Komitmenlah yang membuat dua orang terikat dalam sebuah hubungan. Seperti perjanjian, suatu hari akan dipertanyakan. Sekuat itu Ayya menggenggam ikatan meski sedari awal tak terlihat ada masa depan.
Sementara Ali butuh cukup waktu untuk me-reset ulang perasaannya setelah masa lalu bersarang terlalu lama dalam ingatan.
Akan dibawa ke manakah rumah tangga mereka yang didasari atas perjodohan orang tua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Seperti Angin.
Bab 6
Ayya bangun jauh lebih pagi dibanding biasanya. Langit bahkan masih gelap ketika ia diam-diam keluar kamar dan turun ke dapur. Langkahnya pelan agar tidak membangunkan siapa pun, termasuk Ali yang tidur meringkuk di sofa ruang tengah..Namun, sayangnya, pagi itu Bu Lastri lebih dulu bangun. Wanita paruh baya itu baru saja keluar kamar ketika matanya menangkap sosok anak semata wayangnya sedang tidur di sofa dengan selimut seadanya. Kening Bu Lastri langsung berkerut.
“Al,” panggilnya sambil menepuk lengan Ali beberapa kali. “Bangun.”
Ali mengerjap pelan lalu menggeliat malas.
“Hmm... jam berapa ini, Bu?”
“Kenapa kamu tidur di sini?”
Pertanyaan itu membuat Ali langsung sadar sepenuhnya.
Ia buru-buru duduk sambil mengusap wajah.
“Semalam nonton bola sama Pak Karman, Bu.” jawabnya santai. “Ketiduran di sini.”
Bu Lastri menatap anaknya penuh curiga. Namun, sebelum sempat membalas, aroma masakan dari dapur lebih dulu mengalihkan perhatiannya.
“Sudah sana bersiap.” ucapnya akhirnya. “Ibu tunggu di meja makan.”
Ali mengangguk cepat.
Sementara Bu Lastri berjalan menuju dapur dan mendapati Ayya sedang membantu Bik Nur menyiapkan sarapan. Pagi itu dapur terasa lebih hidup dari biasanya.
“Ayy,” panggil Bu Lastri sambil duduk di meja makan. “Ali memang tiap malam tidur di sofa?”
Tangan Ayya yang sedang menyusun piring langsung berhenti sesaat. Pertanyaan itu cukup membuatnya bingung. Kalau jujur, Ali pasti dimarahi.nKalau bohong, ia tidak pandai berpura-pura. Akhirnya, Ayya memilih jawaban paling aman.
“Entahlah, Bu.” Ia pura-pura sibuk menuang teh. “Ayya biasanya tidur lebih dulu.”
Bu Lastri menyipitkan mata pelan. Ia tahu Ayya sedang melindungi Ali. Dan Ayya pun sadar kalau mertuanya sekarang sedang rajin mencari kesalahan anak kesayangannya itu. Tak lama kemudian Ali datang. Begitu melihat meja makan penuh dengan berbagai menu, langkahnya langsung berhenti. Ada nasi goreng. Bakwan sayur. Telur dadar gulung.
Sup hangat. Dan salad buah dalam mangkuk kaca besar. Ali sampai melirik dua kali.
“Wah...” gumamnya pelan. “Bik Nur hebat juga.”
Bik Nur langsung salah tingkah. “Kenapa nggak dari dulu masaknya begini?” lanjut Ali sambil duduk. “Berat badan Ali pasti udah naik.”
“Ini semua yang masak—”
Belum selesai Bik Nur bicara, Ayya langsung melirik tajam sambil mengedip cepat.
Jangan bilang.
Bik Nur langsung mengerti.
“Iya, Den.” jawabnya gugup. “Bibik coba-coba aja tadi.”
Ali mengangguk puas. “Sumpah, enak banget.”
Ayya diam-diam menahan senyum kecil sambil pura-pura sibuk mengambil piring. Entah kenapa rasanya lucu melihat Ali memuji makanan yang sebenarnya ia buat sendiri.
Selesai makan, Ali tampak benar-benar puas. Bahkan ia sampai membawa salad buah ke dekatnya lagi.
“Bik,” bisik Ayya pelan pada Bik Nur. “Tolong siapin satu buat bekal Mas Ali, satu lagi buat Ayah.”
“I-iya, Non.”
Ayya lalu memperhatikan Ali yang berjalan keluar rumah untuk berangkat kerja. Begitu mobilnya benar-benar pergi, ia langsung menoleh pada Bik Nur.
“Bibik jangan bilang ke Mas Ali kalau Ayya yang masak.”
“Memangnya kenapa, Non?” tanya Bik Nur bingung. “Kan bagus kalau Den Ali tahu istrinya pintar masak.”
Ayya menggeleng kecil sambil tersenyum hambar. “Mas Ali nggak suka sama Ayya, Bik.”
Bik Nur terdiam.
“Seenak apa pun masakan Ayya, dia pasti nggak akan makan kalau tahu itu buatan Ayya.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi cukup membuat Bik Nur ikut merasa sedih. “Non jangan ngomong begitu.”
Ayya malah tersenyum kecil. “Fakta kok.”
Bik Nur hanya bisa mengembuskan napas panjang. Cepat atau lambat, Den Ali pasti tahu juga.
“Oh iya, Bik.” Ayya kembali bersemangat. “Nanti minta tolong Pak Karman keluarin mesin jahit dari gudang ya.”
“Mau dipakai?”
“He’em. Disimpan aja dulu di teras belakang.”
“Baik, Non.”
Ayya lalu membuka salah satu kantong belanjaan berisi bahan kue. “Kita bikin kue hari ini yuk, Bik.”
Mata Bik Nur langsung berbinar. “Serius?”
Ayya mengangguk semangat. “Nanti rumah jadi nggak sepi.”
“Tapi...” Bik Nur menatap Ayya curiga. “Ini juga dirahasiain dari Den Ali?”
Ayya langsung mengangguk cepat. “Rahasia.”
Bik Nur tertawa geli. “Non ini lucu juga ya.”
Sore harinya, Ali pulang lebih cepat dari biasanya. Ia langsung masuk dapur untuk menyimpan kotak bekal kosong miliknya. Namun, langkahnya mendadak berhenti.
Meja makan dipenuhi berbagai jenis kue. Brownies. Cookies. Puding. Dan... mata Ali langsung berbinar saat melihat toples kue jahe favoritnya. Tanpa pikir panjang ia langsung mengambil toples itu.
“Al!”
Ali menoleh. Bu Lastri berdiri di ruang tamu sambil memperhatikan tingkah anaknya.
“Mau dibawa ke mana itu?” Ali langsung salah tingkah.
“Anu... di meja penuh, Bu.”
“Bilang aja doyan.”
Ali nyengir kecil. Baru saja hendak naik ke kamar, Bu Lastri kembali memanggil.
“Oh iya, nanti tolong panggil Ayya di belakang.”
“Apa yang dia lakukan di sana?”
“Lihat sendiri aja.”
Ali pun naik ke kamar sambil membawa toples kuenya. Namun, rasa penasarannya membuat ia membuka jendela kamar dan mengintip ke belakang. Ia kira Ayya sedang memukul samsak lagi seperti kemarin. Ternyata tidak. Perempuan itu duduk di teras belakang sambil fokus menjahit sesuatu dengan mesin jahit tua. Ali mengernyit heran.
Akhirnya ia turun dengan setelan latihan. Kaos singlet dan celana pendek.
“Kamu ngapain di sini?”
Ayya mendongak sebentar. “Jahit.”
“Ibu nyariin kamu.”
“Oke.”
Tanpa banyak tanya, Ayya langsung berdiri dan meninggalkan mesin jahitnya. Ali memandang punggung perempuan itu cukup lama. Aneh.
Rumah yang biasanya terasa sunyi sekarang perlahan mulai berubah.
Malam harinya, Ayya tidur lebih awal seperti biasa. Ia memang sengaja membiasakan diri bangun tengah malam. Namun, ketika terbangun karena haus, Ayya turun ke dapur untuk mengambil air minum.
Lagi-lagi, Ali tidur di sofa. Ayya berdiri diam beberapa detik sambil memandangi lelaki itu. Ia teringat pertanyaan Bu Lastri pagi tadi. Kalau ibu melihat lagi, Mas Ali pasti dimarahi. Ayya menggigit bibir pelan sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat.
“Mas....” panggilnya hati-hati sambil menggoyang lengan Ali pelan. Ali membuka mata perlahan. Begitu sadar yang membangunkannya Ayya, wajahnya langsung berubah kesal.
“Apa sih, kamu?”
“Mas, jangan tidur di sini.” suara Ayya kecil. “Nanti kalau Ibu lihat lagi gimana?”
Ali langsung duduk kasar. “Kamu berisik banget.”
Sebelum Ayya sempat membalas, Ali menarik pergelangan tangannya dan membawanya masuk ke kamar. Pintu tertutup cukup keras. Ayya kaget melihat perubahan sikap lelaki itu. Ali berdiri sambil menatapnya tajam.
“Kamu sekarang berani ngatur-ngatur saya?”
“Ayya cuma—”
“Mentang-mentang Ibu sayang sama kamu?”
Ayya langsung terdiam. Nada suara Ali terdengar berbeda malam itu. Lebih emosional. Lebih tidak terkendali.
“Apa kamu pikir sekarang kamu punya hak atas hidup saya?”
Ayya mulai mundur pelan. Namun, Ali justru semakin frustrasi pada dirinya sendiri. Pada keadaan. Pada pernikahan yang belum bisa ia terima sepenuhnya. Dan pada bayangan masa lalunya yang belum benar-benar hilang.
“Apa yang kamu inginkan sekarang? Sentuhan?” Wajah Ali begitu dingin. Kakinya perlahan melangkah semakin mendekat.
Ayya berdiri mematung cukup lama. Dadanya terasa sesak. Sikap Ali benar-benar seperti angin. Sulit ditebak. Kadang terasa sangat menyebalkan. Kadang justru memperlihatkan luka yang tidak mampu ia sembunyikan.
BERSAMBUNG.