"Ma, dia hamil." Ungkap Rey.
"Siapa yang kau hamili, Rey." Sontak, Mama Lalita terkejut ketika mendapati pengakuan dari anaknya, ia bahkan sampai terperanjat dari duduknya.
"Hanna!" Sarkas Rey kemudian.
Kepanikan Mama Lalita berubah menjadi gelak tawa, ketika mendengar nama wanita yang sudah dihamili oleh anaknya.
"Lalu, apa masalahnya? Memangnya mengapa jika kau menghamili istrimu sendiri!" Pungkas Mama Lalita.
Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Rey justru panik ketika istrinya hamil?
Dan yang lebih parahnya lagi, Hanna yang berstatus istri Rey, justru kebingungan ketika mendapati dirinya hamil. Ia bingung, siapa Ayah dari bayi yang ia kandung!
Wahh...! Bagaimana itu bisa terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengantin Pengganti
Dengan lesu Hanna keluar dari perusahaan. Dia baru sadar, ternyata itu sudah hampir tengah malam. Dia teringat, terakhir dia melihat jam di pergelangan tangannya sewaktu sedang berada di Aula Pernikahan itu, menunjukkan pukul 20:46. Ditambah lagi perjalan yang harus ia tempuh dari Hotel tersebut ke perusahaan hampir memakan waktu satu setengah jam.
"Habis kau Hanna! Kau benar-benar berakhir kali ini!" Pekik Hanna sambil mengacak rambutnya sendiri.
***
Hanna sampai dirumah pukul 01.15. Jangan tanya seberapa lelahnya dia. Hanna bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya dan sudah langsung terlelap di atas tempat tidurnya.
Namun pagi ini, dia tidak terlambat seperti biasanya. Rasa takutnya membuat dia bangun lebih cepat. Hanna langsung bergegas ke perusahaan setelah bersiap dan berdoa tentunya. Dia berharap, kemarahan Bu Mirna tidak sampai membuat dia di pecat!
*
"Hannaaaa...." Kalian ingat gadis berkacamata? Dari departemen HRD. Nah, itu dia. Sedang berlari ke arah Hanna dengan heboh. Lora, gadis itu akan selalu heboh ketika mendapatkan gosip baru. Dan sekarang, entah gosip apa yang membuat dia seheboh itu.
"Gosip baru lagi?" Tanya Hanna datar, Hanna sudah sangat hafal dengan sifat Lora. Dia rela ke Departemen Hanna untuk bergosip. Karena selain Hanna, tidak ada yang mau meladeni dia. Hanya Hanna, pendengar setianya.
"Sebentar-sebentar..." Sambil mengangkat tangannya, Lora mencoba mengatur napasnya yang sedang ngos-ngosan. Lalu, menarik kursi di depan Hanna dan duduk disana.
"Kamu tahu CEO baru kita, yang tidak pernah datang ke perusahaan itu." Ujarnya dengan napas masih terpengkal-pengkal.
"Ehemm..." Jawab Hanna sambil mengangguk pelan, perasaannya langsung tidak enak, jika gosip itu ternyata bersangkutan dengan Boss nya itu.
"Dia nikah kemarinnnnn...." Sambil menunjukkan foto pernikahan si CEO, diponselnya.
"What!" Hanna langsung meraih ponsel Lora, dengan mata melotot. Bagaimana mungkin, pernikahan yang diselenggarakan begitu private, hingga dijaga begitu ketat oleh pengawal, bisa sampai tersebar foto pernikahannya. Disana bahkan wartawan di jaga ketat, dilarang keras untuk masuk dan menyebarkan foto atau berita.
Hanna memeriksa dengan teliti. Dan sepertinya tidak akan ada yang mengenalinya. Karena dia membelakangi kamera, di foto itu. Hanna menghela napas lega.
"Dan kau tahu, apa yang paling heboh. Ada yang aneh dengan pengantin wanitanya." Dengan ekspresi khasnya, saat sedang bergosip. Lora begitu bergebu-gebu membicarakan CEO mereka yang tidak pernah sekalipun datang ke perusahaan setelah menjabat. Karyawan harus mencarinya di luar perusahaan jika membutuhkan tanda tangannya.
Rey, baru menjabat selama 3 bulan. Namun, karena kesibukannya menyelesaikan S2, dan kehidupan percintaannya. Rey, belum pernah sekalipun masuk ke kantor.
Maka dari itu, hampir semua karyawan menggosipkan nya. Bukan hanya Lora! Namun, diantara semuanya hanya Lora yang paling heboh dan sangat penasaran dengan sosok Rey.
"Aneh gimana?" Hanna penasaran.
Bu Mirna, yang entah sejak kapan sudah duduk di balik meja kerjanya berdehem. Menyadarkan kedua gadis itu untuk berhenti bergosip.
"Apa kau akan tetap disini, Lora?" Imbuh Bu Mirna tanpa menoleh.
"Saya baru saja akan pergi, Bu." Lora bangkit dari duduknya, melempar senyum canggung ke arah wanita yang dikenal tegas itu. Kemudian, Lora kembali mengalihkan pandangannya ke arah Hanna "Nanti kita bertemu di rooftop." Bisik Lora sambil mengedipkan matanya ke arah Hanna, sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Hanna, kembali menegang ketika melihat ekspresi datar manager nya itu.
Setelah menghela napas dalam Hanna memberanikan diri menemui Bu Mirna.
"Aku minta maaf atas kejadian kemarin, Bu." Hanna menunduk dalam.
"Percuma minta maaf padaku, bukan aku yang dirugikan. Jika memang kau berniat minta maaf, minta maaf langsung pada orangnya."
Hanna mendongakkan wajahnya. "Pada siapa aku harus minta maaf, Bu?" Tanyanya bingung.
TO BE CONTINUED >>>