NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Sang Kolonel

Cinta Terakhir Sang Kolonel

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.

Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.

Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.

Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: JENTERA TAKDIR DAN DINDING KEBANGGAAN

Pintu kayu tipis rumah dinas itu tertutup rapat dengan suara dentuman halus yang seolah mengunci seluruh kegelapan malam di luar. Begitu selot kunci berputar, pertahanan Kapten Ayu runtuh seketika. Tubuhnya merosot perlahan di balik daun pintu, menumpu pada lututnya yang mendadak lemas, seiring dengan air mata yang mulai bercucuran deras membasahi pipinya.

Isak tangis Ayu terdengar begitu pilu di dalam keheningan ruang tamu yang sunyi. Ada perpaduan rasa emosi yang berkecamuk hebat di dalam dadanya. Antara rasa malu yang teramat sangat karena telah salah menganalisis niat baik sang komandan, atau memang ada letupan perasaan aneh yang asing di dalam dirinya saat ia dengan lantang meneriakkan kalimat, “...Anda itu bukan ayahnya!” kepada Victor tadi.

Ayu memeluk lututnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya yang basah. Sesungguhnya, ia terlalu takut. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Ayu didera ketakutan yang luar biasa jika suatu hari nanti Arkan tumbuh besar dan menyadari kenyataan pahit bahwa Kolonel Victor bukanlah ayah kandungnya. Anak sekecil itu pasti akan sangat terluka jiwanya. Nasib kehidupan di masa depan juga tidak ada satu pun manusia yang tahu. Bagaimana jika suatu hari nanti garis takdir membawa Victor untuk menikah dengan wanita pilihan keluarganya? Atau bagaimana jika pria raksasa itu mendadak menerima surat perintah pindah tugas mutasi ke markas komando pusat di ibu kota atau bahkan ke daerah operasi terpencil?

Ayu terlalu takut jika Arkan terlanjur bergantung sepenuhnya secara emosional pada sosok Victor, lalu kemudian hari anak itu harus kembali mencicipi pahitnya kehilangan figur seorang ayah untuk kedua kalinya. Namun, di balik dinding ketakutannya yang egois, rasa penyesalan yang teramat besar kini mulai menggerogoti nurani Ayu. Ia merutuki kebodohannya sendiri karena telah bersikap terlalu kasar, ketus, dan meledak-ledak pada pria masa lalunya itu.

"Kenapa... kenapa kamu selalu melakukan hal-hal yang menurutku tidak perlu kamu lakukan, Victor?" bisik Ayu di sela-sela tangisnya yang tertahan, meremas dadanya yang terasa sesak. Ayu takut. Ia teramat takut jika hatinya yang rapuh dan penuh luka trauma ini tidak akan kuat lagi menahan gempuran perhatian senyap dari sang Kolonel. Ia takut pertahanannya tumbang dan ia kembali jatuh cinta pada pria yang sama.

Ayu menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh beban status barunya sebagai ibu tunggal malam itu, tanpa menyadari bahwa sejak beberapa menit lalu, sesosok tubuh mungil berpiyama dinosaurus sudah berdiri diam di dekat koridor tengah, memandanginya dengan tatapan mata yang teramat sedih.

Ayu tersentak kecil saat sepasang tangan mungil yang hangat tiba-tiba menyentuh pundaknya. Ia mendongak dengan cepat, berusaha menghapus air matanya dengan gerakan panik.

"Sayang... kenapa bangun?" tanya Ayu dengan suara yang serak, mencoba tersenyum di depan putra kecilnya.

"Kenapa ibu malahi ayah?"

Pertanyaan polos namun menohok itu meluncur dari bibir mungil Arkan. Sepasang mata bulat anak itu kini ikut berkaca-kaca, sebelum akhirnya air mata ikut menetes di pipi gembulnya. Ternyata, anak kecil berusia empat tahun itu mendengar samar-samar pertengkaran hebat antara kedua manusia dewasa di teras rumah tadi.

"Apa ayah besal juga tidak sayang sama Alkan dan ibu ya... sampai-sampai ibu menangis?" ucap Arkan sesenggukan, mengusap air matanya sendiri dengan kepalan tangan kecilnya.

Ayu tertegun, hatinya laksana disayat sembilu mendengar analisis polos dari putranya. Anak sekecil itu, dengan rasa ingin tahunya yang teramat besar, telah salah mengartikan situasi. Ayu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, lalu meraih tubuh mungil Arkan ke dalam pelukan hangatnya.

"Bukan... bukan begitu, Sayang. Ayah Besar orang baik," ucap Ayu lirih. Namun, ego dan ketakutannya kembali mengambil alih kendali. Ayu menangkup kedua pipi Arkan, menatap lurus ke dalam mata bulat anaknya dengan tatapan serius. "Arkan, dengarkan ibu. Komandan Victor... bukan ayahnya Arkan. Oke? Arkan tidak boleh panggil beliau Ayah lagi."

Mendengar larangan tegas dari ibunya, wajah Arkan seketika berubah mendung. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, berontak dari pegangan tangan Ayu.

"Gak mau, Ibu! Alkan mau Ayah Besal! Ayah Besal itu ayahnya Arkan!"

"Arkan! Dengarkan kata ibu—"

Belum sempat Ayu menyelesaikan kalimatnya dengan nada yang sedikit meninggi, anak itu sudah membalikkan tubuh mungilnya. Dengan langkah kaki kecil yang menghentak seraya menangis kencang, Arkan berlari cepat menuju ke arah kamar tamu di bagian samping, lalu menutup pintu kamar tersebut dengan bantingan keras.

BRAKK!

Ayu tersentak di tempatnya berdiri. Dengan perasaan campur aduk, ia segera melangkah menghampiri pintu kamar tamu yang tertutup rapat itu, lalu mengetuknya dengan lembut.

"Arkan... Arkan sayang? Buka pintunya, Nak. Ibu masuk, ya?"

"Alkan tidak mau bicala sama Ibu!" teriak sebuah suara kecil dari dalam kamar, disusul oleh suara tangis yang diredam di balik bantal. Ayu hanya bisa menyandarkan dahinya di daun pintu, mendesah pasrah menyadari bahwa malam ini ia telah berhasil menyakiti dua hati sekaligus, pria masa lalunya dan putra kandungnya sendiri.

Keesokan harinya, mentari pagi yang terbit di ufuk timur ksatrian Bukit Raya tidak serta-merta mencairkan ketegangan yang menggantung. Benar saja, keras kepalanya Arkan rupanya menurun lurus dari garis genetika ibunya. Begitu terbangun dari tidur dan selesai mandi, anak kecil itu langsung memanfaatkan kelengahan Suster Leli yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Dengan langkah taktis, Arkan menyelinap keluar dari pagar perumahan dinas, berniat kuat untuk kembali menemui Ayah Besarnya di gedung utama Mako demi mengadukan rasa sedihnya.

Namun, kali ini aturan main di markas komando telah berubah total. Langkah kaki kecil Arkan yang baru saja hendak menginjak anak tangga pertama lobi Mako langsung dihadang oleh sosok tinggi tegap Sersan Satu Johan yang sudah berdiri bersedekap dengan wajah formal.

"Anak kecil, kamu mau ke mana?" tanya Johan dengan nada suara yang dibuat tegas, namun tetap menyiratkan keramahan aslinya.

Arkan mendongak, menatap ajudan bertubuh kekar itu dengan sepasang mata bulatnya yang penuh harap. "Paman Han... apa Ayah... apa Ayah Besal ada di dalam?" tanya Arkan polos, sambil mengacungkan jari telunjuk gembulnya ke arah pintu masuk ruang kerja komandan yang berukuran besar dan kokoh itu.

Johan mengembuskan napas perlahan, mengingat perintah ketat yang diterimanya langsung dari sang komandan sejak subuh tadi. Ia berlutut di depan Arkan, menyamakan tingginya dengan bocah empat tahun itu.

"Ayah sedang sangat sibuk, Arkan. Di dalam ruangan sedang ada rapat koordinasi darurat dengan para Jenderal dari komando atas. Jadi, Arkan tidak boleh masuk atau mengganggu Ayah dulu, ya?" ucap Johan meluncurkan sebuah alasan protokol yang terstruktur.

Mendengar kalimat Johan, binar harapan di mata Arkan seketika meredup. Anak itu hanya bisa mengangguk pasrah dengan bibir yang melengkung ke bawah, lalu membalikkan badannya dengan gurat kekecewaan yang kentara untuk berjalan kembali ke arah blok perumahan dinas belakang.

Padahal, kenyataan di dalam ruangan kerja sangat bertolak belakang. Kolonel Victor sama sekali tidak sedang kedatangan tamu agung, apalagi mengadakan rapat dengan para Jenderal. Pria raksasa itu hanya duduk sendirian di balik meja kerjanya yang luas, menatap kosong ke arah jendela luar. Victor memang sengaja mengeluarkan perintah untuk membatasi dan menutup rapat akses pertemuannya dengan Arkan mulai hari ini.

Sesungguhnya, ego dan harga diri Victor sebagai seorang perwira dan pria terhormat telah benar-benar tersinggung oleh rentetan ucapan ketus Ayu semalam. Walaupun di dalam sudut logikanya yang dingin, Victor mengakui bahwa ucapan Ayu ada benarnya—bahwa ia bukanlah ayah kandung dari Arkan—namun bukan berarti Ayu berhak menuduhnya melakukan tindakan murahan seperti memanfaatkan kepolosan seorang anak kecil demi menarik perhatian atau mengambil simpatik dari ibunya.

Victor tidak semurah itu. Pria raksasa pemegang tahta tertinggi di Pusdikmil itu memiliki prinsip hidup yang sangat rigid, jika ia memang berniat untuk mendapatkan kembali hati Ayu, maka ia akan maju secara jantan bertaruh dengan kekuatannya sendiri di garis depan, bukan lewat jalur belakang memanfaatkan kepolosan seorang bocah empat tahun.

Beberapa hari pun berlalu dalam keheningan dinas yang kaku dan penuh jarak. Selama waktu itu pula, Victor sengaja menarik seluruh pengawasan visualnya dari perimeter rumah dinas Ayu, membiarkan wanita itu mengelola kehidupannya sendiri. Hingga pada suatu sore, setelah menyelesaikan evaluasi latihan menembak, Sersan Satu Johan melangkah masuk ke ruang kerja komandan untuk memberikan laporan rutin mingguan.

"Komandan, izin memberikan laporan evaluasi triwulan bagian personel beserta pembaruan data domestik anggota staf Satdik," ucap Johan sembari meletakkan sebuah map tebal berwarna biru di atas meja kerja Victor.

Victor tidak langsung menyentuh map itu. Ia menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kebesaran, menatap Johan dengan tatapan menginterogasi.

"Ada hal penting?"

Johan menarik napas dalam-dalam, memastikan situasi sekitar steril sebelum berbicara dengan nada suara yang merendah.

"Siap, Komandan. Mengenai berkas administrasi Kapten Ayu yang sempat tertahan di bagian Personel. Berdasarkan salinan memori putusan Pengadilan Agama yang baru saja dilegalisir dan masuk ke meja staf dua hari lalu... status hukum Kapten Ayu saat ini telah resmi dinyatakan berpisah secara hukum tetap dari suaminya akibat kasus penelantaran dan pelanggaran hukum perkawinan sepihak oleh pihak pria. Kapten Ayu kini memegang hak asuh penuh atas Arkan."

Mendengar laporan detail dari mulut Johan setelah beberapa hari tanpa pengawasannya, Victor tertegun diam di tempatnya duduk. Jemari kekarnya yang semula mengetuk meja dengan konstan seketika terhenti. Sebuah pemahaman baru yang besar mendadak menghantam isi kepala sang Kolonel.

Detik itu juga, Victor baru menyadari satu hal krusial yang menjadi teka-teki besar di balik ledakan emosi Ayu malam itu. Ternyata, alasan mengapa Ayu begitu sensitif, meledak-ledak, dan merasa diinjak-injak harga dirinya saat menerima hadiah mobil aki mewah darinya adalah karena status barunya yang kini telah resmi menjadi seorang single mom. Wanita itu sedang berada di titik terendahnya, didera trauma pengkhianatan rumah tangga, sehingga mengira kemurahan hati Victor adalah bentuk belas kasihan atau ejekan atas ketidakberdayaan finansialnya sebagai ibu tunggal.

Perasaan gusar dan amarah yang sempat bercokol di dada Victor terhadap Ayu seketika menguap, digantikan oleh sebersit rasa iba dan perlindungan yang teramat dalam. Namun, sebagai seorang Kolonel yang memegang kendali penuh atas harga dirinya sendiri, Victor memilih untuk tetap bersikap tenang dan taktis. Ia tidak akan langsung maju mendekat secara ceroboh yang justru bisa semakin melukai ego perfeksionis Ayu.

Victor menarik map biru itu ke hadapannya, lalu menatap lurus ke arah Johan dengan ekspresi wajah yang kembali sedingin es, berpura-pura seolah ia tidak tahu apa-apa dan tidak terpengaruh oleh informasi tersebut.

"Baik, laporan saya terima," ucap Victor dengan suara baritonnya yang datar dan tanpa riak emosi. "Simpan berkas ini di lemari arsip khusus saya. Dan untuk urusan di luar dinas... biarlah semuanya berjalan sebagaimana mestinya terlebih dahulu. Jangan ada tindakan khusus apa pun dari pihak kita."

"Siap, laksanakan Komandan!" sahut Johan dengan sikap hormat sempurna sebelum melangkah mundur keluar dari ruangan.

Di balik pintu yang tertutup, Victor melirik ke arah meja sampingnya, di mana bola kristal pemberian Arkan berdiri kokoh di atas bingkai jati barunya. Biarlah waktu yang bekerja mencairkan kebekuan di antara mereka, karena Victor tahu, jentera takdir di ksatrian Bukit Raya ini baru saja dimulai.

1
Deuis Lina
tentunya punya jurus terakhir ya komandan rencana A gagal pasti ada rencana B
Deuis Lina
duh Arkan kamu bahagianya punya ayah besar yg sangat menyayangi mu
Deuis Lina
wah kekuasaannya keluar tuh ayah besar,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
makasih upnya
Deuis Lina
aku kasih vote mingguannya kak,,semangat teruuus
Deuis Lina: sama2 kak
total 2 replies
Deuis Lina
mengandung bawang banget ceritanya
Deuis Lina
lanjuuut
Deuis Lina
ayu oh ayu,,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
kayaknya ada yg senyum merekah nih,,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
berbalik lah karena ada laki laki yg lebih tulus mencintaimu ayu
Deuis Lina
CLBK ya Bu Intel buang suami yg tak mencintaimu
Deuis Lina
terlalu menyesakan dada bacanya kak,🤣🤣🤣🤣
Deuis Lina
Hem,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,
Deuis Lina
nyesek sekali bacanya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!