Siapa bilang seorang suami tidak bisa bertanggung jawab dan adil pada kedua istrinya. Ada kok sebagian suami yang bisa adil dengan kedua istrinya.
Abimana Baratama, seorang pengusaha yang memiliki ketampanan dan sangat menyayangi kedua istrinya yaitu Aisyah Nandaratna dan Zahra Jasmine.
Awalnya Abi tak menerima tentang pernikahan kedua ini. Abi terlalu mencintai Aisyah tapi Aisyah juga menginginkan Zahra untuk menjadi madunya.
Aisyah berpikir jika Zahra masuk dalam kehidupan Abi, suaminya itu bisa lebih bahagia daripada bersamanya.
Apakah Abi bisa bertanggung jawab dan adil pada kedua istrinya. Atau malah hanya mencintai disatu pihak saja.
Baca terus novelku disini....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tyatul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Bunda
Happy reading
Setelah beristirahat, Abi mengajak Aisyah untuk cekout dari hotel itu. Karena ini sudah siang dan Abi harus meeting, maka dari ia harus mengantarkan Aisyah dulu sebelum ke kantor.
"Sayang mau makan dulu?" tanya Abi pada Aisyah yang hanya menggeleng.
"Aisyah masih kenyang Mas. Nanti kalau Aisyah gendut mas gak suka lagi," jawab Aisyah yang membuat Abi tertawa.
"Kamu itu gak pernah bisa gendut sayang. Aku juga heran kenapa badan kamu bisa seperti ini. Apa aku kurang memberi kamu makanan enak?" tanya Abi yang kini malah membuat Aisyah tertawa.
"Mas Abi gak tahu aja bulan ini aku naik 3 kilo gara gara makan daging setiap hari. Dan juga aku jarang olah rasa kalau gak sama Mas Abi," ucap Aisyah dengan tawanya.
"Nanti kamu bakal berisi kalau lagi hamil. Apalagi perut kamu nanti bakal bulat gitu," jawab Abi mengelus perut Aisyah dengan lembut.
Ia membayangkan jika Aisyah nanti hamil pasti kebahagiaannya berkali kali lipat.
Sampainya di sebuah kedai dan membeli makanan untuk Aisyah disana. Kemudian Abi berhenti disebuah supermarket untuk membeli makanan dan cemilan untuk dibawa ke panti.
"Mas ini banyak banget loh," ucap Aisyah dengan nada rendah. Lihat saja berapa karung yang ada di depan mereka.
"Mereka keluargamu berarti juga keluargaku," jawab Abi dengan senyum manisnya, senyum yang jarang diperlihatkan pada orang lain.
Kata kata Abi selalu membuat ia tenang, apalagi Abi yang mengatakan jika keluarganya di panti adalah keluarganya juga.
Tak setelah berberapa saat Abi dan Aisyah kembali ke mobil. Dan memerintahkan salah satu karyawan untuk mengantarkan apa yang tadi ia beli ke panti asuhan.
Tak sampai 15 menit, mobil yang dikendarai Abi sudah sampai di panti asuhan. Tempat dimana pertama kali ia bertemu Aisyah, seorang gadis cantik yang dulu baru pulang mengajar. Abi mencintai Aisyah di pandangan pertama.
"Mas langsung ke kantor ya sayang, Mas bisa saja telat," ucap Abi memeluk tubuh sang istri.
"Iya Mas. Nanti pulang langsung ke rumah utama ya, Mas harus sama Mbak Zahra," ucap Aisyah tersenyum tipis.
Aisyah pikir Zahra juga butuh perhatian dari suaminya selama ini. Ia tak mau dianggap wanita egois karena ingin Abi disisinya saja.
"Jangan lupa malam pertamanya, aku mau Mas punya anak dari Mbak Zahra," tambah Aisyah yang membuat Abi menggeleng pelan.
"Harus, Mas harus memberikan nafkah batin pada Mbak Zahra. Jangan jadi lelaki yang tak bertanggung jawab," ucap Aisyah dan dianggukkan oleh Abi.
Aisyah mencium punggung tangan Abi kemudian dibalas kecupan di kening dan bibir oleh Abi.
"Assalamu'alaikum Mas Abi," salam Aisyah tersenyum pada Abi.
"Wa'alaikumsalam istri cantikku," balasnya membalas senyum Aisyah.
Aisyah membuka pintu mobil itu dan keluar, sedangkan Abi yang melihat istrinya turun itu mendadak merasakan sedih.
Selama 3 hari ini tak bisa bersama istri pertamanya karena harus bersama istri keduanya yang ia nikahi kemarin siang.
"Kenapa sangat susah untuk ikhlas dan juga tanggung jawab dengan kedua istriku?" gumamnya menatap Aisyah yang sedang berdiri menunggu Abi pergi.
"AlMas pergi ya sayang," ucap Abi dan dianggukkan oleh Aisyah.
"Jangan ngebut bawa mobil."
Abi mengangguk dan mulai menjalankan mobil itu menuju kantor. Aisyah yang melihat mobil Abi menjauh itu mulai menurunkan senyumnya.
"Hufftt astaghfirullah haladzim, kenapa sih aku ini?" tanya Aisyah mulai berjalan menuju panti asuhan.
Ia kembali merubah raut wajahnya menjadi bahagia. Ia tak mau anak anak di panti ini jadi sedih karena dirinya.
"Mama," teriak seorang gadis kecil sekitar umur 4 tahun berlari ke arah Aisyah.
"Halo anak Mama, kok siang siang main di luar sih hmm? Ini panas banget loh sayang," tanya Aisyah menghapus keringat di kening gadis kecil itu.
"Tia maunya di luar Ma, di dalam lagi ada tamu," ujar Tiara menarik tangan Mamanya alias Aisyah agar bisa berteduh karena cuaca sedang panas panasnya.
"Siapa tamu Bunda sayang?"
"Om om gak tahu siapa," jawabnya.
Aisyah mengangguk dan memilih untuk menemani Tiara. Hingga dirasa panas sudah sangat membakar kepala mereka. Aisyah mengajak gadis berusia 4 tahun itu untuk masuk.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamu'alaikum," salam Aisyah menggandeng tangan Tiara.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka yang ada di dalam.
"Aisyah kamu kesini nak? Suamimu mana?" tanya Bunda pada Aisyah yang langsung mencium punggung tangan Bunda.
"Iya Bunda, Mas Abi langsung ke kantor Bun. Rencananya Aisyah mau nginap disini 3 hari bolehkan?" tanya Aisyah dan dianggukkan oleh Bunda.
"Iya boleh, sekarang kamu sapa tamu tamu Bunda dan masuk untuk bebersih. Setelah bebersih kamu kesini ya nak," ucap Bunda mengecup kening putri asuhnya.
"Selamat siang Tuan Tuan."
"Siang Nona," jawab kedua orang itu pada Aisyah yang sangat anggun dan lembut itu.
"Maaf saya harus ke dalam, permisi," pamit Aisyah yang tak enak dengan pandangan salah satu laki laki disana.
"Iya Nona."
Tiara yang sudah tidak ada di ruangan itu membuat Aisyah kaget. Tapi langsung dibilangin oleh Bunda jika Tiara sudah ke halaman belakang.
Aisyah pun mengangguk dan pamit untuk masuk kedalam kamarnya yang ada di lantai bawah. Bahkan itu adalah kamarnya saat menjadi anak panti dulu.
Aisyah masuk ke dalam kamar dan menatap sekeliling kamar kecil itu. Kamar yang sedari kecil selalu ia gunakan untuk melepas apa yang dia rasakan bersama Bunda.
Aisyah meletakkan tasnya di meja tua itu dan mendudukkan dirinya di kasur yang masih empuk itu walau sudah lama tak ia pakai.
Sedangkan di luar, salah satu dari laki laki itu menatap bunda.
"Aku menginginkan wanita yang masuk tadi, Bu. Sepertinya dia baik dan sangat lembut. Aku ingin menjadikan dia istriku,'' ucap salah satu dari laki laki itu yang membuat kedua orang didekatnya terkejut.
"Kita kesini ingin ingin mencari anak asuh bukan mencari istri, Nino," geram laki laki yang satunya.
"Maaf Tuan Nina, wanita yang tadi sudah punya suami. Dan sangat mencintai suaminya," ucap Bunda pada Nino.
"Dia sudah punya suami dan apakah kamu ingin menjadi pembinor?" tanya Kenzi pada Nino. Ia tak suka Nino membawa wanita dari panti asuhan untuk menjadi istrinya.
"Aku menyukainya, tutur kata yang lembut. Dan aku suka warna matanya yang indah," ucap Nino yang membuat mereka menggeleng.
"Enggak tetap enggak, lagian dia sudah punya suami. Kita ke tujuan awal ingin mengadopsi anak," titah Kenzi pada Nino yang hanya diam.
Bunda menatap Nino, jika saja Aisyah belum menikah mungkin ia bisa saja menerima Nino untuk anak asuhnya itu. Daripada Aisyah dimadu oleh suaminya sendiri.
Bersambung
Semangat terus untuk bunda bunda hebat....
enthlah...trserah emak mo di bawa kmna...tu cinta segitiga aisah..