NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita Bayaran

Renald menyisir rambutnya dengan kasar, seolah gerakan itu bisa meredakan kekesalan yang menggelayuti kepalanya. Belum genap sehari ia menginjakkan kaki di negeri itu, namun rasa ingin pulang sudah begitu menguat. Bukan pada negaranya, bukan pula pada kenyamanan rumah atau perusahaannya. Rasa rindu itu tertuju pada seseorang—Kinara.

Ia sempat menertawakan dirinya sendiri. Sejak kapan perasaannya mulai tumbuh? Awalnya, ia yakin hanya membutuhkan tubuh wanita itu, sekadar pelampiasan singkat. Tetapi semakin jauh, ia menyadari bahwa isi hatinya berbeda. Bayangan Kinara terus hadir, bahkan di sela-sela kesibukannya.

“Feri...” Panggil Renald lirih namun tegas.

Asisten yang setia mendampinginya itu menoleh. “Ya, Bos?”

“Berapa lama lagi urusan kita di sini?” Nada suara Renald mengandung ketidaksabaran.

Feri menghela napas dengan kasar. “Bos, kita bahkan belum sehari di sini. Masih ada enam hari lagi untuk menyelesaikan proyek.”

Renald terdiam. Enam hari terasa seperti enam bulan baginya. Saat ini mereka berada di negara itu untuk melaksanakan pertemuan kontrak dengan klien penting. Proyek besar ini tidak bisa diwakilkan; ia harus turun tangan langsung. Kesuksesan proyek akan menambah pundi-pundi kekayaannya dan semakin mengukuhkan namanya sebagai CEO muda tersukses.

Namun, ia pun kini tak mengerti, kemana semangat kerjanya yang dulu? Mengapa kini semangat itu menghilang? Dan yang dirinya inginkan saat ini hanyalah segera kembali.

Dengan gerakan tergesa, Renald meraih jas yang tersampir di kursi.

“Bos, mau ke mana?” Tanya Feri, khawatir dengan perubahan sikap Bos nya.

“Mansion.” Jawab Renald singkat.

Feri hanya bisa menggeleng. Ia tahu, Renald sedang membutuhkan pelampiasan dan harus dituntaskan saat itu juga.

Beberapa waktu kemudian, sebuah kendaraan mewah  berhenti di depan mansion pribadi. Begitu pintu dibuka dan langkah kaki Renald menapak masuk, suara Renald langsung menggema memenuhi ruangan yang luas dan sepi.

“Pak Eksa, panggil Devita ke sini.”

Penjaga rumah itu segera menunduk hormat, lalu menghubungi seseorang lewat telepon.

“Perintahkan dia langsung ke kamar saya kalau sudah datang.” Lanjut Renald sebelum menaiki tangga menuju kamar pribadinya.

Lima belas menit kemudian, pintu kamar terbuka. Seorang wanita dengan mini dress ketat masuk, bibirnya tersenyum menggoda. Dialah Devita, wanita bayaran yang sejak lama menjadi pelarian Renald setiap kali ia membutuhkan pelampiasan.

“Oh honey, aku merindukanmu.” Ujar Devita manja, bergelayut di lengan Renald.

“Lakukan tugasmu sekarang.” Balas Renald datar, tanpa basa-basi.

Bagi Renald, Devita tak lebih dari sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Hanya itu. Bedanya, ia selalu meminta kepuasan dengan cara yang sama—melalui layanan oral.

Renald duduk santai di sofa, sementara Devita segera menunduk patuh, memulai tugasnya dengan keahlian yang sudah biasa ia lakukan.

Namun baru beberapa menit, bayangan wajah Kinara muncul begitu jelas di benak Renald. Hatinya bergetar. Semakin ia mencoba mengenyahkannya, semakin kuat bayangan itu menghantui.

Tanpa sadar, sebuah nama lolos dari bibirnya. “Ahh... terus Kinara…”

Devita tertegun, menghentikan gerakannya. Matanya menatap tajam. “Siapa Kinara?”

Renald tersadar, namun ekspresinya tetap datar. “Bukan siapa-siapa.”

Bohong jika Devita percaya begitu saja. Bertahun-tahun menjadi wanita bayaran Renald, ia tahu betul pria itu tidak pernah menyebut nama wanita lain. Rasa cintanya yang terlarang membuat dadanya sesak. Ia rela menjadi wanita panggilan hanya demi bersama Renald, meski status itu sangat merendahkannya.

“Apa wanita itu… yang menemanimu belakangan ini?” Tanya Devita lagi, suaranya bergetar menahan emosi.

Renald tidak menjawab. Keinginannya untuk hal itu lenyap seketika. Ia berdiri, mengenakan kembali pakaiannya. “Ck… sadarlah, Devita. Kau di mataku hanya seseorang yang kubayar!” Ia mencoba untuk mengingatkan.

Wajah Devita pucat. “Renald, maaf… aku akan lakukan lebih baik lagi kali ini.” Ia meraih tangan pria itu dengan gugup.

“Sudahlah. Aku tidak menginginkanmu lagi. Kau boleh pergi. Uangnya akan kutransfer.” Nada suara Renald dingin, tak memberi ruang tawar.

“Tapi Ren—”

Isyarat tangan Renald menghentikan kata-katanya. Tegas, tak terbantahkan.

Dengan emosi, Devita meraih pakaiannya yang tercecer di lantai, lalu melangkah keluar kamar. Begitu pintu tertutup, ia menghentakkan kakinya keras-keras di koridor. Amarah dan kecewa bercampur menjadi satu.

•••

Di tempat lain, William kini sudah duduk di kursi belakang mobil dengan pandangan kosong. “Pak, hari ini antarkan saya ke rumah besar.” Perintahnya kemudian pada sang sopir pribadi.

Perjalanan itu memakan waktu dua jam sebelum akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang megah. Dinding putihnya masih berdiri kokoh, taman tertata rapi, seolah waktu tak menggerus sedikit pun kemewahannya.

Rumah inilah saksi masa kecil William. Setiap langkahnya di halaman itu memunculkan potongan kenangan. Dengan langkah panjang ia masuk, mencari sosok yang paling ia rindukan.

“Oma, aku pulang.” Serunya sambil menyibak pintu ruang tamu.

Seorang wanita tua dengan rambut memutih bergegas menghampirinya. “William! Kenapa tidak bilang mau datang? Kalau tahu, Oma akan siapkan makanan kesukaanmu.”

William tersenyum hangat dan memeluk Oma Elsa erat. “Kan aku mau kasih kejutan buat Oma.”

“Dasar anak nakal.” Oma terkekeh, lalu menatap wajah cucunya penuh kasih. “Kamu sudah sarapan?”

“Sudah tadi, Oma.”

Tatapan William teralih ke sebuah foto tua di atas nakas. Ia sudah lama memperhatikan foto itu, wajah seseorang yang tidak pernah dijelaskan jelas oleh neneknya. Dengan ragu, ia memberanikan diri.

“Oma… aku pernah tanya soal foto itu, tapi Oma nggak pernah mau jawab. Sekarang… boleh tidak aku tahu siapa dia?”

Pertanyaan itu membuat senyum Oma Elsa sedikit pudar. Sekilas, sorot matanya diliputi keraguan. Kenangan yang berusaha ia kubur kembali muncul.

“Oma akan ceritakan nanti. Sekarang kamu pasti lelah. Istirahat dulu, ya.”

William tahu, neneknya sedang menghindar. Tapi ia memilih tidak memaksa. “Baik, Oma.” Ia tersenyum tipis, lalu mengikuti langkah neneknya ke kamar lamanya.

Sementara hari kedua tanpa Renald di kantor terasa ringan bagi Kinara. Ia berangkat tanpa tergesa, bahkan sempat bersenandung kecil di perjalanan. Tidak ada aura dingin bosnya yang selalu menuntut kesempurnaan.

Sesampainya di ruang kerja Renald, ia tetap membersihkan ruangan itu meski tak ada kotoran berarti. Lalu dengan wajah berbinar, ia mengeluarkan sebuah kotak lego yang semalam sempat ia rapikan.

“Lego lagi.” Gumamnya sambil terkekeh.

Ia merakit balok-balok kecil itu satu per satu. Hatinya senang, meski pekerjaannya terasa seperti permainan anak-anak. Ia yakin, jika Gisella melihatnya, pasti temannya itu akan menatap dengan iri.

Saat jam istirahat makan siang tiba, Kinara kembali melewati harinya dengan rutinitas yang sama. Ia berjalan ke kantin seorang diri. Sebelumnya ia sempat menghubungi Gisel, namun wanita itu terlalu sibuk hingga ia pun tak punya pilihan selain makan sendirian.

Begitu istirahat usai dan ia kembali ke ruangan, pandangannya langsung jatuh pada lego yang masih berserakan di lantai. Sejenak ia terdiam, lalu mendesah pelan. ‘Bosan…’ Batinnya, merasa hampa di tengah hiruk pikuk kantor.

Ia merebahkan diri di kursi Renald, menatap langit-langit. “Aku merindukan pekerjaan lamaku…” Gumamnya pelan.

Perlahan, Kinara mulai menyadari satu hal: pekerjaan lamanya—meski penuh tekanan—ternyata jauh lebih bermakna dibanding hanya berkutat dengan lego seharian. Untuk mengusir jenuh, ia pun pada akhirnya menyalakan laptop milik Renald.

“Hmm, mungkin aku bisa download game. Kalau bos sudah balik, tinggal hapus lagi.” Gumamnya sambil terkekeh kecil, seperti anak sekolah yang mencuri waktu bermain di sela pelajaran.

Jam berjalan begitu lambat. Hingga sore menjelang, Kinara tetap berada di kantor, menunggu waktu pulang. Begitu jam kerja selesai, ia segera mengendarai motornya menuju apartemen.

Hanya satu hal yang ia inginkan: rebah di atas kasur, melepaskan penat, sambil menanti hari berganti. Padahal, jika dipikir-pikir, rasa penat itu datang entah dari mana—karena sepanjang hari di kantor, kegiatannya tak lebih dari sekadar bermain.

1
Siti Naimah
busett...bener2 keluarga toxic
semoga kelakuan Rani segera terbongkar...lewat Danu yg merupakan ayah biologis Diana..
geregetan banget kok Kinara yg dijadiin sapi perah
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!