Andi dan Intan adalah dua kakak beradik yang terlahir dari keluarga sederhana. Andi umur 5 tahun dan Intan adiknya umur 3 tahun. Bapaknya meninggal karena serangan jantung, sedangkan mamaknya menikah lagi dengan seorang pria duda.
Mereka (Andi dan Intan) harus berjuang sendiri tanpa kedua orang tua, hingga menjadi pengemis dan pengamen untuk bertahan hidup. Akan tetapi, Andi dan Intan berpisah karena suatu kecelakaan di sebuah lampu merah.
Bagaimana kisah selanjutnya tentang kedua kakak beradik ini? Ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tampan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6: Dapat Kerja
Selanjutnya..
Beberapa jam berlalu dan semua menolak, Pak Rio membelokkan motornya ke pom bensin.
"Kemana kita, Bang?" tanya Bu Rina yang masih nyaman dalam boncengan Pak Rio.
"Mengisi minyak sebentar, jangan sampai kita menyorong nanti," jawab Pak Rio.
**
"Dik, ayo makan. Adik sudah lapar kan?" tanya Andi kepada Intan yang tengah asyik bermain. Intan hanya mengangguk.
Mereka pun meninggalkan permainannya dan masuk ke rumah untuk makan. Andi terlebih dahulu mempersiapkan: cuci tangan, cangkir, air minum, ikan, dan sayur dari atas meja, lulu diletakkan di lantai. Kemudian dia mengambil dua piring, lalu menyendok nasi yang diambil dari periuk dan memberikan satu kepada adiknya (Intan). Intan duduk dengan kedua kakinya lurus kedepan, sedangkan Andi duduk dengan kedua kakinya bersila. Mereka pun makan.
**
Sedang mengisi minyak, Bu Rina yang turun dari motor tiba-tiba melihat ada sebuah brosur yang menempel di tiang listrik bertuliskan "Dibutuhkan Segera Pembantu Rumah Tangga (dan seterusnya)". Lalu, Bu Rina mengambil pulpen dan kertas dari tasnya untuk mencatat alamat yang sudah diterterakan di brosur tersebut.
"Bang, di brosur itu ditulis membutuhkan PRT, kita ke sana ya. Aku sudah mencatat alamatnya," kata Bu Rina sambil menunjuk ke arah brosur.
"Ya sudah!" jawab Pak Rio singkat. Setelah membayar, mereka pun berangkat ke alamat yang di brosur.
"Semoga aku diterima dan semoga belum ada yang mendahuluiku," gumam Bu Rina yang sudah dalam boncengan Pak Rio.
Bu Rina memandu Pak Rio sesuai alamat di brosur. Mereka pelan-pelan dan selalu menoleh kiri dan kanan agar tidak kelewatan. Alamat yang dicari pun dapat dan mereka berhenti.
"Permisi, Pak, Bu, permisiii...." panggil Bu Rina dari luar pagar.
Kemudian Rinto keluar dari rumah dan berjalan menuju pagar.
"Iya, dengan siapa, ya?" tanya Rinto yang kebetulan supir pribadi dari pemilik rumah.
***
Rinto adalah seorang supir pribadi, umurnya 30-an tahun dan belum menikah.
***
"Maaf Pak, apakah ini benar rumah yang membutuhkan tenaga PRT?" tanya Bu Rina.
"Iya, benar," jawab Rinto.
"Kebetulan aku sedang mencari kerja Pak dan aku mau bekerja di rumah Bapak," kata Bu Rina.
"Oh, silahkan masuk!" ajak Rinto sambil membuka pagar. Bu Rina pun masuk, tetapi Pak Rio tidak ikut masuk dan menunggu di luar pagar.
Tiba di depan pintu, Bu Rina belum dipersilahkan untuk masuk.
"Tunggu sebentar ya Bu, biar saya panggilkan dulu Bapak-Ibu pemilik rumah ini," perintah Rinto.
"Oh, bukan Bapak ini pemilik rumah?" batin Bu Rina bertanya.
Kemudian Rinto menjumpai majikannya dan memberitahu bahwa ada seorang wanita ingin bekerja sebagai PRT.
Tidak berapa lama, pemilik rumah muncul dan langsung ke ruang tamu.
"Masuk Dek, silahkan duduk," kata bapak pemilik rumah.
Bu Rina pun masuk dan langsung menyalam bapak-ibu pemilik rumah.
"Rina Pak, Rina Bu," kata Bu Rina lalu duduk.
Mereka langsung To The Point membicarakan tentang peraturan yang harus dipatuhi Bu Rina, besaran gaji, dan pekerjaan apa saja yang akan dikerjakan. Bu Rina pun setuju dengan semuanya.
Setelah selesai berbicara, bapak pemilik rumah menoleh keluar dan tanpa sengaja melihat Pak Rio.
"Suaminya ya, kok enggak diajak masuk?" tanya bapak pemilik rumah yang melihat Pak Rio seperti menunggu seseorang sambil merokok.
"Oh, itu sepupu Pak," jawab Bu Rina.
"Oooo...." balas bapak pemilik rumah sambil mengangguk.
"Jadi, kapan aku mulai bekerja, Pak?" tanya Bu Rina.
"Besok, bisa!" jawab bapak pemilik rumah dengan singkat.
"Oya, nginap atau pulang besok dan seterusnya?" tanya bapak pemilik rumah kemudian.
"Pulanglah, Pak. Kebetulan aku punya dua orang anak yang masih kecil-kecil dan suamiku juga sudah meninggal, jadi tidak ada yang menemani mereka kalau malam, Pak" jawab Bu Rina.
"Oooo... ya sudah, tidak apa-apa," kata bapak pemilik rumah.
"Kalau begitu, aku pamit dulu Pak dan terima kasih sudah menerimaku bekerja di rumah Bapak," kata Bu Rina dengan semangat sambil menyalam bapak-ibu pemilik rumah.
Bu Rina pun keluar dan menghampiri Pak Rio yang sedang menunggunya dari tadi.
"Bagaimana Dek, diterima?" tanya Pak Rio.
"Iya Bang, aku diterima dan besok sudah mulai bekerja," jawab Bu Rina dengan semangat.
"Baguslah, Dek" kata Pak Rio.
***
Pekerjaan Bu Rina, yaitu: memasak, mencuci, menyetrika, menyapu dan mengepel rumah, dan membersihkan pekarangan.
***
"Oya, sudah jam berapa Bang? Kita langsung pulang aja ya dan antar aku pulang," kata Bu Rina.
"Apa nanti kata tetanggamu kalau kita dilihat bersama, Dek?" tanya Pak Rio.
"Sudah! Tenang saja, Bang" jawab Bu Rina.
Kemudian Pak Rio menghidupkan motornya, lalu Bu Rina naik dan duduk di belakang. Mereka pun pulang ke rumah (Bu Rina) dan juga Bu Rina sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua anaknya.
Sepanjang jalan Bu Rina begitu bahagia karena diterima bekerja.
"Sudah sampai, Dek" kata Pak Rio.
"Abang enggak pijak rem, ya?" tanya Bu Rina heran sambil turun. Saking bahagianya, perjalanan kerumahnya pun serasa selangkah baginya.
Begitu Bu Rina turun, Pak Rio langsung pulang. Dia tidak ingin tetangga Bu Rina beranggapan yang aneh-aneh tentang mereka.
"Hrmm... hrmm... baru lagi nieee...." kata Bu Ira yang tengah duduk di teras rumahnya sambil berbatuk buatan.
"Eh, Bu Ira. Itu sepupu kok, Bu" sahut Bu Rina dan terus berjalan menuju rumah. Bu Rina dan Bu Ira tidak akur tetapi tidak bermusuhan.
"Sepupu? Kenapa waktu suaminya meninggal pria itu tidak ada ya? Dasarrr...." gumam Bu Ira sambil geleng-geleng kepala.
Di halaman rumah, alangkah terkejutnya Bu Rina tidak mendapati kedua anaknya bermain. Dia langsung masuk ke rumah dengan keadaan pintu tidak terkunci.
"Andi, Intan!" panggil Bu Rina sambil mencari. Tetapi tidak ada sahutan.
Bu Rina semakin panik karena tidak ada sahutan. Dia langsung keluar dan menuju rumah Bu Asni.
"Tokkk... tokkk... tokkk...." Bu Rina mengetuk pintu rumah Bu Asni yang kebetulan tertutup.
Tidak lama kemudian, Bu Asni membuka pintu.
"Eh, Rina! Sudah pulang?" tanya Bu Asni.
"Sudah, Bu. Oya, Andi dan Intan kemana ya Bu? Tidak ada bermain di halaman, di rumah juga tidak ada," kata Bu Rina khawatir.
"Tuh, lagi tidur!" jawab Bu Asni sambil menunjuk ke arah Andi dan Intan.
"Hahhh... syukurlah!" kata Bu Rina sambil menghela napas. Dia merasa lega setelah mengetahui kedua anaknya tengah tidur di rumah Bu Asni.
"Masuk, Rin," ajak Bu Asni.
"Di, Tan, Mama kalian sudah pulang nih," kata Bu Asni membangunkan.
Andi dan Intan pun terbangun. Intan langsung berlari ingin memeluk Bu Rina.
"Mamaaa...." teriak Intan saking senangnya. Bu Rina yang duduk di dekat pintu langsung membalas pelukan Intan.
"Terima kasih ya, Bu" kata Bu Rina kepada Bu Asni. Bu Asni hanya mengangguk dan tersenyum. Bu Rina dan kedua anaknya pulang ke rumah mereka.
BERSAMBUNG..