Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku mulai mengaguminya
"Duarrr!"
Suara petir menggelegar begitu keras hingga seolah membelah langit. Kilatan cahaya putih menyambar dari atas, menerangi suasana yang remang akibat hujan deras.
Dalam sepersekian detik, sambaran itu menghantam tubuh pria yang sedang mengacungkan pisau ke arah Kinanti.
"Aaaargh!"
Tubuh pria itu bergetar hebat. Pisau lipat terlepas dari genggamannya. Beberapa detik kemudian, tubuhnya ambruk ke lantai semen dengan asap tipis mengepul dari pakaiannya yang hangus.
Kinanti membeku di tempat. Matanya membelalak, tubuhnya gemetar hebat.
"Allahuakbar!" pekiknya spontan.
Ia mundur beberapa langkah dengan nafas memburu.
Di hadapannya, tubuh pria itu sudah tidak bergerak sama sekali. Sementara rekannya yang sejak tadi berdiri tak jauh dari sana tampak jauh lebih ketakutan. Pria bertubuh kekar itu perlahan berlutut. Lalu kedua lututnya jatuh menyentuh lantai. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat.
"Ya Allah..."
Suaranya bergetar.
"Ya Allah, ampuni hamba-Mu. Aku bertobat, Ya Allah. Aku bersumpah tidak akan melakukan kejahatan lagi."
Ia menundukkan kepala serendah mungkin.
Kinanti masih syok, ia memaksakan diri berteriak.
"Tolong! Tolong!" Suaranya nyaris pecah.
Di saat yang sama, hujan mulai mereda. Beberapa pengendara yang melintas memperlambat laju kendaraan mereka. Sebagian bahkan berhenti setelah melihat kerumunan kecil mulai terbentuk.
"Ada apa ini?" tanya seorang pengendara motor.
Tak ada yang langsung menjawab. Kinanti masih terduduk lemas di samping motornya. Wajahnya pucat dan nafasnya belum sepenuhnya teratur.
"Loh, orang ini kenapa? Kok tubuhnya gosong begini?” tanya seseorang sambil menunjuk tubuh pria yang tergeletak.
"Kesetrum ya?”
"Tapi di sini nggak ada sumber listrik."
Orang-orang mulai saling berbisik, berbagai dugaan bermunculan. Hingga akhirnya pria bertubuh kekar yang masih bersimpuh itu mengangkat wajahnya.
"Kawan saya mati karena tersambar petir."
Seketika suasana menjadi sunyi.
"Hah?! Serius?!"
Pria itu mengangguk.
"Saya melihat dengan mata kepala sendiri."
Lalu ia menunjuk ke arah Kinanti.
"Ibu itu juga."
Semua mata langsung beralih kepada Kinanti.
"Bagaimana kejadiannya?"
Namun Kinanti masih terlalu syok untuk menjelaskan. Sementara pria itu kembali menangis.
Orang-orang pun semakin bingung.
"Ditanya kok malah nangis."
"Jadi sebenarnya bagaimana?"
Belum ada jawaban yang jelas ketika sebuah mobil hitam menepi di pinggir jalan. Pintu pengemudi terbuka. Keenan turun dengan wajah cemas. Ia mengenali sepeda motor Kinanti yang terparkir di tepi jalan.
"Kinanti!"
Begitu melihat suaminya, pertahanan Kinanti runtuh.
"Mas Keenan!"
Keenan berlari menghampirinya.
"Apa yang terjadi?"
Tangannya langsung memeriksa wajah, bahu, dan kedua lengan Kinanti.
"Kamu terluka?"
Kinanti menggeleng cepat.
"Aku nggak apa-apa, Mas."
Keenan menghembuskan napas lega.
Barulah ia memperhatikan kerumunan di sekitarnya. Pandangannya berhenti pada sosok yang tergeletak tak bergerak di atas lantai.
Keningnya langsung berkerut.
Sementara itu, pria bertubuh kekar yang masih berlutut perlahan merangkak mendekati mereka.
"Pak..."
Suaranya serak karena tangis.
"Saya minta maaf."
Keenan menatapnya bingung.
"Minta maaf untuk apa?"
Pria itu menunduk dalam-dalam.
"Saya dan kawan saya berniat merampok istri Bapak."
Mata Keenan membelalak.
"Apa?!"
Pria itu menunjuk jasad kawannya yang tergeletak.
"Kami ingin mengambil sepeda motornya."
Keenan menoleh kepada Kinanti.
Perempuan itu menarik napas panjang sebelum akhirnya menjelaskan.
"Tadi aku berteduh di sini karena hujan deras, lalu mereka datang. Mereka mengancamku dengan pisau dan memaksa menyerahkan motor."
Wajah Keenan langsung mengeras.
"Jadi…kalian begal?"
Tanpa berpikir panjang, ia mencengkeram kerah jaket pria itu. Pria tersebut tidak melawan. Sebaliknya, ia menundukkan kepala penuh penyesalan.
Namun sebelum amarah Keenan meledak, Kinanti segera memegang lengannya.
"Mas… jangan."
Keenan menoleh,
"Tapi dia hampir melukaimu!"
Kinanti menggeleng pelan,
"Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah."
Keenan menarik napas dalam-dalam.
Dengan gerakan kasar, ia melepaskan kerah jaket pria itu.
Seseorang dari kerumunan berseru,
"Orang seperti ini harus dibawa ke polisi!"
"Betul! Jangan dilepas begitu saja!"
Pria bertubuh kekar itu langsung menangis semakin keras.
"Jangan, Pak. Saya mohon. Saya benar-benar bertobat. Tolong beri saya kesempatan."
Orang-orang tampak ragu. Mereka menganggap pria itu hanya mencari belas kasihan.
Melihat perhatian semua orang tertuju padanya, Kinanti akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tadi saat pria itu hendak menusuk saya, tiba-tiba petir menyambar. Petir itu mengenai tubuhnya secara langsung. Dia meninggal seketika."
"Subhanallah..." gumam seseorang.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," sahut yang lain.
Pria bertubuh kekar itu mengusap air matanya.
"Saat melihat kejadian itu, saya sadar. Saya tidak mau hidup saya berakhir seperti kawan saya. Jadi, detik itu juga saya memutuskan untuk bertobat. Saya bersumpah akan meninggalkan pekerjaan saya."
Keenan menatap lama wajah pria tersebut. Ada ketakutan dan penyesalan. Dan entah mengapa, ia juga melihat ketulusan di sana.
Akhirnya Keenan mengalihkan pandangan kepada orang-orang di sekitar mereka.
"Bapak-bapak, tolong hubungi ambulance.” Ia menoleh ke arah jasad yang masih tergeletak.
"Bagaimanapun, jenazah ini harus segera ditangani dengan layak."
Beberapa orang mengangguk.
Sementara Kinanti memejamkan mata sejenak. Di tengah peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya, ia kembali menyadari satu hal. Bahwa pertolongan Allah bisa datang dengan cara yang tidak pernah diduga oleh siapa pun.
Keenan dan Kinanti memilih tetap berada di lokasi hingga ambulance datang. Beberapa petugas segera mengevakuasi jenazah pria yang tersambar petir itu ke dalam mobil ambulans. Setelah memastikan semuanya ditangani dengan baik, Keenan akhirnya menghembuskan napas lega.
Kerumunan warga yang sempat memadati lokasi kejadian pun mulai bubar satu per satu. Kini hanya tersisa mereka bertiga.
Pria berbadan kekar itu melangkah mendekat dengan kepala tertunduk.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu," ucapnya lirih. Matanya tampak memerah akibat terlalu lama menangis.
"Karena kemurahan hati Bapak dan Ibu, saya tidak dibawa ke kantor polisi."
Keenan mengangguk pelan.
"Kamu boleh pergi sekarang."
Ia dan Kinanti hendak masuk ke mobil ketika suara Ozi kembali terdengar.
"Pak!"
Keenan menoleh.
"Ada apa lagi?"
Ozi menarik nafas panjang.
"Selama ini pekerjaan saya merampok."
Ia menunduk semakin dalam.
"Dan hari ini banyak orang melihat wajah saya. Saya tidak yakin ada yang mau menerima saya bekerja."
Kata-katanya terdengar penuh penyesalan.
“Tapi saya ingin berubah."
Matanya perlahan terangkat menatap Keenan.
"Kalau Bapak berkenan, bisakah Bapak membantu saya mendapatkan pekerjaan? Apa saja, Pak. Asalkan halal."
Suasana mendadak hening. Keenan memperhatikan wajah pria itu beberapa saat. Tidak ada lagi sorot mata garang yang tadi sempat membuat Kinanti waspada. Yang tersisa hanya ketakutan, penyesalan, dan keinginan untuk memulai hidup baru.
"Siapa namamu?" tanya Keenan.
"Ozi."
"Sudah berkeluarga?"
"Saya sudah lama menduda."
Keenan terdiam sejenak. Entah mengapa, nalurinya mengatakan bahwa pria ini sungguh-sungguh ingin berubah. Tidak semua orang mendapat kesempatan kedua. Namun ketika seseorang benar-benar ingin memperbaiki dirinya, bukankah ia layak diberi kesempatan?
"Kebetulan di kantor saya sedang membutuhkan office boy."
Mata Ozi langsung membelalak.
"Benarkah, Pak?"
"Besok datang saja ke kantor."
Keenan mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya lalu menyerahkannya. Ozi menerimanya dengan kedua tangan. Ia membaca tulisan yang tertera di sana.
"Keenan Alfarizy... Manajer Personalia PT NVT."
Matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih banyak, Pak Keenan. Besok saya pasti datang."
Keenan tersenyum tipis.
"Tapi datang dengan pakaian yang rapi ya."
Ozi spontan menunduk memperhatikan penampilannya sendiri. Jaket kulit kusam dan
celana jeans robek di beberapa bagian. Belum lagi janggut yang tumbuh tak beraturan. Wajahnya langsung memerah karena malu.
"Oh, tentu, Pak. Saya akan berusaha tampil serapi mungkin."
"Kamu sudah makan?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Ozi kembali menunduk.
"Belum, Pak."
"Kenapa?"
"Uang saya habis semalam untuk minum dan berjudi."
Keenan menggelengkan kepala. Ia merogoh dompetnya lalu mengambil beberapa lembar uang.
"Ini buat makan dan beli kemeja serta celana yang layak."
Ozi tertegun. Tangannya gemetar saat menerima uang tersebut. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Terima kasih banyak. Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan Bapak."
"Kalau memang mau membalas, buktikan kalau kamu benar-benar mau berubah."
Ozi langsung mengangguk mantap.
"Saya janji, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Bapak."
Kemudian ia menatap Kinanti.
"Terima kasih juga, Bu. Saya do'akan semoga keluarga Bapak dan Ibu selalu diberi kebahagiaan."
"Aamiin," jawab Kinanti lembut.
"Oh ya, jangan pergi dulu sebelum orang kantor saya datang mengambil motor ini."
"Baik, Pak. Saya akan menunggu di sini."
Beberapa detik kemudian, Ozi kembali berkata, "Terima kasih, Pak."
Keenan tersenyum tipis,
"Sudah berapa kali kamu mengucapkan terima kasih hari ini?"
Ozi ikut tersenyum. Namun bukannya berhenti, ia malah berkata lagi,
"Terima kasih, Pak Keenan, Bu Keenan."
Kali ini Kinanti tidak mampu menahan tawanya. Ia buru-buru menutup mulut agar tidak terdengar terlalu keras. Pria itu benar-benar unik. Di tengah situasi yang berat seperti ini, masih sempat membuat orang lain tersenyum.
Setelah berpamitan, Keenan dan Kinanti masuk ke dalam mobil. Ozi berdiri tegak di pinggir jalan. Ketika mobil mulai bergerak meninggalkan lokasi, ia menundukkan kepala dengan penuh hormat.
Hingga kendaraan itu menghilang dari pandangannya. Barulah ia menengadah ke langit. Awan gelap telah pergi, langit sore kembali cerah. Ozi mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.
"Ya Allah… hari ini Engkau menunjukkan begitu banyak kasih sayang-Mu kepada hamba. Hamba yang selama ini bergelimang dosa justru masih diberi kesempatan untuk hidup. Hamba berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik."
Sementara itu, di dalam mobil yang melaju menuju warung bakso, suasana terasa tenang. Kinanti sesekali melirik ke arah kursi pengemudi. Pria yang sedang memegang kemudi itu tampak fokus menatap jalan. Namun apa yang baru saja dilakukan Keenan terus terbayang di benaknya.
Tidak semua orang bersedia memberi kesempatan kepada mantan penjahat. Tidak semua orang mampu menahan amarah setelah mengetahui istrinya hampir menjadi korban perampokan. Namun Keenan melakukannya. Ia memilih memberi jalan bagi seseorang untuk memperbaiki hidupnya.
Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibir Kinanti. Ucapan Ratih dulu kembali terngiang di telinganya.
"Percayalah, Kinan. Mas Keenan itu laki-laki yang baik."
Saat menerima lamaran Keenan, Kinanti melakukannya demi memenuhi wasiat sahabatnya. Tidak lebih. Namun kini, ia merasa mulai mengagumi pria yang telah menjadi suaminya itu.
Mahesa hemmmm ada something ini