ketika ia mendapatkan hinaan. Satu pukulan telak mungkin bisa membungkam mulut bau nya?
“Saya ga iri, tampang kayak preman aja bangga” ucap salah satu pria yang bukan menyambut dirinya pertama kali.
Pria itu kembali berdiri, saat pria itu lengah dengan menoleh ke samping kesempatan itu di pergunakan oleh Hiza sebaik mungkin.
Bugh ....
“Sok alim kau bang sat” makinya kembali mem-bogem pipi pria itu, wajah pria itu sudah berdarah darah.
“Ada apa ini?” suara seorang pria tua menghentikan cekcok dari kedua pria muda. Pria itu di ikuti oleh seorang pemuda di belakangnya.
Hiza membenarkan jaket levis nya, merenggangkan otot leher serta tangan yang terasa sangat kaku.
“Saya hanya ingin bertemu dengan kyai di pondok sini, dan dia dengan tampang sok alim nya malah merendahkan saya karena baju saya yang acak acakan” jawab Hiza sopan, meskipun dia berandalan, dia sangat di didik keras oleh mommy nya agar dapat menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda.
Namun, lelaki tadi sangat sok di depannya, dia sudah mencoba untuk bersabar, namun kesabaran nya sangat di uji oleh nya. Usaha menahan kesabaran nya pun akhirnya sirna, dia tak tahan lagi menahan semua emosi nya.
Dan terjadilah aksi pukul yang di lakukan oleh nya.
“Oo mau bertemu dengan kyai, mari” ajak pria tua itu sambil tersenyum ramah.
“Tapi ky—” ucapan dari pria yang menyambut Hiza dengan ramah menghentikan ucapannya karena pria tua itu mengangkat tangannya.
“Ayo, tolong antar saya” minta Hiza yang langsung di beri angguk oleh pria tua tadi.
Mereka berjalan, pria tua tadi berada di depan Hiza untuk menunjukkan di mana rumah kyai yang di maksud oleh Hiza.
Sementara Hiza celingak-celinguk melihat semua bangunan yang tampak rumit namun sederhana di matanya.
“Silahkan duduk, saya akan panggil kyai nya dulu” ucap pria tua tadi mempersilahkan Hiza untuk duduk di kursi ruang tamu nya.
Hiza mengangguk, sekitar lima menit menunggu akhirnya seorang pria tua keluar, Hiza terkejut, yang keluar adalah orang yang menuntun nya tadi, berarti dia sudah bertemu dengan seorang kyai sedari tadi?.
“Loh, kok anda, di mana kyai nya?” tanya Hiza membuat pemuda yang berada di belakang pria tua tadi menahan tawanya.
Hiza menatap tajam pemuda itu. “Heh! kau jangan ketawa, aku bun—”
“Syuttt... jangan bicara seperti itu” ucap pria tua tadi yang kini sudah duduk di depan Hiza.
Hiza diam, melihat pak tua di depannya dengan tatapan penuh selidik. Wajah tua tapi menenangkan serta menyejukkan.
“Jadi, apakah anda adalah kyai nya?” tanya Hiza menekuk kedua alis nya.
“Benar, ada masalah apa kamu mau bertemu dengan ku?” tanya kyai itu tersenyum.
Menghadapi orang seperti Hiza harus dengan kehati-hatian dan kelembutan.
“Saya Hiza, saya ingin menikahi seorang wanita yang sudah saya perkosa” ucap Hiza langsung pada intinya, ia tak suka berbasa-basi terkait dengan masa depan nya.
“Innalilahi, kalau boleh saya bertanya?” tanya Kyai itu menekan keterkejutan nya dengan apa yang di ucapkan oleh Hiza tanpa sedikitpun basa basi, semuanya di ucapkan secara gamblang tanpa adanya penutupan.
Begitu pula dengan pemuda di belakang kyai itu, dia nampak terkejut namun dengan segera menekan keterkejutan itu agar tidak menimbulkan kesan yang menghina ataupun mengejek.
“Sebentar, nama kyai siapa?”
“Hasan.” jawab Kyai Hasan, Kyai Hasan nampak sedikit salut dengan pemuda di depannya. Salut akan keberaniannya.
“Baiklah, mau bertanya apa?” Hiza seperti orang yang di butuhkan, padahal dia yang butuh kepada kyai Hasan.
“Kenapa bisa...” kyai Hasan nampak memberhentikan ucapannya, kyai tak tau siapa nama dari pemuda di depannya ini.
“Hiza” ucap Hiza mengerti apa yang akan di ucapkan oleh Kyai Hasan namun mengambang karena tak tau namanya.
Kyai Hasan mengangguk.
“Kenapa bisa Hiza memperkosa gadis itu?” tanya Kyai Hasan sangat lembut.
Hiza menghela nafasnya, “Say—”
“Maaf mengganggu, ini kopi nya kyai” ucap seorang perempuan yang membawakan sebuah nampan dengan dia cangkir kopi di atasnya.
“Silahkan” jawab Kyai Hasan mempersilahkan perempuan itu. Perempuan berkerudung hitam menaruh kedua cangkir yang di bawahnya ke atas meja.
“Permisi..”
“Maaf, silahkan di minum dan silahkan dilanjutkan Percakapan nya”
Hiza mengangguk.
“Saya memperkosa dia karena saya di jebak menggunakan obat perangsang oleh seseorang” ucap Hiza melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus tadi.
“Lalu?”
“Saya masih belum terlalu paham akan agama islam, saya islam, ya sudah sekitar satu minggu, tapi saya hanya membaca syahadat, tanpa melakukan semua kewajiban nya”
...****************...