Emin Erdana gadis cantik nan rupawan, usia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan Tuan muda Abelano putra tunggal Tuan Basten dan Nyonya Agatha. Untuk menyelamatkan reputasi Keluarga Besar Basten. Setelah pernikahan Putranya Abelano gagal karna sang kekasih lebih memilih pria lain.
Akankah Emin Erdana menerima pernikahannya dengan Abelano?
"Apakah Abelano dapat menerima pernikahan itu? simak ceritanya di "Contrac wedding 30 day's with CEO "
by Morata
FB Nolan s
Ig Sihalohoherlita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Morata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. JANGAN PANGGIL AKU NONA
Abelano berpamitan kepada Nyonya Agatha untuk segera berangkat ke kantor Pagi itu. Setelah menyantap menu sarapan pagi yang sudah disediakan oleh Emin dan asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama keluarga Basten.
Emin berusaha melakukan yang terbaik melayani suaminya, selama kontrak pernikahan mereka berlangsung. Nyonya Agatha sama sekali tidak mengetahui mengenai kontrak pernikahan itu. Begitu juga dengan Tuan Boston
Emin menghantarkan suaminya sampai suaminya naik ke dalam mobil miliknya. Emin berusaha untuk memberi salam kepada suaminya. Tetapi sepertinya Abelano tidak Sudi bersalaman dengan Emin.
Emin hanya diam ketika uluran tangannya tidak disambut oleh Abelano. lalu Emin kembali masuk ke dalam rumah utama. menghampiri beberapa asisten rumah tangga yang selama ini menemani hari-harinya.
"Nona Emin ngapain datang kemari?" lebih baik Nona Emin istirahat." ucap salah satu asisten rumah tangga yang selama ini menemani Emin. "Tolong jangan memanggilku dengan panggilan nona Bi, panggil saja saya Emin seperti biasa." ujar Emin meminta kepada setiap asisten rumah tangga yang ada disana memanggil Emin dengan panggilan yang biasa mereka Panggil.
"Ya sudah kalau begitu, Itu artinya kamu tidak melupakan kita walaupun kamu sudah menjadi menantu di sini." sahut salah satu asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di sana. Emin hanya mengembangkan senyumnya menatap para asisten rumah tangga itu mengerjakan pekerjaannya masing-masing.
Emin berlalu ke kamar yang selama ini ia tempati. Berniat untuk istirahat disana. Tetapi ketika ia melangkah masuk kesana, Nyonya Agatha melihat sosok Emin berniat untuk masuk ke kamar yang selama ini ditempati oleh Emin.
"Ngapain kamu ke situ lagi? seluruh pakaianmu sudah dipindahkan ke kamar kalian." ucap Nyonya Agatha membuat Emin terhenyak
Ia bingung apa maksud perkataan Nyonya Agatha.
lalu ia mendekatkan diri kepada Nyonya Agatha. "Maksud mami?
"Maksud Mami seluruh pakaianmu sudah mami berikan kepada orang yang membutuhkan. Dan yang layak digunakan Mami pindahkan ke kamar kalian." sahut Nyonya Agatha. Membuat Emin menepuk jidatnya.
"Astaghfirullah, seharusnya tidak perlu Mami yang melakukannya. Emin bisa melakukannya sendiri." ucap Emin sambil berusaha mengembangkan senyumnya kepada Nyonya Agatha.
Satu harian di rumah, tanpa melakukan aktivitas sama sekali membuat Emin merasa bosan. Untuk menghilangkan rasa bosannya ia memilih menata tanaman yang ada di taman. Bunga-bunga iya tamam agar terlihat indah dan asri. Dengan telaten Emin menata tanaman itu membuat taman itu menjadi terlihat indah.
Nyonya Agatha yang tidak mengetahui apa yang dilakukan Emin. Nyonya mencari keberadaan Emin Nyonya Agatha khawatir kalau Emin meninggalkan rumah utama. karena sikap putranya yang sama sekali tidak menunjukkan empati kepada Emin.
"Emin..... Emin.....,Kamu di mana nak!" Panggil Nyonya Agatha sambil mencari keberadaan Emin. "Nyonya besar mencari Nona Emin? tanya Bi Astuti kepada Nyonya Agatha. "Iya Bi, apa Bibi melihat Emin? tanya Nyonya Agatha penuh selidik. Bi Astuti pun memberitahu apa yang dilakukan Emin satu harian ini. Mendengar apa yang diucapkan oleh Bi Astuti, Nyonya Agatha langsung menghampiri Emin yang sedang menata tanaman.
"Wah indah dan tertata rapi." gumam Nyonya Agatha dalam hati sambil memperhatikan taman yang sudah ditanami bunga oleh Emin dan menatanya dengan rapi."Emin ternyata kamu di sini? Mami cariin sedari tadi." ucap Nyonya Agatha sambil memperhatikan seluruh tanaman yang ditanam oleh Emin
"Apa kamu semua yang melakukannya? tanya Nyonya Agatha penuh selidik. Emin menganggukkan kepalanya pertanda tebakan Nyonya Agatha benar adanya. "Wah indah sekali. Mami menyukainya."Puji Nyonya Agatha ketika melihat taman sudah tertata rapi oleh Emin.
Setelah semuanya tertata rapi, Amin dan nyonya Agatha masuk ke dalam rumah. Emin berlalu ke kamar berniat untuk membersihkan diri. Karena hari sudah sore ia tidak ingin berpenampilan acak-acakan ketika Abelano sudah pulang dari kantor.
Terlihat Nyonya Agatha meminta kepada asisten rumah tangga untuk menata pakaian di lemari yang sudah disediakan oleh Nyonya Agatha. Tentunya pakaian yang sudah dipilihkan oleh Nyonya Agatha. Emin terhenyak ketika melihat ada lemari tambahan di sana. Dan ia membuka lemari itu berisi pakaian wanita membuat Emin semakin Bingung
"Ini baju siapa? tak satupun bajuku yang ada di sini." gumamnya dalam hati sambil kembali Turun ke bawah mencari keberadaan Nyonya Agatha. Setelah menghampiri Nyonya Agatha, ia mempertanyakan keberadaan bajunya.
Nyonya Agatha hanya mengembangkan senyumnya. "Pakai saja apa yang ada di lemari yang sudah Mami sediakan itu." ujar Nyonya Agatha santai. Yang mampu membuat Emin membulatkan matanya. Itu artinya lemari yang dipenuhi baju-baju mewah dan tampak elegan itu untuk Emin.
"Mami tidak perlu melakukan hal ini kepada Emin. Emin masih bisa menggunakan baju-baju Emin yang lama." ucap Emin kepada Nyonya Agatha. "Mami tidak terima penolakan." ucap Nyonya Agatha menegaskan sambil berlalu meninggalkan Emin begitu saja, menuju kamar utama rumah keluarga Basten.
Emin pun berlalu dari sana,kembali ke kamar. Ia melakukan ritual mandinya. Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Ia mengambil pakaian yang pas untuk ya gunakan. "Cantik juga." gumam Emin ketika melihat pantulan tubuhnya di depan cermin.
Emin sudah terlihat bersih dan rapi. rambutnya juga sudah tertata diikat ekor kuda agar tidak terurai begitu saja.
Emin meraih ponsel jadul miliknya. mencari-cari sesuatu yang ia inginkan di sana. Uang pemberian Abelano sama sekali tidak digunakan oleh Emin. Dan memilih menyimpannya di lemari miliknya.
Ketika Abelano sudah tiba di rumah. Ia terhenyak melihat lemari tambahan yang ada di sana. "Ini lemari siapa? mengapa ada di kamarku? tanya Abelano sambil menatap Emin dengan tatapan tajam.
"Mami yang membuatnya dan seluruh barang-barang ku yang ada di kamar pembantu, sudah dipindahkan oleh Mami sendiri. Tentunya dibantu dari beberapa asisten rumah tangga. Emin tidak bisa menolak. Emin tidak ingin mengecewakan mami. Karena Mami mengatakan tidak terima penolakan.
Emin memberitahu segala apa yang dilakukan oleh Nyonya Agatha kepadanya satu harian penuh. Emin sendiri bingung,apa yang harus ia lakukan saat ini. Mau tetap tidur di kamar yang ditempati Abelano sungguh tidak mungkin rasanya.
Tetapi kamar pembantu yang selama ini ditempati oleh Emin kini kamar itu sudah dijadikan menjadi gudang. "Tuan Abelano Apa sudah makan? tanya Emin kepada Abelano. "Tidak perlu mengkhawatirkanku aku bukan anak-anak seperti Kamu." sahut Abelano dengan Ketus.
Emin berusaha untuk bersabar menghadapi sikap arogan dan Ketus Abelano. Ia memilih tidak ambil pusing. Jika tidak dikehendaki oleh Abelano, ia memilih menghindar. Malam sudah semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Rasa kantuk sudah melanda Emin.
Tetapi Ia bingung dimana harus membaringkan tubuhnya. Sementara Abelano sudah bersandar di hardboard tempat tidur yang selama ini ia tempati. Karena sudah merasa tidak tahan lagi menahan rasa kantuknya, Emin akhirnya membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Bersambung......
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓💓
JANGAN LUPA FOLLOW OUTHOR MORATA KARNA AKAN ADA GIVEAWAY DI SANA AKHIR BULAN
Dan semoga Emin selalu sukses di luar sana,Jgn mau di pujuk pulang oleh pria tua itu lagi iya Emin..👍🏻