Demi melunasi hutang orang tuanya, Venzara harus menerima pernikahan paksa dengan anak majikan bibinya. Mau tidak mau, Venza akhirnya menerimanya dan siap menerima syarat yang ditentukan.
Tidak hanya terikat dalam pernikahan paksa, Venza juga harus menerima perlakuan buruk dari suaminya. Namun, sosok Venza bukanlah perempuan yang lemah, bahkan dia juga perempuan yang berprestasi. Sayangnya, perekonomian keluarganya tengah diambang kehancuran.
Jalan satu-satunya hanya bisa menikahkan Venza dengan lelaki kaya dengan kondisinya yang lumpuh.
Akankah Venza mampu bertahan dengan pernikahannya? yuk simak kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak bersemangat
Suara kicauan burung tengah menandakan waktu pagi. Venza yang terlelap dari tidurnya, pun terbangun. Dengan pelan ia membuka kedua matanya dan melihat jam kecil yang terletak di atas meja.
Venza mengucek kedua matanya dengan posisi yang sudah duduk.
Serasa malas hendak bangun dari tempat tidur ketika dirinya teringat akan dinikahkan dengan lelaki asing. Jangankan untuk melihat kondisinya, wajahnya saja tidak bisa dibayangkan.
Venza menarik napasnya dengan panjang dan membuangnya dengan kasar, juga ia bergegas ke kamar mandi untuk melakukan ritualnya setelah bangun tidur.
Begitu juga dengan Razen, ia pun kini tengah ditemani pak Erik di taman belakang untuk menikmati udara segar di pagi hari.
"Pak Erik," panggil Razen yang tengah duduk di kursi roda.
"Ya Tuan, ada apa?" tanya Pak Erik yang tengah berdiri di sebelahnya.
"Tumben gak ada Bi Darmi, memangnya Bi Darmi kemana, Pak?" tanya Razen sambil menikmati udara segar di pagi hari.
"Bi Darmi bukannya pulang kampung, Tuan. Semalam berangkatnya, dan mau menjemput keponakannya." Jawab Pak Erik dengan jujur.
"Apa! jadi, beneran mau dijemput?"
"Benar, Tuan. Mungkin sore nanti Bi Darmi sudah pulang." Jawab Pak Erik yang takut untuk berkomentar yang lainnya.
Diam dan tidak tahu apa-apa itu jauh lebih baik daripada mendapat pelampiasan dari majikannya.
Razen pun membuang napasnya dengan panjang, merasa kesal atas keputusan dari orang tuanya pun sudah pasti. Lebih lagi menikahnya tidak dilandasi dengan saling cinta, tentunya sulit untuk saling melengkapi.
Saat itu juga, ibunya datang dan meminta Pak Erik untuk pergi.
"Kamu sedang apa, Nak? pagi-pagi kok kedengarannya udah kesel gitu."
"Ma, memang bener seriusan kalau aku mau menikah dengan keponakannya Bi Darmi? yang benar aja sih, Ma."
Razen pun masih menganggap jika ayahnya hanya mau mengerjai dirinya, tapi rupanya tidak, dan memang benar adanya jika dirinya hendak menikah dengan keponakannya Bi Darmi.
"Ya sayang, Mama sama Papa seriusan. Tenang saja, kamu bisa membuat perjanjian dengan keponakannya Bi Darmi. Jadi, kamu tetap aman menikah dengannya." Jawab ibunya yang berharap putranya mau menerima perjodohan.
"Hem. ya ya ya, terserah Mama dan Papa." Kata Razen yang sudah tidak punya pilihan lain.
Di lain tempat maupun lokasi, Bi Darmi yang sudah sampai di kampung halaman, segera menuju rumah milik orang tuanya Venza, yakni kakaknya Bi Darmi.
Venza yang tengah menikmati sarapan paginya bersama keluarga, dikagetkan dengan suara ketikan pintu.
"Venza, bukain pintunya." Perintah sang ayah kepada putrinya.
Venza yang selalu disuruh-suruh oleh anggota keluarganya, terasa geram ketika dirinya tidak diperlakukan dengan adil. Mau tidak mau, Venza selalu menurutinya.
Dengan malas, Venza segera membukanya.
"Bi Darmi!" teriak Venza saat melihat siapa yang datang.
Saat itu juga, Venza langsung memeluknya dengan erat. Namun tiba-tiba pelukan darinya mengendor dan menatap bibinya dengan perasaan kecewa, lantaran akan menjemput dirinya dan membawa pergi ke kota. Seolah-olah dirinya bagai barang jualan yang akan dibeli pada Tuannya.
"Kok gak jadi semangat, gak diajak masuk nih Bibi, kenapa? jangan sedih begitu dong Nak. Percayalah sama Bibi, segala kekhawatiran kamu tidak perlu kamu takutkan. Sekarang lebih baik kamu bersiap-siap, dan kamu tidak perlu membawa baju ganti. Cukup bawa keperluan kamu saja." Ucap Bi Darmi.
"Ya Bi, silakan masuk." Jawab Venza dengan lesu.
Kemudian, Bi Darmi segera menemui ayah dari Venza untuk membicarakan tentang pernikahannya.