Abian Dirgantara, pria yang diselingkuhi sang istri karena alasan dirinya yang miskin.
Abian hancur dan terpuruk saat wanita yang dicintainya lebih memilih pria lain dan pergi meninggalkan luka yang teramat dalam.
Setelah beberapa tahun kemudian, Abian kembali dengan membawa seluruh luka dan dendam pada mantan istrinya. Ia menemukan celah untuk membalaskan dendamnya melalui putri mantan istrinya yang masih belia.
Lantas, apakah Abian akan berhasil membalaskan dendamnya kepada sang mantan istri? Atau ia justru akan terjebak dengan permainannya sendiri dan malah terjerumus dalam pesona anak mantan istrinya?
******
Ini Novel kolaborasi dari penulis Virzha dan Author Ayuza ya guys ...
Jangan lupa like, komen, vote dan subscribe ya guys !!!!
Semoga suka!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melempar Umpan.
Ghea terlihat menekuni berkas yang sudah basah semua itu. Beberapa tulisan mulai memudar karena terkena tumpahan kopi tadi. Sudah cukup lama dia mengetik salinan berkas itu. Namun, ia sejak tadi tidak bisa fokus mengetik karena Abian sering memanggilnya untuk urusan yang tidak penting.
"Nona Ghea, sudah waktunya makan siang. Anda tidak makan siang dulu?" Tegur Boy mencoba menyapa Ghea yang sejak tadi begitu sibuk itu.
"Ah benarkah sudah makan siang? Aku lapar sekali, aku akan keluar dulu ya, Boy." Mendengar kata makan siang Ghea langsung semangat kembali, ia harus makan siang karena ia juga sangat lapar. Selain itu mungkin dengan makan ia bisa menambah kekuatan untuk menghadapi Om Presdir yang galak itu.
"Silahkan Nona, Anda masih punya waktu satu jam untuk istirahat," ujar Boy.
"Baiklah, terima kasih ya, Boy." Ghea mengangguk mengiyakan, ia bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya dengan riang menunju lift.
Namun, sebelum ia memencet tombol lift tiba-tiba suara bariton yang mulai familiar itu terdengar. Ghea langsung merasakan firasat tidak enak dalam hatinya.
"Mau kemana kau?" Tanya Abian menatap punggung Ghea.
Ghea memutar tubuhnya hingga bertatapan langsung dengan mata hitam kelam milik Abian itu. "Ini jam istirahat Tuan, saya mau mau makan siang dulu, kata Boy-"
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tukas Abian tidak menunggu Ghea menyelesaikan ucapannya. Ia juga sempat melirik Boy tajam, bisa-bisanya pria itu menyuruh Ghea beristirahat.
"Belum Tuan, saya akan menyambungnya nanti lagi. Tuan tenang saja, saya kalau mengetik itu cepat, saya pasti bisa menyelesaikannya," ujar Ghea penuh percaya diri.
Abian menipiskan bibirnya, sepertinya kepercayaan diri yang dimiliki Sukma menurun langsung kepada anaknya ini. Dan Abian sangat tidak menyukai hal itu. Semua hal indah tentang Sukma ia sangat membencinya. Dari sikapnya, senyumannya, semuanya tentang Sukma ia sangat membencinya.
"Tidak ada istirahat kalau perkejaan belum selesai. Boy, katakan pada wanita ini untuk melanjutkan pekerjaannya, setelah ini kita akan keluar," ujar Abian segera beranjak dari sana, melewati Ghea yang hanya diam mematung saat melihat sosok Abian.
Boy menggaruk alisnya, ia merasa kasihan juga melihat Ghea. Tapi ia juga tidak mungkin membantah ucapan Tuannya itu.
"Nona Ghea maaf ya, Nona selesaikan dulu pekerjaannya, nanti baru boleh istirahat. Saya permisi dulu," ucap Boy mengangguk sungkan sebelum ia mengikuti Abian yang sudah turun terlebih dulu.
Ghea mengerucutkan bibirnya kesal, padahal saat ini perutnya sangat lapar sekali. "Dasar Om Presdir galak, awas saja kalau dia seperti itu terus. Aku sumpahin biar jatuh cinta denganku nanti. Ghea berbicara asal saja sangking kesalnya.
******
"Apa menurutmu yang aku lakukan pada wanita itu sudah benar?"
Abian sudah berada disalah satu restoran langganannya untuk mengadakan meeting. Tapi karena masih jam makan siang, kliennya itu belum datang dan ia memutuskan untuk makan terlebih dulu. Sejak tadi Abian terus kepikiran dengan Ghea, jika mengingat mata wanita itu entah kenapa perasaannya tidak enak.
"Tergantung dari sisi mana penilaian itu, Tuan. Tapi kalau menurut saya pribadi, jika ingin membalas orang tuanya Ghea, Tuan jangan terus membencinya seperti itu," ujar Boy menatap Tuannya.
"Lalu?" Abian mengangkat alisnya.
"Dekati Nona Ghea, kalau bisa sangat dekat hingga rasanya Nona Ghea selalu membutuhkan Anda."
Abian menyipitkan matanya, dahinya tampak berkerut seperti berpikir keras, ia mencerna kata-kata yang dilontarkan Boy barusan.
"Apa mungkin aku harus mendekati wanita yang seharusnya pantas menjadi anakku?" Abian mengernyit, merasa kurang cocok jika dia mendekati Ghea.
"Jika Nona Ghea mau, apa yang salah? Tuan juga tidak terlihat tua seperti umurnya, selama ini juga banyak wanita muda yang mencari pria yang matang agar bisa mengayomi," tutur Boy dengan segala rencana liciknya. "Jika sampai Tuan sudah mendapatkan Nona Ghea, otomatis orang tuanya akan sangat syok dan hancur jika tahu Anda lah orang yang putrinya butuhkan," sambung Boy.
Abian tersenyum licik, sekarang ia paham maksud Boy dan sepertinya memang akan sangat menyenangkan kalau ia menjadikan Ghea sebagai bonekanya. Wanita itu bagaimana pun juga harus segera menjadi miliknya.
"Aku terima usulanmu, setelah ini aku akan mendekati wanita itu," ucap Abian kembali mengulas senyum yang lebih licik dari sebelumnya.
******
Ghea terlihat mulai lemas, perutnya kosong dan kepalanya pusing sekali karena sejak tadi melihat tulisan kecil-kecil. Terdengar suara orang yang datang membuat Ghea langsung meliriknya, ternyata Abian dan Boy sudah kembali.
Abian hanya melirik Ghea sekilas lalu masuk kedalam ruangannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Nona Ghea, bagaimana kabar Anda? Apakah sudah lapar?" Tanya Boy jelas berbasa-basi.
"Kau ini bertanya apa? Tentu aku sangat lapar, aku belum makan daritadi, Boy." Ghea menjawab dengan begitu kesal.
"Ini, saya membawakan Nona makan siang. Tadi Tuan Abian mengatakan Anda boleh makan dulu," kata Boy menyerahkan paper bag yang sengaja dibawanya dari restoran tadi.
"Kau yakin ini untukku? Om galak itu tidak akan marah padaku kan?" Mata Ghea langsung berbinar cerah melihat apa yang diberikan Boy.
"Asal setelah makan Anda langsung bekerja. Tuan Abian memang keras orangnya, tapi dia memiliki hati yang lembut Nona. Ini makanannya juga dari beliau, silahkan diterima," ucap Boy sengaja menceritakan tentang kebaikan Abian agar Ghea ini terkesima.
"Baiklah, terima kasih ya Boy. Aku benar-benar lapar sekali." Ghea menerima paper bag itu dengan penuh rasa syukur.
"Jangan berterimakasih pada saya Nona, tapi kepada Tuan Abian," kata Boy lagi.
"Ya, nanti aku akan mengatakannya. Sekarang aku makan dulu ya Boy," kata Ghea sangat tidak sabar sekali untuk memakan makan siang. Dari wanginya saja perutnya sudah keroncongan. Ghea segera membawa makanan itu turun ke dapur kotor yang ada dibawah lalu memakannya.
*****
Abian mengulas senyum puasnya saat melihat Ghea makan makanan pemberiannya. Ia memperhatikan wanita itu dari rekaman CCTV yang menunjukkan rekaman di dapur. Akhirnya umpan yang ia lempar berhasil dilalap habis oleh targetnya.
Setelah ini ia tinggal melanjutkan langkah selanjutnya untuk membuat wanita itu semakin terjebak olehnya.
******
Ghea memakan makan siangnya dengan sangat lahap, sudah seminggu ini ia makan makanan alakadarnya karena kondisi biaya. Sekarang diberikan makanan restoran mahal perutnya terasa sangat kenyang sekali.
"Ah, makannya benar-benar enak sekali. Untung Om galak itu mau memberiku makan, kalau tidak aku pasti bisa pingsan nanti," ucap Ghea sampai bersendawa karena sangking kenyangnya.
Ghea lalu membersihkan sisa makanan miliknya, ia mencuci tangan dan bersikap melanjutkan pekerjaannya. Namun, saat ia akan keluar dari dapur tiba-tiba ada empat orang yang menghadangnya.
"Anak baru?"
Happy Reading.
TBC.